PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
BAGIAN 60


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🍁🍁🍁🍁🍁


Bram sedang berbicara dengan Jericho yang berada di London.


"Jerr, kamu lagi dimana? di kampus apa di kantor?"


"Aku sedang sedang berada di kantor Pi, baru pulang kuliah dan sekarang sedang menyelesaikan pekerjaan, memangnya ada apa Pi?" Jerry menanyakan maksud dari pertanyaan Papinya itu.


"Begini nak, Papi berencana minggu depan Papi mau melamar calon istri Papi, Papi berharap kamu bisa menemani Papi saat lamaran itu, gimana Jer kamu bisa?" Bram menyampaikan rencananya.


Jerry terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Papinya dan itu membuat Bram merasa heran karna tidak mendengar jawaban dari pertanyaan nya.


"Jer, Jerry kamu kenapa diam? Jer" Bram memanggil putranya itu.


"Ha, ya Pi?" Jerry tersadar dari kediaman nya.


"Kamu kenapa ga jawab pertanyaan Papi? kamu keberatan dengan permintaan Papi?" Bram kembali bertanya.


"Owh ga gitu Pi, aku sama sekali ga keberatan dengan rencana Papi, aku akan usahakan pulang sehari sebelum acara Papi. Jerry menyanggupi permintaan Papinya untuk menemani Papinya melamar wanita yang menjadi calon istri Papinya itu.


"Terima kasih son, kamu memang anak yang bisa Papi andalkan, baiklah Papi akan menunggu kepulangan kamu, sekarang lanjutkan pekerjaan kamu karna Papi juga harus bertemu dengan klien" Bram menutup telponnya dan tersenyum lebar karna putranya akan menemani nya saat melamar perempuan yang dia cintai.


****


Yana terlihat keluar dari dalam mobil nya bersama Jesslyn, mereka berjalan menuju pintu utama Mansion tersebut yang tak lain adalah tempat tinggal kedua orangtuanya, Yana menyapa tukang kebun yang sedang merapikan tanaman yang ada di bagian depan Mansion karna memang Ibunya sangat menyukai tanaman dengan harga yang terbilang sangat mahal, keduanya tiba di pintu Mansion dan langsung menekan password pintu tersebut karna memang kunci di semua bagian yang memiliki akses ke luar Mansion semua memakai password dan hanya beberapa pekerja yang terpecaya yang tau password nya, Yana dan Jesslyn berjalan masuk ke dalam Mansion dan terlihat hanya para maid yang sedang merapikan beberapa bagian rumah, Yana bisa menebak jika jam segini pasti kedua orangtuanya sedang berada di gajebo yang berada di dekat kolam ikan di bagian samping rumah, keduanya langsung berjalan menuju dimana gazebo berada.


****


Ma, Pa" Yana menyapa kedua orangtuanya yang terlihat sedang santai dengan bacaan yang ada di tangan mereka, Yana mendekati keduanya dan mencium pipi keduanya secara bergantian.


"Oma, Opa" Jesslyn ikut mencium pipi Oma dan Opa nya itu.


"Sayang nya Opa" Hadi mencium kening cucu kesayangan nya itu.


"Gimana semenjak berada di kelas tiga?" Hadi langsung menanyakan soal sekolah cucunya itu.


"Pelajaran nya sedikit lebih serius dari saat di sebelas" Terang Jesslyn sambil bersandar manja pada Opanya. (Hadi menyebut kelas tiga karna Jesslyn sudah naik ke kelas tiga SMA, sedangkan Jesslyn menyebut kelas sebelas itu untuk sebutan kelas dua SMA, dan itu ucapan untuk anak sekolah jaman sekarang, yang menyebut kelas satu sampe kelas duabelas untuk kelas tiga SMA) biar ga salah paham jadi saya jelaskan sedikit.

__ADS_1


"Ma, tumben ga masak?" Tanya Yana saat melihat Mamanya sangat santai tidak sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam.


"Papa kamu lagi ga mau makan masakan rumah, jadi rencananya Mama mau pesan aja" Rica menjelaskan kenapa dia tidak memasak sore ini.


Yana hanya menganggukan kepalanya mendengar jawaban dari Mamanya.


"Pa, Ma ada hal yang mau aku katakan" Yana langsung terlihat serius.


'Ada hal serius apa?" Hadi memandang wajah putrinya itu.


"Mas Bram minggu depan mau datang ketemu Papa sama Mama ada yang mau di omongin" Yana sengaja tidak mengatakan tujuan Bram datang, karna dia pun tidak mengetahui dengan pasti yang menjadi alasan kenapa kekasihnya itu ingin bertemu dengan kedua orangtuanya


Hadi terlihat berpikir setelah mendengar perkataan putrinya itu, sebagai pria dewasa mungkin dia memperkirakan apa yang akan di bicarakan pria yang sedang dekat dengan putrinya, tapi dia ga mau terlalu cepat berspekulasi karna belum tentu juga apa yang ada di pikiran nya yang akan terjadi.


"Ya sudah kalau gitu, jadi Papi bisa mengosongkan jadwal papi pada hari itu" Hadi setuju dengan rencana Bram untuk bertemu dengan dirinya.


****


Waktu yang sudah di tunggu-tunggu Bram akhirnya tiba juga dan Bram sudah berada di depan pintu pagar Mansion orangtua perempuan yang dia cintai, Bram membunyikan klakson mobil nya sebagai tanda untuk security membukakan pintu pagar tersebut, secara otomatis pagar Mansion berwarna gold tersebut terbuka dan Bram pun melanjutkan laju mobilnya memasuki halaman yang sangat luas tersebut untuk menuju pintu utama Mansion tersebut Bram tidak heran dengan itu karna sama dengan Mansion miliknya, setelah beberapa menit mobil Bram berhenti di area parkir yang memang di khususkan untuk para tamu, Bram langsung turun dari dalam mobil dan merapikan sedikit pakaiannya lalu berjalan menuju pintu utama Mansion tersebut.


Ting tong..... Bram menekan bell lalu memandang ke arah pintu yang masih tertutup, tak lama pintu di buka dari dalam dan terlihat seorang waiter paru baya berdiri menyambut Bram.


"Terima kasih Bi" Bram tersenyum lalu bejalan masuk ke dalam Mansion mengikuti wania paruh baya itu.


keduanya sampe di ruang keluarga dan terlihat Hadi dan Rica sedang menonton televisi dan terlihat focus.


"Permisi Tuan, Nyonyah" perempuan paruh baya itu bersuara.


Hadi dan Rica langsung menoleh saat mendengar suara dari kepala maid mereka.


"Lho ada nak Bram" Hadi sedikit terkejut karna melihat tamu yang datang adalah pria yang sedang dekat dengan putrinya.


"Silakan duduk" Hadi berdiri dari tempat nya dan begitupun dengan Rica, keduanya menyalami Bram yang terlihat sangat santun.


"Bi, tolong buatkan minuman untuk nak Bram" Rica meminta kepada wanita paruh baya yang masih berdiri di tempatnya.


"Baik Nyonyah" wanita paruh baya tersebut segera berjalan menuju bagian belakang Mansion untuk membuatkan minuman untuk tamu penting majikannya itu.

__ADS_1


"Silakan duduk nak" Hadi sekali lagi mempersilakan Bram yang masih berdiri di tempatnya.


"Terima kasih Om tante" Bram lalu duduk di depan kedua orangtua dari perempuan yang dia cintai.


"Om dan Tante gimana kabarnya? maaf kalau saya tiba-tiba datang malam-malam begini tanpa pemberitauan" Bram memulai pembicaraan di antara mereka.


Hadi dan Rica saling pandang beberapa saat seakan berbicara lewat tatapan mereka dan mereka ingat perkataan putri mereka minggu lalu yang mengatakan kalau Bram akan datang menemui mereka dengan satu niat.


"Tidak pa-pa nak Bram, seperti beberapa hari lalu Yana mengatakan kepada saya kalau nak Bram akan datang ke sini untuk berbicara sesuatu, jadi kami tidak terlalu terkejut, jika kami boleh tau ada hal apa yang ingin nak Bram bicarakan dengan kami?" Hadi tersenyum setelah mengajukan pertanyaan.


"Begini Om Tante" Bram menghentikan ucapan nya saat seorang maid datang ke ruangan tersebut.


"Permisi Tuan, Nyonyah" Maid tersebut meletakan tiga cangkir yang berisikan minuman untuk kedua majikannya dan juga tamu yang sudah beberapa kali da lihat datang ke Mansion ini bersama dengan Nyonyah mudanya, setelah meletakan ketiga cangkir tersebut sang maid pun berlalu dari ruangan tersebut.


"Silakan di minum nak Bram" Rica mempersilakan Bram untuk menikmati minuman yang ada di depan mereka.


"Terima kasih Tante , Om" Bram mengangkat cangkir tersebut berserta tatakannya untuk meminimalisir ketumpahan dari minuman tersebut, Bram meneguk minuman yang terasa hangat di mulutnya lalu meletakan kembali cangkir tersebut di atas meja.


"Jadi begini Om Tante, saya dan Yana bukan lagi anak sekolah atau anak kuliah yang harus berlama-lama dalam berpacaran, kami sudah sama-sama dewasa dan juga sudah lama saling tau tentang kepribadian kami masing-masing, jadi jika Om dan Tante mengijinkan malam ini saya datang untuk meminta anak Om dan Tante untuk menjadi istri saya, tepatnya saya melamar Yana untuk menghabiskan sisa umur kami berdua bersama anak-anak kami tentunya" Bram bernafas lega karna sudah menyampaikan maksud kedatangannya dan keseriusan nya atas hubungan nya dengan Yana.


Hadi dan Rica saling pandang dan terlihat saling tersenyum saat mendengar perkataan Bram yang terlihat sangat gentle dalam menyampaikan maksud kedatangannya.


"Sebagai orangtua saya dan istri saya sangat senang dengan kejujuran nak Bram dengan kedatangan malam ini, Putri kami Yana adalah wanita dewasa yang sudah bisa menentukan masadepan dirinya sendiri, jika Yana menerima lamaran nak Bram maka kamipun akan menerima lamaran nak Bram dengan senang hati, tapi perlu nak Bram ingat kalau Yana bukanlah seorang wanita single dalam artian dia punya seorang anak perempuan yang beranjak remaja dan masih perlu bimbingan seorang Ayah dan Ibu, jadi kami berharap jika nak Bram bisa menerima cucu kami dan menjadi sosok Ayah yang baik dan tidak akan berpaling jika nanti nak Bram di karuniakan seorang anak atau beberapa anak lagi oleh Tuhan" Hadi menjawab permintaan Bram dengan sangat bijak yang di ikuti oleh anggukan oleh Rica.


Bram tersenyum mendengar perkataan atau jawaban yang di berikan oleh calon mertua nya itu, karna secara tidak langsung dirinya mendapatkan restu untuk bisa menjadikan Yana sebagai istrinya.


"Om dan Tante ga perlu khawatir akan hal itu, sudah pasti saya tidak akan membedakan Jesslyn dengan anak-anak saya walau saya tetap tidak akan mencoba untuk menggantikan sosok Ayahnya tapi saya akan menjadi teman dan sahabat yang baik untuk Jesslyn"


"Baiklah kalau begitu, bicarakan hal ini dengan Yana dan beritau kami keputusannya" Hadi dan Rica sangat senang dengan jawaban Bram yang tanpa ragu.


"Permisi Nyonyah, Tuan , makan malamnya sudah siap" kepala maid datang ke ruangan tersebut.


"Hayo nak Bram makan malam bersama kami" Rica mengajak Bram untuk ikut makan malam bersama mereka, Rica dan Hadi bangun tempat duduk mereka.


"Baik Tante" Bram ikut berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti kedua calon mertuanya itu berjalan menuju ruang makan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


LIKE GUYS AGAR CERITA NYA TERUS LANJUT


__ADS_2