Perjalanan Cinta Sang Psychopath

Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Penyesalan Louis


__ADS_3

Max berdiri di balkon kamarnya sambil menatap bintang, air matanya keluar mengingat kejadian yang sudah lama di lupakan oleh Max kini membuatnya teringat kembali.


grep


Dennisa memeluk Max dan kepalanya bersandar di punggung Max setelah agak lama Dennisa melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Max.


" Menangislah jangan di tahan karena dengan menangis perasaan honey akan lega." ucap Dennisa dengan nada lembut sambil menghapus air mata Max kemudian memeluk Max sambil membelai punggung Max.


" Hiks... hikss... hiks..." Max hanya menangis tanpa bicara. Max mengingat peristiwa yang sangat mengerikan kehilangan ke dua orang tuanya dalam waktu yang hampir bersamaan sambil membalas pelukan istrinya.


Dennisa hanya diam membiarkan Max menangis menghilangkan perasaan sedihnya. Dennisa hanya bisa membelai punggung Max agar rasa sesaknya berkurang.


Setelah puas menangis Max melepaskan pelukannya dan menatap Dennisa. Dennisa melepaskan pelukannya dan dengan lembut menghapus air mata Max dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


" Aku cengeng ya?" ucap Max sambil tersenyum menatap wajah cantik istrinya.


" Tidak juga, Daddy dulu juga pernah nangis ketika mommy koma di rumah sakit. Pria kalau sering menangis baru di sebut cengeng tapi kalau sekali - kali tidak apa-apa." ucap Dennisa


" Kamu ngomongin Daddy nanti Daddy marah lho." goda Max


" Aish.. Daddy kan lagi kumpul sama keluarga jadi tidak mungkin tahu." ucap Dennisa dengan nada santai.


" Kata siapa?" kata daddy Alvonso tiba - tiba datang di samping Dennisa.


Dennisa yang terkejut mendengar suara Daddy Alvonso hampir terjatuh untunglah Max langsung memeluk Dennisa agar tidak jatuh ke lantai.


" Aish.. daddy... jantungku.." ucap Dennisa sambil membalikkan badannya menatap mata Daddy Alvonso sambil mengelus dadanya secara berulang-ulang.


" Salah siapa kamu ngomongin Daddy." ucap daddy Alvonso kesal.


Mommy Laras dan Max hanya bisa senyum - senyum melihat daddy Alvonso dan Dennisa berdebat.


" Kan aku hanya bilang kalau Daddy pernah menangis dan duduk di lantai seperti orang linglung." goda Dennisa


" Dennisa!!!" ucap daddy Alvonso menatap tajam ke arah Dennisa dengan nada kesal karena malu.

__ADS_1


" Benar begitu Dennisa? tahu dari mana? kenapa daddy seperti itu?" goda mommy Laras sambil melirik suaminya.


" Tahulah kan kami ada di sana waktu mommy... sudahlah aku tidak mau mengingatnya." ucap Dennisa menghentikan ucapannya karena peristiwa dulu membuatnya sangat terpukul.


" Sudah... sudah jangan di ingat lagi, itu masa lalu. Sekarang kita di masa sekarang dan waktu tidak akan pernah berhenti atau di ulang kembali." ucap mommy Laras berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Iya benar kata mommy, kamu juga Max. Mommy dan Daddy mu sudah tenang di sana dan bahagia, kamu kirimkan doa buat mommy dan daddy mu." ucap daddy Alvonso sambil menepuk pundak Max.


" Iya dad, terima kasih. Saat ini Max sangat merindukan Daddy dan mommy." ucap Max.


" Daddy mengerti perasaanmu Max karena orang tua Daddy juga sudah meninggal. Terakhir ibunya daddy meninggal seminggu setelah mommy kalian melahirkan Debby, Dennis dan Dennisa." ucap daddy dengan mata memerah.


Mommy Laras yang tahu suaminya sedang sedih langsung memeluk suaminya dari arah samping sambil mengusap bahunya berulang kali.


Kita istirahat dulu nanti sore kita kumpul lagi di ruang keluarga." ucap mommy Laras.


" Baik mom." jawab Max dan Dennisa kompak.


Mommy Laras dan daddy Alvonso membalikkan badannya meninggalkan mereka berdua di kamarnya.


Di Tempat Yang Berbeda Tepatnya di Mansion Milik Alex.


Tangan Louis meraba ke arah samping tapi Angelina tidak ada membuat dirinya memaksakan dirinya untuk membuka matanya.


" Angelina!!!" teriak Louis memanggil nama Angelina


Hening


hening


" Kemana dia?" tanya Louis bertanya pada dirinya sendiri.


Louis menatap sekeliling kamarnya tapi tidak ada orang selain dirinya. Mata elangnya melihat ada sepucuk kertas di meja dekat ranjangnya. Louis duduk di kepala ranjang dan mengambil kertas tersebut dan membacanya.


**Untuk kak Louis**

__ADS_1


Kak Louis, maaf aku pergi meninggalkan kak Louis karena aku sangat kecewa pada kak Louis yang telah mengambil mahkota berharga yang selama ini aku jaga terlebih aku tidak sengaja mendengar waktu kak Louis berbicara dengan dokter tersebut kalau kak Louis bosan bermain denganku aku akan diberikan oleh dokter mesum itu.


Lebih baik aku pergi dari pada aku dijadikan alat pemuas ***** kak Louis dan dokter tersebut. Kak Louis tenang saja jika seandainya aku hamil aku akan merawat anak kita dengan penuh kasih sayang dan kak Louis tidak perlu bertanggung jawab.


Itu jika aku masih hidup karena perutku yang sudah di jahit kini terbuka kembali membuat darah segar keluar dari perutku dan aku tidak tahu apakah aku bisa berhasil keluar dari mansion ini ataupun jika berhasil mungkin aku mati kehilangan banyak darah.


Jika seandainya aku mati, bolehkah aku meminta dua permohonan? permohonan pertama lupakan dendam kak Louis dengan kakakku kak Charli, kak Max dan kak Baron dan permohonan ke dua jaga baik - baik kak Louis.


Kak Louis, di meja dekat ranjang kak Louis ada obat herbal minumlah sehari tiga kali, obat itu untuk menguatkan ke dua tulang kaki kak Louis.


Ketahuilah kak, tampak sepengetahuan kakak dan keluarga kakak aku memberikan obat ke makanan kakak agar ke dua kaki kak Louis bisa digerakkan dan aku bersyukur ternyata obatnya cepat bereaksi. Kini kak Louis tidak lumpuh lagi dan bisa beraktivitas kembali.


Kak, datanglah ke klinik xxxx milik sahabatku dia bisa mengoperasi wajah kakak agar bisa kembali seperti dulu.


Jujur aku sangat menyukai dan sangat nyaman dengan kak Louis walau aku tahu kalau kak Louis sangat membenciku.


My Love,


Angelina


Louis meremas surat Angelina dan menatap ke arah lantai dan memang benar banyak bercak darah yang sudah kering. Louis turun dari ranjang dan mengambil boxer miliknya kemudian memakainya.


Louis melihat ada noda darah di sepreinya noda darah pera**n milik Angelina. Louis tersenyum sebentar kemudian membalikkan badannya untuk mengikuti jejak noda darah di lantai dan mengikutinya hingga sampai di balkon.


" Darah Angelina di lantai dasar ada tapi terputus. Angelina lewat mana?" tanya Louis pada dirinya sendiri.


Mata elang Louis melihat ada noda di pohon.


" Apa dia meloncat dari pohon ke pohon ya?" tanya Louis


" Aku akan mengecek lewat cctv." ucap Louis


Louis membalikkan badannya dan berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil laptopnya. Louis mulai melihat ketika Angelina berjalan sambil tangan kanannya menahan perutnya agar darahnya berhenti keluar dan tangan satunya memegangi bagian bawah sensitifnya.


Terlihat jelas Angelina menahan rasa sakit yang luar biasa karena bibirnya digigit hingga mengeluarkan darah. Entah kenapa hati Louis terasa sakit melihat penderitaan Angelina akibat perbuatan dirinya. Rasa penyesalan Louis terhadap Angelina hinggap pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2