PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
BAGIAN 33


__ADS_3

HAPPY READING GUYS 🍁🍁🍁🍁


Johan sampe di rumahnya dan hanya memarkirkan mobilnya di depan rumah tidak memasukannya ke tempat khusus mobil yang ada di bagian samping rumah, Johan keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju rumahnya, Johan menekan password pintu rumahnya lalu membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam rumahnya, Johan melihat suasana rumah yang sangat sepi tidak ada tanda-tanda kalau putrinya berada di rumah, saat Johan sedang berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada terlihat seorang art mendekatinya.


"Sore tuan, apa tuan mau di siapkan makan malam?" Sapa art tersebut sekaligus menanyakan majikannya mau sekalian makan atau bagaimana.


"Ibu sama Jesslyn belum pulang bi?" Johan mencari kepastian.


"Belum tuan" Art tersebut menjawab pertanyaan Johan.


"Ya udah bi, siapkan makan malam buat saya, sekalian buatkan kopi" Johan menerima tawaran dari art nya lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Johan sudah duduk di meja makan dengan beberapa hidangan yang baru saja selesai di masak oleh art, karna memang makanan untuk keluarga utama hanya di masak satu jam sebelum jam makan tiba dan porsinyapun di sesuaikan dengan alasan agar tidak membuang-buang makanan, kecuali untuk para pekerja di rumah, Yana membebaskan ARTnya untuk memasak sebanyak yang mereka dan makan sesering yang mereka inginkan, yang penting jangan sampe membuang-buang makanan, Johan memakan makanan yang di hidangkan di depannya, Johan merasa sedikit sepi, karna biasanya meja makan ini selalu terisi oleh anak dan istrinya, Johan hanya bisa menghela nafas panjang apalagi saat mengingat dia sudah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan agama untuk sidang cerainya yang akan memasuki tahapan mediasi, biasanya dalam sidang perceraian memang aturan nya seperti itu, pengadilan pasti akan menawarkan mediasi untuk pasangan yang ingin bercerai agar saling intropeksi diri dan membiarakan permasalahan yang terjadi dan berusaha untuk mencari solusi agar tidak terjadi perceraian kepada kedua suami istri tersebut, Johan di kejutkan dengan bunyi dari smartphone nya, Johan melihat siapa yang memanggil nya, terlihat nama my love muncul di layar smartphone nya, Johan langsung menerima panggilan tersebut karna akan panjang kalau dia terlalu lama menerima panggilan dari Cindy, karna akan banyak pertanyaan dan kecurigaan yang muncul, ya my love adalah nama yang di tuliskan Johan untuk Cindy. (resiko selingkuh, saat selingkuhan nelpon dan ga di angkat, maka selingkuhan tersebut pasti berpikir kalau lelakinya sedang bersama perempuan lain)


"Hallo sayang" Johan menyapa perempuan nya itu.


"Aku lagi di rumah, baru pulang kantor, ini lagi makan malam, kamu lagi apa? dimana?" Johan balik nanya.


"Owh, kamu ga kuliah hari ini? dari jam berapa kamu sama teman-teman kamu?"


"Ga ada, Dia ga pulang, mungkin nginap di rumah orangtuanya, kamu pulang jam berapa?"


"Owh, ya udah kalau kamu pulang ke rumah orangtua kamu, iya kamu hati-hati ya, jangan malam-malam, besok aku ke Apartment kamu, I love you too" Johan memutus panggilan tersebut dan meletakan smartphonenya kembali di atas meja dan melanjutkan makan malamnya.


****


Yana baru saja sampe di Mansion orangtua nya yang langsung di sambut oleh putrinya, Yana dengan senang memeluk putri semata wayangnya itu.


"Adek udah mandi?" Yana mencium puncuk kepala Jesslyn yang tercium sangat wangi dan di pastikan kalau putrinya itu sudah mandi sore, karna kebiasaam yang dia ajarkan kepada Jesslyn harus langsung mandi sepulang dari sekolah atau kegiatan apapun yang ada di luar rumah, tapi dia memang sengaja menanyakan hal tersebut untuk menyenangkan putrinya, karna seorang anak pasti akan senang jika orangtuanya selalu menanyakan kegiatannya walau sekecil apapun kegiatan tersebut.


"Udah dong mom, mommy kok tumben pulang telat?" Jesslyn mengikuti langkah kaki mommy nya sambil terus merangkul pinggang mommy nya itu.


"Tadi mommy sedikit lembur karna memang harus di selesaikan sekarang, karna besok pagi harus mommy bawa dalam meeting mommy" Yana menerangkan alasan kenapa dia sedikit terlambat pulang kantor, Yana memang sangat terbuka dengan putrinya tentang pekerjaannya, menerangkan jika memang banyak hal yang harus dia kerjakan jika dia terlambat pulang karna Jesslyn harus tau tentang itu, apalagi Jesslyn adalah pewaris satu-satunya untuk memegang begitu banyak perusahaan yang di miliki oleh keluarga mereka, sebenarnya Yana sangat ingin memiliki anak lagi, agar Jesslyn tidak jenuh dan ada teman di rumah, tapi entah kenapa dia tidak kunjung hamil lagi setelah kelahiran Jesslyn, padahal sejak Jesslyn berumur lima tahun dia sudah lagi berKB.

__ADS_1


"Sore Ma, Pa" Yana menyapa dan mencium kedua orangtuanya yang sedang berada di ruang keluarga.


"Sore sayang" Hadi dan Rica menjawab sapaan putri mereka.


"Yan, kamu buruan mandi ya, Mama mau nyiapin makan malam" Rica berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang belakang untuk menyiapkan makan malam yang sudah selesai sejak tadi, Yana berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada, Mansion orangtua nya memiliki tiga lantai dan lantai tiga adalah ruangan hiburan untuk keluarga mereka.


Jesslyn terlihat sedang bermanja dengan Opanya, walau Hadi sangat membenci Ayah biologis Jesslyn tapi Hadi sangat menyayangi cucunya itu, apalagi cucunya tidak ada kemiripan secara wajah dengan hanya golongan darah dan tinggi badan Jesslyn yang sama dengan Johan, selebihnya mirip Yana, bahkan Jesslyn bisa di bilang wajahnya mirip dengan dirinya karna Yana sendiri wajahnya sangat mirip dengan Papanya begitupun dengan sifat keras kepala yang di miliki Yana adalah turunan dari Hadi.


"Opa" Jesslyn duduk di pangkuan Opanya.


"Cucu Opa mau apa?" Tanya Hadi saat melihat cucunya ini bermanja-manja seperti ini, dan sudah di pastikan ada maunya.


"Jesslyn kan udah mau naik kelas tiga SMA, Jesslyn boleh ya bawa mobil sendiri, lagiankan tahun depan Jesslyn udah mau enambelas, boleh ya Opa?" sengaja merayu Opanya, karna kalau Opanya sudah memberikan lempu hijau maka tidak ada yang akan menentang keinginan nya.


"Jesslyn udah tanya Mommy? Hadi mengelus rambut cucunya itu.


"Jesslyn nanti bakal ngomong ke mommy tapi Opa kasih ijin ya, kalau nanti pas Jesslyn naik kelas tiga Jesslyn boleh bawa mobil sendiri" Jesslyn terus merayu Opanya agar memberikan ijin.


"Kalau mommy kamu ngasih ijin nanti Opa yang beliin mobilnya apapun mobil yang Jesslyn mau" Hadi memberi kan janjinya pada cucunya itu.


"Permisi Tuan besar, nona, makan malam udah siap" Seorang art datang memberitau.


"Hayo sayang, Opa udah lapar" Hadi berdiri dari tempat duduknya,lalu keduanya berjalan menuju meja makan saat seorang art memberitau kalau makan malam sudah siap.


Yana beserta keluarga nya sudah kumpul di meja makan untuk menikmati masakan dari Rica yang di bantu oleh para art, sejak facum dari dunia bisnis dan hanya mengurus sebuah rumah fashion Rica mempunyai banyak waktu untuk memasakin suami tercinta juga cucunya jika sedang menginap, dan saat ini Rica sangat bahagia karna anak dan cucunya sudah beberapa minggu berada di Mansion mereka, bukan mensyukuri masalah yang ada dalam rumah tangga anaknya tapi menghargai keputusan anaknya yang tidak ingin lagi serumah dengan suaminya yang sudah lama berkhianat dan tidur dengan wanita lain.


"Yan, gimana hasil kerja sama dengan Angkasa group?" Hadi bertanya di sela-sela menikmati makan malam mereka.


"Everything ok Pa, kita sudah tanda tangan kesepakatan kerja sama dan tidak ada kendala apapun" Yana menjawab pertanyaan Papanya.


"Papa dengar kalau CEO nya teman sekolah kamu?" Hadi sedikit kepo dengan info yang dia dapat.


"Papa dengar dari siapa?" Yana tidak heran kalau Papanya bisa tau tentang itu, karna Papanya selalu menempatkan orang terpercayanya untuk memantau dirinya tapi dia ga pernah tau siapa orang tersebut.

__ADS_1


"Papa dengar aja" Hadi tidak menjawab secara detail.


"Iya Pa, Bram dulu teman SMP aku, aku juga awalnya ga tau, justru dia yang awalnya ingat dan mengingatkan kalau kita teman di SMP, emang kenapa Pa?" Yana memandang ke arah Papanya sembari memasukan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Ga, Papa senang kalau ternyata partner bisnismu adalah teman sekolahmu, ya setidaknya tidak akan ada kecurangan yang terjadi, walau sangat tidak bisa di pungkiri jangankan hanya di antara teman, di antara saudarapun kecurangan dalam berbisnis sangat mungkin bisa terjadi tapi Papa berharap kerja sama kalian bisa berjalan dengan baik" Hadi tersenyum di akhir ucapannya.


"Hmm mom, I want see something" Jesslyn mulai berbicara setelah melihat mommy dan Opanya selesai berbicara.


"What baby?" Yana memandang ke wajah putrinya yang duduk di depannya.


"Hmmm adek boleh ya pas nanti kelas tiga bawa mobil sendiri?" Jesslyn mengatakan apa yang tadi dia bicarakan dengan Opanya.


Yana berhenti sejenak mengunyah makanannya saat mendengar permintaan Jesslyn.


"Kenapa harus bawa mobil sendiri? kan lebih enak kalau adek di supirin jadi adek ga perlu capek" Yana melanjutkan menikmati makanan nya.


"Lagian emangnya adek udah bisa nyetir mobil?" Yana bertanya lebih lanjut.


"Adek udah bisa mom, kan adek belajar sama Tyara, Tyara aja udah bawa mobil sendiri ke sekolah" Jesslyn menjelaskan kalau dia udah bisa bawa mobil dan belajar Dari mana.


"Emang adek udah bisa bertanggung jawab kalau mommy kasih adek bawa mobil sendiri?" Yana ingin melihat tanggungjawab putrinya jika di percaya membawa mobil sendiri.


"Adek janji ga bakal sembarangan dalam bawa mobil dan ga akan berbuat yang aneh-aneh" Jesslyn memberikan janjinya.


"Adek udah ngomong sama Opa?" Yana sangat tau kalau Papanya ga akan suka kalau cucu kesayangannya sampe kenapa-kenapa.


"Udah, adek tadi udah ngomong sama Opa, kata Opa kalau mommy ngasih ijin Opa yang bakal beliin adek mobil yang adek mau" Jesslyn tersenyum ke arah Opanya, dan Hadi hanya mengangkat bahunya seakan menyerahkan keputusan ke tangan putrinya.


"Oke, mommy bakal kasih ijin adek bawa mobil dengan syarat adek raking satu saat kenaikan kelas nanti" Yana memberikan syarat untuk ijin yang akan dia berikan kepada Jesslyn yang ingin punya mobil sendiri.


"Deal" Jesslyn tersenyum senang karna selama ini dia selalu berada dalam lingkaran dua besar untuk rangking di kelasnya, setidaknya masih ada empat bukan untuk dia berusaha menjadi rangking satu agar bisa memenuhi syarat dari mommy nya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


MINAL AIDIN WAL FAIZIN MAAF LAHIR BATIN, UNTUK SEMUA READERKU TERIMA KASIH UNTUK YANG MASIH BERTAHAN DI LAPAK SAYA, MAAF KALAU ADA SALAH DALAM SETIAP TULISAN SAYA, KARNA SAYA HANYA MANUSIA YANG TIDAK SEMPURNA


__ADS_2