PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
BAGIAN 32


__ADS_3

HAPPY READING GUYS 🍁🍁🍁🍁


"Hai, Yan, kamu di sini?" Sapa seorang pria yang masih sangat terlihat ketampanannya.


"Hai Bram" Yana sedikit surprise dengan kehadiran Bram di cafe tersebut, ya, pria yang menyapa Yana adalah Bramantya partner kerja sekaligus mantan kakak kelasnya di SMA dulu.


"Kamu sedang ketemu client?" Bram melihat ke arah perempuan di depan Yana.


"Owh bukan, ini teman aku, kamu sendiri sedang apa?" Yana bertanya karna melihat Bram yang hanya datang sendiri.


"Aku cuma pengen ngopi" Bram menjawab dengan senyum di bibirnya.


Gisel memberi isyarat dengan matanya kepada Yana tentang sosok pria tampat di depan mereka.


"Gis, ini Bram, dia kakak kelas kita waktu di SMP, sekarang perusahaan gue lagi ada kerja sama ama perusahaan dia, Bram ini Gisel dulu satu sekolah juga sama kita" Yana mengenalkan dua manusia yang ada di depannya satu sama lain, Gisel dan Bram saling berjabat tangan dengan Gisel yang mencoba mengingat sosok Bram karna mengingat sesuatu yang sangat lama butuh ingatan yang bagus.


"Kamu yang katanya suka sama Yana tapi langsung ngilang begitu lulus?" Gisel mencoba menebak, karna seingat dia dulu memang ada kakak kelas mereka yang suka sama Yana dan namanya Bram.


Yana sangat terkejut mendengar perkataan sahabatnya yang ga ada filter-filternya, Yana menendang kaki Gisel yang ada di bawah meja agar Gisel berhenti ngomong sembarangan.


"Bram, gabung sama kita aja sekalian kita ngobrol-ngobrol masa lalu" Gisel langsung menawari Bram untuk gabung di meja mereka, Bram melihat ke arah Yana seakan ingin meminta persetujuan.


"Yaa ga pa-pa kalau mau gabung" Yana mempersilakan Bram untuk gabung dengan mereka, karna ga enak juga kalau dia menolak Bram.

__ADS_1


"Thanks ya" Bram duduk di kursi yang ada di antara Yana dan Gisel lalu memanggil salah satu waiter dan memesan coffee yang dia inginkan.


"Jadi setelah lulus SMP mas Bram pindah kemana kok ga ada kabar nya?" Gisel memanggil Bram dengan sebutan mas karna memang Bram lebih tua dari dia.


"Saya pindah ke luar dan nerusin sekolah di sana sampe selesai S2 dan menikah dengan perempuan yang saya kenal di sana dan kami mempunyai seorang anak lelaki yang sekarang sudah kelas duabelas" Bram menceritakan kisahnya sedikit details.


"Jadi udah ga suka sama Yana lagi mas?" Gisel malah sengaja menggoda Bram tapi sekali lagi Gisel mendapat tendangan kecil di kakinya, Bram hanya tersenyum kecil sambil memandang sekilas ke arah Yana.


"Terus? kok sekarang balik lagi ke Indonesia? berarti istrinya juga ikut dong?" Gisel masih aja kepo


"Saya kembali ke Indonesia baru tiga tahun ini karna orangtua saya meminta saya untuk mengganti kan beliau mengurus kantor pusat, kalau istri saya, dia sudah tenang si sisi tuhan sejak beberapa tahun lalu" Bram berkata dengan tenang walau terlihat sedikit kesedihan saat menyebut istrinya.


"Ma-maaf mas, saya ga bermaksud membuat mas sedih" Gisel jadi ga enak hati setelah mendengar ucapan Bram.


"Ga pa-pa Gis, toh semua manusia pasti akan pergi cuma tinggal nunggu waktu" Bram sudah bisa mengendalikan kesedihan nya.


"Saya bantu Papa buat ngurus perusahaan, ya daripada ga ada yang di kerjakan hehe" Gisel tertawa kecil saat menceritakan kegiatannya.


"Waah hebat ya kalian semuanya jadi wanita karier yang sukses, by the way, seingat saya bukannya dulu kalian berlima atau berempat ya?" Bram iseng bertanya tentang Yana dengan csnya.


"Mereka masih liburan dengan keluarga nya ke luar negeri' Kali ini Yana yang menjawab.


"Anak kamu apa kabar Yan?" Bram teringat tentang anak perempuan Yana.

__ADS_1


"Jesslyn baik" Jawab Yana singkat, karna dia juga bingung mau biara apa, obrolan mereka terus berlanjut entah itu tentang pekerjaan atau tentang masalalu saat mereka masih sekolah.


****


Johan yang sedang berada di kantornya dan sedang memeriksa hasil penjualan selama tiga bulan ini, Johan di kejutkan dengan suara ketukan di pintu nya, terlihat sekertaris nya berjalan masuk sambil membawa sebuah amplop choklat di tangannya.


"Ada apa In?" Johan masih focus dengan pekerjaannya.


"Maaf Pak, tadi ada orang, katanya dari pengadilan agama memberikan ini" Iin memberikan amplop coklat yang dia bawa.


Johan menerima amplop tersebut dan melihat ke arah sekertaris nya itu.


"Ya udah kamu kembali ke meja kamu" Johan melihat amplop yang sudah berada di tangannya dan dia sudah bisa menebak isi dari amplop tersebut.


"Saya permisi Pak" Iin berjalan keluar dari ruangan bossnya itu.


Johan membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya dan benar isinya surat gugatan cerai dan sidang pertama akan di lanksanakan satu bulan lagi, dia tidak akan membiarkan perceraian ini berjalan sesuai keinginan istrinya, dia tidak mau melihat istrinya bakal bersama pria lain karna dia sangat tau dan ingat bagaimana dulu dia bersaing dengan banyak pria di campus mereka untuk mendapatkan istrinya, belum lagi mertuanya yang sibuk menjodohkan istrinya dengan anak dari rekan bisnisnya, untungnya dia yang bisa mendapatkan Yana dan menjadikan nya istrinya, jadi dia tidak akan semudah itu melepaskan istrinya itu, Johan mengambil smartphone nya dan mencoba menelpon putri nya tapi tidak angkat-angkat hingga panggilan ke lima, entah kenapa Johan merasa sifat Jesslyn mirip dengan mertua lelakinya, sangat susah di bujuk kalau sudah tidak menyukai sesuatu, apa benar ya kalau kita membenci seseorang saat istri sedang hamil maka anak yang ada di kandungan akan mirip dengan orang yang kita benci, walau secara visual putrinya sangat mirip dengan istrinya tapi sifatnya sebelas duabelas dengan mertua lelakinya.


"Lebih baik aku menemui Jesslyn dan meminta nya untuk membujuk mommy nya agar tidak melanjutkan perceraian ini" Johan melihat jam dan sudah pukul enam sore, lebih baik dia pulang sekarang, mungkin putri nya sudah pulang ke rumah, karna sudah hampir dua minggu putrinya tinggal di Mansion mertua nya dan dia sangat di sangat di haramkan untuk menginjak Mansion mertuanya, hanya tiga kali dia kesana saat dulu dia dan Yana masih pacaran, sejak mertua nya menolak hubungan mereka orangtua Yana mengharamkan dirinya untuk datang ke Mansion mereka, bahkan setelah menikah mereka tinggal di apartment nya yang kecil sebelum akhirnya istrinya membeli rumah, itupun atas nama mertuanya, menurut istrinya uang untuk membeli rumah mereka adalah asli hasil kerja istrinya tapikan Papanya yang bantu mencarikan akhirnya surat-surat nya tertulis atas nama mertuanya, Johan merapikan file-file di atas meja kerjanya dan memasukan yang penting-penting ke dalam tasnya untuk dia lanjutkan di rumah, setelah rapi Johan berjalan keluar dari ruangannya.


"In, saya pulang ya, kamu juga pulang" Johan mengingat kan sekertaris nya yang masih sibuk di meja kerjanya.


"Baik Pak" Iin menganggukan kepalanya dan hanya melihat atasan nya yang berjalan meninggalkan area tersebut, Iin pun mulai merapikan meja kerjanya bersiap untuk pulang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


jangan lupa like kalau kalian suka dengan ceritanya, move on ya dari cerita sebelah, karna ga semua Cerita berakhir indah, pernikahan aja yang menghasilkan anak banyak bisa bubar apalagi hubungan tanpa status. karna komitmennya bukan untuk menikah tapi hanya untuk bersama sampe salah satu di antara mereka sudah merasa cukup dengan hubungan mereka.


__ADS_2