
Inge berjalan perlahan menuju Amora yang sedang pingsan sedangkan Baron menatap nyalang ke arah pria berwajah seram.
" Kamu pria pertama yang menampar istriku hingga istriku terjatuh." ucap Baron
Duag
sretttt
akhhhh
Baron menendang tulang kering pria itu hingga terjatuh. Baron memegang tangan pria itu kemudian memotongnya hingga putus.
" Istriku buta tapi istriku di serang oleh orang yang tidak buta, kamu ingin tahu rasanya jadi orang buta. Hah!!!" bentak Baron
sretttt
akhhhh
sretttt
akhhhh
Ke dua bola mata itu menggelinding ke lantai membuat pria sangar itu menjerit kesakitan. Harlan melihat kekejaman Baron dan ingin menusuk ke perut pria sangar itu.
" Baron kamu lebih baik bawa Amora, aku lihat kepalanya berdarah." ucap Harlan yang masih menyerang pria itu.
" Baik." jawab Baron
sretttt
Akhhhh
Baron sengaja melewati Harlan dan pria sangar itu. Baron membenamkan pisau ke punggung pria sangar itu kemudian menariknya setelah itu pisau itupun di cabut kemudiaan melap pisau lipatnya ke meja pria sangar itu.
Baron berjalan keluar dari kamarnya yang lantai putihnya berubah menjadi merah karena darah dari Amora, pelayan yang bernama Ina, 2 bodyguard yang satu terluka parah dan yang satu belum begitu parah.
Baron mendekati istrinya dan menggendongnya ala bridal style. Baron menuruni anak tangga melewati mayat - mayat.
" Dennis kamu antar Baron ke rumah sakit" perintah Alvonso.
" Baik kak." jawab Dennis
" Kak Baron minta kuncinya?" pinta Dennis
" Tolong ambil di saku jasku sebelah kanan." ucap Baron
Dennis mengambil kunci di saku jas Baron dan berjalan dengan cepat menuju ke mobil milik Charli. Dennis duduk di kursi pengemudi sedangkan Baron di kursi belakang pengemudi.
Dennis mengendarai mobil dengan sangat kencang dan hanya membutuhkan 10 menit mereka sudah sampai. Dennis memarkirkan secara asal dan dengan cepat membuka pintunya kemudian tanpa menutup langsung memutar tubuhnya untuk membuka pintu untuk Baron.
Setelah Baron keluar, Dennis baru memarkirkan tempat parkiran khusus keluarga karena rumah sakit itu milik keluarga dokter Kennath. Dennis mengunci pintu mobil dan menyusul Baron di ruangan UGD sambil menghubungi adiknya Dennisa.
" Suster... suster.." teriak Baron sambil berjalan dengan cepat sambil menggendong istrinya.
Dua suster dengan sigap membawa brankar dan Baronpun merebahkan istrinya secara perlahan. Dua suster tersebut mendorong brankar tersebut ke ruang UGD.
" Maaf tuan harap tunggu di luar." pinta suster tersebut.
Baron pun menghentikan langkahnya dan duduk di kursi khusus menunggu pasien ugd bersamaan kedatangan Dennis.
" Dennisa, bagaimana situasi mansion kak Baron dan kak Charli?" tanya Dennis sambil duduk di sebelah Baron.
" Sudah aman kendali tapi sebagian penjahat yang hidup langsung mati secara mendadak dan sebagian lagi bunuh diri." ucap Dennisa
" Kenapa bisa?" tanya Dennis
" Kurang tahu kak, tapi sepertinya mereka bunuh diri minum racun karena semua mulutnya mengeluarkan busa." ucap Dennisa
__ADS_1
" Si*l, berarti kita tidak bisa mengorek informasinya." ucap Dennis
" Iya kak, oh ya bilang sama kak Baron kalau salah satu pelayannya pengkhianat dan dia sudah mati bunuh diri ketika kak Alvonso menanyakan siapa dalangnya." ucap Dennisa
Baron yang mempunyai telinga tajam langsung meminta ijin meminjam ponsel milik Dennis.
" Maaf aku ingin ngobrol dengan adikmu." ucap Baron
Dennis pun memberikan ponselnya ke Baron dan Baron langsung menerimanya dan ponsel itupun di dekatkan ke telinganya.
" Pelayan mana?" tanya Baron tanpa basa basi.
" Pelayan yang bertugas membersihkan kebun bunga kak Baron." ucap Dennisa.
" Kenapa dia melakukannya?" tanya Baron penasaran
" Dia dendam dengan kak Baron karena adiknya telah diperkosa oleh kak Baron dan di bunuh secara sadis." ucap Dennisa yang berani bicara tanpa rasa takut.
Tut Tut Tut Tut Tut
Baron mematikan ponselnya secara sepihak kemudian Baron memberikan ponselnya ke Dennis. Baron mengusap wajahnya secara kasar dirinya sangat menyesali perbuatan di masa lalunya. Baron berjanji untuk tidak membunuh orang lagi kecuali mengganggu keluarganya.
xxxxxx
Mansion Baron
Sepeninggal Baron, Harlan menyerang pria yang sudah mulai kekurangan tenaga karena darah banyak yang keluar hingga pria sangar itupun tumbang.
" Siapa yang menyuruh kalian hah!!!" bentak Harlan
" Kami tidak akan mengatakannya." ucap pria yang sudah mulai sekarat.
" Aku ingin mengatakannya tapi bebaskan aku dan keluargaku." pinta pria satunya.
" Kau.." ucap pria yang sudah mulai sekarat.
akhh
Pria yang sudah sekarat dengan sekuat tenaga bangun dan menusuk dada tepat di jantungnya hingga mati seketika kemudian diapun bunuh diri tapi dihalangi oleh Harlan dengan cara menahan tangan pria itu menusuk dadanya. Pisau itupun di buang oleh Harlan.
" Sekali lagi kutanya siapa yang menyuruhmu!!!" bentak Harlan.
Pria itu diam dan hanya menggigit lidahnya dan tidak berapa lama pria itu pun mati seketika.
" Si*l." ucap Harlan
Harlan keluar dan melihat Inge sedang bersandar di dinding menahan rasa nyeri di bagian perutnya.
Harlan menggendong Inge dan membawanya ke rumah sakit. Di lantai satu Harlan bertemu dengan Alvonso.
" Harlan semua musuh ada yang bunuh diri dan ada yang tiba - tiba mati jadi kita tidak bisa mengorek informasi." ucap Alvonso
" Sama yang di atas juga bunuh diri. Aku akan antar pelayan ini ke rumah sakit." ucap Harlan
" Ok. Aku antar pinjam mobil Baron." ucap Alvonso
" Pelayan, tolong ambilkan kunci mobil." pinta Alvonso
" Baik tuan." jawab salah satu pelayan yang masih hidup.
Pelayan itupun pergi mengambil kunci mobil milik bosnya. Setelah mengambil kunci mobil pelayan itupun memberikan ke Alvonso.
" Saya sudah menghubungi dokter pribadi jadi yang luka dikumpulkan biar nanti di obati dan yang tidak terluka tolong bantu mereka." perintah Alvonso
" Baik tuan, terima kasih." ucap semua pelayan
" Untuk mayat - mayatnya biar nanti orang kami yang akan mengurusnya sekalian membersihkan darahnya. Bantu mereka mana penjahat mana pelayan karena pelayan yang meninggal akan mendapatkan tunjangan untuk keluarganya." ucap Harlan
__ADS_1
" Baik tuan, terima kasih atas bantuan tuan berdua." ucap mereka serempak.
Harlan dan Alvonso berjalan melewati mereka menuju ke mobil mereka untuk mengantar Inge ke dokter karena lukanya lumayan parah sedangkan yang lainnya lukanya tidak begitu parah.
xxxxx
Di Tempat Yang Berbeda
" Hallo tuan muda penyerangan di mansion tuan Baron gagal tuan." ucap seorang pria.
" Apa? bagaimana bisa bukannya aku mengirim anak buah banyak?" tanya tuan muda itu.
" Karena ada 3 pria dan anak buahnya tiba - tiba datang membantunya jadi kami kalah telak. Ini aja saya terpaksa membunuh teman saya agar tidak ketahuan kalau saya adalah musuh mereka." ucap pria itu
" Si*l, lagi - lagi gagal. Sekarang kamu dimana?" tanya tuan muda itu.
" Saya berada di kamar pelayan." ucap pria itu.
" Bodoh mereka akan tahu lewat cctv, bunuh diri sekarang kalau tidak keluargamu akan mati." ancam tuan muda itu.
" Baik tuan." jawab pria itu.
" Sebelum mati rusakkan ponsel milikmu dan kartunya kamu patahkan." ucap tuan muda.
Tut Tut Tut Tut Tut
Komunikasipun diputuskan secara sepihak dan pria itupun membanting ponselnya hingga hancur berkeping-keping kemudian mematahkan simcardnya. Pria itupun mengeluarkan botol yang berisi racun dengan tangan gemetar dan membuka tutup botol dan memasukkannya ke dalam mulutnya tidak berapa lama pria itupun mati seketika dengan mengeluarkan busa di mulutnya.
xxxxx
Hallo, mampir ke karyaku yang lain ya :
Gadis Culun dan Ceo Lumpuh.
Cinta Satu malam Bersama Mafia
Cinta Satu Malam Bersama Mafia Sension 2
Cinta Pertama Psychopath
Cinta Pertama Mafia.
Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Dan
Mohon dukungan dan Berikan : 😍😍😘😘🤩🤩😊😊😉😉
Komentar 😍
Like 😍
vote 😍
tip 😍
Agar Author tetap semangat dalam menulis novel ini. Terima kasih banyak buat pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘 juga yang telah memberikan komentar, like, vote dan tipnya.
Salam Author
Yayuk Triatmaja
xxxxxx
__ADS_1