
Max tersenyum dan mendekati istri tercintanya.
cup
Max mengecup bibir Denisa yang sudah menjadi candunya. Max menatap meja dan makanan dari rumah sakit belum tersentuh oleh istri tercintanya.
" Sayangku kenapa belum makan?" tanya Max lembut sambil membelai rambut istrinya kemuduian duduk di kursi dekat ranjang istrinya.
" Siapa wanita itu?" tanya Denisa tanpa menjawab pertanyaan Max.
" Wanita yang mana sayang?" tanya Max sambil menaikkan salah satu alis matanya.
" Jangan pura - pura amesia. Wanita yang berada di restoran favorit kita." ucap Denisa kesal
" Dia sekretarisku." ucap Max jujur
" Apa kalian berdua pasangan kekasih?" tanya Denisa menyelidik
ctak
Max menyetil kening istrinya membuat Denisa mengusap keningnya yang berdenyut.
" Aish sakit tahu!! kenapa menyetilku?" tanya Denisa dengan nada ketus
cup
Max mengecup kening istrinya yang telah di sentil oleh kedua jarinya kemudian mengusap dengan lembut.
" Maaf sayang karena kamu bikin aku gemas, kamu itu istriku yang paling kucintai jadi mana mungkin aku menduakanmu." ucap Max jujur
" Kalau mencintaiku kenapa wanita itu mengusirku kamu diam saja dan aku pergi kamu juga sama diam saja tidak mengejarku?" tanya Denisa dengan nada ketus
" Maaf sayang waktu itu aku sangat terkejut karena sekretarisku berani mengatakan itu padamu. Aku mengejarmu sayang sampai aku ke kantormu tapi kamu tidak ada. Aku hubungi ponselmu tidak aktif dan aku..." ucap Max tidak berani mengatakan lanjuttannya.
Hati Max mulai memanas dan hatinya sangat sakit mengingat ketika istri tercintanya terbaring pucat dengan darah yang menggenangi di lantai terlebih harus kehilangan dua anak yang belum sempat di lihatnya.
Max memeluk Denisa membuat Denisa bingung terlebih tubuh Max bergetar menangis di pelukan Denisa. Hal itu membuat Denisa bingung dan membalas pelukan Max.
" Sayang ada apa?" tanya Denisa lembut
Ucapan Denisa yang tadi ketus dan kesal kini berubah lembut membuat hati Max tenang sekaligus sedih.
" Sayang maafkan aku." ucap Max lirih
" Maaf kenapa sayang?" tanya Denisa bingung sambil melepaskan pelukan dan mendorong pelan suaminya.
Denisa melihat suaminya menangis dan membuatnya semakin bingung dan mengangkat ke dua tangannya kemudian menghapus air mata suaminya dengan menggunakan ibu jarinya.
" Maaf gara - gara aku kamu terluka." ucap Max lirih
__ADS_1
" Apa maksudmu sayang? aku tidak mengerti?" tanya Denisa bingung
Max menceritakan dari awal ketika Denisa pergi dari restoran hingga Max menemukan Denisa terluka di mansion miliknya Mengenai kehamilan Max belum sanggup untuk menceritakan kehilangan ke dua anaknya.
Denisa mengingat kembali kejadian yang membuatnya tidak bisa melupakannya. Kejadian bagaimana sakitnya ketika perutnya di tendang oleh mantan sahabatnya yang tidak mempunyai perasaan bersalah sedikitpun.
" Sayang terima kasih mungkin jika sayangku datang terlambat aku sudah tiada." ucap Denisa sendu sambil menggenggam tangan suaminya.
" Ssttt jangan bilang seperti itu aku tidak sanggup kehilanganmu." ucap Max sambil memeluk istrinya.
Denisa tersenyum dan hatinya sangat bahagia mendengar ucapan suami tercintanya.
" Sayang makan ya?" bujuk Max dengan lembut
Denisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Max membalas senyuman Denisa kemudian mengambil mangkok yang berisi bubur dan menyuapi Denisa. Hati Denisa sangat bahagia mendapat perlakuan manis suaminya.
Tidak terasa bubur di mangkok sudah habis, Max menaruh mangkoknya kemudian memberikan minuman air mineral ke Denisa. Denisa meminum dengan menggunakan sedotan yang berada di gelas.
Setelah meminum setengah gelas Max menaruh gelasnya di meja dekat ranjang istrinya.
" Sayang sudah makan?" tanya Denisa lembut
" Aku belum lapar sayang." ucap Max
" Sayang makan ya? atau mau aku suapi?" tanya Denisa lembut sambil menggenggam tangan suaminya.
" Aku mau nya makan kamu sayang." bisik Max
" Iya sayang aku akan sabar menunggumu." bisik Max lagi
cup
Max mengecup bibir istrinya kemudian meluma***a. Denisa membalas ciuman suaminya sambil mengalungkan ke dua tangannya ke leher suaminya.
ceklek
Mommy Laras dan daddy Alvonso membuka pintu ruangan kamar Denisa.
" Daddy, Max sangat mirip denganmu kalau ciuman tidak mengerti tepat dan tidak mendengar kita membuka pintu." bisik mommy Laras
" Kan enak sayang apalagi kalau kerisku masuk ke sarangmu ahhh.." desah daddy Alvonso sambil berbisik di telinga istrinya.
" Sayang kenapa sih tingkat mesummu tidak pernah hilang? ingat kita itu sudah tua dan mempunyai banyak cucu." bisik mommy Laras
" Habis punyamu enak sayang walau pinggangku pegal tapi kamu selalu bikin kerisku selalu tegang. Kalau tidak percaya coba pegang kerisku." bisik daddy Alvonso
Alvonso menarik tangan istrinya kemudian mengarahkan ke keris miliknya yang sudah mulai menegang. Mommy Laras tersenyum licik kemudian dengan sengaja membelai keris milik suaminya hingga suaminya menahan desahan karena mengingat mereka berada di rumah sakit.
" Sayang, kita pergi ke hotel aku sudah tidak kuat sayang." bisik daddy Alvonso menahan gairahnya sambil menahan tangan iatrinya agar berhenti meneruskannya.
__ADS_1
" Nanti malam ya sayang."bisik mommy Laras
" Tapi sayang..." ucapan daddy Alvonso terpotong oleh anaknya Denisa
" Daddy dan mommy sejak kapan ada di situ?" tanya Denisa bingung
" Kami ada di sini sejak kalian berciuman." ucap daddy Alvonso
Denisa menutup wajahnya sedangkan Max hanya tersenyum dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
" Kalian lanjutkan lagi, daddy dan mommy mau pulang ke hotel dulu. Besok pagi kami ke sini lagi." ucap daddy Alvonso
" Kenapa cepat dad?" tanya Denisa sedih sambil membuka ke dua tangannya yang menutupi wajahnya.
" Mau enak - enak dengan mommymu." ucap daddy Alvonso vulgar.
" Auch sayang kenapa mencubit pinggangku?" protes daddy Alvonso
" Sayang kalau bicara itu di saring." bisik mommy Laras dengan nada kesal
" Memang kenapa sayang merekakan pasti mengerti dan juga pasti melakukan begitu." protes daddy Alvonso
" Bicara lagi jatah malam tidak ada." ancam mommy Laras sambil menatap tajam suaminya.
" Maaf." ucap daddy Alvonso sambil pura - pura mengunci mulutnya dan pura - pura membuang kuncinya sebagai tanda kalau dirinya tidak akan melanjutkan perkataannya.
" Hahaha... daddy takut sama mommy." ucap Denisa sambil menertawakan daddy Alvonso.
Max hanya tersenyum dan tidak berani menertawakan daddy Alvonso karena mendapatkan tatapan tajam dari daddy Alvonso.
" Sayang, kami pulang ya? dan ini makanan untukmu Max." ucap mommy Laras sambil mengalihkan pembicaraan karena tidak tega melihat suaminya.
"Terima kasih mommy." ucap Max dengan nada tulus.
" Sama - sama Max." ucap mommy Laras
" Mommy dan daddy, semua kakakku pada kemana?" tanya Denisa sambil matanya menatap pintu.
" Mereka pada kecapaian dan langsung pulang ke hotel. Besok pagi atau siang kami semua akan ke sini lagi." ucap mommy Laras
Denisa hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Hatinya sedih karena sangat merindukan semua kakak - kakaknya dan juga kakak - kakak ipar serta ponakan - ponakan yang sangat lucu dan menggemaskan.
" Bulan depan kalian tinggallah di Indonesia dan kita bisa berkumpul kembali seperti dulu bersama pasangan masing - masing." ucap mommy Laras
" Iya mom, kami berdua akan pulang dan tinggal di Indonesia." ucap Max
" Kami akan menunggu." ucap mommy Laras
" Kami pulang dulu, Max tolong jaga Denisa." pinta daddy Alvonso
__ADS_1
" Baik dad." ucap Max mantap
Mommy Laras dan daddy Alvonso berpamitan dan kini tinggallah mereka berdua di ruang perawatan vvip tersebut.