
ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿
"Tuan tau siapa gadis yang ada bersama mereka?" Bian melanjutkan pertanyaan nya.
"Tidak, saya tidak mengenalnya" Hartono mengelengkan kepalanya karna dia memang tidak mengenal perempuan yang bersama anaknya di dalam kamar tersebut.
Bian tersenyum sinis lalu meneguk minumannya.
"Gadis yang anak Tuan dan teman-temannya culik adalah wanita saya!" Ujar Bian masih terlihat tenang walau dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Hartono yang mengetahui kalau perempuan yang ada bersama putranya di video itu adalah wanitanya Alex dia mulai merasa was was dan merasa kalau akan ada hal buruk yang akan menimpahnya.
"Jadi maksud Mister Alex bagaimana?" Hartono langsung tude point karna dia tipe orang yang tidak suka bicara muter-muter.
"Baiklah kalau memang Tuan Hartono ingin langsung, saya kasih pilihan ke Tuan, mau masalah ini saya bawa ke meja hijau dengan bukti yang sangat-sangat kuat ini, atau.... Bian menjeda ucapanannya dan memandang ke wajah Hartono dengan senyum penuh arti.
"Atau apa?" Hartono semakin tidak sabar mendengar apa yang ingin di katakan mantan rivalnya itu.
"Atau Tuan lepaskan proyek batu bara dari pemerintah itu" Bian mengatakan piliannya dengan santai, tapi apa yang di katakan Bian cukup mengejutkan buat Hartono karna dia di minta untuk melepaskan proyek yang dia dapat dengan susah payah itu.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu Mister Alex, saya tidak akan pernah melepaskan proyek itu hanya untuk kasus seperti ini, lebih baik kita bertemu di pengadilan!" Hartono berkata dengan emosi yang muncul di kepalanya.
"Yakin Tuan mau masalah ini ke pengadilan? Oke, mungkin masalah ini memang kecil, tapi bisa di bilang masalah ini adalah bensin yang akan membakar semua usaha Tuan yang Tuan rintis selama ini dan nama baik Tuan juga perusahaan Tuan akan jatuh di depan semua orang terutama di dunia bisnis" Bian berkata dengan santainya dan kembali menenguk minumannya.
"Apa Mister sedang mengancam saya? apa maksud dengan semua yang mister katakan?"
"Dino, tolong kamu kasih lihat video selanjutnya juga foto-foto yang kita punya" Bian kembali memberi perintah kepada assistannya itu.
"Dino mengambil kembali laptop yang ada di depan Hartono dan terlihat tangannya sibuk di atas touchpad laptopnya dan selang beberapa detik kemudian Dino meletakan kembali laptop tersebut di depan Hartono.
"Silakan anda play" Bian mempersilakan Hartono untuk memutar video.
"Bagaimana Tuan? apa Anda sudah cukup puas dengan videonya?" Tanya Bian dengan senyum yang terlihat seperti seringai Singa yang siap menerkam musuh-musuhnya.
Sebenarnya saya tidak perduli dengan semua yang Tuan lakukan dalam mendapatkan tender batu bara itu, karna jujur nilainya hanya satu persen dari harta kekayaan saya sebagai orang terkaya di dunia di peringkat lima" Bian sengaja memamerkan kekayaan yang menurut majalah Forbes, karna Hartono termaksuk orang terkaya Lima besar di negara ini.
Hartono hanya terdiam dan tidak bisa menjawab apa yang di tanyakan Bian padanya, ini benar-benar mengancam keberlangsungan usahanya dan juga hidupnya "Dasar anak sialan! bisanya cuma menyusahkan orangtua!" maki Hartono untuk anak sulungnya dalam hati.
"Saya bisa saja menyerahkan ini ke KPK dan tertunya Tuan tau sendiri apa yang akan terjadi jika KPK sudah menyelidiki suatu kasus yang berhubungan dengan suap, tadinya saya benar-benar sudah melepaskan proyek ini walau saya tau Tuan memberikan uang 15M kepada pihak penyelenggara tender makanya dari perusahaan anda dan perusahaan saya yang lulus kualifikasi perusahaan anda yang langsung mendapatkan proyek ini, padahal masih ada banyak waktu untuk memutuskan siapa yang menang perusahaan anda langsung di tunjuk sebagai mitra pemerintah untuk menyuplai baru bara untuk semua perusahaan BUMN yang memakai batu bara, tadinya saya sudah tidak memikirkan proyek itu tapi, karna putra anda sudah berani menyentuh wanita saya dengan cara menculiknya ya cuma ada dua pilihan untuk anda, anda lepaskan proyek itu atau saya pastikan anda dan putra anda akan menjadi hot news di semua media, baik electronic maupun media cetak, silakan anda pilih" Bian berbicara dengan sangat detail dan serius.
__ADS_1
Hartono mengepalkan tangannya menahan marahnya, bukan kepada Bian saja tapi juga atas kebodohan putra nya yang sudah membuatnya dalam masalah besar, apalagi Alex memiliki bukti yang kuat dan kongkrit dan dia ga akan bisa mengelak dan akan berakhir di sel selama tahunan, belum lagi perusahaan nya akan di black list oleh banyak pihak, memang memberikan uang pelicin adalah hal biasa dalam bisnis, tapi akan jadi masalah kalau menyangkut perusahaan negara, semahal apapun dia membayar pengacara kalau dengan bukti sekuat ini dia tetap ga akan bisa menang di pengadilan.
"Baiklah Tuan Hartono, saya tunggu kabar baiknya, saya masih ada urusan lain, terima kasih sudah memenuhi undangan saya" Bian berdiri dari kursinya lalu menyelipkan dua lembar duit berwarna merah di bawah tempat cangkirnya sebagai tip untuk pelayan yang akan merapikan mejanya.
"Mari Tuan Hartono saya jalan duluan, jangan di ambil pusing, di bawa santai saja" Bian memberikan isyarat kepada Dino untuk pergi dari tempat itu, Dino yang sudah merapikan semua yang mereka bawa berjalan mengikuti Bossnya yang sudah berjalan lebih dulu, sementara Hartono masih diam di tempatnya, dia mengosok-ngosok wajahnya dengan gusar karna tidak ada pilihan yang berpihak padanya, dan juga akan membuat dia rugi berkali-kali lipat, proyek Trilliunan dan kehilangan uang belahan milliard.
"Dasar anak tidak berguna!" Hartono pun berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan restoran tersebut, untung pengawalnya tidak ada yang ikut ke dalam restoran jadi tidak ada yang melihat insiden tadi, dia harus membahas hal ini dengan Martin assistannya, langkah apa yang harus dia ambil, Hartono berjalan keluar dari hotel bintang lima tersebut dan menuju di mana mobil dan para pengawalnya menunggu.
BERSAMBUNG Anya malam ini kembali di bawa keluar dari tempat kerjanya oleh Bian dan kali ini mereka hanya berdua sedangkan Dino dan Rica oleh Bian sengaja di suruh pergi entah kemana, tapi seperti nya masih di tempat yang sama karna saat ini mereka di tempat pameran berlian, Bian datang ke sana karna mendapat undangan langsung dari pemilik acara yang juga adalah teman bisnisnya, Bian mengajak Anya untuk berkeliling melihat lihat koleksi berlian yang ada dan semua berlian yang ada di pameran ini di datangkan langsung dari London dan pastinya dengan keaslian 99% dan bisa di pastikan juga kalau harganya tidaklah murah, pameran di adakan di Jakarta karna hampir seratus persen perempuan-perempuan sosialita Indonesia sangat menyukai berlian, mereka rela mengeluarkan uang dengan jumlah besar untuk membeli satu buah berlian yang biasanya hanya untuk di jadikan ajang pamer kepada teman-teman mereka, entah itu teman kerja, teman bisnis, atau teman arisan, Anya dan Bian terus saja berkeliling me lihat semua berlian yang di pameran itu dan belum ada yang bersuara di antara mereka berdua, keduanya terus saja berjalan berkeliling sambil sesekali melihat-lihat koleksi berlian yang ada, Anya yang memang terbiasa diam makin diam setelah apa yang terjadi di antara mereka beberapa malam yang lalu , jujur dia ga punya muka untuk bertemu dengan Bian yang telah melihat seluruh tubuh polosnya yang selama ini dia jaga dengan baik, ini semua gara-gara si brengs*k Arya, kalau saja dia tidak di culik pasti semua itu tidak akan terjadi(adegan dia bercinta dengan Bian) apalagi dia merasakan bagian intinya sedikit perih, itu sedikit membuat Anya heran, dari pengakuan Rica yang memang sudah tidak virgin, saat pertama melakukan itu lumayan sakit, padahal dia melakukannya dengan cowo local yang ukurannya yaaaa bisa di tebak lah, karna dari beberapa artikel yang dia baca hanya kurang dari dua puluh persen lelaki di Indonesia yang memiliki ukuran jumbo untuk bagian itu, tapi Bian yang notabenenya bu le yang hampir 100% karna yang keturunan Indonesia adalah nenek buyutnya jadi sangat aneh kalau ukurannya lebih kecil dari ukuran bule lain yang pernah Anya liat saat di paksa Rica untuk menonton film blue di laptopnya saat dia menginap di kos'an Rica beberapa waktu lalu, Anya segera membuang pikirkan ngaconya tentang ukuran-ukuran itu, dia kembali melihat-lihat berlian-berlian yang menyilaukan mata, tapi sangat tidak mungkin untuk dia bisa memiliki, karna harganya saja itu gaji dan tip dia selama 10tahun pun tidak akan cukup untuk membeli yang ukuran terkecil sekali pun, (sedikit info, berlian asli dengan ukuran kecil yang kadarnya asli 99 persen itu perkratnya bisa beli Lamborghini nya Raffi Ahmad, Lamborghini second maksudnya, tanya aja hotman Paris, dia kan koleksi berlian asli hehe) back to Anya and Bian.
Bian yang sedari tadi berjalan di belakang Anya kini mensejajarkan langkahnya di samping Anya.
"Kamu suka yang mana? pilih aja" Bian menawarkan Anya untuk memilih berlian yang dia mau.
"Ga usah Tuan terima kasih, aneh kalau orang seperti saya memiliki berlian semahal ini, bisa-bisa saya di tuduh mencuri milik tamu atau milik teman campus saya yang memang hampir semuanya anak orang kaya" Ujar Anya menolak tawaran Bian tanpa melihat wajah Bian, karna dia beneran malu untuk melihat wajah Bian yang sudah menikmati tubuh mulusnya.
BERSAMBUNG
segini dulu ya, ntar sore ampe malam saya up dua episode lagi dengan narasi lebih panjang.
__ADS_1