Perjalanan Cinta Sang Psychopath

Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Kritis


__ADS_3

" Tuan pasti sudah lama tahu kalau aku sangat mencintaimu." ucap dokter Diana menggoda sahabatnya.


" Aku tahu dan kamu juga tahu kalau perasaanku sejak dulu hingga sekarang tidak akan pernah berubah. Menganggapmu sebagai sahabat tidak lebih dari itu." ucap Zain tegas


" Ayolah, buka sedikit untuk diriku. Aku juga tidak kalah cantik dan seksi dari istrimu." pinta dokter Diana


" Tidak." ucap Zain singkat sambil berdiri dan membalikkan badannya kemudian berjalan meninggalkan dokter Diana. Zain melihat Hans berdiri menghadap dirinya.


" Hans." panggil Zain


" Iya tuan." jawab Hans


" Bagaimana keadaan Angela." tanya Zain


" Keadaannya kritis." ucap Hans


" Syukurlah dan kuharap dia cepat mati." ucap Zain sambil berjalan meninggalkan Hans


Hans hanya diam, Hans tahu sebenarnya perkataan Zain berlawanan dengan hatinya. Rasa marah dan kecewa membuat Zain berkata seperti itu. Hans membalikkan badannya dan menyusul Zain.


" Tuan mau kemana?" tanya Hans.


" Pulang." jawab Zain


" Tuan tidak menunggu nyonya?" tanya Hans


" Hans, jangan sebut dia dan aku tidak perduli dia hidup ataupun mati." ucap Zain sarkas


" Baik tuan." jawab Hans pasrah


Hans mengirim pesan ke seseorang sambil mengikuti Zain.


" Tuan biarkan saya antar tuan." pinta Hans


Zain hanya diam dan terus melangkahkan kakinya menuju ke tempat parkiran. Hans duduk di kursi pengemudi sedangkan Zain duduk di belakang kursi pengemudi. Tidak ada suara selama dalam perjalanan.


Akhirnya mereka sudah sampai di mansion mereka. Zain dan Hans masuk ke dalam mansion baru beberapa langkah menuju pintu utama ponsel Hans berbunyi, Hans mengambil ponselnya di balik jasnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya dan setelah mengetahui Hans menggeser tombol berwarna hijau.


Bodyguard : " Tuan keadaan nyonya dan bayinya dalam kondisi kritis, apa yang saya lakukan tuan?"


Hans : " Saya akan ke sana sekarang."


tut tut tut tut


Hans langsung menutup ponselnya dan membalikkan badannya. Hati Zain membeku mendengar percakapan bodyguardnya dengan asistennya Hans, Zain pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.


" Mau kemana Hans?" tanya Zain

__ADS_1


Hans membalikkan badannya kembali dan menatap wajah tuannya dengan serius dan penuh kuatir.


" Nyonya dan bayi nyonya bertambah kritis, apakah tuan tidak ingin melihatnya?" tanya Hans


Hans tidak berani mengatakan bayi tuan Zain karena dirinya tahu suasana hati tuannya.


" Aku tidak perduli Hans." ucap Zain


" Apakah tuan tidak mau untuk melihatnya untuk yang terakhir kalinya?" tanya Hans


" Apa maksudnya Hans?" tanya Zain


" Tanpa perlu menjawab tuan pasti tahu maksud saya. Walau tuan sangat membencinya tapi aku mohon lihatlah untuk yang terakhir kalinya, siapa tahu hari ini nyonya dan anak nyonya pergi meninggalkan tuan untuk selama - lamanya." ucap Hans dengan mata berkaca - kaca.


Hans membalikkan badannya dan berjalan menuju ke garasi mobil. Hati Hans sangat sedih melihat kebencian di hati Zain.


" Tunggu Hans aku ikut." ucap Zain


Mereka berdua pergi kembali ke rumah sakit. Hans mengendarai mobil dengan sangat kencang. Hans berharap agar nyonya dan tuan muda kecil selamat.


Hanya 10 menit mereka sudah sampai karena jalanan yang sepi terlebih juga sudah jam 10 malam. Mereka sudah sampai di lobby, Zain langsung turun dan berjalan dengan cepat menuju ke ruangan bayi, dirinya tidak tahu kenapa ingin melihatnya.


Zain melihat seorang bodyguard berdiri di ruangan bayi.


" Tuan syukur datang, dari tadi bayinya menangis tidak berhenti sudah diberi susu tapi tetap menangis dan terakhir bayinya kejang - kejang." ucap bodyguard dengan nada kuatir.


" Nyonya sangat baik, menghormati dan ramah tuan pada kami semua tuan karena itulah semua penghuni mansion sangat kuatir keadaan nyonya dan tuan muda." ucap bodyguard


" Dia..." ucapan Zain terpotong karena pintu ruangan bayi terbuka


" Apakah ada ayah bayi tuan muda Zain?" tanya seorang dokter


" Saya dokter." ucap Zain tanpa sadar


" Syukurlah tuan datang, mari masuk ke dalam melihat keadaan bayi tuan." pinta dokter tersebut


Zain mengikuti dokter tersebut dan melihat keadaannya. Hati Zain membeku seorang bayi yang sangat mirip dengannya sedang kejang - kejang sambil menatap dirinya seperti ingin digendong. Zain mengulurkan ke dua tangannya untuk menggendongnya.


" Tuan semprot hand sanitzer dulu baru boleh memegang bayinya." pinta dokter tersebut.


Zain melakukan itu kemudian menggendong dengan hati - hati. Hatinya terasa hangat ketika menggendong bayi tersebut. Bayi itupun tidak kejang - kejang lagi, Zain membelai pipi mulus bayi tersebut hatinya sangat senang ketika bayi tersebut menggenggam salah satu jari Zain sambil tersenyum.


" Seperti bayinya sangat merindukan ayahnya, karena ikatan ayah dan anak tidak dapat dipisahkan." ucap salah satu perawat


Zain hanya terdiam mendengarkan ucapan perawat. Setelah puas menggendong Zain menurunkan bayinya ke dalam box. Baru saja di taruh bayi itupun menangis kembali, Zainpun mengangkatnya kembali dan bayipun terdiam kembali.


" Kangen sama daddy ya ?" tanya Zain tanpa sadar sambil mendekatkan wajahnya ke wajah bayinya

__ADS_1


Bayi itupun tersenyum melihat Zain dan salah satu tangannya membelai pipi Zain sambil tertawa.


( " ***Kenapa aku merasa bayi ini adalah bayiku?" tanya Zain dalam hati )"


( " Kalau ini benar bayiku aku akan mengambilnya dan mengusir Angela." ucap Zain dalam hati*** ).


Bayi itupun menangis seperti tahu kalau daddynya akan mengusir mommynya.


" Kenapa menangis? apakah kamu tahu apa yang dipikirkan daddy?" tanya Zain


Bayi itu hanya menatap Zain dan Zainpun mengecup kening bayinya.


" Sudah malam tidurlah jangan menangis lagi." ucap Zain lembut


Seakan mengerti bayi itupun memejamkan mata sambil menggenggam salah satu jari Zain. Zain perlahan menurunkan bayinya dan menaruhnya di dalam box. Zain memandangnya sebentar kemudian meninggalkan ruangan bayi tersebut.


Semua tidak luput perhatian Hans hatinya sangat senang tuannya perduli dengan anak kandungnya. Hans semakin yakin kalau Angela hanya di fitnah. Hans akan berusaha agar tuan dan nyonya dapat bersatu kembali.


" Hans kita ke ruangan icu." ucap Zain sambil melangkahkan kakinya


" Baik tuan." ucap Hans dengan senang


" Kamu kenapa Hans? kenapa kamu senang?" tanya Zain


" Aku senang karena tuan menggendong anak nyonya." ucap Hans


" Hans lakukan tes DNA aku ingin tahu apakah dia anakku atau bukan." printah Zain


" Kalau memang anak tuan, apa yang tuan akan lakukan?" tanya Hans


" Aku akan mengambilnya dan mengusir Angela." ucap Zain dingin


Hans hanya menghembuskan nafasnya perlahan betapa keras kepalanya Zain. Kini mereka sudah sampai di ruangan icu bertepatan dengan dokter keluar.


" Bagaimana keadaan istriku dok?" tanya Zain tanpa sadar


" Tambah kritis, sepertinya istri tuan tidak ada semangat untuk hidup, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi istri tuan menyerah apakah tuan ingin melihat untuk yang terakhirnya?" tanya dokter tersebut.


deg


Jantung Zain berdetak kencang rasa ketakutan kembali datang. Zain hanya menganggukkan kepalanya. Zain mengikuti dokter tersebut dari arah belakang.


Hati Zain terasa membeku melihat istrinya sudah mulai kejang - kejang. Dokter dan dua perawat keluar meninggalkan Zain keluar. Perlahan - lahan Angela membuka matanya menatap sendu Zain.


" Ja..ga a..nak ki..ta, aku... sa..ngat men..cintai..mu... maaf...kan a..ku.. yang.. be..lum.. bi..sa.. men..ja..di.. is..tri.. yang... ba..ik un..tukmu." ucap Angela terbata - bata


tutttttttttttttt

__ADS_1


" Angela tidakkkkk!!" teriak Zain sambil memeluk istrinya


__ADS_2