
ENJOY YOUR READING GUYS πΏπΏπΏπΏ
Bian melihat tanggal panggilan di nomer tersebut, tanggal yang sama saat Anya menghilang, karna penasaran Bian mendial nomer tersebut dan tersambung, setelah menunggu beberapa lama terdengar suara dari seberang sana dan suara perempuan.
"Kenapa kalian masih menghubungi ku? sudah ku katakan jangan menghubungi ku untuk alasan apapun karna bayaran kalian sudah lunas dan aku sudah bilang terserah perempuan itu mau kalian apakan! ingat jangan menghubungi ku lagi! tuutt" Pembicaraan terputus, perempuan yang menjawab panggilan yang di lakukan Bian langsung memutuskan panggilan tersebut tanpa memberikan kesempatan untuk lawan bicara nya berkata-kata, Bian yang mendengar suara perempuan yang menjawab panggilan nya melalui smartphone milik pria yang menculik Anya terlihat rahangnya mengeras dan tangannya terkepal, Bian memasukan smartphone yang barusan dia gunakan ke dalam saku jasnya lalu memandang ke arah Dino.
"Bereskan semua, jangan ada tersisa, jangan sampe polisi mengetahui hal ini" Bian berkata dengan suara baritonnya yang terdengar sangat dingin, Dino memberikan isyarat kepada salah satu anak buahnya untuk melakukan apa yang barusan di katakan oleh boss mereka lalu Dino mengikuti langkah bossnya keluar dari bangunan tua tersebut menuju mobil mereka, terlihat Marsha sudah berada di dalam mobil dengan Anya yang terbaring di atas jok mobil di sebelah Marsha, Mersha memang sudah lebih dulu mengamankan Anya saat saling baku tembak masih terjadi, Bian melihat ke arah Anya yang masih pingsan, entah berapa dosis yang di berikan para penculik itu hingga wanitanya masih pingsan dengan waktu yang sangat lama, dada Bian bergemuruh hebat melihat wajah yang selama empat hari ini lepas dari pandangannya, Dino menjadi driver sedangkan Bian duduk di sebelah Dino, Dino segera melajukan mobilnya meninggalkan bangunan tersebut untuk segera kembali ke resort milik bossnya.
Bian menggendong tubuh Anya yang masih pingsan melalui lift khusus menuju ruangannya di lantai paling atas resort, Bian membaringkan tubuh Anya di atas kasurnya, Bian membelai wajah dan rambut Anya, dia berharap wanitanya itu cepat sadar agar mereka bisa segera kembali ke pulau, Marsha yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur Bian hanya melihat apa yang di lakukan sepupu nya itu, dia juga sangat marah dengan orang yang menjadi dalang dari ini semua dan pastinya dia tidak akan melepaskan orang tersebut dengan mudah setelah apa yang terjadi dengan Anya, Bian berjalan keluar dari dalam kamarnya di ikuti oleh Marsha, Bian berjalan menuju ruang tamu dimana Dino sedang menunggu nya, Bian duduk di sofa tunggal begitupun dengan Marsha, Dino merasa ada sesuatu hal besar yang belum di katakan oleh bossnya itu dan dia tau itu bukan sesuatu yang baik, itu terlihat dari tatapan bossnya yang seakan ingin menghabisi seseorang.
__ADS_1
Bian masih terdiam terlihat sedang memikirkan sesuatu yang harus dia putuskan.
"Dino, kamu kembali sekarang ke pulau, lalu ajaklah Kimberly ke L A ke Istana ku" Bian memberikan perintah nya.
"Sorry Mr, kalau nona Kimberly menolak bagaimana?" Dino sedikit merasa heran dengan perintah yang di berikan bossnya itu, karna jika seseorang di bawa ke Istana bossnya yang ada di L A itu berarti bukan sesuatu yang baik bagi orang itu tapi dia juga tidak berani menanyakan alasan untuk itu.
"Katakan saja saya menunggu nya di sana pasti dia tidak akan menolak" Bian memberikan masukan kepada assistannya itu.
Marsha memandang sepupunya yang masih dengan mode dinginnya, dia juga heran kenapa Alex meminta Dino untuk membawa Kimberly ke Istana mereka di L A, karna Istana di L A bukanlah Istana pada umumnya dan yang di datangkan ke sana pastinya orang yang bermasalah dengan keluarga mereka secara personal.
__ADS_1
"Lex kenapa kau meminta Dino membawa Kimberly ke L A? masalah apa yang udah dia lakukan?" Marsha langsung menebak kalau Kimberly telah membuat suatu kesalahan.
"Nanti kau juga tau sendiri" Bian masih belum menjelaskan alasannya menyuruh membawa Kimberly ke L A,, Bian bangun dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar pribadi nya dimana Anya sedang berbaring, bukan sedang tidur tapi sedang dalam keadaan pingsan, Marsha tidak memaksa sepupu nya itu untuk menjawab pertanyaan nya tadi, karna nantinya juga dia bakal tau apa yang di lakukan Kimberly hingga dia di bawa ke Istana di L A.
****
Anya tersadar dan membuka matanya secara perlahan, dia merasa sedikit pusing di kepalanya, Anya memandang ke sekelilingnya dan dia merasa ini kamar yang berbeda dengan kamar yang dia tempati, Anya bangun dari tidur nya dan duduk sambil memijit pelipis nya untuk mengurangi rasa pusingnya, Anya melihat ke arah kirinya dan sangat terkejut melihat tubuh seorang pria yang tidur dengan posisi membelakangi nya, Anya yang sudah sadar penuh langsung turun dari ranjang king size tersebut dan melihat ke tubuhnya, dia melihat bajunya masih sama dan tidak ada yang aneh yang dia rasakan di tubuhnya, apa dia sudah di jual oleh para penculiknya kepada pria yang sedang tidur membelakangi nya itu, Anya berjalan perlahan menuju pintu dan pelan-pelan Anya mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut dan sepertinya dia sedang beruntung karna pintu kamar itu tidak terkunci, Anya membuka dengan sangat pelan pintu kamar tersebut agar tidak mengeluarkan suara, Anya memandang ke arah pria yang masih dengan posisi yang sama, merasa aman Anya melangkah kan kakinya keluar dari kamar tersebut, dia merasa ini kesempatan nya untuk melarikan diri, dia akan meminta pertolongan ke Embassy Indonesia untuk bisa kembali ke Indonesia dan akan menceritakan penculikan yang dia alami, sekarang dia sudah berada di luar kamar dan dia melihat ruangan luas di depannya, (apa ini rumah atau villa?) itulah yang ada di pikiran Anya, Anya melihat ke arah satu pintu yang dia yakini adalah pintu keluar dari ruangan ini, Anya berjalan ke arah pintu tersebut dan sampe di depan pintu tersebut Anya memutar knop pintu tapi sayangnya pintunya terkunci, Anya mencari cara lain agar diri nya bisa keluar dari tempat ini, Anya melihat sebuah jendela yang terbuka lebar tidak ada teralis yang menghalangi, jika hanya dua lantai dia masih bisa nekat untuk melompat walau dengan resiko patah kaki, ya lebih baik dia patah kaki daripada dia harus melayani pria lain, Anya berjalan ke arah jendela tersebut dan sangat berharap itu adalah jal an kebebasan nya, Anya sudah sampe di jendela tersebut yang ternyata mempunyai teras yang luas dan lagi-lagi Anya harus kecewa saat dirinya melihat ke pinggir jendela ternyata bukan berada di lantai dua tapi mungkin berada di lantai yang dia tidak tau ada berapa puluh lantai, Anya melihat pemandangan yang sangat Indah sebenarnya, tapi tidak ada waktu untuk itu, yang dia harus lakukan saat ini adalah mencari cara untuk bisa keluar dari tempat ini, Anya memandang sekeliling jendela itu, tidak ada apapun yang bisa membantu nya keluar dari tempat ini, Anya berjalan kembali ke dalam ruangan dan sedikit terkejut saat mendengar ada suara pintu di buka.
BERSAMBUNG
__ADS_1
like guys, kalau komen jangan cuma next Thor, lanjut Thor, comen yang lain tapi jangan julid karna setiap manusia pasti punya kekurangan (no body perfect) πππ