Perjalanan Cinta Sang Psychopath

Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Bangunnya Jiwa 3 Pria Psychopath 2


__ADS_3

.


..


...


Adegan kekerasan kalau tidak suka skip aja ya.


Di Tempat Yang Berbeda


Jarak dari kantor menuju mansion sangat jauh terlebih lagi pas pulang kantor membuat Max frustrasi dan sering menekan klakson untuk yang sekian kalinya.


Hingga 5 jam barulah Max sudah sampai di mansion. Max memarkirkan mobilnya secara asal kemudian mengambil kunci di saku celana panjangnya untuk membuka pintu utama.


Sejak kejadian Denisa dikeroyok oleh Tio dan membuatnya keguguran, Max dan Denisa masing - masing memegang kunci karena selama ini mansion jarang di kunci mengingat tempat mansion jauh dari mana - mana. Max tidak ingin kejadian dulu terulang lagi.


Brak


Max membuka pintu kamarnya dengan kasar membuat Denisa yang sedang duduk di sofa sambil asyik menonton tv di kamarnya terkejut mendengar suara keras pintu yang menggema di kamar mereka dan menatap wajah Max yang terselimuti amarah seperti dulu waktu Denisa kehilangan harta berharganya.


Denisa berdiri dan berjalan mendekati Max begitu pula Max berjalan mendekati istrinya.


" Honey ada apa?" panggil Denisa lembut sambil membelai pipi suaminya.


bruk


Max menepis tangan Denisa yang membelai pipinya dan mendorong tubuh Denisa hingga Denisa jatuh dan bokongnya terasa sakit terkena lantai marmer.


" Akkhhh sakit." ringis Denisa sambil menahan perutnya yang terasa sakit.


" Apa maksudnya ini Denisa!!!" teriak Max sambil melemparkan ponselnya ke arah Denisa dan Denisa dengan sigap menangkapnya sambil menahan rasa sakit di perutnya.


Denisa menatap ponsel suaminya kemudian menatap wajah suaminya yang diselimuti tatapan membunuh.


" Ada apa honey?" panggil Denisa lembut tanpa membuka isi ponsel Max


" Buka galeri dan katakan padaku?" ucap Max dengan nada dingin


Denisa membuka ponsel milik Max dan membukanya, matanya membulat sempurna melihat foto - foto tersebut yang sangat mirip dengannya. Air matanya tidak lama keluar, Denisa menatap Max dengan sendu.


Pandangan Denisa mulai mengabur tapi Denisa berusaha untuk tersadar dan tidak berapa lama darah segar keluar dari tengah - tengah paha Denisa. Max belum mengetahui hal itu karena hatinya di penuhi rasa kecewa.


" Apakah honey mempercayaiku atau mempercayai foto - foto itu?" tanya Denisa lembut sambil menahan rasa kram di perutnya juga hatinya yang terluka.


" Aku tidak butuh pertanyaanmu? katakan ya atau tidak?" bentak Max dengan menatap tajam


Denisa memejam matanya sambil menahan rasa sakit kemudian membukanya.


" Anggaplah itu benar honey, lakukan honey siksalah aku." pinta Denisa lirih


plak


" Dasar wanita murahan, kamu pantas mati Denisa." ucap Max


Max menampar pipi Denisa kemudian ke dua tangannya mencengkram leher Denisa membuat Denisa kesulitan untuk bernafas. Denisa tidak melawan membiarkan suaminya melakukan sesuka hatinya.


" Ho...ney i..ngat...lah.... pe..san...ku... a..ku... a...da...lah... wa..ni..ta... te...rak..hir... yang ka..mu bu...nuh... I... Lo...ve ... Youuu..." ucap Denisa sambil tersenyum dan tangannya membelai wajah Max dan tidak berapa Denisa menutup matanya bersamaan tangan kanannya yang membelai pipi Max.


Max terkejut mendengar perkataan Denisa dan Max melepaskan ke dua tangannya yang berada di leher Denisa.


" Denisa!!!" teriak Max


hening


hening

__ADS_1


plak


" Denisa bangun!!!" teriak Max sambil menampar pipi Denisa sebelahnya dengan keras membuat sudut bibir Denisa terluka dan berdarah.


hening


hening


Max mengarahkan jari telunjuknya ke hidung Denisa.


deg


Denisa bernafas hanya lambat kemudian Max memegang pergelangan tangan Denisa untuk memastikan kembali.


deg


Begitu pula dengan pergelangan tangan Denisa membuat Max tanpa sadar mengeluarkan air mata.


" Denisa!!!" teriak Max kembali


Max memeluk tubuh Denisa sambil terisak.


" Hiks... hiks... hiks...Aku benci pengkhianatan tapi aku tidak bisa kehilanganmu Denisa hiks...hiks...hiks..." ucap Max sambil menangis.


Max mengangkat tubuh Denisa dan matanya membulat sempurna ketika melihat darah segar keluar dari sela - sela paha Denisa membuat Max semakin bertambah takut. Max berlari sambil menggendong tubuh Denisa yang sudah mulai dingin menuju ke rumah sakit.


xxxx


Di Tempat Yang Berbeda


Baron yang sudah tahu pin apartemen Amora masuk ke dalam apartemen dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Amora. Baron menunggu kedatangan Amora.


Baron membanting semua barang - barang Amora hingga kamarnya yang semula rapih kini seperti kapal pecah, vas bunga dari kaca, foto - foto waktu Amora kecil hingga dewasa yang di pasang di figura, gelas kaca dan teko kaca semua tidak luput dari Baron.


Setelah agak tenang Baron duduk sambil menunggu kedatangan kekasihnya Amora.


Baron menatap pintu yang di buka dan Boron yakin kalau itu adalah Amora. Amora menyalakan lampu karena di dalam gelap, mata elang Baron masih bisa melihatnya. Amora sangat terkejut kamarnya berantakan dan melihat kekasihnya menatap tajam ke arahnya.


Baron berdiri dan berjalan mendekati Amora, Kaki Baron tidak terluka karena sepatu Baron adalah sepatu khusus yang melindungi kakinya dari benda - benda tajam. Amora berjalan mundur hingga menempel di dinding.


plak


duak


plak


duak


Baron menampar ke dua pipi Amora dan membuat kepala samping belakang Amora kanan dan kiri terkena dinding kamarnya. Hal itu menyebabkan kedua sudut bibir Amora mengeluarkan darah segar.


" Honey ada apa?" panggil Amora lirih sambil menahan rasa perih di ke dua pipinya dan kepalanya menjadi pusing.


" Jangan memanggilku honey dari mulut kotormu itu!!! dasar wanita murahan" bentak Baron


deg


Jantung Amora berdetak kencang mendengar ucapan calon suaminya.


" Ya benar aku wanita kotor, apa tuan Baron ingin menyiksaku?" tanya Amora sambil tersenyum


srettt


srett


Baron menarik pakaian Amora hingga polos tanpa sehelai benangpun dan menariknya di ranjang kemudian mendorongnya dengan kasar. Max melepaskan semua pakaiannya hingga polos kecuali sepatunya karena Baron tahu di lantai banyak bekas serpihan kaca. Baron menyatukan miliknya ke area privasi Amora tanpa pemanasan sedikitpun.

__ADS_1


" Akhhh sakit!!!" teriak Amora


" Tenang saja hukumannya baru di mulai ada yang lebih sakit lagi." bisik Baron sambil menggoyangkan pinggulnya dengan kasar.


Amora hanya bisa meringis menahan rasa sakit dan air matanya keluar, hatinya sangat sakit pria yang dicintainya melukai hatinya.


Baron berkali - kali menumpahkan benihnya hingga Baron tumbang. Istirahat 20 menit dengan tubuh polosnya Baron bangun dari ranjang milik Amora kemudian mengambil gesper miliknya.


ctas


akhhh


ctas


akhhhh


Baron mencambuk tubuh Amora tanpa henti. Kulit putih Amora kini berubah menjadi merah karena darah segar keluar dari tubuhnya. Setelah puas Baron menarik ke dua kaki Amora menuju ke kamar mandi.


Amora hanya bisa merintih menahan rasa sakit terlebih di lantai banyak pecahan kaca yang menempel di tubuh Amora. Amora hanya bisa pasrah mungkin takdirnya akan mati di tangan orang yang dicintainya. Pandangan mata Amora mulai mengabur tapi Amora berusaha menahannya agar tidak pingsan.


Baron melepaskan ke dua tangannya yang tadi menarik ke dua kaki Amora kemudian Baron menyalakan bathup hingga penuh.


.


.


.


.


xxxxx


Hallo, mampir ke karyaku yang lain ya :



Gadis Culun dan Ceo Lumpuh.


Cinta Satu malam Bersama Mafia


Cinta Satu Malam Bersama Mafia sension 2


Cinta Pertama Psychopath


Cinta Pertama Mafia.


Perjalanan Cinta Sang Psychopath



Dan


Mohon dukungan dan Berikan : 😍😍😘😘🤩🤩😊😊😉😉


Komentar 😍


Like 😍


vote 😍


tip 😍


Agar Author tetap semangat dalam menulis novel ini. Terima kasih banyak buat pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘 juga yang telah memberikan komentar, like, vote dan tipnya.


Salam Author

__ADS_1


Yayuk Triatmaja


xxxxxx


__ADS_2