
" Aku turun di jalan xxxxx No. xxx." ucap Denisa memberitahukan alamat yang dekat kantornya.
Denisa sengaja menyembunyikan nama perusahaan karena Denisa masih trauma dengan teman yang sudah di anggap baik malah menusuknya dari belakang.
Max hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Denisa karena tadi habis berkelahi dengan Tio membuat dirinya lelah dan akhirnya tertidur pulas.
Max melirik sinis ke arah Denisa, Max mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang hingga 2 jam lamanya akhirnya Max sudah sampai ke mansionnya.
Eughhh
Tubuh Denisa menggeliat kemudian membuka matanya. Matanya membulat sempurna karena melihat dirinya sudah berada di mansion Max.
" Kenapa kita ke sini?" tanya Denisa bingung.
" Ada dokumen yang tertinggal nanti aku antar ke kantormu. Temani aku mencarinya karena aku lupa menyimpannya." ucap Max berbohong
Max turun dari mobil begitu pula dengan Denisa. Denisa yang tidak curiga mengikuti Max dari belakang.
Max membuka pintu dan meminta Denisa untuk masuk duluan karena Max ingin menutup pintunya terlebih dulu. Tanpa curiga Denisa berjalan mendahului Max dan masuk ke dalam mansion.
bugh
bruk
Ketika Max sudah menutup pintu Max memukul tengkuk Denisa membuat Denisa pingsan, sebelum terjatuh Max menahan tubuh Denisa agar tidak terjatuh.
Max menggendong Denisa ala bridal style dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Max mendorong pintunya dengan menggunakan kakinya hingga pintunya terbuka.
Max merebahkan tubuh Denisa ke ranjang miliknya. Max membalikkan badannya dan mengunci pintu kamarnya. Kemudian melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh Max hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.
Max membuka laci dan mengambil gunting kemudian menutup laci itu kembali. Max menggunting semua pakaian yang melekat di tubuh Denisa termasuk dalaman Denisa hingga tubuh Denisa polos tanpa sehelai benangpun. Max membuang sisa pakaian Denisa yang berada di ranjang.
Setelah selesai Max menyimpan kembali gunting tersebut di lacinya. Adik kecil milik Max kini tegak sempurna.
Max menindih tubuh Denisa dan mulai mencumbunya. Perlahan Denisa membuka matanya dan matanya membulat sempurna karena melihat Max dan dirinya tidak menggunakan sehelai benangpun.
" Ali, apa yang kamu lakukan?" tanya Denisa sendu
" Aku ingin ini." ucap Max sambil menyatukan miliknya.
" Akhh.. sakit.." teriak Denisa ketika tubuhnya dimasuki oleh Max
Denisa berusaha memberontak tapi tenaganya kalah. Denisa hanya bisa menangis dan sangat kecewa dengan Max.
Max tidak memperdulikan tangisan Denisa, Max menggerakkan pinggulnya secara berulang - ulang.
" Nisa... ahhh.." ucap Max melakukan pelepasan pertama dan memasukkan semua laharnya ke rahim Denisa.
" Hiks... hiks... apa salahku Ali?" isak Denisa
plak
Max menampar Denisa kemudian mencekik leher Denisa.
" Salahmu adalah kamu wanita jalang dan wanita jalang pantas dilakukan seperti ini." ucap Max sarkas
Denisa yang hidupnya sudah hancur membiarkan Max mencekik dirinya. Denisa hanya menatap sendu ke Max dengan wajah memerah karena pasokan oksigennya mulai berkurang.
Tatapan sendu lama - lama Denisa memejamkan mata menahan rasa sakit akibat di cekik oleh Max.
__ADS_1
deg
Jantung Max berdetak kencang ketika melihat Denisa tidak memberontak dan hanya pasrah. Max melepaskan cekikkannya.
" NISA BANGUN!!!" teriak Max ketakutan
plak
plak
Max menampar pipi Denisa kanan dan kiri tapi tidak ada respon sama sekali. Max menekan dada Denisa kemudian memberikan nafas buatan.
uhuk
uhuk
uhuk
Setelah agak lama Denisa terbatuk - batuk.
" Kenapa kamu menyelamatkanku?hiks... hiks.." tangis Denisa
" Kamu ingin mati, baiklah." ucap Max
" Akhhh sakit." teriak Denisa ketika Max menyatukan miliknya ke tubuh Denisa.
Max tidak memperdulikan kesakitan Denisa karena Max merasakan kecanduan dengan tubuh Denisa. Setelah mengeluarkan laharnya ke rahim Denisa, Max berdiri dan mengambil gesper yang berada di celana panjangnya.
ctas
ctas
ctas
Max mencambuk ke tubuh Denisa hingga tubuhnya mengeluarkan darah segar. Denisa hanya bisa berteriak kesakitan. Ranjang yang berwarna putih kini berubah menjadi warna merah yang berasal dari darah Denisa. Setelah puas mencambuk Denisa, Max membuang secara asal gesper tersebut.
Max pun menyatukan miliknya kembali, Denisa hanya bisa diam dan pasrah karena tubuhnya terasa sakit semua. Kebencian Denisa terhadap Max sampai ke ubun - ubun kepalanya.
Karena seluruh tubuhnya terasa sakit dan darah tidak berhenti keluar membuat Denisa pingsan kembali. Max yang tidak tahu kalau Denisa pingsan karena Max sedang memejamkan matanya menikmati kerisnya di gengam erat di dalam tubuh Denisa.
" Nisa punyamu enak banget, terima kasih karena aku pria pertama yang melakukannya. Aku bersyukur karena kamu belum memberikannya pada pria lain." ucap Max sambil menggoyangkan pinggulnya berulang - ulang.
Setelah agak lama Max pun mengalami pelepasan untuk yang sekian kalinya.
deg
Max membuka matanya dan menatap Denisa yang matanya sudah tertutup rapat membuat jantung Max berdetak kencang kembali.
" Bangun Denisa!" teriak Max
hening
Denisa masih setia memejamkan matanya, karena kesal Max menggendong Denisa ke bathup dan menenggelamkan Denisa agar bangun dan benar saja Denisa pun terbangun dari pingsannya. Air di bathup berwarna bening kini berubah menjadi merah karena tubuh Denisa tidak berhenti mengeluarkan darah.
byur
Denisa yang berusaha bangun di tarik rambutnya ke dalam bathup kemudian menariknya ke atas.
" Kamu ingin matikan?" tanya Max
__ADS_1
" Lakukanlah jika itu membuatmu bahagia." ucap Denisa lirih sambil menatap sendu ke Max.
Denisa sudah pasrah jika hari ini dirinya harus mati sekarang di tangan orang yang sangat dicintai sekaligus di bencinya. Tubuh Denisa terasa sakit dan perih membuat Denisa tidak sanggup menggerakkan tubuhnya ataupun memberontak.
Max yang sudah gelap mata menarik rambut Denisa ke dalam bathup. Denisa yang sudah pasrah karena dirinya sudah kotor membuatnya tidak memberontak. Hingga gelembung - gelembung di bathup makin lama makin menghilang.
deg
Jantung Max berdetak kencang karena tidak melihat gelembung udara. Max menarik tubuh Denisa kemudian mengecek hidung dan nadi Denisa. Mata Max membulat sempurna dan jantung kembali berdetak kencang karena Denisa sudah tidak ada nafasnya.
Max mengangkat tubuh Denisa dan di baringkan di lantai. Max menekan dada Denisa dan sekali - kali memberikan nafas buatan setelah sekian lama Denisa terbatuk - batuk mengeluarkan air dari mulutnya.
.
.
.
.
xxxxx
Hallo, mampir ke karyaku yang lain ya :
Gadis Culun dan Ceo Lumpuh.
Cinta Satu malam Bersama Mafia
Cinta Satu Malam Bersama Mafia sension 2
Cinta Pertama Psychopath
Cinta Pertama Mafia.
Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Dan
Mohon dukungan dan Berikan : 😍😍😘😘🤩🤩😊😊😉😉
Komentar 😍
Like 😍
vote 😍
tip 😍
Agar Author tetap semangat dalam menulis novel ini. Terima kasih banyak buat pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘 juga yang telah memberikan komentar, like, vote dan tipnya.
Salam Author
Yayuk Triatmaja
xxxxxx
__ADS_1