PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
CHAPTER 075


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Bian sudah berada di ruangan kantor nya bersama dengan Marsha yang sudah beberapa hari berada di Jakarta dan sudah merasa cukup beristirahat, Marsha akan di tempatkan sebagai direktur keuangan menggantikan Pak Surya yang sudah mengajukan pensiun karna sudah sering sakit-sakitan, karna umur Pak Surya juga memang sudah cukup Tua, hampir mendekati tujuh puluh tahun, sebenarnya Bian sudah meminta Dino untuk mencari pengganti Pak Surya, tapi mencari orang jujur untuk di tempatkan di lahan basah begitu sangat sulit, yang berkompeten mungkin banyak tapi semua masih dalam tahap seleksi, tapi karna Marsha datang tiba-tiba dengan tugas untuk menghandle semua resort yang ada di Bali, Bian merasa itu belum begitu di perlukan, sambil menunggu pembangunan resort di Gianyar yang masih setahun lagi baru selesai, biarlah Marsha membantunya mengurus bagian keuangan di kantornya sambil menunggu mendapatkan orang yang cocok untuk menduduki posisi penting itu, karna selama Pak Surya menjabat belum ada seke cil apapun kejadian yang merugikan keuangan perusahaan, semuanya berjalan dengan baik, meeting baru saja selesai untuk memperkenalkan Marsha kepada semua staff di kantor, Marsha memang sudah harus berada di kantor sebelum Pak Surya benar-benar pensiun, jadi selama satu minggu ini Marsha akan berkantor di ruangan Bian dan mempelajari keuangan perusahaan, Marsha sudah cukup berpengalaman soal ini karna sejak masih sekolah pun Marsha sudah ikut mengurus perusahaan keluarga terutama perusahaan nya sendiri, peninggalan dari orangtua nya.


Marsha terlihat serius mempelajari file-file yang berisikan data keuangan selama tiga bulan terakhir ini, dan semuanya terlihat bagus tidak ada yang mencurigakan jika di cocokan dengan pengeluaran perusahaan, dalam memeriksa data keuangan memang harus teliti, karna jika miss satu angka saja walaupun itu nol, bisa merugikan perusahaan ratusan juta hingga milliaran rupiah, Marsha melihat ke arlojinya sudah jam setengah dua belas siang, sudah memasuki jam istirahat rupanya, terlihat Bian pun sedang merenggangkan otot-ototnya, karna duduk di kursi terlalu lama walaupun kursinya seempuk apapun tetap aja membuat otot- otot kaku, Bian berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah Marsha yang juga sudah menghentikan kegiatannya.


"Bagaimana? apa semuanya oke?" Bian duduk di depan sepupunya yang cantik itu.


"Sampai saat ini semuanya fine, tidak ada yang mencurigakan, angka-angka nya sesuai dengan laporan-laporan yang lain.


"Baguslah, karna memang Pak Surya sangat jujur selama bekerja, bisa di bilang pengeluaran seribu rupiahpun akan dia tulis dalam laporan keuangan perusahaan" Bian lega karna tidak hal yang harus dia khawatir kan menjelang pensiunnya Pak Surya.


"Kamu mau makan di restoran apa?" Bian berniat mengikuti apapun yang ingin di makan Marsha untuk makan siang ini.


"Aku mau makan steak salmon, tapi aku lagi males jalan keluar, sepertinya di luar sangat panas, aku mau makan di kantor saja" Marsha melihat ke arah jendela kantor Bian yang memperlihatkan matahari yang begitu terik.


"Ya, memang di negara ini cuacanya selalu di atas tigapuluh derajat, hampir sama seperti saat kita sedang berada di timur tengah, kamu harus mulai membiasakan dengan cuaca seperti ini, ya sudah aku akan meminta Dino untuk memesankan makan siang untuk kita" Bian mengirim pesan lewat smartphone nya agar lebih cepat, karna kalau pake telpon kantor, takutnya Dino tidak berada di ruangannya.


"Apa di Bali cuacanya juga seperti ini?" Marsha ingin tau kondisi tempat yang akan dia tinggalin nanti untuk beberapa tahun ke depan.


"No, Bali tidak sepanas Jakarta, di sana suhu paling paling itu sekitar tigapuluh empat derajat, tapi suhu rata-rata nya hanya duapuluh enam sampe duapuluh delapan, beda dengan Jakarta, di sini paling rendah itu suhu paling hanya sekitar tigapuluh satu or tigapuluh dua , dan extreme nya bisa di antara tigapuluh tujuh dan tigapuluh delapan" Bian menjelaskan suhu cuaca yang harus di hadapi Marsha.


"Owh God, sepertinya aku tidak akan bisa bertahan terlalu lama di sini" Marsha membayangkan dia tidak akan bisa berjalan kaki di siang hari seperti yang biasa dia lakukan di America atau di Europe.

__ADS_1


"Memang di negeri ini sangat jarang ada orang kantoran atau orang kaya yang mau berjalan kaki, kamu tau? bahkan untuk ke tempat yang jaraknya kurang dari sepuluh meter kebanyakan orang di sini pasti menggunakan sepeda motor mereka, makanya polusi di negara ini sangat menghawatirkan, karna orang-orang nya yang sangat boros dengan BBM, bahkan aku sering melihat petugas yang menilang pengguna sepeda motor, hampir delapan puluh persen tidak memiliki SIM, dan mereka pun masih banyak yang tidak paham bagaimana berlalu lintas yang benar, karna aku sendiri sudah sering berdebat dengan pengguna sepeda motor di setiap kota yang aku datangi, mereka yang salah, mereka yang ngotot seakan mereka korban, contoh, mereka kasih sen kanan tapi mereka belok ke kiri, atau mereka kasih sen lurus tapi mereka belok, jadi kamu lebih baik menggunakan driver selama di sini" Bian memberikan masukan kepada Marsha agar tidak mengalami hal yang tidak mengenalkan dalam berkendara.


Marsha hanya mendengarkan dengan focus apa yang di katakan Alex kepadanya dan mengangguk kecil tanda dia mengerti dengan apa yang di katakan Alex padanya, saat mereka sedang asyik ngobrol terdengar suara ketukan di pintu dan terlihat Dino muncul dari balik pintu membawa beberapa paper bag di tangannya, karna restoran sekarang sudah di larang menggunakan tas plastik, karna memang plastik plastik adalah benda yang menjadi masalah bagi banyak negara karna susah terurai dan akan menjadi sampah abadi di bumi, karna dalam seratus tahun saja satu buah kantong plastik belum tentu terurai, sedangkan setiap harinya satu negara menghasilkan sampah plastik dalam hitungan ribuan kilo, bisa di bayangkan sejak di temukan di tahun 1930an hingga sekarang sudah berapa juta ton sampah plastik yang di hasilkan dan butuh berapa ribu tahun untuk mengurainya, negara-negara di benua America dan Eropa sudah lebih dulu mengganti kantong plastik dengan paper bag, tapi masih banyak negara yang masih memakai kanto ng plastik, dan Indonesia sudah memulai secara perlahan mengganti kantong plastik dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan, keberlangsungan bumi ini dan mahluk di dalamnya memang tergantung dari bagaimana manusia memperlakukan bumi ini.


"Master, Nona, ini pesanan anda berdua" Dino meletakan paper bag yang berisi makanan pesanan bossnya dan juga pesanan Marsha.


"Apa kau tidak memesan makanan untuk dirimu?" Bian menanyakan makan siang Dino.


"Ada Master, tapi saya akan memakannya di ruangan saya master" Dino menunjukan paper bag yang masih ada di tangannya.


"Sudah, kau makan bersama kami di sini" Bian menyuruh Dino untuk makan bersama dirinya dan juga Marsha.


'Baik Master" Dino menganggukan kepalanya.


"Dino, siapa kekasih mu sekarang?" Marsha tiba-tiba mengganti topik pembicaraan mereka.


"Uhuk uhuk uhuk" Dino terbatuk dan hampir keselek makanan nya sendiri saat mendengar pertanyaan Marsha yang sama sekali tidak dia duga.


"Maksud nona apa?" Dino bertanya karna dia berharap kalau dia salah mendengar.


"Iya, aku bertanya, setelah hampir setahun di negeri ini kau pasti memiliki seorang kekasih, karna aku tau kau tidak akan bisa sendiri dalam waktu lama.


"Tidak Nona, saya tidak memiliki kekasih" Dino langsung tude point, karna dia tidak akan sanggup jika harus membahas tentang Rica.

__ADS_1


"Seriously??" Marsha sedikit tidak percaya dengan apa yang di katakan Dino.


"Dia bukan tidak memiliki kekasih, tapi dia di tinggalkan kekasih nya karna kebodohan nya" Bian memberikan jawaban yang sebenarnya.


Marsha melihat perubahan pada wajah Dino yang berubah menjadi lesu karna jawaban Alex, tadinya dia ingin bertanya lebih lanjut, tapi meliat perubahan pada wajah Dino, dia membatalkan niatnya, dan suasana menjadi sepi seketika, tapi suara telpon milik Bian memecah kesunyian yang baru saja terjadi, Bian segera menjawab panggilan yang masuk yang ternyata dari Anya.


"Iya honey ada apa?"


"Owh seperti itu, baiklah honey"


"Jangan terlalu capek honey" Bian menutup telponnya.


"Siapa Lex? mesra sekali kata-kata nya" Marsha sengaja menggoda kakak sepupu nya.


"Anya menelpon, dia bilang agar kita tidak makan di luar nanti sore karna dia sudah memasak banyak makanan untuk kita" Bian menyanpaikan pesan yang tadi Anya katakan di telpon.


"Wow, great! aku akan sangat senang bisa mencoba makanan yang di masak oleh perempuan yang sudah bisa membuat kakakku ini tidak melihat pada wanita lain!" Marsha memainkan alisnya untuk menggoda Alex.


"Apa yang kau katakan, sudahlah, waktu makan siang sudah selesai, kita harus melanjutkan pekerjaan kita" Bian tidak membiarkan Marsha terus menggoda nya.


BERSAMBUNG


like like like, yang mau komen boleh, yang mau ikutan vote boleh.

__ADS_1


__ADS_2