PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
CHAPTER 078


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿


Marsha meneguk wine nya sebelum mengatakan apa yang ingin dia tanyakan.


"Kamu mencintai Alex?" Marsha mulai bertanya dan memandang focus ke wajah Anya yang duduk di depan nya.


Anya sudah bisa menebak, pasti yang di tanyakan seputar hubungannya dengan Bian.


"Kalau mau jujur sampe saat ini aku belum merasa mencintai Bian, memang aku nyaman berada di dekatnya dan mengakui kalau dia adalah pria yang baik, bertanggung jawab dengan semua yang dia katakan, dan dia juga melindungi ku dari hal-hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi, tapi yaitu tadi, aku belum merasa mencintai Bian" Anya menjawab sesuai dengan apa yang dia rasakan terhadap Bian hingga saat ini.


"Lalu apa tujuan kamu bertahan berada di dekat Alex? kalau kamu memang tidak mencintai dia?"


"Kalau tujuan, sejujurnya ga ada, aku hanya ngejalani apa yang menjadi kesepakatan kami saat kami memutuskan untuk bersama, selama kami masih ingin bersama maka hubungan ini akan terus berjalan, tapi jika salah satu dari kami ingin hubungan ini selesai maka kami akan mengakhiri nya" Anya melanjutkan jawabannya.


Marsha melihat Anya begitu tenang menjawab pertanyaan dari dia, tidak terlihat merasa tertekan atau terpaksa memberikan jawaban.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin hubungan kalian menjadi lebih serius? kamu tidak ingin memiliki keluarga yang utuh, mempunyai suami dan anak-anak yang akan membuat hidup kamu akan lebih berwarna nantinya?"


Anya meminum air mineral yang ada di gelas satunya, untuk membasahi tenggorokannya sebelum kembali menjawab pertanyaan Marsha.


"Menikah seperti nya sesuatu yang sudah coret dari list hidup saya, focus saya sekarang adalah kedua adik saya, yang saya tidak ingin mereka sampe putus sekolahnya atau merasa iri karna teman-temannya bisa sekolah tinggi atau sekolah di luar negeri, jadi tujuan hidup saya adalah masa depan kedua adik saya, sedangkan untuk masa depan saya, saya sudah tidak memikirkan nya, saya hanya menjalankan apa yang sekarang saya lakoni sampe dimana saat Bian atau saya yang menginginkan hubungan ini di akhiri, karna saya juga harus menjaga jangan sampe kedua adik saya tau tentang hubungan yang saya jalani karna itu pasti akan menghancurkan perasaan mereka, karna mereka pasti berpikir kalau kakaknya menjual diri supaya bisa kaya, dan saya tidak mau sampe menjadi contoh yang buruk bagi mereka di saat mereka sudah mengerti, mungkin sebelum mereka mengerti dengan hubungan yang saya jalani dengan Bian, saya harus segera mengakhiri nya pada waktu yang tepat" Anya menjawab dengan lebih detail.


Wooww... Marsha merasa surprise dengan jawaban Anya, karma seumur hidup dia, baru kali ini ada perempuan yang ingin mengakhiri hubungan dengan kakak sepupu nya itu, padahal Anya tau betapa kaya nya Alex, jangan cuma untuk kuliah di luar negeri, sepupunya itu bahkan memiliki beberapa universitas ternama di beberapa negara Eropa, beratus perempuan ingin berada di posisi Anya dan akan bertaruh nyawa untuk mempertahankan Alex agar tidak pergi dari mereka, seperti yang di lakukan Kimberly, yang selalu menyingkirkan setiap perempuan yang ingin mendekati Alex, dan dengan pengaruh Daddynya Kimberly berhasil melakukan hal itu.


"Bagaimana kalau misalnya Alex ingin membuat hubungan kalian menjadi lebih serius?"


Marsha menyadari kalau Anya bukan perempuan yang memiliki ambisi berlebih akan harta atau lelaki, dia melihat Anya tipe perempuan yang mengedepankan logikanya dalam setiap kejadian, orang bilang cinta tidak mengenal logika, tapi sepertinya pepatah itu tidak berlaku untuk Anya, Marsha sangat mendukung jika Alex membuat hubungan nya dengan Anya menjadi lebih serius, tapi tidak bisa jika dia yang memintanya, semua harus dari keinginan Anya dan juga Alex.


"Anya, kamu mau ga nemenin aku ke butik untuk membeli baju, sepertinya aku harus membeli beberapa baju" Marsha menghentikan pembicaraan mereka tentang hubungan Anya dan Alex, karna dia sudah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, walau banyak yang meleset dari perkiraannya.


"Boleh, ya udah kalau gitu kita turun sekarang" Anya memberikan isyarat kepada salah satu karyawannya untuk membawakan paper bag ke meja mereka dan setelah karyawannya datang, Anya memasukan botol wine yang menjadi pesanan Marsha ke dalam paper bag, karna Marsha baru menuangnya sedikit ke dalam gelas, dan waktu mereka habis dengan bercerita, lalu mereka berjalan meninggalkan cafe menuju lift untuk turun ke lantai satu.

__ADS_1


****


Anya dan Marsha udah sampe di mall terbesar di Jakarta selatan dan bisa di bilang iconnya Jakarta selatan, mereka keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam mall dan berjalan mengitari koridor mall untuk naik ke lantai yang berada di atas untuk menuju ke butik dimana brand- brand ternama berada.


Anya dan Marsha sudah berada di dalam butik yang menjual brands-brand terkenal dunia yang satu helai bajunya bisa sampe seharga tigapuluh juta, tapi untuk keluarga Alexandro apalah arti uang segitu. buat yang heran kenapa namanya beda-beda saya kasih tau, nama Daddynya Bian Alexandro, nama Bian, Alexander, nama anaknya Bian, Alexandra, kalau nama keluarga nya. Arnault. itu nama kakeknya Bian dan Marsha. back to story.


Marsha mulai memilih-milih baju yang dia suka, sementara Anya mengikuti langkah Marsha tanpa sedikitpun ingin melihat baju-baju yang berjejer rapi di tampet mereka di gantung, dan Marsha menyadari itu.


"Anya, kamu tolong dong pilihin yang warnanya bagus menurut kamu, pilih beberapa pics" Marsha meminta Anya untuk membantu nya memilih beberapa blues dan juga dress yang ada.


"Tapi aku ga tau ukuran kamu" Anya takut kalau dia salah pilih ukuran.


"Tinggi kitakan hampir sama cuma beda dua/tiga senti, dan ukuran tubuh kita juga kayaknya sama, jadi aku yakin kamu pasti ga akan salah pilih ukuran" Marsha meyakinkan Anya untuk membantu nya memilih baju atau dress yang menurut Anya bagus, Anya akhirnya mengikuti keinginan Marsha dan memilih beberapa blues dan dress yang menurut dia sangat bagus dan cocok dengan kulit Marsha yang putih, mereka berdua terus berkeliling dan sampe di bagian tas-tas yang juga pastinya branded semua, Marsha masih meminta Anya untuk memilih kan yang model dan warnanya bagus menurut Anya dan lagi-lagi Anya menuruti keinginan Marsha, dan tanpa terasa mereka mengambil banyak item, dari dress, blues, celana, rok panjang, tas, high heels, setelah merasa cukup mereka berjalan ke kasir untuk menghitung total belajaannya mereka.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Ayo like yang mau tau lanjutannya.


__ADS_2