
ENJOY YOUR READING GUYS 🔥🔥🔥
Olive mengikuti lekuk tubuh Susie dan melirik ke bawah, tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin.
Rok mini, sepatu bot, jaket terbuka, Itu adalah rok super pendek, hampir tidak bisa membungkus pantatnya yang bulat. Dia terlihat sangat cantik, tetapi juga membuat orang merasa sangat kedinginan. Dia tidak takut membeku dalam cuaca seperti itu.
Olive tiba-tiba menjadi tertarik, keluar dari lift dan berkata sambil tertawa.
"Ya, mungkin bos baru akan menyukai pesona ku, tapi aku tidak yakin dia akan membiarkan ku menjadi manajer umum. Karena Asisten Maltz tidak ikut dengan Tuan Geve, takutnya itu mungkin akan membuat mu kecewa di masa depan"
Susie memandang nya dengan tatapan dingin, dia sengaja menyenggolnya. saat berjalan masuk ke dalam lift dan melewati nya untuk berada di belakangnya.
Olive tersenyum dan sedikit memiringkan dagunya, menatap ke belakang tanpa rasa takut.
Lalu pintu lift tertutup.
Susie menghentakkan kakinya di lantai lift.
xxxxxx
Presdir baru terlihat sudah berada di perusahaan tersebut dan dia langsung pergi ke bagian Personalia untuk meminta informasi Olive Steele. kepala personalia segera menyerahkan surat pengunduran diri Olive Steele, Presdir baru itu mengambil berkas tersebut lalu berkata.
"Jika dia ingin mengundurkan diri, kamu minta dia untuk berbicara dengan saya secara langsung."
Menurut naluri seorang wanita, itu adalah sinyal yang berbahaya, namun, dia tidak bisa menebak, apa hubungan ambigu antara bos baru dan Olive Steele?
Setelah sekretaris Sandy menghubunginya, Olive mengetuk pintu kantor presiden.
"Masuk." Suara rendah itu, sepertinya memiliki keakraban yang tidak bisa dijelaskan.
Olive menarik napas dalam-dalam dan mendorong pintu lalu berjalan masuk ke dalam ruangan Presdir baru tersebut.
Kantornya sangat luas, dan dekorasinya pun tidak murah, Nyatanya, Pak Geve adalah orang yang sangat cakap, mulai dari nol, berjuang untuk bisnis keluarga. Sayangnya, dia punya sifat yang buruk.
Baru-baru ini, ada pepatah populer di Internet bahwa ayah adalah paspor putranya dan putranya adalah prasasti ayahnya. Antara generasi pertama dan kedua orang kaya, sangat tidak masuk akal untuk mendeskripsikan mereka.
Di depan jendela kaca seorang pria jangkung berdiri dengan meletakkan tangannya di belakang punggung.
“Apakah Anda Manajer Steele?” Pria itu berbalik dan menatapnya dengan dingin.
Olive yang berdiri tepat di depan meja kerja Presdir melihat tepat ke wajah Presdir baru itu yang sekarang berada tepat di depannya dan dia pernah melihat wajah itu.
"Anda..." Olive sedikit terkejut karena hal itu.
Apakah dia pemilik baru perusahaan? Apakah dia di sini untuk berbicara tentang akuisisi ketika saya melihatnya sebelumnya?
Perusahaan dijual? mengapa beritanya tidak keluar sebelumnya? seingat dia perusahaan selalu berjalan dengan baik, tidak ada alasan yang masuk akal untuk menjadikan alasan perusahaan harus di jual.
"Apakah Miss Steele mengenal saya?" Alan sepertinya bertanya dengan santai.(Presdir baru adalah Alan Hoyle.
Olive tersadar dari lamunannya yang terbang kemana-mana, Dia memikirkan kaki ayahnya, Annie yang lincah dan imut. Dia ragu-ragu, dia tidak yakin tentang sesuatu. Dia tidak berani bertaruh, hanya menggelengkan kepalanya, "Aku pernah membaca kisah tentang Tuan Hoyle di majalah bisnis, dan itu membuat saya terkesan.
"Benarkah?" Alan meliriknya dengan dingin, yang sepertinya berisi pertanyaan.
Olive melihat pria itu mengalihkan pandangannya sebelum dia bisa memastikannya.pria itu tidak menyebutkan apapun tentang pengunduran dirinya dan itu membuat nya agak gugup dan tidak bisa menebak apa yang ingin pria itu lakukan.
"Tuan Hoyle, saya di sini untuk berbicara tentang pengunduran diri." Dia tidak datang untuk menemani Presdir baru itu makan, meskipun dia tahu bahwa bos baru itu adalah dia, dia sangat tidak ingin tinggal bersamanya walau hanya untuk sementara waktu, tapi, curah hujan lima tahun sudah cukup untuk membuatnya bukan lagi gadis kecil yang ugal-ugalan.
"Oh ya? oke, karena Miss Steele tidak ada acara kita bisa akan makan siang di sini. Miss Steele tidak boleh menolak ajakan ini, bukan?" Presdir itu langsung berkata seperti itu, apa lagi yang bisa dia lakukan, dia tidak ingin menyulitkan proses pengunduran dirinya.
Alan melihat bahwa Olive tidak menolak, dia mengangkat bibirnya dengan ringan. Kemudian seperti trik sulap, dia mengeluarkan menu dan memberikannya kepada Olive.
"Miss Steele ingin makan apa?"
Olive memarahi dirinya sendiri karena tidak bisa menolak ajakan ini, dengan beberapa kata, pria itu membuatnya untuk menyerah dan tidak dapat mengatakan apa pun untuk menentangnya. Orang seperti pria itu hanya memberikan satu perintah, sekretaris mereka akan melakukan yang terbaik untuk memesankan restoran atau memesan makanan untuk mereka.
Dia tahu dia tidak makan makanan pedas dan makanan manis, tidak suka makanan berminyak, dia juga menolak rasa seledri dan ketumbar. Jadi, dia memesan beberapa hidangan yang dia sukai.
xxxxxx
Ternyata selama bertahun-tahun, beberapa kebiasaan masih tidak bisa di rubah, pria itu sangat pemilih, dia tidak tahu apakah itu tidak berubah sedikitpun selama bertahun-tahun.
__ADS_1
untungnya, Annie tidak mewarisi kebiasaan buruknya dan tidak perlu terlalu khawatir soal makan, dalam beberapa saat, sekretaris Alan holye sudah mengantarkan piring yang berisikan pesanan mereka dan sekertaris Alan menatapnya beberapa kali.
Alan duduk berdampingan dengannya di sofa yang sama.
"Saya tidak menduga, selera makanan Miss.Steele mirip denganku."
"Apakah ini aneh?" Tanya Olive, nadanya tenang, tapi hatinya sudah naik turun.
"Yah, bukan itu." Alan juga makan perlahan, "Rasanya enak."
Olive menghela nafas pelan di dalam hatinya dia berpikir jika Alan tidak menyetujui surat pengunduran dirinya, dia tidak tahu apakah akan pergi atau tinggal. Tapi dia bisa merasakan maksudnya, walau dia tidak akan bisa memahami pikirannya untuk saat ini, dia tidak tau maksud kemunculan Alan di perusahaan ini, apa itu memang di sengaja atau murni kebetulan, sekarang, dia harus berhati-hati.
"Tuan Hoyle, tentang pengunduran diri saya ......" Olive kembali mengutamakan maksud kedatangan nya.
"Mengapa Anda ingin mengundurkan diri?" Alan bertanya dengan ringan.
Nada bicara memang terdengar biasa tapi suasana yang tercipta untuk nya teatasa sangat menekan.
"Saya sudah menjelaskannya dalam surat pengunduran diri saya." Olive berusaha untuk tetap tenang.
"Saya belum membaca surat pengunduran diri. Saya ingin mendengarnya langsung dari Anda." Alan menjawab dengan datar.
"Tidak apa-apa, hanya bekerja membuatku merasa sedikit lelah, aku ingin istirahat sebentar." Olive merasa tidak perlu mengatakan alasan yang menurut dia tidak perlu dia katakan.
"Tapi saya mendengar Asisten Maltz mengatakan bahwa karena apa yang dilakukan Miss.Steele, perusahaan menderita kerugian puluhan juta. Bisakah saya menganggap surat pengunduran diri Anda sebagai mengundurkan diri untuk lepas dari tanggung jawab?"
Olive telah mengantisipasi bahwa Susie akan menjelek-jelekan dirinya dan nada suara Alan terdengar seperti menuduhnya sehingga tiba-tiba Olive meledak dalam kemarahan.
"Kalau menurut Mr.Hoyle itu benar, Anda bisa mengira saya mengundurkan diri untuk melepas tanggung jawab." Kata Olive dengan wajah dingin dan suara yang tidak kalah datar.
Alan tidak menyangka saat Olive tiba-tiba marah. Alan tertegun sejenak, detik berikutnya, dia sedikit mengangkat sudut bibirnya.
"Melihat sikap anda yang seperti ini saya khawatir tidak ada perusahaan yang baik mau mempekerjakan Anda lagi."
Olive sedikit tercengang, dia tidak ingin membantah karna apa yang di katakan Alan benar, itu kalau memang dirinya bersalah, maka tidak akan ada perusahaan yang mau menerima dirinya sebagai karyawan, tapi dia tidak melakukan itu dan dia harus bekerja karna ada keluarganya yang harus dia hidupi.
Saat dia sedang berpikir, sentuhan dingin tiba-tiba berada di rahangnya, dia mendongak dengan rasa terkejut dan melihat mata Alan yang dalam, Apa yang akan pria itu lakukan?
"Anda......"
Mata gelap Alan berbinar dengan rasa percaya tinggi.
Pria itu benar-benar gila? Dia berani mengatakan kata seperti itu, apakah dia masih laki-laki yang dia kenal? Atau dia selalu menjadi orang seperti itu, tetapi dia tidak perduli! Ketika dia sedang sibuk dengan pikirannya, dia merasakan sakit yang menusuk di rahangnya. Sebelum dia bisa menjawab, dia sudah berada dalam pelukan yang pernah dia tau, dia mendongak dan melihat wajah Alan dengan rahang yang besar tanpa batas. Nafas hangat menyentuh wajahnya, Olive ingin memalingkan wajahnya tapi ternyata dia tidak bisa bergerak sama sekali karna dekapan Alan yang kuat bahkan membuatnya sulit bernafas.
"Alan Hoyle! Kau......"
"Aku ingin kau menjadi wanitaku," Alan berkata dengan enteng, matanya yang jahat dan menarik tertuju padanya dengan tajam
Dalam sekejap, tubuh Olive kaku, Alan mendorong kepalanya ke bawah, bibir Alan menyentuh bibirnya dengan cepat dan menahan tangan ramping Olive dengan tangannya besar dan tangan lainnya memegang bagian belakang kepalanya dan mencoba memperdalam ciuman. Mereka jatuh ke belakang ......
Bersyukur pada saat genting itu ponsel Olive berdering membuat Olive bisa melepaskan dirinya dari pelukan Alan, Olive mengambil smartphone nya dan menjawab panggilan telepon, Suara ayahnya terdengar tergesa-gesa dan panik.
“Olive, ibumu terkena stroke dan dirawat di rumah sakit. cepat datang dan lihatlah."
Pikiran Olive menjadi kosong, “Bagaimana ini bisa terjadi?” Olive bertanya setelah mengatur nafasnya dari rasa terkejut dan agar tidak ikut panik.
"Aku tidak tahu. Dia sedang menonton TV seperti biasa, dan dia berkata dia akan mengambil segelas air untuk diminum tapi dia langsung terjatuh saat dia bangun dari tempatnya. Sekarang dia berada di ruang gawat darurat."
"Aku akan segera ke sana." Setelah menutup telepon, Olive meletakkan tas di tangannya dan segera bangkit.
"Tuan Hoyle, permisi Aku harus pergi.”
Keadaan seakan tidak mendukung, dia tidak bisa menghentikan taksi kosong saat memanggil taksi. Melihat taksi yang melewatinya tanpa ada yang berhenti, wajahnya menjadi pucat dan dia menghentakkan kakinya dengan marah.
sebuah mobil melaju ke arahnya dan berhenti di depan nya.
"Masuk. Aku akan mengantarmu, tunjukkan arah ke rumah sakitnya "
Olive ragu sejenak sebelum dia dengan cepat membuka pintu dan duduk
"Terima kasih."
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, ibu Olive kebetulan sedang di dorong keluar dari UGD.
“Dokter, bagaimana kabar ibuku?”
“Dokter, bagaimana kabar istri saya?” Tanya Olive dan ayahnya bersamaan.
Dokter melepas masker di wajah nya.
"Karena penyelamatan tepat waktu pasien bisa di tolong dan akan segera sadar, tapi pasien perlu tinggal di rumah sakit untuk observasi selama beberapa hari." Ujar Dokter menerangkan kondisi pasien.
Olive bersandar ke dinding, dan merasa lega dengan apa yang katakan oleh sang dokter.
Ibunya adalah kehidupan ayahnya. Keduanya saling membantu dan menghibur dalam hidup mereka. Meski hidup mereka tidak mudah, mereka tidak pernah bertengkar satu sama lain. Olive selalu merasa bahwa orang tuanya adalah pasangan yang paling sempurna di dunia, dan jika sesuatu terjadi pada ibunya, dia tidak dapat membayangkan apakah ayahnya akan mampu menanggungnya, untungnya, tidak ada hal buruk yang terjadi.
"Permisi, apa kalian keluarga pasien?" Seorang perawat menghampiri Olive dan Ayahnya.
"Kalian harus mengurus administrasi nya" Perawat itu memberikan kertas pada Tuan Steele.
Olive tersadar dari lamunannya, dia harus lebih dulu menyelesaikan pembayaran agar ibunya bisa mendapatkan perawatan yang baik juga obat yang bagus pastinya.
“Aku akan membayar, ayah, kau disini saja, tunggu sampai ibu sadar, dia pasti akan mencari Ayah" Olive berjalan menuju bagian administrasi, namun, ketika dia sudah berada di bagian kasir, dia tersadar bahwa dia tidak punya cukup uang untuk membayar biaya.
"Gunakan ini." Sebuah tangan muncul di depannya dan dia melihat Alan memberikan sebua kartu padanya.
"Kau belum pergi?" Olive tadi sangat khawatir dengan keadaan ibunya sehingga dia tidak pernah menyadarinya kalau Alan berlari bersamanya. Dia pikir dia pergi lebih awal.
"Apakah ada hal lain yang bisa saya lakukan untuk Anda?" Alan coba bertanya.
"Terima kasih. Saya akan mengganti nya kembali dalam beberapa hari" Pastinya dia tidak mau memiliki hutang budi.
“Tidak perlu, itu adalah gajimu. Jika Anda ingin libur beberapa hari, saya akan memberi Anda cuti selama seminggu. Dalam tujuh hari anda harus sudah mulai bekerja " Alan berujar tanpa bertanya.
"Tn. Hoyle, mengapa Anda harus mempekerjakan karyawan seperti saya yang ingin meninggalkan perusahaan?” Olive masih berat untuk kembali bekerja di perusahaan itu.
"Tn. Geve sangat menghargai Anda. Meskipun perusahaannya telah di jual, saya dan dia tahu akan ada beberapa perubahan dalam beberapa departemen, dia secara konsisten merekomendasikan Anda.” Alan memberikan alasannya, tapi tiba-tiba dia suaranya berubah datar.
"Dan jika aku ingin mempertahankan seseorang, orang itu tidak akan bisa pergi meskipun orang itu ingin"
Olive semakin frustasi dengan hasrat Alan yang ingin mempertahannya agar tetap di perusahaan itu, apalagi dengan tawaran Alan saat mereka masih berada di ruangannya tadi.
xxxxxx
Olive mendapat telepon dari Chloe sore ini, “Sayang, akhirnya aku bebas, kau harus datang ke waittingbar malam ini dan minum bersamaku untuk merayakan status lajangku?” Suara Chloe terdengar bahagia walau tetap terdengar nada kesedihan di dalamnya, karna pastinya tidak ada orang yang berencana untuk rumah tangganya hancur, apalagi karna orang ketiga, keempat dan seterusnya, Bagaimanapun, kisah pangeran dan Cinderella berakhir. Akhir yang bahagia hanya ada dalam dongeng, karna kenyataannya selalu sangat kejam,
Cukup kejam sehingga Olive tidak bisa membayangkan dia bisa bersama Alan.
Sekarang status sosial pria itu sangat tinggi di atas langit. dia adalah pria dengan latar belakang yang kuat, jarak antara dia dan dirinya yang tadinya tidak terlalu jauh tapi sekarang jarak mereka bagai langit dan bumi.
Ketika Olive tiba di waittingbar, Chloe sedang bernyanyi dan menari di atas panggung, terlihat seperti wanita gila, dia melempar mikrofon untuk menggoda bartender baru di tengah jalan, dan meminta semua botol kepada Ivy dengan merek terbaik.
Ivy adalah pemilik bar ini. Dia tinggi dengan kulit putih tapi terkesan pucat seperti tidak pernah terkena sinar matahari, Dia memiliki semacam kecantikan feminin dengan kata populer untuk menggambarkan bahwa dia adalah seorang feminim boy.
Sekarang dia berdiri di sana sambil menggelengkan kepala melihat kelucuan tingkah Chloe, jika Chloe adalah sahabatnya di kota ini, maka Ivy adalah pasangan prianya selama lima tahun ini, bartender yang masih terlihat sangat muda itu dan baru saja mulai bekerja sebagai bartender, telinganya terlihat memerah karena rayuan dan sindiran Chloe, dan berdiri di sana dengan salah tingkah dengan penuh berharap menunggu bos nya untuk menyelamatkan dirinya.
Tapi bos nya seperti menutup mata terhadap semua ini dan hanya menyesap anggurnya dengan santai, Olive tersenyum saat melihat ini dan kekhawatirannya akhirnya hilang. Wanita itu tidak berperasaan seperti biasanya.
Dia bilang dia lega atas perpisahannya saat mereka berbicara di telepon. Bisakah dia benar-benar memikirkannya? Lebih baik melepaskan cinta yang seperti sampah secepat mungkin, ketangguhan Chloe yang luar biasa telah membuat Olive terpana. walau Dia tau sahabat nya itu tidak mudah untuk keluar dari kesedihannya waktu.
Chloe melihatnya, datang dan memeluknya, "Olive sayang, akhirnya kau di sini"
Setiap kali Chloe memanggilnya dengan nada seperti itu Olive merasa lucu dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merinding.
Chloe mengistirahatkan Olive di sofa dan melambai ke Ivy.
"Ayo, kalian berdua duduk bersama ku dan kalian harus menghabiskan malam ini bersamaku untuk merayakan status lajangku," Chloe berujar dengan nada yang terdengar riang"
Mata Chloe sedikit bengkak malam ini, dan dia menggunakan eye shadow tebal untuk menutupinya, mun, wajahnya masih sangat sempurna bahkan bartender tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya.
Olive tidak minum alkohol kecuali terpaksa. Dia memiliki perut yang buruk, kesibukannya dalam bekerja bertahun-tahun ini membuatnya makan tidak teratur, dan membuat perutnya sedikit bermasalah dan membuat dirinya harus mengontrol apa-apa yang masuk ke dalam perutnya, namun malam ini, dia tidak akan menolak untuk mengkonsumsi alkohol, meski Chloe tersenyum cerah, tapi luka di dasar hatinya tidak bisa sembuh secepat itu.
Teman ada bukan hanya untuk bersenang-senang tapi juga untuk bisa menyembuhkan dan menemani di saat sakit mendera.
__ADS_1
to be continued
like jika kalian suka dengan cerita nya