
ENJOY YOUR READING GUYS 🍁🍁
Cindy sedang duduk berhadapan dengan Papanya di ruangan kerja Papanya itu, Suryo menatap wajah putrinya itu dengan sangat serius dan itu membuat Cindy menjadi deg deg gan, karna dia tau kalau Papanya sudah seperti ini itu tandanya kalau Papanya sedang sangat serius dan kemungkinan Papanya juga dalam keadaan emosi.
"Ada apa Pa?" Cindy akhirnya memecah kesunyian yang sudah berjalan selama tigapuluh menit.
Suryo menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat.
"Kamu tau kan kalau Papa tidak pernah main-main dengan apa yang Papa katakan" Suryo masih menatap tajam putrinya itu.
"Ma maksud Papa apa? aku ga ngerti" Cindy memang tau kalau Papanya itu orang yang sangat serius dengan perkataan nya tapi dia juga bingung dengan maksud pembicaraan saat ini.
"Kamu jangan lagi berhubungan dengan Johan! apapun hubungan kalian Papa ga perduli! tinggalkan dia atau kau akan benar-benar Papa kirim ke rumah saudara Papa di luar negeri sana dan kau akan bekerja tanpa fasilitas apapun dari Papa, kau sudah menerima perjodohan mu dengan Tama jadi jangan buat Papa malu! sekarang kau kembali ke ruangan mu" Suryo meninggalkan putrinya dan berjalan ke kursi kebesarannya, Cindy sangat terkejut dengan apa yang di katakan Papanya karna Papanya tau akan hubungan nya dengan Johan, sudah sangat sulit membantah Papanya jika sudah begini, apalagi sudah ada Tama yang di setujui oleh Papanya untuk menjadi pendamping hidupnya, Cindy berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu ruangan Papanya tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Papanya kembali.
"Jangan pernah mencoba melakukan sesuatu dengan lelaki itu, atau Papa akan membuat dia menjadi gelandangan!" Cindy mendengar suara Papanya yang penuh penekanan, Cindy melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Papanya dan berjalan ke ruangannya.
__ADS_1
****
Bram dan Jerry baru selesai meeting dengan jajaran direktur dan juga manager dan sekarang mereka sudah berada di kantor Bram, Bram duduk di kursi kebesarannya sedangkan Jerry duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Papinya itu jadi mereka duduk bersebrangan.
"Jadi kapan berapa keberangkatan mu son?" Bram menutup file yang sudah selesai dia periksa dan dia tanda tangani.
"Dua hari Pi, karna besok Jerry harus meeting dengan client penting sekaligus meminta Om Heru untuk menghandle perusahaan selama Jerry kuliah walau Jerry tetap memantau dan pulang jika memang ada hal mendesak di perusahaan" Jerry menjelaskan skejul nya untuk terakhir kalinya sebelum dia berangkat untuk mengurus keperluan kuliahnya di Oxford dan juga harus mengecek penthousenya sudah rapi apa belum karna akan dia tinggalin dengan kedua sahabatnya Keenan dan juga Bobby, walau Keenan dan Bobby mampu untuk menyewa Apartment mewah tapi akan lebih seru jika mereka tinggal bersama, apalagi penthousenya memiliki banyak kamar karna penthousenya memiliki luas limaratus meter lebih dengan dua lantai dimana satu lantai yang menuju rooftop ada tiga kamar tidur dan ruangan ngegym dan satu kolam renang di rooftop yang memang di buat khusus untuk pembeli yang membeli salah satu dari tiga penthouse yang ada yang berada di lantai enampuluh tujuh karna memang bagi pembeli penthouse di lantai atas memiliki bonus ya itu mempunyai akses ke rooftop yang ada kolam renang pribadinya. dan untungnya Papinya adalah pemilik dari gedung penthouse tersebut jadi tidak perlu mengeluarkan uang puluhan juta poundterling, justru keluarga nya lah yang panen uang karna hampir sembilan puluhlima persen penthouse ini terisi, karna hampir semua orang kaya di dunia yang mempunyai perusahaan di London membeli unit mereka karna gengsi orang berduit adalah saat menunjukan tempat tinggal mereka yang super mewah, walau harganya sangat menguras kantong, tapi pengusaha yang memiliki uang milliaran dollar atau mata uang eropa lainnya harga penthouse ini belum seberapa, bahkan membeli mobil sport saja seperti membeli kentang goreng.
"Papi mau mengatakan kalau Papi sudah menemukan perempuan yang Papi cintai" Bram langsung tude point karna dia memang tidak pernah menyembunyikan apapun dari putranya itu.
"Ketemu di mana?" Jerry ingin tau wanita mana yang sudah membuat Papinya itu jatuh cinta, karna dia dan Papinya memiliki sifat yang sama tidak gampang untuk jatuh cinta.
"Tadinya dia adalah teman bisnis Papi, tapi ternyata dia juga bekas adik kelas Papi saat high school dulu, tapi Papi langsung kuliah keluar negeri dan ga pernah berkomunikasi lagi semua teman sekolah Papi kecuali yang kuliah di kampus yang sama dengan Papi atau yang bertemu saat Papi mulai terjun membantu grandpa kamu" Bram menjelaskan apa adanya tanpa menutupi apapun karna nantinya juga pasti Jerry akan tau kalau Yana adalah bekan teman satu sekolahnya dulu.
"Papi berniat untuk mengenalkan nya sama kamu apa kamu masih sempat?" Bram memang ingin putranya itu mulai mengenal wanita yang dia cintai.
__ADS_1
"Kalau sekarang kayaknya ga bisa Pi, karna hari ini sampe besok aku ga ada waktu, karna penerbangan yang aku ambil itu pagi, karna aku harus ada di kampus dengan cepat untuk mengurus semuanya, sorry Dad" Jerry sedikit menyesal karna tidak bisa memenuhi permintaan Papinya itu.
"Ya udah ga pa-pa, tapi kalau nanti saat Papi melamar nya kamu harus sediakan waktu untuk pulang ke sini" Bram tidak ingin memaksa agar putranya bertemu dengan Yana.
"Itu nanti aku usahakan kalau memang waktunya tidak bentrok dengan jadwal kuliah ku, tapi Papi ga perlu khawatir kalau aku akan menolak rencana Papi untuk menikah, karna aku sendiri yang meminta Papi untuk menikah lagi" Jerry meyakinkan kalau dia tidak sedang mencari-cari alasan untuk menghindari pertemuan dengan calon istri Papinya itu.
"Papi percaya" Bram tersenyum lebar karna sifat putranya tidak berbeda dengan dirinya walau wajah putranya lebih mirip dengan Almarhumah istrinya yang keturunan German- America.
"Pastikan selama di sana kau juga mengurus Hotel kita, karna pengunjung nya wisata nya juga banyak, soal yang di sini nanti Papi yang bantu handle" Bram mengingatkan Jerry untuk mengurus Hotel yang mereka miliki yang bernuansa kastil jadi Bram membuat hotel di tanah yang berada di bagian depan castil tersebut jadi bukan hanya bertumpu pada tamu hotel, yang berwisata ke kastil tersebut juga sangat banyak, dalam sehari bisa ratusan orang berkunjung.
"Papi tenang aja, aku akan urus semua usaha kita yang ada di sana" Jerry meyakinkan Papinya itu, karna memang cuma dia yang bisa di harapkan untuk membantu mengurus usaha Papinya yang begitu banyak, salah satu alasan dia ingin Papinya menikah lagi agar dia memiliki adik yang nantinya bisa ikut membantu mengurus perusahaan mereka.
BERSAMBUNG
LIKE YA SELESAI BACA, HARAP MAKLUMI KALAU UPNYA GA TIAP HARI, KALIAN JUGA BISA BACA CERITA LAIN YANG UP JUGA TIAP HARINYA, CERITA INI UDAH MAU FINNISH, JADI SIAP-SIAP YANG UDAH NUNGGUIN CERITA RICA DAN DINO. THANKS GUYS 🙏🙏🙏
__ADS_1