
HAPPY READING GUYS 🍁🍁🍁🍁
Johan memarkirkan mobil nya di parkiran khusus tamu di depan gedung WIJAYA GROUP yang tak lain adalah perusahaan milik Yana, Johan berniat menemui istrinya walau dia tau ada kemungkinan dia bisa saja bertemu dengan mertua lelakinya Hadi Wijaya.
Johan langsung menuju lift untuk menuju ruangan istrinya yang berada di lantai tigapuluh dua, Johan terus memandangi angka-angka yang di lewati lift tersebut satu persatu, Johan datang di saat semua karyawan sudah memulai pekerjaan mereka agar dirinya tidak menjadi perhatian semua karyawan yang ada, Johan sudah sampe di depan pintu ruangan istrinya dan langsung di cegah oleh Serly selaku sekertaris Yana.
"Maaf Pak, saya kabari Ibu dulu kalau bapak ada di sini" Serly berkata dengan sopan.
"Tidak perlu! saya suaminya, berhak menemuinya kapan aja" Johan langsung membuka pintu ruangan istrinya, Yana yang sedang focus membaca file-file yang ada di depannya sedikit terkejut saat mendengar pintu ruangannya di buka dari luar tanpa ada ketukan terlebih dahulu, dan Yana juga sedikit terkejut saat melihat keberadaan Johan yang muncul dari balik pintu tapi Yana mencoba untuk tetap tenang dan cool.
"Ma-maaf Bu, saya udah melarang Pak Johan untuk langsung masuk" Serly masuk ke ruangan bossnya dan berkata dengan gugup karna melihat tatapan tidak suka dari bossnya saat melihat ke arah Johan.
"Ya sudah ga pa-pa, kamu buatkan aja teh untuk beliau" Yana berujar pada sekertaris nya itu.
"Baik Bu, permisi" Serly keluar dari ruangan bossnya, sementara Johan sudah melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Tumben datang ke sini?" Yana berdiri dari kursinya dan berjalan ke sofa dan duduk di sofa yang lebih jauh dari tempat Johan duduk.
"Kenapa kamu ga pernah pulang ke rumah? sampe kapan Jesslyn di rumah Omanya?" Johan tidak menjawab pertanyaan istrinya.
"Kenapa membuat kan ku teh? kamu kan tau aku tidak suka teh" Johan malah memprotes tentang minuman yang di pesan kan istrinya untuk dirinya.
"Owh maaf, sepertinya saya lupa" Yana berkata sekenanya.
"Ada keperluan apa? sepertinya saya tidak pernah mengajukan pemesanan mobil untuk perusahaan saya" Yana bertanya dengan membawa pekerjaan Johan yang sebagai kepala cabang di sebuah showroom mobil.
__ADS_1
"Ini ga ada hubungan nya dengan pekerjaan, aku ke sini mau minta sama kamu buat batalin gugatan kamu ke pengadilan agama" Johan pun akhirnya tude point dengan tujuannya datang ke sini.
Yana memandang ke arah Johan sekilas lalu kembali membuang pandangannya.
"Atas dasar apa aku harus membatalkan nya? bukannya itu lebih baik, agar kau bisa menikahi gadis muda itu" Yana berkata dengan tenang tanpa ingin terbawa emosi.
"Sayang, aku khilaf, aku sama sekali ga cinta sama dia, kita memiliki anak, aku ga mau anak kita menjadi anak yang broken home dan menjadi bullyan teman-temannya" Johan mencoba merayu istrinya dengan segala cara, bahkan membawa nama anak mereka.
Yana kali ini benar-benar menatap wajah lelaki yang masih berstatus suaminya ini dan terlihat senyum kecil di bibirnya.
"Khilaf? tidak cinta? berapa tahun kamu khilaf? berapa kali kau menidurunya dengan alasan khilaf itu?? kau memikirkan anak kita?? kenapa kau tidak memikirkan anak kita saat kau meniduri perempuan lain?? jangan jadikan Jesslyn alasan agar aku membatalkan gugatan ku, soal Jesslyn terima atau tidak kita berpisah kau bisa menanyakan nya langsung nanti, o iya soak pulang ke rumah, aku pasti akan pulang ke rumah karna itu memang rumah ku" Yana menjawab sekaligus semua pertanyaan Johan.
Johan terdiam di tempatnya sampe terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk" Yana mempersilakan.
"Kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi silakan" Yana memberi code kepada Johan untuk keluar dari ruangannya.
"Aku tetap akan menolak perceraian ini" Johan berkeras dengan keinginan nya lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kita bertemu di pengadilan" Yana tidak menggubris perkataan Johan dan membiarkan Johan keluar dari ruangannya bahkan Johan tidak menutup kembali pintu ruang kerja Yana seperti semula, Yana kembali duduk di kursi kebesarannya dan memijit pilipisnya karna dia mendadak hilang mood dengan kedatangan suaminya itu.
Johan yang baru saja keluar dari ruangan istrinya dan sedang berjalan menuju lift sangat terkejut saat melihat mertua lelakinya sedang berjalan ke arah nya sambil menatap tajam.
"Masih punya nyali kau datang ke perusahaan ku!" Hadi berkata dengan nada penuh penekanan.
__ADS_1
"Sa-saya menemui istri saya Pa" Johan lumayan menciut nyalinya jika berhadapan dengan Pria ini.
"Saya tidak pernah mengijinkan kau memanggil saya dengan sebutan itu, dan ingat! sebentar lagi anakku sudah tidak menjadi istrimu lagi!" Hadi berkata dengan dingin.
"Saya tidak akan pernah menceraikan Yana" Johan memberanikan dirinya untuk menatap mertuanya itu.
"Kali ini tidak akan ada yang mendukung mu! bahkan cucuku pun tidak sudi mendengar namamu! pergi kau dari perusahaan ku!" Hadi berjalan meninggalkan Johan tanpa mendengar jawaban Johan atas perkataan nya, Johan menatap dengan marah ke arah mertuanya yang hanya terlihat punggung nya.
****
Yana bertemu dengan Gisel selepas dia pulang kerja di salah satu cafe di daerah kemang, walau lumayan jauh dari kantornya yang berada di daerah kuningan karna jika pulang kerja begini jarak tempuhnya bisa lebih dari tigapuluh menit, mereka sudah di meja mereka dan sudah mendapatkan pesanan mereka, mereka sama-sama menyukai cappuccino latte dark chocolate with ice pastinya, karna menurut mereka kalau meminum coffee panas di saat santai terlihat terlalu serius tapi jika dengan ice akan terlihat sangat santai.
'Jadi si Johan nekat datang ke kantor loe cuma buat ngomong kayak gitu??" Gisel sedikit kaget dengan apa yang di katakan Yana.
"Gue udah ga ngaruh Gis sama apa yang dia lakukan, kalau kita mau flash back loe pasti ingatkan gimana dia ke gue waktu pdkt di campus" Yana mengingat kan sikap Johan yang super nekat buat ngeyakini tentang cintanya.
"Dan loe kemakan ama rayuannya hahaha" Gisel tertawa mengingat Yana yang tidak berkutik dengan rayuan seorang Johan.
"Karna emang di campuskan dia ga keliatan sifat aslinya, loe pikir gue demen bakal jadi janda, tapi gue mending jadi janda daripada gue berbagi, secara buat makan gue aja bisa di bilang gue nyari sendiri, loe tau Papa gue udah kayak apa ngamuknya sama dia" Yana berbicara dengan santai karna dia udah ga mau terbebani dengan masalah yang setelah dia pikir-pikir bukanlah sesuatu yang penting, karna dia masih banyak hal penting yang harus dia pikirkan, mereka melanjutkan obrolan mereka dengan hal-hal ringan sampe mereka di kejutkan dengan suara bariton pria di dekat mereka.
"Hai, Yan, kamu di sini?" Sapa seorang pria yang masih sangat terlihat ketampanannya.
"Hai Bram" Yana sedikit surprise dengan kehadiran Bram di cafe tersebut, ya, pria yang menyapa Yana adalah Bramantya partner kerja sekaligus mantan kakak kelasnya di SMA dulu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
like bagi yang suka