
Mereka berlima berjalan ke ruang kerja milik daddy Alvonso. Sedangkan Arlan, Max, Debby, Denis dan Denisa menonton televisi.
Di ruang kerja, daddy Alvonso duduk di kursi kebesaran berhadapan dengan mommy Laras, Alvonso, Alvian dan Alviana hanya di batasi oleh meja.
" Daddy langsung saja karena daddy tidak ingin Max curiga dengan kita." ucap daddy Alvonso tanpa basa basi sambil menatap satu persatu.
Mereka diam mendengarkan ucapan daddy Alvonso yang sepertinya sangat serius.
" Daddy merasa curiga dengan Max, daddy tidak tahu sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Max. Menurut kalian bagaimana?" sambung daddy Alvonso sambil menanyakan ke anggota keluarganya.
" Aku juga sama dad sepertinya Max merencanakan sesuatu dengan kita." ucap Alvonso
" Kalau Alvian juga sama, Ketika daddy, kak Alvonso serta aku ketemu di mall tadi siang dan ketika melihat kita sepertinya Max menyimpan dendam terhadap kita." ucap Alvian.
" Kalau Alviana melihat pas kita makan malam bersama dengan Max, wajahnya mirip seseorang tapi siapa ya?" tanya Alviana sambil berfikir.
" Mommy juga sama seperti kalian tapi mommy tidak tega melihat Max sebatang kara." ucap mommy Laras dengan nada sendu.
" Jika melihat Max, mommy merasa Max seperti anak yang tersesat dan mommy ingin Max bisa melupakan dendamnya terhadap keluarga kita." sambung mommy Laras.
" Lebih baik kita lihat siapa sebenarnya Max. Alvonso, Alvian dan Alviana serts mommy, daddy minta kalian saling bekerjasama mencari informasi lewat rekaman cctv tentang Max." usul daddy Alvonso.
" Baik dad." ucap mereka kompak
Merekapun bekerja sama mencari asal usul Max. Hanya membutuhkan kurang dari 2 jam lamanya akhirnya dapat di ketahui.
" Max anak dari pasangan tuan Zain Alionso dengan nyonya Angela Saraswati. Max seorang psycopath nurunin dari ayahnya Zain Alionso...." ucapan mommy Laras terpotong oleh daddy Alvonso
" Tuan Zain Alionso sepertinya aku kenal... oh iya daddy baru ingat dia yang dulu menculik mommy dan Alvian yang menembak Tuan Zain Alionso." ucap daddy Alvonso.
" Oh iya kami baru ingat." ucap mereka serempak.
" Tapi sebenarnya yang di tembak anak kita bukanlah Tuan Zain Alionso tapi orang yang menyamar menjadi Tuan Zain Alionso. Tuan Zain Alionso dan istrinya nyonya Angela Saraswati dibunuh oleh orang yang mempunyai dendam kemudian menguasai hartanya dia juga menyamar sebagai Tuan Zain Alionso." ucap mommy Laras.
" Berarti Max mengira kita membunuh ayahnya padahal bukan." ucap Alvian
" Iya benar." jawab daddy Alvonso
" Mommy akan berusaha menyadarkan Max dengan kasih sayang. Mommy mohon kita semua bekerja sama untuk menyadarkan Max." mohon mommy Laras.
" Tapi mom, Max seorang psycopath akan sangat berbahaya dengan keluarga kita. Daddy tidak setuju karena daddy tidak sanggup jika mommy dan anak - anak terluka karena balas dendam Max." tolak daddy Alvonso
__ADS_1
" Daddy, Max seperti anak hilang yang membutuhkan kasih sayang dan juga perhatian dari kita semua. Mommy mohon sama daddy dan kalian untuk baik dan perhatian dengan Max. Mommy yakin Max akan berubah dengan ketulusan hati kita." ucap mommy Laras.
Semua yang ada di ruang kerja daddy Alvonso berfikir kecuali mommy Laras.
" Baiklah mom, Alviana setuju usul mommy. Semoga saja Max bisa berubah." ucap Alviana
" Kalau Max tidak berubah dan membunuh kita bagaimana?" tanya daddy Alvonso.
" Hidup dan mati sudah ditakdirkan. Bisa saja setelah Max kita usir dan sakit hatinya semakin bertambah bisa saja Max membunuh anggota keluarga kita. Kalau sudah takdir apakah bisa di lawan. Mungkin dengan kasih sayang Max keluarga kita bisa membuatnya berubah." ucap mommy Laras
" Baiklah mom Alvonso setuju." ucap Alvonso anak pertama
" Alvian juga mom." jawab Alvian anak ke dua
" Daddy ikut kalian saja." ucap daddy Alvonso.
" Berarti setuju semua ya? kalau kita merawat Max dengan kasih sayang." tanya mommy Laras
" Setuju." jawab mereka dengan serempak
" Bagaimana kalau Max kita angkat anak?" usul daddy Alvonso
" Kalau begitu besok mommy dan daddy akan mengurus surat - surat pengangkatan anak." ucap daddy Alvonso
" Ok, masalah Debby, Denis dan Denisa nanti mommy akan bicarakan tentang Max dan meminta ke 3 adik kalian untuk memperlakukan Max sebagai seorang kakak seperti kalian bertiga. Untuk kalian bertiga juga sama perlakukan Max sebagai adik. Mommy ingin anak - anak mommy dan daddy akur tidak ada yang bertengkar." pinta mommy Laras
" Ok mom." jawab Alvonso, Alvian dan Alviana.
" Sekarang sudah selesai kita kembali ke ruang keluarga dan tugas mommy jika tidak ada Max memberitahukan ke anak - anak kita Debby, Denis dan Denisa karena mereka belum tahu." ucap daddy Alvonso
" Baik dad." jawab mommy Laras
Merekapun keluar dari ruangan keluarga dengan bersikap biasa saja terhadap Max agar Max tidak curiga.
XXXX FLASH BACK OFF XXXX
" Seperti itulah ceritanya." ucap Denisa mengakhiri ceritanya.
Max dan Charli tanpa sadar mengeluarkan air mata karena sangat terharu betapa baiknya keluarga Alvonso menolong orang dengan tulus. Terlebih Max, Max berjanji untuk selalu melindungi keluarga besar Alvonso yang telah merawat dirinya selama lebih dari 10 tahun.
" Oh ya aku ingin ketemu Mira." ucap Charli
__ADS_1
" Temuilah, tadi aku melihat Mira tidak mau makan katanya belum lapar." ucap Denisa
" Ok, nanti aku akan membujuknya. Terima kasih buat mommy dan kamu ya? mau menolongku." ucap Charli dengan nada tulus.
" Ok, yang penting sayangi dan cintai sahabatku Mira karena Mira adalah orang yang setia sama seperti diriku." ucap Denisa
" Ok. Aku akan selalu mengingatnya." ucap Charli.
Charli berjalan menuju ke ruang perawatan vvip sedangkan Max mendorong Denisa untuk istirahat.
ceklek
" Siapa?" tanya Mira ketika mendengar suara pintu terbuka.
" Aku sayang, Charli." ucap Charli sambil melangkahkan kakinya dengan lebar.
" Sayang?" tanya ulang Mira dengan nada bingung
" Aku memanggilmu dengan sebutan sayang sedangkan kamu memanggilku dengan sebutan honey." ucap Charli menjelaskan.
" Honey, sepertinya aku pernah mendengar kata itu, tapi dimana ya?" tanya Mira sambil berfikir.
" Akhhh sakit." ucap Mira sambil memegang kepalanya.
" Sayang jangan terlalu dipaksakan." pinta Charli sambil memijat perlahan kepala Mira.
" Bolehkah aku memelukmu?" pinta Mira
" Memelukku?" tanya ulang Charli.
"Kalau boleh tapi kalau tidak boleh tidak apa - apa." ucap Mira dengan nada kecewa
" Tentu saja boleh sayang." ucap Charli
" Tapi meluknya berbaring di ranjang saling berhadapan." ucap Mira penuh harap.
" Ok, dengan senang hati sayang." ucap Charli
Charli mengangkat tubuh Mira secara perlahan kemuding langsung berbaring sambil saling berhadapan. Mira meraba wajah Charli dari pipi, mata, hidung dan bibir.
" Apakah kita pernah berciuman?" tanya Mira dengan wajah memerah menahan malu.
__ADS_1