
ENJOY YOUR READING GUYS🌿🌿🌿🌿🌿
Sinar matahari terlihat memasuki ruang kamar tidur Bian melalui dinding kamarnya yang terbuat dari kaca, Anya terlihat terbangun dari tidurnya dengan sedikit rasa pusing yang mendera kepalanya, Anya membuka matanya dan memperhatikan sekelilingnya, Anya sangat terkejut mendapatkan dirinya berada di sebuah kamar yang besar dan ranjang dengan ukuran king size, Anya memperhatikan kamar tersebut sangat mirip dengan kamar hotel kelas suite room, Anya mencoba mengingat ngingat apa yang terjadi, dia hanya ingat kalau dia salah meminum munuman yang menjadi milik Rica yang berii wine dan parahnya dia malah terus meminum minuman mahal tersebut, padahal dia sangat tau kalau dia tidak bisa meminum banyak minuman yang alkoholnya di atas 15 persen dan setelahnya dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi,apa dia membuat malu dirinya sendiri, Anya memperhatikan pakaiannya dan syukurnya tidak ada yang berubah dengan pakaiannya, Anya memperhatikan sekelilingnya tapi dia tidak menemukan keberadaan si p ria bule di kamar ini, dia sendiri ga tau dimana dia sekarang, apa berada di kamar hotel atau di mana, Anya bangun dari tempat tidur besar tersebut lalu berjalan menuju pintu dan dengan perlahan Anya membuka pintu kamar tersebut dan melongo ke luar dan ternyata dia berada di lantai dua dan di lantai dua ini hanya ada dua kamar karna dia melihat ada satu pintu lagi yang tertutup rapat, Anya berjalan pelan pelan keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga, Anya melangkag menuju ke lantai bawah untuk mencari tau dimana keberadaan dirinya saat ini.
"Kamu sudah bangun" Terdengar suara dari lantai bawah, dan itu suara pria dengan aksen bulenya, dan itu menganggetkan Anya yang masih berada di atas anak tangga, Anya melihat si pria bule keluar dari area dapur seperti nya karna si pria bule terlihat sedang memakai apron di tubuhnya, dan jujur itu terlihat sexy di mata Anya karna memang Anya sangat menyukai lelaki yang pintar masak dan itulah yang membuat Anya mengidolakan salah satu Chef cowo professional Indonesia yaitu Chef Juna.
"Maaf Tuan, kenapa Tuan membawa saya ke sini?" Anya langsung bertanya tude point tentang keberadaannya di tempat ini yang kemungkinan adalah sebuah Apartment, karna di lihat dari ruangan nya yang luas tapi terbatas Anya berani menebak kalau ini adalah Apartment, dan pastinya Apartment mewah yang mahal karna ukurannya yang luas untuk setiap ruangannya, apalagi memiliki dua lantai sudah bisa di pastikan kalau ini adalah Apartment mewah yang kemungkinan harganya di atas 40M yang sering Anya baca di majalah atau melihatnya di acara Televisi.
Bian melepas apron yang ada di tubuhnya dan memandang ke arah Anya yang sudah berada di anak tangga paling bawah.
"Menurut kamu saya harus membawa kamu ke mana? ke tempat kerja kamu atau membawa kamu ke kantor polisi? karna saya tidak mungkin membawa kamu ke rumah kamu karna saya tidak tau alamat rumah kamu, dan seandainyapun saya tau alamat rumah kamu apa mungkin saya tega mengantarkan kamu ke rumah kamu dalam keadaan mabuk seperti tadi malam? apa yang akan di katakan orangtua kamu saat melihat anak perempuan nya pulang dalam keadaan mabuk" Bian mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Anya tidak menjawab apa yang di katakan si pria bule karna memang tidak perlu juga untuk di jawab,karna kalau dia menjawabnya itu sama saja dia menceritakan tentang keluarganya, dan dia paling tidak bisa menceritakan tentang keluarganya kepada orang asing.
"Saya berterima kasih atas kebaikan Tuan, sakarang saya permisi pulang karna ini sudah lewat jam kerja saya" Anya berniat untuk segera pulang karna pasti kedua adiknya mencarinya, karna memang Anya tidak pernah tidak pulang walau jam berapapun.
"Kamu yakin mau pulang dengan pakaian seperti itu?" Tanya Bian menunjuk ke seragam kerja yang masih menempel di tubuh Anya.
Anya memandang seragamnya dan tersadar kalau seragamnya bisa menimbulkan masalah jika di bawa ke tempat umum
"Tunggulah sebentar lagi, orang saya sedang menuju ke sini membawakan pakaian untuk kamu yang pastinya lebih layak untuk di lihat di tempat umum, sekarang kamu lebih baik sarapan dulu, sekalian menemani saya" Bian menunjuk ke arah meja makan yang sudah terlihat ada menu khas western untuk sarapan yang sudah tersusun rapi di sana.
Anya terpaksa menerima tarawan si pria bule karna keadaan yang memaksa harus seperti itu, Anya mengikuti Bian yang berjalan menuju meja makan, mereka duduk saling berhadapan karna Anya memang sengaja memilih tempat yang lumayan jauh, dan ini membuat Bian tersenyum jika mengingat kejadian tadi malam, dimana antara tubuhnya dan tubuh Anya tidak berjarak sama sekali,, bahkan Anya menyentuh beberapa bagian tubuhnya dengan bebas bahkan tanpa ijin darinya, tapi sekarang saat kesadaran gadis itu sudah pulih semua kembali seperti semula dimana Anya yang selalu menjaga jarak dari dirinya, dan senyuman Bian membuat Anya sedikit merasa aneh, tapi dia merasa tidak perlu menanyakan apa yang membuat pria bule itu tersenyum.
__ADS_1
"Saya harap kamu suka dengan breakfast yang saya buat" Bian mempersilahakan Anya untuk menikmati sarapan yang dia buat, yang terdiri dari telur goreng tanpa minyak, dan juga ada salad sayur dan juga ada potongan daging yang seperti nya di grill dengan banyak bumbu, karna tercium dari aromanya.
Keduanya menikmati breakfast mereka dengan tenang tanpa ada suara, hanya suara antara pisau dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar di ruangan tersebut, karna Bian yakin, kalaupun dia bertanya pasti dia tidak akan mendapatkan jawaban yang dia inginkan atau memuaskan, jadi lebih baik tidak usah menanyakan apapun, dan di saat keduanya sedang asyik dengan makanan mereka, terdengar dari arah depan suara pintu di buka, dan terlihat seorang pria bule lainnya yang tak lain adalah asisten Bian yaitu Dino berjalan ke arah mereka, Bian tidak kaget dengan Dino yang bisa membuka pintu Apartment nya, karna memang dia sengaja memberitau Dino password pintu Apartment nya untuk berjaga-jaga jika ada hal yang tidak di inginkan terjadi.
Dino yang membawa paper bag di tangannya tersenyum ke arah Bian dan juga Anya yang tetap berada di kursi mereka.
"Morning Master, morning Nona Anya" Dino terlebih dahulu menyapa Boss nya itu dan juga Anya, dan Anya sedikit kaget di panggil nona, tapi dia tidak ingin membahas itu dan membahas senyuman dari Dino.
"Master ini pesanan yang Master Minta" Dino memberikan paper bag yang dia bawa kepada Bossnya, dan Bian mengambil paper bag tersebut lalu menyerahkan nya kepada Anya dan Anya langsung menerima paper bag tersebut.
"Terima kasih Tuan, kalau gitu saya permisi ke dalam" Anya langsung undur diri meninggalkan tempat tersebut tanpa menunggu jawaban dari si pemilik tempat, bukan karna tidak sopan, tapi Anya hanya ingin segera pulang karna memikirkan kedua adiknya.Anya kembali naik ke lantai dua dan menuju kamar tempat dia tadi keluar untuk membersihkan dirinya dan memgganti pakaiannya.
"Dino, bagaimana meeting hari ini? apa sudah kamu ubah jadwalnya?" Tanya Bian tentang skejul kerjanya, setelah memandang Anya yang naik ke lantai dua.
"Bagaimana kamu bisa tau ukurannya dengan Pas?" Tanya Bian kepada Dino selagi Anya masih lumayan jauh dari mereka.
"Saya menanyakan nya kepada Rica Tuan, mereka kan teman, pasti tau ukuran baju satu sama lain" Ujar Dino, Bian hanya menganggukan kepalanya karna dia sudah tidak mungkin untuk berkomentar karna Anya yang sudah dekat dengan mereka.
"Permisi Tuan, saya mau permisi pulang sekarang karna sudah sangat siang" Anya tidak lagi berbasa basi.
"Baiklah, kamu tunggu sebentar saya akan berganti pakaian, saya akan mengantar kamu pulang" Bian menawarkan diri untuk mengantarkan Anya pulang.
"Tidak usah Tuan terima kasih, saya sudah memesan taxi online" Anya menolak dengan halus tawaran Bian karna satu alasan, karna dia ga mau kliennya tau tempat tinggalnya.
__ADS_1
Bian tau kalau Anya sudah menolak seperti ini maka akan sangat sulit untuk bernego jadi Bian hanya diam mengikuti kemauan Anya.
"Baiklah kalau begitu, Dino tolong kamu ambilkan bungkusan yang ada di freezer" Bian menyuruh Dino dan Dino langsung mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Bossnya dan segera berjalan menuju lemari es dan membuka lemari dengan ukuran besar tersebut dan mengambil bungkusan yang terlihat beda sendiri di sana , karna selebihnnya adalah daging beku mentah, jadi sangat tidak mungkin jika dia di suruh mengambil daging mentah.
"Ini master" Dino meletakan bungkusan yang dia ambil di atas meja.
"Ini seafood yang kita makan tadi malam, saya sengaja tidak menghangatkannya agar kamu bisa menghangatkannya di rumah dan memakannya selagi panas" Bian menyerahkan bungkusan tersebut dan juga memberikan amplop yang cukup tebal kepada Anya.
"Terima kasih Tuan" Anya menerima semua yang di berikan si pria bule tanpa ingin bertanya sama sakali.
"Saya akan antar kamu ke pintu, karna kamu tidak mungkinkan membuka pintu itu sendiri karna kamu tidak tau password nya" Ujar Bian entah berniat melucu atau menyindir Anya yang selalu menolak tawarannya, Anya tidak mempeedulikan hal tersebut diabmengikuti Bian yang sudah lebih dulu berjalan ke arah pintu.
"Apa kamu mau saya antar sampe ke lantai bawah? karna ini adalah lantai paling atas" Tanya Bian saat sudah membukakan pintu Apartment nya untuk Anya.
"Tidak usah Tuan, saya bisa sendiri" Anya lagi-lagi menolak tawaran Bian dan Bian tidak membahas hal tersebut.
"Sekali lagi terima kasih untuk semua kebaikan Tuan, saya permisi" Anya berjalan menuju lift yang berada tidak jauh dari Apartment Bian dan Bian kembali menutup pintu Apartment nya setelah Anya menghilang di balik pintu lift, Bian berjalan ke arah Dino yang sekarang sudah berpindah me ruang tamu.
"Dino, kamu cari tau semua infomasi tentang gadis itu selengkap-lengkapnya jangan ada yang terlewat sekecil apapun" Bian menyuruh Dino untuk mencari tau tentang diri Anya karna dia merasa sudah sangat tertarik dan ada rasa ingin memiliki gadis tersebut.
"Baik Master" Dino menganggukan kepalanya, dan jika Boss nya sudah meminta dia untuk menyelidiki seorang gadis berarti ada kemungkinan Boss nya mulai tertarik dengan gadis tersebut seperti kejadian beberapa tahun silam, karna Dino sudah bekerja dengan Bian hampir sepuluh tahun.
BERSAMBUNG
__ADS_1
SEMOGA KALIAN SUKA