
ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿
Anya dan Bian masih berdebat tentang kesepakatan menyangkut hubungan mereka, Anya sangat ga setuju dengan ide Bian yang meminta nya menjual rumah peninggalan orangtua nya, jangannkan menjualnya yang ada dia ingin merenovasj itu agar lebih bagus jika nanti dia memiliki uang lebih.
"Jadi bagaimana? kamu maunya seperti apa? Bian kembali menanyakan keinginan Anya.
"Walaupun adik aku tinggal di apartment agar menghindari omongan tetangga, ga mungkin juga mereka hanya tinggal berdua di apartment, mereka belum bisa mengurus diri mereka sendiri, apalagi kalau harus berdua aja di malam hari, keperluan mereka siapa yang urus?" Anya pun tetap kekeh ga mau membiarkan kedua adiknya tinggal di apartment tanpa ada yang mengawasi.
Bian tersenyum mendengar alasan Anya, Bian mengambil tangan Anya dan mencium nya lalu menggenggam nya.
"Baby, siapa juga yang nyuruh adik-adik kamu tinggal berdua di apartment, kamu kan bisa cari orang orang untuk temani mereka, mau berapa orang pun aku sanggup bayar mereka" Bian menarik Arya kedalam pelakunya dan menciumi wajah Anya dan tangannya mulai merayap masuk ke dalam kemeja Anya, dia kembali on saat melihat belahan dada Anya yang terlihat dari samping karna dua kancing kemeja Anya yang terlepas, Anya mengerang kecil saat Bian meremas bukit miliknya dan menyambut bib1r Biam yang sudah ******* bib1r nya dan memasukan lid*hnya ke dalam ronggah mulut nya, Lida*h mereka saling melilit dan saling menghisap satu sama lain yang memberikan sesnsasi tersendiri, Bian melepas semua kancing kemeja Anya dan melepas kaos yang dia pakai, Bian menciumi kulit mulus Anya dan berhenti di atas bukit indah yang menjadi favourite nya, remasan dan hisapan Bian membuat Arya kembali bergairah dan menekan kepala Bian agar lebih dalam lagi, Bian meraba lembah yang sudah terasa sangat basah, Tanpa melepas penutup lembah tersebut Bian memasukan jarinya ke dalam lembah tersebut dan membuat Anya menggigit bibirnya dan semakin menekan kepala Bian dan meremas rambut pria bule itu, bermain di dua tempat sekaligus, jarinya yang bermain di dalam lembah dan bib1r serta lidahnya yang bermain di kedua bukit terindah yang pernah dia lihat, dan tubuh Anya menggeliat seperti belut yang berada di dalam tumpukan garam, hentakan jari Bian di dalam lembahnya, permainan lid*h Bian di atas bukitnya membuat Anya merancau memenuhi ruang TV dan Bian semakin memacu kecepatan jarinya menghentak di dalam sana dan terus bermain di kedua bukit milik Anya, sampai Anya meremas sofa dan menggigit bibirnya saat dia merasakan lava yang keluar dari dalam tubuhnya, Anya benar-benar sulit mengcontrol dirinya, ini semua gara-gara ulah Arya brengs*k itu yang membuatnya gampang bergairah dengan sedikit saja sentuhan yang di berikan seseorang kepadanya, Bian ******* bib1r Anya sebagai penutup nya.
Anya memejamkan matanya dan menutup tubuh nya dengan kemejanya yang masih melekat di tubuhnya yang hanya terbuka bagian depannya saja, Bian memeluk tubuh Anya dan meletakan kepalanya di dada Anya dan menciumnya walau ada kemeja yang menghalangi.
"Bi please I'm tired" Anya menahan kepala Bian agar diam dan tidak bergerak lagi dan memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah di hajar Bian sebanyak empat kali dalam hitungan jam, terpaksa pembahasan mereka di tunda sampe dia hilang lelah nya, Bian sendiri heran melihat dirinya yang selalu on jika sudah menyentuh kulit Anya, seakan ada magnet yang langsung merespon**** Anya baru selesai membuatkan sarapan untuk adiknya dan mereka bertiga sudah duduk di depan meja makan dengan piring yang sudah terisi dengan nasi goreng terenak buatan Anya, Rio dan Micca menikmati sarapan mereka di temanin dengan telor dadar.
"Micca, Rio, kalau misalnya kita pindah rumah gimana?" Anya bertanya dengan hati-hati.
"Kenapa harus pindah kak? kan ini rumah Mama Papa?" Micca menanyakan alasan mereka harus pindah
"Kalian kan mesti sekolah, jadi kakak ga bisa cerita sekarang, tapi nanti kakak pasti cerita sepulang kalian dari sekolah?" Anya tidak melanjutkan ceritanya karna jam sudah menunjukan waktu buat adik-adiknya berangkat sekolah.
"Ya udah buruan sarapannya di habisin terus berangkat sekolah nanti ketinggalan bus sekolahnya" Anya mengingat kedua adiknya untuk menyelesaikan sarapan mereka.
"Iya kak" Micca dan Rio menjawab serentak dan segera melanjutkan menghabiskan sarapan mereka dengan cepat.
__ADS_1
"Kak kami pergi sekolah" Micca dan Rio memberikan ciuman di pipi Anya.
"Belajar yang rajin" Anya mengantar kedua adiknya sampe ke depan pintu rumah dan melihat keduanya setengah berlari menuju jalan raya dimana bus biasa menjemput mereka, setelah adiknya berangkat Anya merapikan meja makan dan membawa piring kotor ke wastafel.
Bu Tuti baru saja bersiap untuk mencuci pakaian kotor, tapi Bu Tuti baru ingat detergent untuk mencuci sudah habis, dia lupa bilang ke Anya soal ini, Bu Tuti berjalan mendekati Anya di dapur.
"Mbak Anya maaf saya lupa bilang kalau detergent sudah habis" Ujar Bu Tuti dari belakang Anya yang sedang mencuci piring kotor.
Anya menghentikan kegiatannya dan membalikan badannya melihat ke arah Bu Tuti yang berada di belakangnya.
"Owh habis ya, saya juga udah lama ga belanja bulanan buat keperluan mandi dan mencuci" Ujar Anya.
"Bu Tuti bisa kita bicara sebentar?" Anya berjalan ke meja makan dan menarik kursi duduk di sana lalu meminta Bu Tuti untuk duduk bersamanya.
"Seperti nya saya akan pindah dari sini" Ujar Anya memulai pembicaraan mereka, tapi apa yang di katakan Anya membuat Bu Tuti terkejut dan juga bersedih mendengar perkataan Anya barusan.
"Kalau Mbak Anya pindah berarti saya udah ga nyuci di sini lagi" Ujar Bu Tuti dengan wajah sedihnya.
Anya tersenyum mendengar ucapan Bu Tuti "Makanya saya mau bicara sama Ibu, Saya dapat kerjaan sebagai assistant pribadi dimana saya harus sering menginap di tempat Boss saya, dan Boss saya menyediakan tempat tinggal di apartment untuk adik-adik saya supaya saya ga khawatir meninggalkan mereka berdua , tapi saya ga bisa membiarkan mereka cuma tinggal berdua, apalagi mereka belum bisa mengurus diri mereka sendiri" Anya melanjutkan ceritanya.
"Bu Tuti kan pernah cerita ke saya kalau Ibu udah ga punya siapa-siapa lagi sejak kepergian suami dan kedua anak Ibu, jadi kalau Ibu mau, saya mau Ibu kerja sama saya dan tinggal dengan adik-adik saya untuk mengurus mereka, jadi Ibu ga perlu kehilangan pekerjaan Ibu dan Ibu juga ga perlu lagi mikirin duit buat bayar kontrakan Ibu" Anya menawarkan pekerjaan penuh kepada Bu Tuti.
"Ibu jangan takut, pastinya gajinya akan lebih besar sesuai dengan tambahan jam kerja Ibu" Ujar Anya lebih lanjut.
Bu Tuti terdiam mendengar suara yang di katakan Anya, ternyata Anya menawarkan pekerjaan dan tempat tinggal yang lebih baik dan dia tidak perlu memikirkan bagaimana membayar nya setiap bulan. memang tidak ada alasan untuk menolak tawaran Anya, karna dia pun hanya sebatang kara di Jakarta ini karna suami dan anaknya meninggal karna kecelakaan saat mereka pulang ke kampung.
__ADS_1
"Bagaimana Bu, apa Ibu menerima pekerjaan yang saya tawarkan?" Anya memang butuh jawaban secepatnya karna kalau Bu Tuti menolak dia bisa mencari orang lain untuk bekerja menjaga adik-adiknya.
"Iya Mbak, saya mau, terima kasih karna Mbak nawarin ke saya" Bu Tuti terlihat sedikit menangis.
"Lho kok Ibu nangis?" Anya merasa heran melihat Bu Tuti menangis.
"Saya senang Mbak, karna tidak harus merasa kesepian lagi" Ujar Bu Tuti.
"Iya Ibu bisa anggap saya dan adik-adik saya seperti keluarga Ibu" Anya tersenyum kecil.
"Lalu rumah ini gimana Mbak? karna ini kan rumah Mbak Anya" Ujar Bu Tuti soal kelanjutan rumah Anya jika nanti di tinggal.
"Owh, rencananya mau saya sewakan, ya lumayan Bu buat nambah-nambah tabungan buat adik-adik saya" Ujar Anya memberitaukan rencananya untuk rumah peninggalan orangtua nya.
"Owh syukurlah Mbak, Ibu pikir rumahnya di jual" Ujar Bu Tuti atas apa yang dia pikirkan.
"Ya udah Mbak kalau gitu Ibu mau nyuci" Ujar Bu Tuti lagi.
"Owh iya Bu, ini duit buat beli detergent, nanti saya akan belanja buat keperluan seminggu ke depan, karna seminggu lagi kita pindah, jadi sekarang Ibu beli aja buat yang sekali pake" Anya memberikan uang duapuluh ribuan ke Bu Tuti.
"Permisi Mbak" Bu Tuti bangun dari kursinya dan berjalan ke luar rumah untuk pergi ke warung membeli detergent, sedangkan Anya berjalan ke kamar tidurnya karna harus segera bersiap untuk berangkat kuliah.
BERSAMBUNG
Jangan lupa like dan vote guy's , semoga kalian enjoy dengan ceritanya, maaf kalau upnya dikit karna harus mencicil cerita yang lain juga, kalian bisa baca juga cerita yang lain juga, liat aja di listnya.
__ADS_1