
ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Langit terlihat sedikit mendung tapi belum terlihat hujan turun, Bian dan juga yang lain terlihat keluar dari dua mobil yang berbeda, Anya dan kedua adiknya juga Bu Tuti keluar dari mobil Anya seterin oleh orang suruhan Bian, sedangkan Bian, Marsha juga Dino keluar dari mobil yang di setirin oleh Agung, siang ini Bian berserta yang lain akan berangkat ke new york sebelum mereka berlibur ke Paris, dan pastinya Mereka menggunakan pesawat pribadi milik Bian, karna perjalanan lebih dari duapuluh jam akan sangat melelahkan jika memakai pesawat komersil, kecuali duduk di kelas bisnis yang tiketnya lebih dari empatpuluh juta perorang, Micca dan Rio sangat takjub melihat pesawat yang begitu besar, karna biasanya mereka hanya melihat di televisi.
"Kak pesawat nya besar banget, Rio nanti kalau udah banyak duit mau beli pesawat yang lebih besar" Rio berkata pada Anya.
"Emang mau kerja apa biar bisa beli pesawat??" Micca menyahuti perkataan Rio.
"Rio mau jadi boss biar punya duit banyak!" Rio berkata dengan semangat, Anya hanya tersenyum dan mengaminin dari dalam hatinya, karna ucapan adalah doa.
Micca hanya mencebikan bibirnya mendengar perkataan adiknya yang menurut nya terlalu berlebihan, semua sudah naik ke dalam pesawat dan terlihat ruangan yang begitu luas dengan sofa-sofa mewah yang tersusun rapi.
"Kak, kok pesawat nya sepi banget? ga ada orang lain? cuma kita doang? emang ga rugi?" Micca merasa heran dengan isi pesawat yang jika di hitung paling hanya ada duapuluh orang, karna Micca berpikir kalau ini pesawat biasa dan bukan pesawat pribadi.
"Iya, emang penumpang nya cuma kita" Anya menjawab singkat agar tidak terlalu banyak pertanyaan yang muncul setelahnya.
"Nona, kata master, adik-adik nona dan Ibu Tuti bisa istirahat di salah satu kamar yang ada, pilih aja yang mana nona mau" Dino datang mendekati Anya dan menyanpaikan pesan dari Bossnya.
"Emang ada kamarnya kak? pasti tiketnya mahal" Micca kembali mengatakan apa yang dia pikirkan.
Anya memberi isyarat agar Micca tidak lagi banyak bertanya.
****
Di sebuah kawasan elite di kota Manhattan New York di sebuah Mansion super mewah terlihat kesibukan luar biasa, dimana para maid sedang membantu para koki rumah menyiapkan makanan-makanan terenak karna Tuan muda mereka akan sampe dalam hitungan jam, terlihat seorang wanita paruh baya sedang mengecek makanan yang di siapkan, walau tidak ikut memasak tapi semua menu yang ada, semuanya resep dari wanita tersebut yang tak lain adalah Nyonyah besar di Mansion ini, Mommy nya Bian, Ratih Alvaro Alexandro Arnault, terlihat Bianca turun dari tangga dan berjalan ke arah Grandma nya.
"Grandma, Daddy lama sekali sampenya?" Bianca terlihat jenuh karna Daddynya sudah menelpon dari kemarin tapi sampe sekarang belum sampe juga.
__ADS_1
"Sayang, kamu taukan jarak Indonesia ke new york itu sangat jauh butuh waktu sehari semalam untuk sampe ke sini" Ratih memberi pengertian kepada cucu semata wayangnya itu, selama putranya belum menikah lagi maka Bianca adalah cucu satu-satunya di keluarga ini.
"Kira-kira masih berapa jam lagi Grandma?" Bianca memang sangat bete karna Daddynya juga susah di hubungi, mungkin pesawat nya sedang jauh dari satellite makanya tidak ada sinyal, (sepintar-pintarnya manusia, kalau udah berhadapan dengan alam tetap aja kalah, karna secanggih apapun sebuah satellite tidak bisa menjangkau semua area angkasa yang begitu luas)
"Mungkin dua atau tiga jam lagi sayang, kamu tau kan ini hari kerja dan jalanan pasti macet parah, sabar lah, Daddy my pasti sampe" Ratih mengelus rambut Bianca dan melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, mungkin tidak sampe tiga jam putranya semata wayangnya akan sampe, tapi dia sengaja berkata seperti itu agar Bianca tidak semakin berharap Daddynya cepat sampe, sedangkan suaminya masih menyempatkan ke kantor untuk menyelesaikan meeting penting dengan beberapa pemimpin anak perusahaan, jika berniat memiliki banyak perusahaan memang harus komit untuk mengurus nya, jika tidak ingin semuanya hancur, suaminya memang terkenal sebagai tangan besi dalam mengurus perusahaan dan menghadapi semua rival bisnis nya, tapi untungnya suaminya sangat humoris dalam keluarga, itulah yang membuat dia menerima suaminya saat dulu melamar dirinya yang bekerja di perusahaan suaminya sebagai sekertaris direktur keuangan di kota ini, Ratih memang setelah selesai dengan kuliahnya di salah sa tu university di Chicago Ratih pindah ke new york setelah mendapat panggilan kerja, padahal tadinya dia hanya iseng melamar ke Global universal Corporation tapi ternyata di terima, enaknya bekerja di perusahaan asing yang di pake memang kemampuan otak tidak ada sogok menyogok untuk bisa masuk ke perusahaan elite .
Ratih kembali ke dapur untuk memastikan semua masakan ready dan tersimpan rapi di lemari penghangat, walau sudah di masak dalam waktu lama tapi makanan harus tetap hangat dan harus memiliki alat khusus untuk itu, Ratih mendatangi kepala maid di rumah ini yang sedang mengatur para maid yang sedang membereskan rumah agar terlihat lebih enak di lihat.
"Peter, apa semuanya udah rapi?" Ratih bertanya pada pria yang sedikit lebih mudah dari dirinya.
"Sudah Nyonyah, tinggal merapikan kolam renang dan roof top tempat favourite Tuan muda" Peter menyanpaikan sisa pekerjaan yang harus di lakukan.
"Cepatlah, takutnya satu jam lagi Bian sampe" Ratih tau putra nya paling tidak suka jika dia sampe rumah masih ada maid yang sibuk di ruangan pribadi nya.
end
****
dua buah mobil Van mercedes mewah terlihat memasuki halaman luas Mansion keluarga Bian dan para bodyguard yang menjaga Mansion tersebut berlari kecil mendekati dua mobil mewah tersebut, mobil berhenti di depan pintu utama dan pintu mobil terbuka otomatis terlihat Bian, Marsha dan Dino keluar dari dalam Van dan Anya, Micca Rio dan Bu Tuti keluar dari Van yang satunya, beberapa bodyguard mengeluarkan koper-koper yang ada di bagasi mobil, sementara Bian dan yang lain berjalan ke arah pintu rumah, Bian menekan password untuk membuka pintu Mansionnya dan membuka pintu, lalu Bian dan di ikuti oleh yang lain berjalan masuk ke dalam Mansion super mewah tersebut, Peter yang mendengar suara langkah kaki segera melangkah menuju pintu utama dan sangat terkejut sekaligus senang melihat tuan mudanya datang, Peter bermaksud memanggil Nyonyah besarnya tapi di larang Bian dengan isyarat karna Bian mau mengejutkan Mommy nya, Peter memandang serius saat melihat ada banyak wajah baru yang datang bersama t uan mudanya itu tapi Peter tidak berani bertanya kepada Tuan mudanya itu, nanti juga akan terungkap dengan sendirinya.
Ratih yang sedang berada di dapur merasa mendengar banyak langkah kaki di dalam Mansionnya karna merasa aneh Ratih berjalan keluar dari dalam dapur dan sangat terkejut melihat putranya sudah sampe tanpa memberi kabar.
"Sayang... kenapa ga kasih kabar kalau udah sampe?!" Ratih memeluk tubuh putra semata wayangnya itu.
"Surprise Mom" Bian mencium pipi mommy nya.
Ratih juga memeluk Marsha yang sudah seperti putrinya itu dan menyalami Dino, tapi mata Ratih langsung focus saat melihat empat sosok yang tidak dia kenal bersama rombongan putra nya, Ratih memandang ke arah Marsha dengan tatapan penuh tanya, Marsha yang di tatap cuma tersenyum dan di saat Ratih ingin bertanya tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam Mansion.
__ADS_1
"Daddy......" Bianca terlihat berlari ke arah Bian dan langsung memeluk Daddynya itu.
"Daddy kenapa baru sampe??" Bianca langsung protes karna merasa Daddynya terlalu lama sampe.
"Sweety Daddy dari luar negeri bukan dari kantor, lagian sekarang Daddy udah di sini" Bian memeluk erat putrinya itu dan menciumi pucuk kepala Bianca, Bianca sangat terkejut melihat wajah anak laki-laki yang selalu membuatnya sewot, siapa lagi kalau bukan Rio, Bianca heran melihat ada Rio ada di Mansionnya.
"Daddy kenapa dia ada di sini?!" Bianca bertanya dengan nada protes.
"Cieeee yang langsung kenal ama calon pacar.." Marsha langsung menggoda keponakannya itu.
"Aunty! siapa yang mau jadi pacar cowo ngeselin kayak dia!" Bianca protes dengan ledekan Marsha.
"Sweety, ga boleh begitu sama tamu" Bian mengingatkan Bianca untuk sopan kepada tamu.
"Mommy Kenalkan, ini Anya dan adik-adik nya, Micca dan Rio, dan ini pengasuh mereka" Bian mengenalkan Anya dan kedua adiknya kepada Mommy nya.
"Anya menyalami dan mencium tangan Ratih sesuai budaya yang ada di Indonesia, begitupun dengan Micca dan Rio yang ikut mencium tangan Ratih.
"Ya sudah, pasti kalian capek, kalian istirahatlah, Peter tolong antar tamu kita ke kamar mereka" Ratih menyuruh Peter untuk mengantar Anya dan kedua adiknya juga pengasuhnya ke kamar tamu di lantai dua.
"Baik Nyonyah, silakan Nona" Peter mempersilakan tamu tuan muda mereka untuk mengikuti nya, Anya memandang sesaat ke arah Bian, dan Bian menganggukan kepalanya, Anya pun menggandeng tangan adik-adiknya untuk berjalan bersama nya mengikuti pria yang sudah berjalan di depan mereka, dan interaksi antara Anya dan Bian tidak lepas dari mata Ratih, Ratih bisa menebak kalau Anya adalah perempuan yang di ceritakan Kimberly pada dirinya.
BERSAMBUNG
hayooo gimana ya sikap orangtua nya Bian ke Anya.....
like like like biar cepat up kelanjutan nya.
__ADS_1