
Selesai berpelukan, Max menatap dokter cantik yang masih pingsan akibat ulah Max. Max mendekati wanita itu dan mengecek nadinya.
" Dia masih hidup, nyawanya masih betah padahal darahnya sudah banyak yang keluar. Apa dosanya terlalu banyak ya makanya matinya susah." ucap Max tanpa dosa
" Hahahaha... tawa Baron dan Charli.
Max menatap bingung ke dua sahabatnya, sahabatnya yang tahu kebingungan Max membuat mereka tidak berhenti tertawa membuat mereka memegang perutnya karena sakit menertawakan Max.
" Max, apakah kamu tidak sadar kalau kita bertiga itu dosanya sudah terlalu banyak?" tanya Baron yang sudah menghentikan tawanya.
" Hahahaha... kenapa aku baru sadar ya?" tawa Max pecah
Mereka bertiga saling menertawakan, setelah puas tertawa mereka berhenti tertawa karena Max memintanya untuk berhenti tertawa dengan memberikan kode tangannya ke atas.
" Sepertinya aku harus menyelesaikan dia dulu setelah itu aku pulang." ucap Max sambil menunjuk ke arah dokter itu.
Max mendekati wanita itu kemudian mengambil pisau lipat di meja di mana tadi dirinya menaruhnya ketika Max sedang menyiksa bersamaan istrinya menghubungi dirinya.
Max mengarahkan pisau lipat ke arah leher dokter tersebut dan mulai memotongnya membuat dokter itu terpaksa terbangun karena lehernya merasa sakit.
" Jangan, aku mohon sakit." lirih dokter tersebut.
" Tidak ada ampunan buatmu." ucap Max tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dokter itu hanya bisa pasrah sambil menatap sendu Max dan perlahan dokter itu memejamkan mata dan menghembuskan nafas terakhirnya. Tidak berapa lama kepala dokter tersebut menggelinding di lantai dengan darah berceceran di lantai.
Baron dan Charli biasa saja melihat Max seperti itu karena mereka berdua selain mafia mereka berdua juga sebenarnya psychopath sama seperti Max.
" Hehehe... sudah mati aku mau mandi dulu biar istriku tidak mencium bau darah di tubuhku." ucap Max santai sambil berdiri dan membalikkan badannya.
" Apakah istrimu tahu kamu seorang psychopath?" tanya Charli
" Tahu." jawab Max singkat
__ADS_1
" Apakah istrimu tidak takut jika sewaktu - waktu dirinya bisa saja terbunuh olehmu?" tanya Baron yang kini giliran bertanya.
Mereka berdua sangat terkejut atas ucapan Max karena istri Max sudah tahu kalau Max seorang psychopath dan ketika istrinya menghubungi Max bersikap romantis seperti tidak takut terhadap Max.
" Tidak, katanya kalau akhirnya dia mati di tanganku dia hanya meminta istriku adalah orang yang terakhir aku bunuh." ucap Max
" Aku sangat kagum dengan istrimu yang mau menerimamu apa adanya. Semoga saja aku menemukan wanita sebaik istrimu." ucap Charli berharap.
" Iya benar, aku juga tadi mendengar istrimu hanya meminta dibelikan bahan buat bikin rujak karena biasanya wanitu itu meminta dibelikan perhiasan atau barang mewah lainnya." ucap Baron menyambung perkataan Charli.
" Tapi kamu jangan coba ganggu istriku karena aku sangat mencintai istriku. Istriku memang menerima apa adanya diriku dan dia juga bukan wanita matre seperti wanita lain di luaran sana." ucap Max serius.
" Tenang aja Max, walau aku brengsek tapi aku tipe orang yang menusuk sahabat dari belakang." ucap Baron
" Aku juga sama Max, walau seandainya aku tidak sengaja bertemu dengan istrimu dan jatuh cinta tapi ternyata dia istrimu aku akan mundur." ucap Charli
Max menatap ke arah Charli dan Charli yang di tatap langsung mengerti.
" Ayolah Max, kita berdua kan tidak tahu wajah istrimu jadi siapa tahu tiba - tiba salah satu dari kita tidak sengaja bertemu dengan istrimu dan jatuh cinta. Kalau aku tahu dia istrimu yang pasti perasaanku langsung hilang. Percayalah padaku Max." ucap Charli
Max menatap Baron dan Charli bergantian dan Max bisa melihat dari sorot mata mereka berdua kalau mereka tidak berbohong.
" Aku percaya dengan kalian semoga kalian menemukan seseorang yang tulus mencintai kalian." ucap Max tulus
Baron dan Charli tersenyum kemudian mereka bertiga berpelukan selesai berpelukan mereka bertiga melepaskan.
" Aish.. aku baru ingat aku sudah mandi dan lihat baju dan badanku bau darah. Apalagi bajuku ikutan terkena noda darah." omel Baron
" Benar katamu Baron, aku juga sama." ucap Charli
Max hanya tersenyum jahil melihat mereka. Charli walau wakil ketua mafia tapi Baron tidak pernah membedakan karena Baron sudah menganggap Charli sebagai saudara karena umurnya sama 33 tahun. Max yang dulu bersikap dingin dan jarang tersenyum serta tertawa lepas kini mulai berubah itu juga karena pengaruh dari istri yang dicintainya.
Baron dan Charli juga senang bersahabat dengan Max walau umurnya agak jauh Baron dan Charli tidak mau di panggil dengan sebutan kakak karena merasa tua kata Baron dan Charli saat pertama mereka pertama kali bertemu dan meminta di panggil dengan nama saja sama seperti Baron dan Charli.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya mandi di kamar mandi berbeda. Kini mereka sudah mandi dan sudah berpakaian sedangkan jasad dokter tersebut di kubur oleh anggota mafia sekaligus membersihkan noda darah yang berceceran di mana - mana.
" Kamu mau pulang Max?" tanya Baron
" Ya, istriku sedang menunggu." ucap Max sambil tersenyum.
" Baron apakah kamu tidak tahu adik keil Max sudah menegang dan bersiap menerkam istrinya yang berpakaian lingernie." ucap Charli tanpa menyaring kata - katanya.
Baron dan Charli menatap ke bawah melihat adik kecil milik Max yang memang sudah menegang membuat Max menutup adik kecilnya dengan kedua tangannya.
" Hei aku masih normal, kalian jangan pindah haluan ya!" omel Max
" Hahahaha..." tawa pecah Baron dan Charli bersamaan menggema di ruangan itu.
" Maaf ya walau di dunia ini tidak ada wanita lagi aku tidak akan pindah haluan." ucap Baron yang sudah menghentikan tawanya.
" Betul kata Baron, aku juga masih normal. Tadi kami melihat ingin memastikan saja karena tadi melihat tubuh mulus adik kecilmu tidak tegang." ucap Charli tanpa menyaring kata - katanya.
" Aish sudahlah kalian senang sekali meledekku. Kalian berdua rencana mau kemana?" tanya Max mengalihkan pembicaraan.
" Aku mau bertemu klien di restoran xxxx sebentar lagi aku berangkat." ucap Baron
" Aku pergi ke perusahaan ingin menyeleksi sekretaris baru, aku pergi sekarang karena sudah mau mulai." ucap Charli.
Ketiga pria tampan itu keluar dari markas secara bersamaan tapi dengan tujuan berbeda.
xxxx
Baron sudah sampai di sebuah restoran xxxx dan berjalan dengan santai sambil mencari tempat duduk yang berada di sudut, setelah menemukan Baron duduk dengan santai sambil memainkan ponselnya.
Seorang gadis cantik dan seksi memakai pakaian kaos putih senada dengan celana pendeknya, berjalan dengan anggun memasuki sebuah restoran xxxx. Banyak mata menatap dengan lapar memandang dirinya tapi gadis cantik itu terlihat cuek.
Setelah mendapatkan tempat duduk dan kebetulan saling berhadapan dengan Baron tapi mereka berdua saling cuek. Gadis cantik itu memesan menu setelah memesan gadis cantik itu memainkan ponselnya.
__ADS_1
bruk
akh