Perjalanan Cinta Sang Psychopath

Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Indentitas Denisa


__ADS_3

Denisa sengaja menutupi identitasnya sebagai pemilik perusahaan karena Denisa tidak ingin jika mempunyai teman yang hanya memanfaatkan kekayaannya sebagai direktur utama.


Dulu Denisa pernah mempunyai teman baik, Denisa jujur terhadap temannya dan temannya melakukan kerja sama dengan Denisa tapi ternyata temannya menipu dirinya dan Denisa mengalami kerugian besar, temannya kabur entah kemana. Sejak saat itulah Denisa sengaja menyembunyikan identitasnya kecuali Alan yang sudah tahu karena Denisa percaya kalau Alan sangat tulus bersahabat dengannya.


Max menatap wajah Denisa dan lagi - lagi Max mengalami kecewaan karena Denisa menutupi sesuatu.


Max kemarin mencoba mencari identitas Denisa tapi Max kesulitan mencarinya hingga Max sementara menyerah dulu.


" Kamu tidak ada yang kamu sembunyikan dariku kan?" tanya Max


" Tidak ada, apalagi apa yang mesti aku sembunyikan?" tanya Denisa berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain karena Max menatapnya dengan tatapan mengitimindasi Denisa.


" Kamu tahu Nisa, aku paling tidak suka jika orang berbohong padaku." ucap Max dengan memegang dagu Denisa agar menatap dirinya.


" Kalau boleh tahu, kenapa kamu pergi ke club?" tanya Denisa berusaha mengalihkan pembicaran tanpa menjawab ucapan Max.


" Kami janji bertemu dengan teman - temanku." ucap Max santai.


" Dengan melakukan seperti itu? kenapa kamu tidak ikut bergabung?" tanya Denisa dengan nada cemburu


" Apa kamu cemburu?" goda Max


" Tidak." jawab Denisa sambil memalingkan wajahnya yang sudah merona merah.


Max menarik wajah Denisa untuk menatap dirinya kemudian Max mendekatkan ke wajah Denisa membuat Denisa memejamkan matanya karena mengira dirinya akan di cium.


" Sungguh kamu tidak cemburu? karena jujur aku ingin melakukan itu bersamamu." bisik Max ke telinga Denisa


Denisa membuka matanya kemudian menatap tajam ke arah Max dan menarik wajahnya agar tidak bersentuhan dengan wajah Max.


Max tersenyum menatap Denisa yang wajahnya merona merah.


" Apa kamu mengira aku menciummu?" goda Max


" Tidak, kenapa makanannya lama datang ya?" tanya Denisa mengalihkan pembicaraan.


Max lagi - lagi tersenyum melihat salah tingkah Denisa.


Tidak berapa lama pesanan makanan datang, mereka makan dalam diam tanpa bersuara. Selesai makan Denisa membereskan piring dirinya dan Max di tumpuk jadi satu dan di taruh di tengah meja.


Apa yang dilakukan Denisa di tatap oleh Max.


" Itu kan tugas pelayan." ucap Max

__ADS_1


" Memang, tapi kan kalau aku melakukan ini sama saja memperingan pekerjaan mereka. Kasihan mereka gajinya kecil tapi pekerjaan mereka banyak." ucap Denisa


deg


Jantung Max berdetak kencang mendengar ucapan Denisa yang sangat perduli terhadap orang lain.


" Maaf aku ingin pulang dulu." ucap Denisa


" Aku antar." tawar Max


" Maaf aku bawa mobil." ucap Denisa menolak tawaran Max secara halus karena dirinya tidak ingin menyakiti Max.


" Baiklah." jawab Max singkat


Denisa tersenyum meninggalkan Max menuju parkiran mobil. Tanpa sepengetahuan Denisa kalau Max mengikuti Denisa ke parkiran mobil. Max menaiki mobil dan menatap tajam ke arah Denisa yang melajukan mobilnya keluar dari mall. Ke dua tangan Max menggenggam erat kemudi menahan rasa kesal terhadap Denisa.


" Huh.. lihatlah mobil yang di pakai Nisa itu pasti mahal, apa mungkin Nisa seorang simpanan karena tidak mungkin mempunyai mobil dan apartemen mewah." ucap Max dengan nada kesal.


" Jika kita bertemu lagi berarti bersiaplah Nisa akan aku siksa kamu. Hari - harimu akan berubah menjadi neraka bagimu" ucap Max dengan senyuman devil.


Max melanjutkan perjalanan menuju ke mansion untuk beristirahat.


xxxxx


" Ali, seandainya aku tidak berjanji dengan Max mungkin hatiku hanya untukmu karena aku sangat mencintaimu. Aku sangat lega ketika kamu tidak melakukan itu terhadap wanita lain. Benar Ali kalau aku sangat cemburu tapi tidak mungkin kalau aku jujur padamu. Kenapa hatiku jadi galau sih." omel Denisa


" Ali, I Love Youuuu..." teriak Denisa di dalam mobil.


20 menit Denisa sudah sampai di apartemennya. Denisa memarkirkan mobilnya kemudian mengambil barang belanjaan ke dalam kulkas dan di dalam lemari berdasarkan kelompoknya.


Setelah selesai Denisa membersihkan dirinya karena tubuhnya sangat lengket. Selesai mandi dan memakai pakaian ganti Denisa berbaring di tempat tidur dan tidak berapa lama Denisa menuju ke dunia mimpi indah.


xxxx


Tidak terasa hari sudah pagi dan seperti biasa Denisa bangun pagi menyikat gigi dan mencuci muka. Denisa kemudian menuruni anak tangga menuju ke arah dapur untuk membuat sarapan pagi.


Selesai masak Denisa menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mandi. Selesai mandi dan berdandan Denisa menuruni anak tangga untuk makan sarapan pagi yang barusan di buatnya.


Selesai sarapan pagi Denisa keluar apartemen mewah menuju garasi mobil. Denisa mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


" Ali, aku sangat merindukanmu? apakah kamu merindukanku? Max maafkan aku karena ciuman pertamaku sudah di ambil oleh Ali dan aku juga minta maaf kalau hatiku mulai bercabang menyukai pria lain." desah Denisa frustrasi.


Denisa merasa bingung di satu sisi hati Denisa untuk Max tapi di sisi lain hati Denisa untuk Ali. Denisa belum menyadari kalau Max dan Ali adalah orang yang sama.

__ADS_1


" Maxxx... maafkan aku... Ali aku sangat mencintaimu tapi aku tidak bisa karena ada Max." teriak Denisa menghilangkan rasa sesak.


Tidak berapa lama Denisa sudah sampai di kantor. Denisa seperti biasa membalas sapaan para anak buahnya. Denisa menaiki pintu lift khusus CEO.


ting


Pintu lift terbuka dan Denisa keluar dari ruangan lift menuju ke ruangan pribadinya. Denisa membuka pintu ruangannya dan menutup pintunya. Denisa menatap tumpukan kertas yang tidak pernah habisnya.


"Perasaan dua hari yang lalu sudah selesai kini nambah lagi." keluh Denisa


" Semangat Denisa, kamu harus bisa membuktikan ke daddy dan mommy kalau kamu bisa diberi tugas menjalankan perusahaan ini." sambung Denisa memberikan semangat dirinya.


Denisa mulai duduk di kursi kebesarannya sambil mengecek dokumen yang menumpuk. Setelah di rasa ok Denisa menandatangani dokumen tersebut.


tok


tok


tok


" Masuk." ucap Denisa lembut


ceklek


Sekretaris sekaligus sahabat Denisa masuk ke dalam dan duduk berhadapan dengan Denisa yang hanya dibatasi oleh meja.


" Ada apa Al?" tanya Denisa sambil matanya tetap menunduk ke bawah mengecek dokumen.


" Nanti siang kita ada janji temu klien di hotel Kasandra." ucap Alan


" Ok, ada yang lain?" tanya Denisa yang masih sibuk mengerjakan dokumen.


" Tidak ada hanya itu saja. Permisi saya juga mau melanjutkan pekerjaan." ucap Alan sambil berdiri dan membalikkan badannya.


" Terima kasih." jawab Denisa dengan matanya masih setia menatap ke dokumen.


" Ok." jawab Alan singkat sambil meninggalkan Denisa.


Tidak terasa hari sudah mulai siang, Denisa yang ingat ada janji dengan klien langsung membereskan dokumen kemudian keluar ruangan bertepatan kedatangan Alan.


Mereka berjalan menuju ke lift khusus CEO kemudian menaiki mobil menuju ke hotel Kasandra. Alan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sedangkan Denisa duduk di samping pengemudi.


Singkat cerita mereka sudah sampai di hotel Santika. Denisa dan Alan berjalan berdampingan memasuki lobby hotel. Tanpa sepengetahuan Denisa ada seseorang menatap tajam dan hawa aura membunuh.

__ADS_1


__ADS_2