PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
CHAPTER 101


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Semua sudah berkumpul di meja makan dengan berbagai makanan yang tersusun rapi di meja makan dan semua sudah duduk di kursi masing-masing, semua menikmati hidangan yang ada.


"Marsha bagaimana bisnis mu dengan Mr David?" Bian menatap adik sepupu nya itu.


"Sudah berjalan, dia tidak terlalu ribet ternyata, dia setuju dengan harga yang di tawarkan, karna dia tau sapi kita adalah sapi terbaik kwalitaanya di negeri ini, dan dia dia butuh itu untuk produksi kornet nya yang pasaran nya menguasai empat puluh lima persen di seluruh dunia" Marsha mengatakan hasil kontrak kerja samanya dengan Mr David untuk empat tahun ke depan.


"Baguslah kalau semua berjalan baik, berapa sekarang jumlah sapi mu di peternakan?" Bian sudah lama tidak mengetahui perkembangan usaha adik sepupu nya itu.


"Dari laporan yang di kirim Serly, jumlah terakhir ada sepuluh ribu tiga ratus, dan sekarang yang hamil ada tiga ribu, dan yang baru melahirkan ada seribu lima puluh" Marsha mengatakan dari laporan yang dia lihat.


"Baguslah, tapi ingat jaga makan mereka dengan baik agar mereka menjadi sapi limosin terbaik dengan berat yang bagus, jangan terlalu banyak memberikan air, karna akan membuat kwalitas daging menjadi jelek setelah beberapa hari di potong" Bian memberikan masukan agar tidak ada complen dari costumer mereka , semua yang ada di meja makan hanya mendengarkan apa yang di bicarakan Bian dan Marsha, karna peraturan dalam keluarga Alvaro, di larang bicara jika ada yang sedang berbicara, dan di larang memotong sebelum pembicaraan selesai kecuali memang benar-benar urgent.


"Bian, kapan kita ke Paris?" Ratih ganti bertanya setelah kedua putra putrinya selesai berbicara.


"Lusa kita ke Paris, dua hari ini kita nikmati keindahan pulau kita ini, sayang apa kamu mau ikut daddy mancing?" Bian menatap ke arah putrinya.


"Of course Dad!" Bianca menjawab dengan semangat ajakan Daddynya.


"Micca sama Rio, apa kalian juga mau ikut memancing? kita akan memancing di tengah laut dengan kapal speedboat" Bian menawarkan Micca dan Rio untuk ikut bersama mereka.


"Daddy, Micca boleh ikut, tapi dia tidak!" Bianca langsung protes saat Daddynya mengajak Rio.

__ADS_1


"Cieeee yang mau mancing berdua..." Marsha langsung menggoda keponakannya itu.


"Daddy! lihat aunty!" Bianca langsung memayunkan bibirnya.


Bian melihat ke arah Marsha dan mengelengkan kepalanya lalu menatap putrinya.


"Sweety, ga seru dong kalau cuma Daddy cowonya, lagian biar Rio bisa menjaga kalian" Bian berkata dengan lembut kepada putranya itu.


Bianca hanya mencebikan bibirnya melihat Daddynya yang sepertinya sedang membela cowo yang sangat menyebalkan buat dia, sementara Rio terlihat cuek dengan kejutekan Bianca, sebenarnya dia ingin menjawab tapi saat melihat gelengan kepala dari kakaknya Rio mengurungkan niatnya dan kembali focus dengan makanannya.


Kimberly yang melihat interaksi antara Alex dan kedua adik Anya hanya bisa mengepalkan tangannya, dan ini membuatnya semakin yakin untuk melenyapkan perempuan bernama Anya itu, Anya yang melihat Kimberly menatapnya dengan tatapan tajam terlihat cuek, karna dia merasa tidak perlu melayani kecembuan perempuan bule itu, acara makan malam terus berlangsung hingga selesai dan semua meninggalkan kursi mereka, Bianca pergi bermain dengan Micca karna mereka sudah mulai akrab, Kimberly seperti biasa selalu menempel dengan Ratih, Bian pergi Dino ke ruang kerja, walau katanya liburan tapi tetap saja Bian pasti mengurus pekerjaannya dimanapun dia berada, sementara Rio duduk di teras villa dengan games nya, Ibu Tuti ikut bergabung dengan para maid membereskan meja makan, walau sudah di larang tapi Ibu beralasan kalau badannya sakit jika tidak melakukan apa-apa, dan Marsha menemani Anya berjalan-jalan di depan villa menikmati suasana sore menjelang senja dengan pemandangan langit yang sangat Indah.


****


Bagaimana Dino? laporan apa yang di berikan oleh anak buahmu tentang Anya?" Ya, Bian memberikan ulang tugas kepada Dino untuk menyelidiki hubungan Anya dengan siapa saja sebelum bertemu dengan dirinya, entah di campus atau di tempat kerjanya yang dulu.


Bian memijit-mijit pelipianya, jika semua informasi sudah di dapatkan lalu apa yang membuat wanita nya seakan menutup hatinya untuk cinta, Bian memandang ke luar jendela kantornya yang mengarah ke arah depan Villa, dia bisa melihat Anya dan Marsha yang sedang berbincang, sesekali keduanya terlihat tertawa, sesuatu yang sangat jarang dia lihat, Anya memang selalu tersenyum pada nya, tapi dia hampir tidak pernah mendengar Anya tertawa, Anya tertawa hanya jika menceritakan tentang perdebatan antara Micca dan Rio.


"Kenapa begitu sulit untuk memahami wanita" Bian bermonolog sendiri, dulu pun saat Clara masih ada, dia pun sangat sulit memahami istrinya itu, yang sering berubah-ubah mood nya, atau memang dia yang tidak berbakat dalam hal memahami wanita.


****


Anya dan Marsha masih berjalan-jalan dengan memakai jacket yang tebal karna memang sudah mendekati musim salju jadi udara semakin terasa dingin, langit sangat cerah dengan udara yang sedikit berkabut.

__ADS_1


"Kau suka di sini?" Marsha melangkah perlahan mengikuti langkah kaki Anya.


"Suasana nya enak, dan banyak suara hewan yang terdengar" Anya memang sangat menikmati suasana di pulau ini.


"Dulu saat Daddy membeli pulau ini, Pulau ini benar-benar hutan belantara, hampir tidak ada celah untuk berjalan, lalu Daddy mulai menebang pohon di beberapa tempat dan kayunya menjadi villa yang di sana karna kwalitas pohon di sini sangat bagus, karna usianya sudah ratusan tahun, dan daddy tidak mengusik binatang apapun yang ada di sini, bahkan Ujar sekalipun, justru daddy menambah kan beberapa hewan lagi, dan kamu tau, letak pulau ini seperti berada di sarang ikan-ikan besar, karna setiap memancing kami selalu mendapatkan ikan super jumbo " Marsha menceritakan keisrimewaan pulau ini.


"Apa kamu juga suka memancing?" Anya menatap sekilas ke arah Marsha.


"Awalnya kurang, tapi setelah mencoba ternyata memancing itu melatih metabolisme tubuh kita, seperti ketelitian kita saat melempar umpan, dan paling utama melatih kesabaran kita saat menunggu ikan memakan umpan kita" Marsha menerangkan tentang asyiknya memancing.


"Apa besok kamu ikut mancing dengan Bian?" Anya merapatkan jacket nya karna hawa dingin yang menembus pakaian yang dia kenakan.


"Sepertinya tidak, karna besok aku harus ke kota bertemu dengan temanku yang tinggal di negara ini, dia melanjutkan sebagai seorang designer, karna dia ingin membangun brandnya sendiri" Marsha memberitaukan rencananya besok.


"Apa kau mau ikut Alex memancing? aku Jamin kau pasti suka" Marsha menanyakan rencana Anya sebelum mereka semua mulai berkeliling di Paris.


"Aku belum pernah memancing, takutnya aku jenuh, dan kasian kalau aku merusak moment Bian dan anaknya.


"Kalau begitu kamu ikut aku aja, sekalian kamu liat menata Eiffel pertama kali, karna aku bertemu dengan temanku di cafe daerah sana" Marsha berinsiatif untuk mengajak Anya ikut dengan nya daripada Anya bengong sendiri di villa, apalagi dia tau kalau Kimberly seperti nya tidak suka dengan Anya, mungkin Kimberly sudah bisa menebak kalau ada sesuatu antara Alex dan Anya.


Anya terlihat berpikir dengan tawaran Marsha, tapi dia juga ga tau mau ikut atau tidak.


"Udah tenang aja nanti aku yang bicara dengan Alex kalau kamu ikut dengan ku bertemu dengan temanku" Marsha mencoba menepis keraguan yang terbaca di mata Anya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


yang udah baca like ya


__ADS_2