PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
CHAPTER 144


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🍁 🍁


Rika memutuskan untuk kembali bekerja dan sudah siap dengan apapun yang terjadi ke depan dan dia juga sudah siap jika harus bertemu dengan Dino, walau dia merasa sudah tidak ada urusan di antara mereka, tapi dia yakin jika Dino tau kalau dia mempunyai anak pasti Dino akan mencari tau siapa Ayah dari anaknya, kecuali jika pria itu memang sudah tidak perduli padanya, seperti yang pria itu katakan di hari terakhir mereka bertemu.


Rika sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan juga dengan dandanannya, Rika berjalan keluar dari dalam kamarnya dan turun dari lantai dua ke lantai satu dan langsung menuju meja makan dimana si mamah sudah menunggu bersama Zheon yang duduk di kursi khususnya.


Rika duduk di kursi yang berada di samping kursi putranya.


"Morning baby" Rika mencium kedua pipi Zheon.


"Pagi mah" Rika juga menyapa mamah nya. lalu Rika mengambil nasi goreng sepotong sosis dan juga telor mata sapi yang di goreng setengah matang, Rika lebih memilih makan berat di pagi hari, karna dia butuh energi, sedangkan siang dan sore hingga malam hari dia sangat jarang memakan makanan berat, Rika menikmati sarapan nya dengan sesekali menyuapi Zheon dengan makanannya, Rika menyuapi putranya Karna seperti nya putranya itu sedang malas makan dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Hmm. Mah, untuk beberapa bulan ini mamah jangan bawa Zheon dulu ke cafe ya" Rika berujar sambil melihat ke arah mamahnya.


"Kenapa?" Mamah merasa heran, karna selama ini belum sekalipun ada larangan kecuali jika Zheon sedang sakit.


"Belakangan ini, udara kurang bagus mah, lagian ombak sekarang sedang kecang, Mamah tau sendiri kalau Zheon tu senang banget main ke pantai, buat jaga-jaga mah, daripada terjadi sesuatu, kalaupun mamah atau Zheon bosan di rumah, mamah bawa main ke aja ke taman atau ke mall, yang penting jangan sampe di bawa ke pantai, makanya Rika larang di bawa ke cafe Karna cafe kita kan dekat sama pantai " Rika memberikan alasan yang sangat masuk akal, apalagi mamah nya tidak mengenal siapa pria yang menjadi Ayah biologis Zheon, walau dia menceritakan apa yang terjadi sebab kenapa adanya Zheon tapi dia tidak pernah menunjukkan wajah dari pria itu.


Si mamah menganggukkan kepalanya mendengar alasan dari larangan putrinya itu, lagipula dirinya juga udah cukup tua dan dia tidak mau mengambil resiko menjadi penyebab atas kecelakaan yang menimpa cucunya, walau ada nannynya Zheon lebih baik dia menuruti apa yang di larang oleh putrinya.


Rika melihat ke arah mamahnya, dia baru ingat kalau mamahnya harus berangkat ke Bandung seminggu lagi.


"Ya udah mamah berangkat aja, Rika ga pa pa, lagian kan ada si mbaknya yang bantuin Rika jagain Zheon" Rika meyakinkan mamahnya.

__ADS_1


"Tadi kamu bilang Zheon ga boleh di bawa ke cafe, terus kamu bakal ninggalin Zheon sama si mbak di rumah?" Si mamah bertanya dengan serius.


"Seperti nya selama mamah di bandung Rika bakal nitipin Zheon dan si mbak ke rumahnya Anya" Rika berujar setelah terlihat berpikir beberapa saat.


"Udah mamah ga usah khawatir, Rika udah mikirin semua" Rika tersenyum lebar meyakinkan mamahnya.


"Ya udah, kalau kamu memang udah mikirin soal itu " Si mamah melanjutkan sarapan nya dan sesekali gantian menyuapi Zheon.


BERSAMBUNG


LIKE DONG, SEBAGAI UPAH AUTHOR NULIS TENGAH MALAM INI HEHE

__ADS_1


__ADS_2