
" Apa yang dikatakan oleh gadis tadi?" tanya Baron
" Tidak ada tuan." ucap pelayan sambil berusaha menutupi kegugupannya.
Baron yang tidak ingin lama mengobrol mengeluarkan pistolnya dan diperlihatkan ke pelayan itu. Pelayan itu wajahnya memucat karena mendapat ancaman pelayan itupun terpaksa menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupinya.
Baron yang mendengar sangat kesal dan membisikkan sesuatu ke pelayan itu dan pelayan itupun setuju. Baron pun menyimpan kembali pistolnya sambil membalikkan badannya dan berjalan kembali ke ruangan vvip.
Mereka berlima mengobrol hingga datanglah seorang pelayan datang membawa minuman untuk ke 5 orang tersebut.
Mereka berlima meminum sambil mengobrol hingga tidak terasa minuman mereka habis. Max memesan kembali minuman sambil menunggu minuman mereka mengobrol terkadang tertawa dan terkadang serius.
Tidak berapa lama minuman pun datang lagi kini memesannya lebih banyak. Karena pemesanan pertama lumayan banyak tapi ternyata mereka berlima suka meminum alkohol.
Mereka berempat sudah mulai mabuk sedangkan Max masih kuat untuk meminum.
" Kok hawanya panas ya?" tanya Valen tiba - tiba
" Iya benar panas banget." ucap Alena
" Masak sih aku tidak merasakan panas." ucap Max sambil tersenyum devil.
" Iya betul." jawab Baron
" Ya sudah aku ambil remote AC biar bertambah dingin dan kalian tidak kepanasan lagi." sambung Charli
Charli mengambil remote ac dan menyetel untuk menambah suhu dingin.
" Masih panas." ucal Valen dan Alena sambil melepaskan pakaian mereka.
" Ok aku tambahin lagi suhunya biar bertambah dingin." ucap Charli sambil menahan hasratnya memuncak karena melihat ke dua gadis itu telah melepaskan pakaiannya.
Charli menambah suhunya hingga benar - benar sangat dingin.
" Masih panas, apakah tidak bisa di tambah lagi?" tanya Valen
" Ini sudah full." ucap Charli dengan suara mulai berat.
Valen dan Alena membuka bungkusan gunung kembar kemudian dilanjutkan dengan segi bermuda. Kini Valen dan Alena sudah polos tanpa sehelai benangpun.
" Kalau kalian ingin memakainya silahkan." ucap Max santai
Max mengetahui ke dua sahabatnya sangat bernafsu melihat tubuh mulus Valen dan Alena.
" Benarkah? bagaimana denganmu?" tanya Baron
" Aku hanya melihat saja sambil meminum." ucap Max santai.
__ADS_1
Baron dan Charli mendapatkan lampu hijau membuka seluruh pakaian hingga polos. Baron menarik Valen dan Charli menarik Alena. Max hanya memejamkan mata dan tidak memperdulikan suara teriakan kesakitan Valen dan Alena karena mereka berdua masih virgin terlebih Baron dan Charli bermain dengan sangat kasar. Suara kesakitan dan desahan lama - lama berubah menjadi desahan karena Valen dan Alena terpengaruh obat perangsang dosis tinggi.
xxxxx
Di tempat yang sama Denisa dan Alan masuk ke dalam club. Alan memesan minuman alkohol tapi Denisa tidak karena Denisa tidak suka minuman alkohol.
" Anda tuan Alan bukan?" tanya bartender
" Iya benar, tahu dari mana?" tanya Alan bingung
" Saya teman kekasih tuan Alan." ucap bartender cantik tersebut.
" Oh, kekasihku hari ini tidak bekerja padahal aku ingin bertemu dengannya." ucap Alan dengan nada kecewa.
" Siapa bilang libur, kekasih tuan Alan lagi di booking oleh om - om untuk menemani minum." ucap bartender cantik.
" Kamu jangan bohong ya! kekasihku tidak seperti itu." ucap Alan tidak terima
" Kalau tidak percaya naiklah ke lantai atas mereka sedang bersama." ucap bartender cantik
" Ok, aku cek kalau ternyata bohong bersiaplah menerima hukumanku." ancam Alan
" Silahkan saya tidak takut." ucap bartender cantik.
Alan membayar minuman kemudian berjalan menaiki anak tangga dan diikuti oleh Denisa
" Ok." jawab Alan singkat
Alan dan Denisa kini sudah di lantai atas dan ada 4 pintu ruangan vvip.
" Kita tidak tahu di ruangan mana kekasihku berada karena ada 4 pintu ruangan." ucap Alan
" Aku sebelah kiri ujung dan kamu sebelah kanan ujung." ucap Denisa
" Ok." jawab Alan singkat
" Eh nanti dulu, wajah kekasihmu seperti apa?" tanya Denisa sambil cengir kuda
Alan mengambil ponselnya kemudian memperlihatkan foto kekasihnya.
" Ok. Aku sudah tahu sekarang." ucap Denisa
Alan hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan ke sebelah kanan ujung.
Denisa berjalan sebelah kiri ujung dan membuka pintu perlahan. Denisa membulatkan matanya sempurna karena melihat sepasang kekasih sedang berciuman.
" Hei apa yang kamu lakukan!!" bentak wanita itu
__ADS_1
Sepasang kekasih itu melotot ke arah Denisa karena telah mengganggu aktifitas mereka. Denisa melihat gadis itu bukan kekasih sahabatnya.
" Maaf mengganggu karena saya mencari teman saya." ucap Denisa berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Denisa berbalik meninggalkan mereka tapi baru saja membuka pintu pria itu berdiri dan menahan Denisa dengan cara mencengkram tangan Denisa.
" Karena kamu telah mengganggu aktifitas kami maka kamu harus menerima hukumanku." ucap pria itu dengan tatapan mesum
" Sayang kok kamu gitu sih! ini gara - gara kamu!" bentak wanita itu sambil berdiri ingin menampar Denisa.
Akhhh
Denisa terpaksa menendang aset berharga milik pria tersebut membuat pria itu melepaskan tangannya yang tadi mencengkram tangan Denisa, pria itu berlutut sambil menahan rasa sakit teramat sangat.
Denisa langsung keluar dari ruangan itu dan melihat Alan juga sudah keluar dari ruangan itu.
" Bagaimana belum ketemu?" tanya Denisa
" Belum, kamu?" tanya Alan
" Sama belum, berarti tinggal dua pintu lagi." ucap Denisa
Alan dan Denisa mendekati ke dua pintu dan masuk ke dalam. Denisa matanya membulat sempurna karena mereka berempat sedang melakukan hubungan suami istri. Lebih terkejutnya lagi Denisa melihat Max sedang memperhatikan dirinya.
" Ali, itu ada cewe lagi kamu bisa memakainya atau kamu ingin memakai wanita ini?" tanya Baron
Max menatap Baron dengan tajam kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Denisa.
" Mau apa kamu ke sini?" tanya Max dingin
" Aku ingin mencari temanku dan maaf ternyata aku salah masuk." ucap Denisa sambil membalikkan badannya karena tidak melihat ada kekasihnya Alan.
Max berdiri dan mencengkram tangan Denisa menggunakan tangan kanannya dan membalikkan badan Denisa agar menghadap dirinya.
" Apakah kamu sengaja mencariku?" tanya Max sambil menatap tajam ke arah Denisa
" Tidak, maafkan aku, aku ingin keluar." mohon Denisa
" Tidak semudah itu." ucap Max sambil memeluk Denisa dengan tangan kirinya.
Tangan kanan Max menahan tengkuk Denisa kemudian mulai mengecupnya. Kecupan singkat tidak ada penolakan dari Denisa, Max pun melanjutkan kembali. Max menggigit bibir Denisa agar terbuka, Denisa membuka mulutnya mereka berdua terhanyut dalam ciuman panas mereka.
Denisa kehabisan nafas dan menepuk - nepuk dada Max agar melepaskan ciumannya. Max yang mengerti melepaskan ciumannya dan menatap Denisa dengan gabut gairah karena sedari tadi menahan hasratnya ketika ke dua sahabatnya melakukan hubungan suami istri.
Max mengecup leher Denisa tapi Denisa mendorong tubuh Max dan menatap Max dengan sendu.
" Jangan diteruskan aku mohon." pinta Denisa sambil melepaskan pelukan Max dengan air mata berderai.
__ADS_1