PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
CHAPTER 103


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿


Marsha, Anya juga Angelle sudah duduk mengitari meja yang memang hanya untuk kapasitas empat orang, seorang waiter datang menanyakan pesanan Marsha dan Anya, keduanya memesan minuman yang sama, Cappuccino dark chocolate.


"Lalu bagaimana dengan pendidikan designer mu? apa semuanya lancar?" Marsha melanjutkan obrolan mereka.


"Ya lumayanlah, setidaknya aku sering mendapat undangan untuk fashion show fashion show di negara ini yang sering di hadiri oleh designer-designer terkenal dari beberapa negara Eropa" Angelle terlihat bersemangat menceritakan kegiatannya selama menjalani pendidikan nya.


"So nona Anya, Anda bekerja dengan keluarga tuan Alvaro?" Angelle bertanya pada Anya yang sedari tadi hanya sebagai pendengar.


"Panggil nama aja, ga perlu terlalu formal" Anya ngerasa ga enak harus di panggil nona oleh sahabat Marsha.


"Saya bekerja dengan tuan Bian sebagai assistannya selama beliau di Indonesia" Anya mengiyakan tebakan Angelle, karna dia memang tidak ingin ada pikiran yang aneh-aneh dari siapapun melihat dirinya yang di bawa dalam liburan keluarga ini.


Marsha hanya mendengarkan apa yang di katakan Anya dan tidak berniat untuk menyelah atau membantah apa yang di katakan Anya, karna dia tidak punya hak untuk melakukan hal itu, dan seperti janjinya, jika Anya memang tidak bisa menerima Alex di hatinya dia akan membantu Anya untuk bersama orang yang dia cintai, siapapun orang itu, obrolan mereka terus berlanjut hanya obrolan ringan di selingi tawa renyah dari mereka yang sudah terlihat sangat akrab.


"Elle, Marsha, aku ke toilet bentar ya" Anya memberi isyarat dengan jarinya.


"Oke" Marsha dan Angelle menganggukan kepala mereka bersamaan.

__ADS_1


Anya berjalan masuk ke dalam cafe dan mendekati seorang pelayan dan menanyakan letak toilet, setelah mendapatkan pentujuk Anya melanjutkan langkahnya menuju toilet yang berada di bagian belakang cafe, Anya melihat ke kiri dan ke kanan, dia melihat ada pintu mengira itu adalah pintu Anya bejalan ke arah pintu tersebut dan membukanya, ternyata salah itu bukan pintu kamar mandi tapi pintu bagian belakang cafe itu, Anya meninggalkan pintu tersebut dan melihat tulisan toilet di ruangan paling ujung, Anya pun berjalan ke arah toilet.


Marsha melihat ke jam tangannya, sudah duapuluh menit Anya ke toilet dan masih belum kembali, apa toilet nya ngantri? memang pengunjung cafe sangat rame karna posisinya yang berada dekat dengan icon kota Paris yaitu menara Eiffel jadi banyak orang yang menghabiskan waktu sepulang kerja untuk sekedar melepas penat sambil melihat menara Eiffel dari jarak yang lumayan dekat. Marsha kembali menlajukan obrolannya dengan Angelle karna berpikir mungkin memang toilet nya ngantri, karna kalau cafe seperti ini biasanya hanya punya dua atau tiga kamar mandi dan cafe di tempat mereka sekarang hanya memiliki dua ruang toilet.


Waktu terus berjalan dan sudah hampir satu jam Anya pergi ke toilet dan masih belum kembali dan itu mulai terasa aneh buat Marsha.


"Babe, Anya lama banget ke toilet nya? udah satu jam lebih lho" Angelle mengingat kan ke Marsha.


"Kamu cek dulu babe, takutnya ada apa-apa" Angelle meminta Marsha untuk mengecek keberadaan Anya yang sudah terlalu lama pergi ke toilet, Marsha membenarkan apa yang di katakan Angelle barusan.


"Ya udah aku ke dalam bentar, kamu tunggu ya" Marsha bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu cafe di iringi anggukan dari Angelle.


"Gimana babe? kok kamu sendiri? apa Anya masih di toilet?" Angelle langsung bertanya saat melihat Marsha yang sudah kembali dari toilet tapi Marsha hanya datang sendiri tidak ada Anya di dekatnya.


"Sebentar Elle, aku mau telpon Anya, mungkin dia sedang jalan-jalan di sekitar sini" Marsha mengambil smartphone nya dan bermaksud membuat panggilan ke smartphone Anya, tapi Marsha melihat kalau tas dan smartphone Anya ada di meja, dia ingat kalau Anya tadi ke toilet tidak membawa apa-apa di tangannya, Marsha mulai merasa ada yang ga beres, karna sejak dia akrab dengan Anya dia sangat tau kalau Anya ga mungkin pergi sendiri di tempat asing dan Anya tidak akan pergi tanpa memberi tau lebih dulu..


"Babe, lebih baik aku antar kamu balik ke apart kamu sekarang, kamu bawa mobikkan?" Marsha melihat ke arah Angelle.


"Iya, aku bawa mobil" Angelle menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Ya udah kita ke mobil sekarang" Marsha merapikan semua barang-barang nya termaksuk tas dan smartphone Anya, lalu mereka berjalan keluar dari teras cafe tersebut, sambil Marsha memasang mata dan wajah waspada melihat sekeliling mereka dengan ekor matanya.


Marsha dan Angelle sudah berada di dalam mobil Angelle dan Marsha yang bertindak sabagai driver, dia harus memastikan sahabatnya itu sampe ke apart nya dengan selamat.


"Memangnya kenapa si babe? kok kamu jangan tegang gitu mukanya? terus kita kenapa ninggalin Anya? emang dia tau jalan balik ke pulau kalian?" Angelle merasa sangat bingung dengan kejadian yang serba tiba-tiba ini.


"Anya ga ada di toilet dan ga ada yang liat dia dia di toilet itu" Marsha menjelaskan apa yang dia lihat di toilet cafe tadi.


"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, mungkin dia sedang jalan-jalan ke menara Eiffel" Angelle yang juga sempat berpikir yang aneh-aneh.


"Aku berharap nya juga Begitu, tapi sejak kami akran aku ga pernah liat dia pergi tanpa berkirim kabar" Jisso mengatakan apa yang dia tau.


"Jadi ku yakin kalau Anya di culik?" Wajah Angelle langsung berubah serius.


"Aku tidak mau berasumsi seperti itu dulu, tapi kita sampe besok kalau ga ada kabar berarti ini bisa jadi kerjaan dari pesaing Alex, tapi entahlah aku belum bisa memastikan seperti itu" Marsha memutus perkataan Angelle dan melajukan mobil Angelle dan tetap waspada melihat ke arah spion jaga-jaga kalau ada yang mengikuti mereka.


BERSAMBUNG


kalau kalian suka ceritanya kalian bisa like

__ADS_1


__ADS_2