
ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿
Marsha menjauh dari kamar mandi setelah tau kalau Anya ada di dalam kamar mandi, Marsha meletakan botol juice dan juga gelas yang dia bawa, lalu menuangkan isi botol yang berupa orange juice ke dalam masing-masing gelas, Marsha meneguk isi di gelas yang satu, Marsha mengambil smartphone nya dan mengaktifkan nya karna setiap jam tidur Marsha pasti akan mematikan smartphone nya agar tidak ada yang mengganggu waktu istirahat nya, karna tidak ada juga telpon yang penting yang dia tunggu, Marsha mengecek email nya dan ada email dari uncle Richard yang mengingat kan tentang meeting jam sebelas nanti, ada juga beberapa chat yang masuk dari teman-teman nya yang mengajaknya bertemu karna Marsha yang berada di Indonesia selama sebulan lebih, Marsha membalas chat-chat yang dia anggap penting aja dan mencuekan chat yang sama sekali ga perlu dia pikirkan.
Terlihat Anya keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai gaun yang dia pake buat tidur dengan wajah yang sudah terlihat segar dan juga aroma wangi dari sabun yang di pake Anya, Marsha menunjuk ke arah gelas yang berada di atas nakas dengan maksud agar Anya meminum nya, Anya melihat ke arah nakas dan melihat gelas yang sudah terisi dengan orange juice, Anya menganggukan kepalanya tanda mengerti, Anya pun berjalan ke arah nakas dan mengambil gelas dan meminum isinya.
"Babe, kamu jangan keluar pake baju begitu, nanti kalau mommy lihat di kira kamunya dari kamar Alex, kamu ganti sama baju biasa aja" Marsha meminta Anya untuk mengganti bajunya dan Anya menuruti apa yang di katakan Marsha, Anya bejalan ke ruang ganti, sementara Marsha masih sibuk dengan smartphone nya sampe dia melihat Anya bejalan keluar dari ruang ganti dan sudah mengganti gaun tidurnya dengan celana dan kaos oblong.
"Marsha, aku balik ke kamar ya, thanks buat semuanya" Anya berjalan ke arah pintu kamar Marsha.
"Baby tunggu" Marsha menahan langkah Anya, Marsha mendekati Anya yang sudah berjalan hampir sampe ke pintu.
"Kenapa?" Anya bertanya dan tidak mempermasalkan cara Marsha memanggil nya.
"Aku mau bilang, kamu ganti baju, nanti kamu ikut aku" Marsha hampir lupa dengan permintaan Alex yang memintanya untuk mengajak Anya.
"Ikut kemana?" Anya memandang ke wajah Marsha yang terlihat beda dengan rambut di gulung seperti itu.
"Kamu ikut ke kantor aku karna Alex ada banyak urusan hari ini, dia takut kamu bingung kalau di rumah cuma berdua sama mommy" Marsha mengatakan apa yang tadi Alex katakan padanya.
Anya hanya diam mendengar apa yang di katakan Marsha, memang jujur dia pasti bingung kalau di tinggal berdua dengan Ibunya Bian, kan ga mungkin kalau dia selalu bersama adik-adiknya, takutnya di anggap enggak menghargai tuan rumah.
"Udah tenang aja, nanti aku aja ke tempat yang bagus sepulang dari kantor, udah sana ganti baju" Marsha menggiring Anya ke pintu kamar nya dan menutup pintu kamar nya setelah Anya keluar dari dalam kamar nya.
*****
Anya dan Marsha sudah terlihat rapi, Marsha dengan setelah kantornya dan Anya dengan jeans dan blues nya dengan belahan di lengan dan belahan dada yang tidak terlalu rendah hanya memperlihatkan dada Anya yang putih dan mulus dengan polesan make up yang tidak terlalu tebal membuat Anya terlihat girlie, mereka jangan menuruni anak tangga menuju lantai bawah dan saat melewati ruang keluarga mereka bertemu dengan Ratih yang sedang membaca majalah di tangannya.
"Mom, aku ke kantor dulu" Marsha pamit kepada Ratih dan mencium pipi mommy nya.
__ADS_1
"Be careful sayang" Ratih tersenyum kepada Marsha dan melihat ke arah Anya yang berdiri di belakang Marsha.
"Mom, Anya ikut sama aku, karna Alex merasa kasian kalau Anya di rumah terus, jadi Anya aku ajak" Marsha. menjawab pandangan mommy yang mengandung pertanyaan.
"Aunty aku pamit ikut dengan Marsha" Anya mencoba untuk basa basi, karna dia juga bingung harus bersikap seperti apa kepada Ibunya Bian, memang Ibu Bian tidak menunjukan sifat permusuhan tapi dia merasa seperti ada jarak yang di ciptakan Ibunya Bian di antara mereka, Ratih hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya.
"Bye Mom'" Marsha melambaikan tangan nya dan berjalan sambil memegang tangan Anya agar mengikuti langkah nya, Ratih hanya memandang tubuh dua gadis yang semakin menjauh dari pandangannya lalu melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda.
****
Mobil Marsha sudah sampai di gedung tinggi dengan tulisan besar WORLD CORP, Anya dan Marsha turun dari pintu belakang yang sudah di bukakan terlebih dahulu oleh security yang menjaga pintu utama.
"Morning Miss" Sapa security tersebut sambil menundukan sedikit tubuhnya, Marsha menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas sapaan karyawan nya itu dan melanjutkan langkahnya menuju ke dalam gedung tinggi tersebut, sementara dari pintu depan turun Assistan Marsha yang merangkap sebagai driver, Assistan itu memberikan kunci mobil mewah tersebut kepada petugas valley agar memarkirkan mobil tersebut di tempatnya dan segera menyusul Marsha yang sudah masuk lebih dulu. Marsha mengajak Anya masuk ke dalam lift khusus dan di susul dengan cepat oleh assistannya, kalau tidak alamat bakal make lift umum yang hanya mentok di lantai enam puluh tiga, dan harus menaiki tangga biasa sebanyak tujuh lantai untuk sampe di ruangan CEO yang berada di lantai tujuhpuluh . sedangkan lift khusus yang mereka naiki memiliki akses penuh ke setiap lantai, tapi tidak sembarangan orang bisa menaiki nya karna harus memakai sidik jari sebagai kunci untuk membuka pintu lift tersebutl, dan sidik jari itu hanya milik Marsha, assistannya, Richard, Alvaro, Bian, dan satu-satunya orang luar yang sidik jarinya ada dalam data komputer lift tersebut adalah kepala security gedung ini,, jadi jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan akan sangat mudah untuk mengungkap pelakunya, Anya lumayan takjub dengan ketinggian gedung ini itu terlihat dari jumlah tombol yang ada.
"Ini belum begitu tinggi babe, kau tau WTC yang runtuh itu? itu lantainya ada seratus sepuluh lantai" Marsha bisa menebak apa yang ada di kepala Anya, karna Anya dari tadi terus memandang ke arah tombol yang jumlahnya bepuluh-puluh, Anya hanya tersenyum mendengar perkataan Marsha yang bisa menebak apa yang dia pikirkan.
"Kalau yang di sewakan kepada umum itu gedung yang di sebelahnya, ada puluhan perusahaan yang menyewanya" Marsha memberikan sedikit info pada Anya, Anya hanya menganggukan kepalanya bingung juga mau comen apa, (mungkin itulah kenapa orang kaya makin kaya karna mereka tidak lelah bekerja walau duit mereka sudah tidak berseri, jadi sangat bulshit kalau ada yang bilang duit tidak bisa membeli kebahagiaan, kalau duit ga bisa bikin bahagia ngapain orang berlomba-lomba ingin jadi Kaya, bahkan sampe pesugihan dan melakukan segala cara untuk yang namanya uang, coba tanya pemulung, apa mereka bahagia tanpa uang, tanya orang miskin lainnya apa mereka bahagia hanya dengan memiliki uang yang hanya cukup buat makan dan bayar kontrakan).
Lift berhenti di lantai tujuhpuluh dan pintu lift terbuka otomatis, Marsha, Anya dan Assistan Marsha keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ruang CEO, seorang wanita yang sedikit lebih dewasa dari Marsha langsung berdiri saat melihat kedatangan Marsha.
"Good afternoon Miss" Sapa sekertaris tersebut.
"Uncle Richard sudah datang?" Marsha bertanya kepada sekertaris itu.
"Tuan Richard sudah datang dari tadi Miss, apa perlu saya beritau kalau Miss sudah datang?" Sekertaris itu berniat mengangkat gagang telpon yang ada di mejanya.
"Ga usah, biar saya langsung menemui beliau" Marsha melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban dari sekertaris itu, Anya dan Assistan Marsha mengikuti langkah Marsha menuju pintu ruang kerja Richard.
"Tok tok tok" Marsha mengetuk pintu yang ada di depannya.
__ADS_1
"Silakan masuk" terdengar suara berat dari dalam ruangan .
"Marsha membuka pintu di depan nya dan melangkah masuk di ikuti oleh Anya dan assistannya.
Richard yang sedang sibuk di meja kerjanya langsung berdiri dari kursinya saat melihat kehadiran Marsha, sang pemilik perusahaan yang saat ini menjadi tanggungjawab nya.
"Nona, anda sudah datang" Richard berjalan mendekati Marsha dan menyalaminya.
"Apa kabar Uncle" Marsha menjabat tangan Richard.
"Baik Nona" Richard memandang beberapa saat ke arah Anya yang berdiri di samping Marsha, gadis dengan wajah Asia eropa, terlihat sangat cantik, Marsha bisa melihat cara Richard memandang Anya, Richard memang terkenal sebagai playboy, apalagi kalau melihat gadis muda, Marsha mendekati telinga Richard dan membisikan sesuatu dan langsung terlihat perubahan pada wajah Richard yang langsung membuang pandangannya dari wajah Anya.
"Maaf nona" Richard menundukan sedikit tubuhnya.
"Bagaimana meeting nya? jam berapa kita berangkat?" Marsha tidak membahas permintaan maaf Richard.
"Meeting nya di adakan di Ricz Carlton jam sebelas nanti" Richard mengulang apa yang dia kirimkan via pesan.
Marsha melihat ke arlojinya sudah pukul sepuluh.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang, karna tidak baik kalau client menunggu kita" Marsha mempersilakan Richard untuk berjalan lebih dulu, Richard berjalan keluar dari ruangannya dan mendekati sekertaris nya.
"Berta, bawa berkas-berkas kerja sama untuk tuan David" Richard berkata kepada sekertaris nya sebagai tanda kalau Berta harus ikut meeting dengannya.
"Baik Tuan" Berta segera mengambil beberapa berkas yang memang sudah dia persiapkan dan mengambil tas nya dan segera bergegas mengikuti langkah para Bossnya, walau masih ada terselip tanya saat melihat perempuan yang datang bersama big boss nya.
BERSAMBUNG
please like setelah membaca
__ADS_1