PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA

PENGORBANAN YANG TERSIA-SIA
CHAPTER 092


__ADS_3

ENJOY YOUR READING GUYS 🌿🌿🌿🌿🌿


Anya, Marsha, dan Danu duduk di satu meja di cafe yang berada di lantai bawah dan mereka sudah mendapatkan minuman mereka masing-masing, Danu dan Marsha memesan wine, sedangkan Anya hanya memesan orange juice, karna dia sangat buruk jika berurusan dengan Alkohol, Mereka menikmati minuman mereka sambil mendengarkan live music yang ada, dan Danu terlihat sangat sering memandang ke arah Anya yang terlihat semakin cantik, padahal ini pertemuan kedua dirinya dengan Anya, tapi dia sudah sangat akrab dengan wajah Anya yang menurut nya sangat meneduhkan, dan dia berpikir seperti nya Anya memang bawa hoki untuk dirinya, pertama bertemu Anya pada siang hari, dan pada malam harinya dia mendapatkan tawaran kerja sama oleh salah satu perusahaan pembuatan pesawat untuk menjadi pemasok bahan pembuatan body pesawat, karna memang Danu juga memiliki perusahaan Aluminium yang di khususkan memang untuk body pesawat, biasanya dia hanya mendapatkan pesanan dalam jumlah kecil, tapi kali ini dia mendapatkan t awaran menjadi pemasok untuk partai besar, dalam artian dia memasok seratus persen Aluminium yang di gunakan untuk pembuatan body pesawat dan keuntungan nya bisa ratusan juta dollar, dan itu terjadi setelah dia bertemu Anya di Taman safari, padahal dia baru berpikir untuk mengajukan tawaran kepada salah satu perusahaan pembuat pesawat agar bisa menjadi pemasok satu-satunya dalam penyediaan bahan untuk body pesawat, tapi dia malah mendapatkan tawaran lebih dulu, dengan kata lain, kalau Anya bisa menjadi miliknya maka keberutungan akan selalu berpihak padanya, karna Marsha sendiri mengatakan kalau dia hanya bermodalkan lima puluh ribu dollar dan bisa menang hingga puluhan juta dollar karna Anya yang bermain mewakili Marsha, karna dia sangat tau, selama bertahun-tahun menjadi teman dari Bian dan Marsha, Marsha lebih sering kalah daripada menang, makanya Marsha tidak pernah keluar uang banyak, karna dia tau kalau hokinya dalam permainan ini sangat tipis, jadi Marsha bermain hanya untuk is e ng-iseng.


"Anya, kok kamu bisa ada di sini? apa kamu sedang liburan atau sedang ada bisnis?" Danu memecah keheningan di antara mereka, karna dia juga ingin mendengar suara lembut Anya yang pernah dia dengar saat dia berkenalan pertama kali.


Anya tidak menjawab pertanyaan Danu karna dia bingung harus menjawab apa Anya memandang ke arah Marsha seakan memberikan isyarat agar Marsha yang menjawab pertanyaan Danu.


"Anya aku yang ngajak, biar sekalian buat teman ku nanti saat kami liburan ke Paris" Marsha menjawab pertanyaan Danu.


"Kalian mau ke Paris?" Danu memandang ke arah Anya, padahal yang bicara adalah Marsha.


"Saya kurang tau soal itu" Anya menjawab karna Danu melihat ke arah nya.


Danu balik memandang Marsha, karna memang seharusnya dia bertanya pada perempuan bule itu karna yang berbicara dari awal soal liburan ke Paris itu adalah Marsha.


"Iya Dan, kan tiga bulan lalu Bianca berulang tahun, karna Alex berada di Indonesia jadi tidak bisa memenuhi permintaan Bianca untuk jalan-jalan sebagai kado ulang tahun nya, jadi Alex menjanjikan saat nanti dia kembali ke America Alex akan memenuhi permintaan Bianca untuk jalan- jalan ke pulau di Paris" Marsha menjelaskan maksud dari perkataan nya soal jalan-jalan ke Paris.


"Jadi Bian pulang juga?" Danu baru tau kalau Bian ada di America, karna dia juga sedang sibuk dengan pekerjaannya dan niatnya yang ingin menjual tigapuluh lima persen sahamnya kepada Bian agar dia bisa mendapatkan sutikan dana yang besar untuk kemajuan perusahaan nya.


"Iya, karna dia urusan penting, kau taukan kalau sebentar lagi pemilihan gubernur akan di laksanakan dan tuan Joseph masih sayang dengan kursi kebesarannya sebagai gubernur, jadi tuan Joseph meminta Alex untuk kembali mendukung nya, karna dengan Alex mendukung nya dia yakin warga new york akan kembali memilih dirinya" Marsha menjelaskan maksud dari kepulangan mereka.


Iya Danu sangat tau seberapa besar pengaruh Bian dan Daddynya di kota ini dan juga di beberapa kota lainnya, sehingga banyak dari orang yang ingin menjadi pejabat penting di kota tersebut akan berusaha melobi Bian dan Daddynya untuk mendukung mereka, bahkan di parlemen pun nama Bian dan Daddynya cukup di segani.


"Marsha, sudah sangat malam, takutnya Micca dan Rio sudah mencari-cari ku" Anya mengingat kan Marsha untuk mereka segera kembali ke Mansion karna mereka sudah lumayan lama berada di luar.


Marsha melihat ke arlojinya, jam nya sudah pukul sepuluh malam.


"Sorry Danu, kami harus kembali ternyata sudah sangat malam" Marsha pamit ke Danu karna mereka ternyata sudah empat jam lebih berada di luar rumah, Marsha menelpon assistannya untuk mengambil mobil karna mereka akan segera pulang, Marsha dan Anya segera bangun dari kursi mereka dan Danu juga ikut bangun dari kursinya dan berjalan mengiringi kedua perempuan cantik itu menuju pintu keluar, dan setibanya di pintu keluar terlihat assistan Marsha udah nunggu di depan pintu mobil Marsha, Danu dengan cekatan membukakan pintu mobil untuk Anya, Anya tersenyum kecil sebagai tanda terima kasih lalu masuk ke dalam mobil dan di susul oleh Marsha dan melihat senyum yang di berikan Anya padanya walau hanya senyuman kecil itu sudah membuat Danu sangat senang dan semakin semangat untuk mendapatkan Anya.

__ADS_1


"See you Danu bye" Marsha melambaikan tangan nya ke arah Danu, sedang Anya hanya diam karna dia tidak akrab dengan lelaki yang bernama Danu itu jadi dia juga ga tau harus berbuat apa, Danu memandang mobil yang membawa Anya dan Marsha yang sudah bergerak meninggalkan area cafe tersebut.


"Sepertinya aku sudah menemukan dewi fortuna untuk kehidupan ku" Danu berkata dengan sangat yakin, tinggal bagaimana dia bisa dekat dengan Anya, Danu berjalan kembali masuk ke dalam cafe.


****


Marsha dan Anya sudah tiba di Mansion, mereka melangkah masuk ke dalam Mansion dan mereka melihat Bian dan Alvaro sedang duduk di ruang keluarga, sedang menonton televisi yang menampilkan berita tentang politic juga pengerakan ekonomi di negara ini. Bian memandang ke arah datangnya Anya dan Marsha dan dia melihat kalau wajah adik sepupu nya sangat senang.


"Sepertinya ada yang sedang happy, ada apa Marsha? apa kau mendapatkan pangeran hatiku?" Bian bertanya sambil memandang Anya yang terlihat sangat cantik dan menggoda dengan pakaiannya yang sangat sexy.


Marsha duduk di sebelah Daddynya sementara Anya hanya berdiri karna bingung mesti apa, dan itu tertangkap oleh mata Bian, Bian memberikan isyarat agar Anya duduk di dekatnya, Anya yang mengerti dengan isyarat Bian tetap merasa tidak enak karna ada Daddynya Bian di sana, tapi Bian meyakinkan Anya dengan tatapan nya untuk duduk di dekatnya, akhirnya Anya duduk di dekat Bian tapi masih lumayan berjarak dan Bian memahami Anya yang masih sungkan dengan Daddy nya.


"Apa yang membuat mu happy?" Bian. mengulang pertanyaan nya yang belum di jawab oleh Marsha.


"Kalian tau, malam ini aku menang banyak, puluhan juta" Ujar Marsha dengan happy nya, karna sejak dia suka iseng bermain di casino dia sangat jarang menang, kadang dari sepuluh kali main dia hanya menang dua atau tiga kali, makanya dia tidak pernah bermain dengan modal besar karna dia hanya menjadikan hal itu sabagai hiburan semata.


"Really??" Bian tidak percaya dengan perkataan Marsha, karna dia sangat tau hoki adiknya itu sangat jelek untuk bermain di casino.


"Habis modal berapa buat menang sebanyak ini?" Bian mengambil cek yang mendapat cap khusus dari casino terkenal di kota ini, dan angka yang tertulis di cek itu juga besar hampir tigapuluh juta.


"Kau pasti tidak akan percaya jika aku menyebutkan modal yang aku keluarkan" Marsha tersenyum lebar.


"How much? seratus juta?" Bian menebak dengan angka pantastis, karna dia berpikir pasti Marsha sudah kalah banyak sebelum menang segini banyak.


Marsha tertawa lebar mendengar angka yang di sebutkan Alex.


"Limapuluh ribu dollar" Ujar Marsha masih dengan senyum lebar nya.


"Impossible" Bian sama sekali ga percaya dengan perkataan Marsha, dan Alvaro pun sampe ikut memandang ke arah putrinya saat putrinya menyebutkan angka yang di jadikan modal.

__ADS_1


"Serius! kau boleh tanya Danu jika tidak percaya karna dia ada di sana dan melihat saat permainan berlangsung" Marsha berkata dengan nada serius bahkan membawa nama Danu agar Alex bisa mengecek kebenaran dari perkataan nya.


"Tumben hoki mu bagus" Bian meletakan kembali cek yang dia pegang.


"Not me" Ujar Marsha sambil memandang ke arah Anya yang dari tadi hanya sabagai pendengar.


"Maksud mu? kau membayar orang lain untuk bermain mewakili mu agar bisa menang?" Bian memandang wajah Marsha.


"Not, I'm not do that, ini semua kemenangan Anya, karna dia yang bermain dari awal, aku sama sekali tidak ikut satu kali pun, dan kami juga tidak pernah kalah sekali pun, tebakan Anya selalu benar, dan kartu yang dia pegang selalu bagus" Marsha berujar dengan bangga menunjuk ke arah Anya, Bian tidak percaya apa yang dia dengar, karna selama mereka bersama dia memang tidak pernah mengajak Anya pergi ke casino manapun event mereka pergi ke Singapore yang terkenal sebagai negara Judi terbesar si Asia tenggara setalah china dan hongkong dan Tokyo.


"Memang kalian bermain apa saja?" Bian jadi ingin tau.


"Cuma dua permainan, Craps dan poker, tapi aku selalu mempertaruhkan apa yang kami menangkan, makanya nilainya jadi berlipat dengan cepat" Marsha menjelaskan apa yang mereka mainkan.


"That true honey?" Bian memandang ke arah Anya, dan Anya cuma tersenyum kecil, karna dia merasa sungkan dengan Marsha yang begitu memuji nya hanya untuk permainan seperti ini, Sementara Alvaro cukup tertarik dengan perkataan Marsha tentang hoki gadis yang ada di samping putranya, mungkin suatu saat dia bisa membuktikan sendiri.


"Ya sudah, kalian bersihkan diri kalian" Alvaro menyuruh keduanya untuk membersihkan diri mereka.


"Oke Dad, aku ke kamar, night Dad, love you, night Lex" Marsha mencium pipi Daddynya dan juga Alex sebelum berjalan menuju lift karna kamarnya yang memang berada di lantai tiga.


"Night Uncle, saya permisi ke kamar" Anya juga mengucapkan selamat malam kepada Alvaro dan berjalan di belakang Marsha yang sudah lebih dulu jalan meninggalkan ruang keluarga.


Alvaro memandang ke arah putranya.


"Sepertinya kau mendapatkan dewi fortuna pada diri gadis itu" Alvaro berkata dan meneguk wine nya.


"Sepertinya memang seperti itu Dad, karna sejak bersama dia, banyak perusahaan besar yang ingin bekerja sama dengan kita dengan nilai besar, pemerintah di sanapun menawarkan proyek ratusan trilliun kepada perusahaan pertambangan kita" Bian jadi berpikir di buatnya karna perkataan Daddynya dan juga fakta real yang di bawa Marsha, kalau Anya tidak kalah satu kalipun dalam permainan mereka.


BERSAMBUNG

__ADS_1


like dong guys, doa kan mood Author bagus ya, biar tambah up nya


__ADS_2