
ENJOY YOUR READING GUYS🍁🍁🍁🍁🍁
Bram terlihat sedang bertelpon ria dengan putranya yang saat ini sudah berada di London untuk kuliah di sana sekaligus mengurus salah satu perusahaan mereka yang ada di sana.
"Papi udah ketemu dengan anaknya calon Papi" Bram memberitaukan perihal pertemuan nya dengan Yana dan Jesslyn.
"Memangnya calon Papi punya anak?" Terdengar suara Jerry yang bertanya dari speaker telpon.
"Iya, calon Papi itu punya anak satu, perempuan, yaaa kurang lebih seumuran lah sama kamu" Bram menjelaskan lebih lanjut.
"Nanti pas Papi mau ngelamar Papi harap kamu bisa pulang untuk bertemu dan berkenalan dengan mereka, karna Papi juga udah cerita soal kamu dan merekapun ingin kenal dengan kamu"
"Ya nanti Jerry usahain supaya bisa nemanin Papi saat lamaran nanti" Jerry mendukung semua keinginan Papinya, toh juga dia yang mendorong Papinya untuk menikah lagi.
"Ya udah, Papi punya janji sama Tante Yana untuk makan malam di rumahnya, ga enak kalau Papi datang terlambat, kamu jangan terlalu sering main, kuliah yang bener biar cepat selesai seperti kemauan kamu" Bram mengakhiri telponnya.
"Iya Pi, salami buat calon Papi" Jerry berkata di akhir ucapannya.
Bram berjalan ke meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaan nya dan merapikan semua berkas yang ada di atas meja kerjanya, lalu Bram mengambil Jas nya dan berjalan keluar dari ruangannya, sampe di depan meja sekertaris nya Bram berhenti sejenak.
"Irene, besok jangan lupa persiapkan meeting dengan client kita yang dari German, jangan ada yang terlewat" Bram memang selalu mengingatkan sekertaris nya jika ada meeting yang penting, karna sekertaris nya lah yang harus mempersiapkan bahan untuk meeting, tidak ada salahnya jika atasan yang mengingat kan jika memang lagi ingat.
"Baik Pak" Irene menganggukan kepalanya.
"Kalau kamu udah selesai kamu bisa pulang, biar cepat ketemu anak sama suami kamu" Bram berkata lagi.
__ADS_1
"Baik Pak, terimakasih" Irene menganggukan kepalanya lagi.
"Saya jalan duluan ya" Bram langsung bejalan tanpa menunggu jawaban dari sekertaris nya itu.
Irene merasa sangat beruntung menjadi sekertaris seorang Bramantyo selama bekerja hampir lima tahun sekertaris dirinya tidak pernah mendapatkan omelan yang berlebihan, hanya teguran sewajarnya saat memang dirinya salah dalam bekerja, dan bossnya itu sangat royal dengan bonus terhadap semua karyawannya dan mungkin itulah kenapa hampir tidak ada karyawan yang resign dari perusahaan ini, kalaupun ada itu jika karyawan tersebut sedang sakit keras atau sudah tidak di ijinkan bekerja oleh pasangan mereka atau karna ingin focus mengurus anak, dan untuk pesangonpun boss mereka benar-benar menghargai kinerja mereka selama mereka bekerja.
****
Yana dan Jesslyn sedang berada di Mansion keluarganya yaitu rumah kedua orangtuanya, karna sudah hampir dua bulan Yana tidak berkunjung ke rumah orangtuanya dan malam ini mereka datang untuk melepas kerinduan mereka.
Yana dan Jesslyn berserta kedua orangtuanya yang juga Oma dan Opa Jesslyn sudah duduk manis di depan meja makan untuk makan malam bersama menikmati masakan Oma Rica yang memang masakannya selalu the best, itu juga yang membuat restoran milik Oma Rica selalu laris manis di setiap cabang nya yang berada hampir di seluruh kota di Nusantara dan juga di beberapa kota yang ada di benua Asia, America dan Eropa, karna memang Rica adalah seorang chef yang sangat terkenal di era sebilanpuluhan dan duaribuan.
"Adek, gimana rasanya di kelas duabelas?" Hadi bertanya di sela-sela menikmati makanan nya.
"Yan, Papa liat hubungan kamu dengan Bram sepertinya semakin serius?" Hadi ganti bertanya ke arah putrinya.
Yana sempat menghentikan kunyahannya saat mendengar pertanyaan dari Papanya yang sedikit tidak terduga.
"Mas Bram memang serius Pa, apalagi sudah mendapatkan lampu hijau dari cucu kesayangan Papa" Yana menunjuk ke arah putrinya dengan dagunya.
Hadi dan Rica langsung memandang ke arah cucu kesayangan mereka saat mendengar jawaban putri mereka, mereka tidak tau kalau Jesslyn sudah memberikan restu kepada mommynya yang tidak lain adalah putri mereka.
"Benar sayang apa yang di katakan mommymu?" Hadi kembali bertanya pada cucu kesayangan nya itu.
Jesslyn memandang beberapa saat ke arah mommynya lalu memandang wajah Oma dan Opa nya secara bergantian.
__ADS_1
"Karna adek merasa mommy berhak untuk bahagia dengan lelaki yang benar-benar serius ingin membahagiakan mommy walau lelaki itu bukan daddy kandung adek" Jesslyn menjawab dengan santai pertanyaan Opanya.
Hadi tersenyum lebar mendengar jawaban Jesslyn dan tidak menyangkah kalau cucunya bisa berpikiran sedewasa itu di usia yang masih bisa di bilang sangat muda, mungkin cucunya itu selama ini melihat kalau mommynya tidak bahagia dengan daddynya yang seorang playboy berandal yang tidak punya masadepan.
"Ternyata cucu Opa sudah besar dan sudah bisa memilih kan jodoh yang baik untuk mommynya" Hadi kembali tersenyum lebar.
"Sayang, bukannya kamu bilang Bram itu memiliki seorang anak, apa kamu sudah bertemu dengan anaknya itu? dan apa anaknya menerima kamu seperti Jesslyn menerima dia?" Rica ikut bertanya tentang hal yang menurut nya dia tanyakan, jangan sampe ada masalah saat hubungan putrinya dengan lelaki bernama Bram itu menjadi lebih serius.
"Aku memang belum pernah bertemu Ma, tapi mas Bram bilang justru anaknya yang mendorong dia untuk menikah lagi dan akan menerima siapapun perempuan yang menjadi pilihan Papinya selama perempuan itu baik dan tidak berusaha untuk menggantikan posisi Almarhum Ibunya di hidupnya" Yana mengatakan apa yang dia dengar dari Bram bahkan sebelum mereka resmi berhubungan.
"Dan mas Bram bilang anaknya akan bertemu dengan kami saat mas akan melamar" Yana melanjutkan penjelasan nya.
"Kenapa tidak sekarang? kenapa ga menunggu saat lamaran" Rica merasa sedikit aneh.
"Ma, putranya mas Bram sudah berangkat ke London untuk kuliah di sana dan itu sudah terjadi sebelum aku dan mas Bram berhubungan" Yana kembali menjelaskan.
"Ya kalau memang seperti itu ga ada yang perlu di permasalahkan, dan Papa harap kalian jangan seperti anak ABG yang berpacaran terlalu lama, kalian sudah cukup dewasa dan lebih baik kalau hubungan kalian di seriuskan, Papa harap secepatnya Bram menemui Papa" Hadi segera memotong pembicaraan istrinya dengan mengatakan sesuatu yang lebih serius dan terbukti Rica menganggukan kepalanya mendengar perkataan suaminya itu.
"Yana akan bicarakan hal itu nanti saat Yana bertemu dengan mas Bram" Yana tidak bisa membantah apa yang di katakan oleh kedua orangtuanya karna tidak ada yang salah dengan apa yang mereka katakan.
BERSAMBUNG
Like jika kalian suka dengan ceritanya
maaf kalau terlalu pendek bab nya🙏🙏
__ADS_1