PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
BAGIAN 65


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🍁🍁


Johan yang sedang berada di ruang kerjanya terlihat sangat frustasi karna hubungannya dengan Cindy yang sudah di pastikan akan berakhir karna orangtua Cindy yang tidak merestui hubungan mereka, itu bisa dia rasakan dari apa yang di katakan Cindy kepadanya saat pertemuan terakhir mereka, sejujurnya dia tidak ingin meninggalkan ibukota karna dari lahir dia sudah berada di kota ini.


Johan mengusap kasar wajah nya yang terlihat sangat kusut dengan rambut yang terlihat acak-acakan dan itu membuat wajahnya terlihat menjadi sedikit lebih tua dari biasanya.


****


Yana baru selesai memeriksa laporan yang di berikan oleh Serly sekertaris nya, Yana menyandarkan punggung nya di body kursinya, dia harus segera menyelesaikan pekerjaan nya karna Bram menelpon nya dan mengatakan akan datang ke rumahnya nanti malam, ya hubungan nya dengan Bram sudah mendapatkan lampu hijau dari putrinya bahkan Bram beberapa kali menjemput putrinya dari sekolah.


Yana di kejutkan dengan pintu ruangannya yang di buka dengan sedikit kasar dari luar dan lumayan terkejut juga heran saat melihat mantan suaminya berdiri di depan pintu ruangannya.


"Maaf Bu, saya sudah berusaha untuk menghalangi Pak Johan masuk tapi Pak Johan tetap memaksa untuk menemui Ibu" Serly langsung berbicara sebelum dia kena tegur karna membiarkan mantan suami bossnya masuk dengan paksa.


Yana yang melihat mimik takut di wajah sekertaris nya itu dan melihat sekilas ke arah Johan, Yana menghela nafas pelan.


"Kamu kembali ke meja kamu dan Pak Johan silakan masuk, ada hal apa yang membuat anda datang ke kantor saya?"


"Permisi Bu" Serly berlalu dari tempatnya dan Johan berjalan masuk ke dalam ruangan mantan istrinya itu dan menutup pintu.


Johan memandang wajah istrinya yang terlihat semakin cantik dan semakin terlihat lebih muda dari usianya, Johan berjalan mendekat ke meja kerja Yana karna Yana masih tetap berada di posisinya.


"Katakan keperluan anda, karna saya masih banyak pekerjaan" Yana merasa jengah dengan tatapan mantan suaminya itu.


"Yan, aku ke sini untuk membicarakan tentang hubungan kita" Johan langsung tude point dengan maksud kedatangannya.

__ADS_1


Yana merasa aneh dengan perkataan Johan barusan yang terdengar sangat sumbang di telingannya.


"Hubungan? hubungan yang mana? kita sudah selesai sudah lama jadi tidak ada lagi yang namanya hubungan" Yana langsung membantah perkataan Johan.


"Aku tau kita sudah berakhir, justru itu aku datang untuk memperbaiki hubungan kita lagi, a aku mau kita kembali bersama lagi" Dengan tidak tau malu Johan meminta mantan istrinya itu untuk rujuk dengannya.


Mata Yana sedikit membesar mendengar perkataan Johan yang sangat tidak dia duga, dan bukan perkataan yang ingin dia dengar.


"Maaf, saya tidak tidak tertarik dengan apa yang anda bicarakan, kita sudah memiliki hidup masing-masing dan sudah memilih untuk mengakhiri semuanya dan ingat kita tidak akan bisa bersama lagi sampe kapanpun" Yana mengingatkan kalau hubungan mereka tidak akan bisa di perbaiki.


"Ingat Yan, yang menginginkan perceraian itu kamu bukan aku!" Johan mulai terlihat emosi mendengar perkataan Yana.


"Karna saya sudah lelah dengan sifat bajingan yang anda miliki!" Yana tidak mau kalah dengan mengingatkan sifat yang di miliki oleh mantan suaminya itu.


"Setidaknya kita kembali bersama untuk Jesslyn! dia pasti senang jika melihat kita kembali bersama!" Johan sengaja membawa nama putri mereka untuk neluluhkan hati Yana, karna dia sangat tau kalau mantan istrinya itu sangat menyayangi putri mereka dan akan melakukan apapun demi kebahagiaan putri mereka.


Johan yang merasa di abaikan oleh mantan istrinya itu akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan ke arah pintu lalu membuka nya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut menghilang di balik pintu.


Merasa Johan sudah tidak ada di ruangannya Yana mengangkat wajahnya dan menghela nafas panjang dan meminum air di dalam gelasnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering karna berdebat ga penting dengan mantan suaminya, Yana melihat jam tangannya dan sudah semakin sore, dia harus segera menyelesaikan pekerjaan nya karna tidak lucu kalau Bram datang tapi dirinya masih belum sampe di rumahnya sebagai tuan rumah.


****


Bram terlihat sedang bertelpon ria dengan putranya yang saat ini sudah berada di London untuk kuliah di sana sekaligus mengurus salah satu perusahaan mereka yang ada di sana.


"Papi udah ketemu dengan anaknya calon Papi" Bram memberitaukan perihal pertemuan nya dengan Yana dan Jesslyn.

__ADS_1


"Memangnya calon Papi punya anak?" Terdengar suara Jerry yang bertanya dari speaker telpon.


"Iya, calon Papi itu punya anak satu, perempuan, yaaa kurang lebih seumuran lah sama kamu" Bram menjelaskan lebih lanjut.


"Nanti pas Papi mau ngelamar Papi harap kamu bisa pulang untuk bertemu dan berkenalan dengan mereka, karna Papi juga udah cerita soal kamu dan merekapun ingin kenal dengan kamu"


"Ya nanti Jerry usahain supaya bisa nemanin Papi saat lamaran nanti" Jerry mendukung semua keinginan Papinya, toh juga dia yang mendorong Papinya untuk menikah lagi.


"Ya udah, Papi punya janji sama Tante Yana untuk makan malam di rumahnya, ga enak kalau Papi datang terlambat, kamu jangan terlalu sering main, kuliah yang bener biar cepat selesai seperti kemauan kamu" Bram mengakhiri telponnya.


"Iya Pi, salami buat calon Papi" Jerry berkata di akhir ucapannya.


Bram berjalan ke meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaan nya dan merapikan semua berkas yang ada di atas meja kerjanya, lalu Bram mengambil Jas nya dan berjalan keluar dari ruangannya, sampe di depan meja sekertaris nya Bram berhenti sejenak.


"Irene, besok jangan lupa persiapkan meeting dengan client kita yang dari German, jangan ada yang terlewat" Bram memang selalu mengingatkan sekertaris nya jika ada meeting yang penting, karna sekertaris nya lah yang harus mempersiapkan bahan untuk meeting, tidak ada salahnya jika atasan yang mengingat kan jika memang lagi ingat.


"Baik Pak" Irene menganggukan kepalanya.


"Kalau kamu udah selesai kamu bisa pulang, biar cepat ketemu anak sama suami kamu" Bram berkata lagi.


"Baik Pak, terimakasih" Irene menganggukan kepalanya lagi.


"Saya jalan duluan ya" Bram langsung bejalan tanpa menunggu jawaban dari sekertaris nya itu.


Irene merasa sangat beruntung menjadi sekertaris seorang Bramantyo selama bekerja hampir lima tahun sekertaris dirinya tidak pernah mendapatkan omelan yang berlebihan, hanya teguran sewajarnya saat memang dirinya salah dalam bekerja, dan bossnya itu sangat royal dengan bonus terhadap semua karyawannya dan mungkin itulah kenapa hampir tidak ada karyawan yang resign dari perusahaan ini, kalaupun ada itu jika karyawan tersebut sedang sakit keras atau sudah tidak di ijinkan bekerja oleh pasangan mereka atau karna ingin focus mengurus anak, dan untuk pesangonpun boss mereka benar-benar menghargai kinerja mereka selama mereka bekerja.

__ADS_1


BERSAMBUNG


LIKE JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITANYA


__ADS_2