
ENJOY YOUR READING GUYS πΏπΏπΏπΏπΏ
Anya yang sedang berada di kamarnya sedang berdiri di teras kamarnya sedang memandang , pemandangan yang sangat bagus, karna teras kamarnya menghadap bagian belakang Mansion Anya mendapatkan view laut yang sangat Indah, airnya yang biru terlihat seperti hamparan permadani, Anya tidak menyangkah kalau Bian sekaya ini, wajar kalau banyak perempuan yang ingin menjadi istri nya kecuali dirinya, tidak sedikitpun terbersit di benaknya untuk menjadi Nyonyah Bian Alexander.
****
Alvaro yang baru kembali dari kantor melihat putrinya Marsha melangkah keluar dari ruang tamu.
"Sayang" Alvaro memanggil dan bejalan mendekati Marsha.
"Daddy..." Marsha setengah berlari mendekati Daddynya dan langsung memeluk Daddynya.
"Kapan kamu sampe? apa Alex juga pulang?" Tanya Alvaro sambil memandang seisi rumah mencari keberadaan putranya.
Ratih yang mendengar suara suaminya berjalan keluar dari dapur.
"Honey, kamu baru pulang?" Ratih mendekati suaminya.
"Sayang" Alvaro mencium pipi istrinya itu.
"Apa Alex sudah sampe?" Alvaro kembali menanyakan keberadaan putranya.
"Suamiku, putra kita itu bukan anak kecil lagi yang harus laporan jika sampe di rumah" Ratih menggelengkan kepalanya melihat sikap suaminya itu.
"Bukan begitu sayang, ada yang harus aku bicarakan dengan Alex, biasalah urusan kantor" Alvaro memberikan alasan kenapa mencari keberadaan putranya, Saat mereka sedang asyik bicara terdengar perdebatan dari arah kolam renang dan itu membuat ketiganya berjalan menuju kolam renang yang berada di bagian belakang Mansion .
"Aku ga ngintip kamu berenang! apa bagusnya badan kamu!" Rio ga terima di tuduh mengintip Bianca yang sedang berenang.
"Apa kamu bilang?! tubuh aku jelek! hei kau tau, di sekolahku semua cowo ingin menjadi dekat dengan ku! karna aku paling cantik!" Bianca ga terima di bilang tubuhnya jelek.
"Itukan teman-teman kamu, tapi aku tidak" Rio menjawab dengan santai.
"Siapa juga yang mau dekat sama cowo nyebelin kayak kamu!" Bianca makin sewot mendengar jawaban Rio.
Ratih, Alvaro dan Marsha tiba di kolam renang dan memandang heran melihat Bianca sedang berdebat dengan anak laki-laki yang sangat asing di mata Alvaro, sementara Marsha tersenyum geli melihat wajah sewot keponakannya yang sedang bersedekap.
"Cieeee yang lagi ngobrol ama calon pacar" Marsha malah sengaja menggoda keponakannya itu.
__ADS_1
"Aunty..... siapa juga yang mau jadi pacar dia! cowo nyebelin!" Bianca melotot ke arah Marsha yang mengatakan kalau Rio adalah calon pacar nya.
"Aunty ga bilang kalau Rio calon pacar kamu, kamunya kali yang memang pengen jadi pacar Rio ya?" Marsha makin menggoda keponakannya itu.
"Ga pa pa Bianca, Rio ganteng lho, liat mukanya rada-rada bule gitu, ntar kalau Rio ama cewe lain kamu nyesel lho" Marsha semangat menggoda Bianca.
"Aunty...... Grandma... Aunty nyebelin" Adu Bianca yang langsung mendekap dan memeluk Grandma nya.
"Marsha, jangan menggoda Bianca terus" Ratih membela cucu kesayangannya itu, sementara Rio terlihat cuek dan sesekali membalas melotot ke arah Bianca, setiap Bianca melotot sewot ke arah nya.
"Siapa jagoan tampan ini?" Alvaro memandang wajah Rio yang memang tidak murni Asia, seperti ada campuran eropa nya.
"Ini Rio Daddy, Rio, kasih salam ke Uncle" Marsha berkata kepada Rio untuk menyalami Daddy nya, Rio mendekati Alvaro dan mencium tangan Alvaro.
"Dia siapa? apa dia datang bersama kamu Marsha?" Alvaro mengulang pertanyaan nya.
"Rio calon pacar nya Banca Dad" Marsha kembali ngeledek keponakannya.
"Grandma...." Bianca langsung protes.
"Marsha sudah, jangan menggoda Bianca terus" Ratih menggelengkan kepalanya agar Marsha berhenti menggoda Bianca.
"Kak, aku mau cari kakak Anya" Rio memotong pembicaraan yang ada di depannya.
"Mungkin kakak kamu masih di kamarnya, cari aja ke sana, Tanya sama Peter dimana kamar kakak kamu" Marsha mengarahkan Rio agar tau dimana kamar Anya, Rio lupa dimana kamar kakaknya karna di lantai dua memang banyak kamar jadi Rio tidak ingat kakaknya masuk ke kamar yang mana.
"Uncle, Aunty, aku pamit nyari kakak" Rio kembali mencium tangan Alvaro dan Ratih, dan Rio kembali membalas Bianca yang melotot ke arah nya lalu berjalan menjauh dari situ.
"Marsha tadi kamu menyebut nama Anya? siapa dia" Alvaro melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda karna Rio yang pamit untuk mencari kakaknya.
"Dia perempuan yang di katakan Bianca pada kita, masa kamu udah lupa?" Ratih yang menjawab pertanyaan suaminya yang di tujukan ke putri mereka.
Alvaro terlihat berpikir saat mendengar perkataan istrinya, ya... sekarang dia ingat, Bianca mengatakan kalau Daddynya ada dekat dengan perempuan muda, ("Owh jadi namanya Anya") Alvaro berkata dalam hati.
"Terus dimana mereka semua? kenapa rumah terlihat sepi?" Alvaro malah baru in ngat apa yang mau dia tanyakan di awal.
"Sayang, Daddy kamu dimana? bukannya tadi kamu bersama dengan Daddy mu?" Ratih bertanya kepada Bianca.
__ADS_1
"Daddy tadi katanya mau ke lantai dua waktu aku mau berenang" Bianca mengatakan dimana keberadaan Daddynya.
Ratih dan Marsha langsung paham dimana Casanova itu berada saat Bianca mengatakan kalau Daddynya berada di lantai dua.
"Sayang, lebih baik kamu mandi dulu nanti juga ketemu di meja makan, Bianca, kamu juga bersih-bersih, nanti kamu sakit" Ratih meminta suaminya untuk bersih-bersih dan begitu pun dengan Bianca, Alvaro dan Bianca menuruti perintah dari Nyonyah besar, sementara Marsha lebih memilih untuk bersantai di area kolam renang yang viewnya menjurus ke laut, sambil menunggu waktu untuk mereka semua berkumpul di meja makan.
****
Anya yang baru selesai membersihkan tubuhnya keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan bathrobe, Anya sedikit terkejut melihat Bian sudah ada di dalam kamar nya dan sedang berada di teras kamar, Bian yang mendengar pintu di buka langsung membalikan tubuhnya dan tersenyum melihat Anya yang terlihat sangat sexy dengan rambutnya yang basah, apalagi Anya hanya menggunakan bathrobe membuat bagian dada Anya sedikit menonjol dan itu membuat si Jaguar langsung bereaksi, Bian mendekati Anya dan memeluk Anya dan tanpa permisi langsung mencium bib1r Anya dan mengul*mnya, Anya yang langsung terbuai membalas perlakuan Bian dan mereka saling bertukar saliva, dan tangan Bian sudah menyusup masuk ke bathrobe yang Anya pakai dan hinggap di bukit indah yang puncaknya langsung menjadi sasaran jari-jari Bian dan itu membuat Anya mendesah dan menyesap lid*h Bian dengan kuat, tapi Anya langsung sadar kalau mereka sedang berada di Mansion orangtua Bian.
"Bi, stop Bi, ga enak kalau kita melakukan nya di sini" Anya berusaha menghentikan Bian di antara desahannya.
"Ga pa pa honey, orangtua ku paham kalau anak mereka sudah dewasa" Bian masih melanjutkan kegiatannya bahkan sekarang tubuh Anya sudah polos, Anya mencoba menghindar tapi tubuhnya justru berkata lain dan menikmati permainan Bian, dan sekarang mereka sudah berada di atas ranjang dengan Bian yang mengkukung tubuh Anya, Bian terus mengexplore setiap inchi tubuh Anya yang tidak pernah membuat nya bosan, bahkan dia malah semakin candu, Anya hanya bisa meremas rambut Bian dan bed cover karna permainan Bian yang membuatnya terus mengerang dan mengerang.
"Biiii aku udah ga tahan, I want it, do it Bi, now" Anya menekan bagian bawahnya ke arah Bian.
"As you want baby" Bian mengarahkan jaguarnya dan dengan sekali hentakan jaguarnya langsung masuk ke kandangnya, tubuh kedua langsung bergerak membuat irama sendiri, Bian menyesap dada Anya secara bergantian dan itu membuat Anya semakin gila.
"Faster Bi fasterrrr" Anya ikut mengerakan tubuhnya, Bian pun memacu jaguar dengan lebih cepat membuat tubuh mereka sama-sama berguncang, dan Bian memacu semakin cepat.
"Biii aku keluarr... aku keluarr..." Anya meremas rambut Bian dengan kuat dan Bian pun menekan jaguarnya saat laharnya menyebur deras di dalam sana, tapi ternyata itu tidak cukup, Bian kembali mengulang hingga tiga babak dan mereka menghabiskan waktu dua jam untuk olahraga mereka.
****
Pukul empat sore semua sudah berkumpul di meja makan dan Bian juga Anya datang paling terakhir karna Anya harus membuat rambutnya kering walau tidak sepenuhnya, karna dia harus mengulang mandinya karna ulah Bian, Alvaro memandangi Anya yang berjalan di samping Bian, menurut Alvaro Anya sangat cantik bahkan kalau harus jujur istrinya saat muda pun kalah cantik dengan Anya.
"Dad, Kenalkan ini Anya" Bian mengenalkan Anya kepada Daddynya.
Anya mendekati lelaki yang di panggil Daddy oleh Bian dan menyalaminya dan mencium tangan nya dengan dahi.
"Saya Anya Tuan" Anya menyebutkan namanya.
"Jangan panggil Tuan, panggil Uncle atau apa saja yang penting jangan Tuan" Alvaro melarang Anya memanggil nya dengan sebutan Tuan.
"Ayolah kita makan , saya sudah sangat lapar" Alvaro mengajak semua yang ada untuk segera mulai makan, tapi saat semua akan mulai menikmati makanan yang sudah tertata di meja makan terdengar suara perempuan dari arah depan.
"Aunty, Uncle, sorry aku terlambat, karna ada pemotretan mendadak" Kimberly muncul di ruang makan dan memberi ciuman di pipi Ratih, Ya yang datang adalah Kimberly, emang kayak jelangkung, datang dan pergi ga di jemput ga di antar.
__ADS_1
BERSAMBUNG
like ya buat yang udah bacaπππ