
Kegiatan yang mereka lakukan di lihat oleh seorang remaja sambil tersenyum miring. Siapa lagi kalau bukan Max.
Max melihat daddynya terbunuh begitu pula dengan Hans dan juga semua anak buah daddynya. Max ingin keluar tapi Max berusaha menahan dirinya untuk tidak keluar karena musuhnya terlalu banyak. Setelah di rasa aman dan musuh sudah pergi Max berlari dan mendekati daddynya.
" Daddy, maafkan Max karena tidak bisa membantu karena musuh terlalu banyak. Max berjanji akan membunuh mereka semuanya." ucap Max menahan rasa amarah dan dendam kepada mereka.
" Alvonso, Alvian dan Alviana akan kubalas semua yang telah kalian lakukan pada daddyku." ucap Max sambil tersenyum miring.
Max membuat kuburan dan mengubur daddy Zain, Hans dan beberapa bodyguard dengan di bantu oleh beberapa pelayan. Setelah selesai Max pulang ke mansion milik orang tuanya.
Sampai di mansion, Max di sambut oleh penghuni mansion karena Max sangat mirip dengan Zain.
" Tuan muda Max." sapa kepala pelayan
" Iya bi, saya Max." ucap Max
" Tuan muda kemana saja? kami semua merindukan tuan muda." ucap kepala pelayan
" Maaf bi, Max tinggal dengan paman dan bibi." ucap Max
" Tidak apa - apa tuan muda yang penting tuan muda sehat." ucap kepala pelayan.
" Terima kasih bi. Sudah lama mansion ini aku tinggalkan, terakhir aku tinggal di sini waktu aku berumur 6 tahun dan sekarang aku berumur 11 tahun berarti selama 5 tahun mansion ini aku tinggal sama sekali tidak ada perubahan." ucap Zain pada dirinya
" Benar tuan, kami selalu merawat semua peninggalan tuan Zain dan nyonya Angela." ucap kepala pelayan dengan nada sendu.
" Sudahlah bi jangan di ingat karena bikin Max tambah sedih." ucap Max sambil memandangi foto keluarga yang menempel di dinding dimana mommy Angela memeluk daddy Zain dari arah samping dan tangan kiri daddy Zain memeluk momny Angela sedangkan tangan kanannya menggendong dirinya.
" Semoga tuan dan nyonya tenang di sana. Tuan dan nyonya sangat baik pasti masuk surga." ucap kepala pelayan.
Max hanya tersenyum dan masuk ke kamarnya dan berbaring di ranjangnya. Max mengambil foto pigura yang berada di meja dekat ranjangnya.
" Mommy, daddy, sudah 5 tahun Max meninggalkan mansion ini tapi Max tidak pernah lupa hari - hari kebersamaan kita." ucap Max lirih.
Karena lelah Max tertidur sambil memejamkan matanya. Max tinggal beberapa hari di mansion milik orang tuanya. Max membeli mansion yang bernuansa hitam dan tinggal di mansion tersebut karena jika tinggal di mansion milik orang tuanya membuat Max selalu sedih karena teringat akan orang tuanya. Max membawa kotak tempat alat penyiksaan untuk di bawah ke mansion miliknya.
Max selalu menyiksa dan terkadang memutila*i korban tidak perduli itu wanita ataupun pria asalkan mereka penjahat, preman, pencopet ataupun perampok.
4 Tahun Kemudian
Kini usia Max 15 tahun, Max berjalan melewati ke sebuah sekolah dan melihat seorang pelajar sedang memalak anak pedagang asongan yang sedang menghitung uang.
" Hai anak kecil berikan uangnya!!" bentak seorang pelajar
" Jangan kak, uang ini hasil penjualan untuk membantu biaya sekolahku." ucap anak kecil itu sambil menggengam uangnya.
" Berikan cepat kalau tidak.." remaja itu menarik kaos anak kecil dengan menggunakan tangan kiri sedangkan tangan kanannya untuk memukul anak kecil itu.
Belum sampai ke wajahnya tangan kanan remaja itu di tahan oleh Max kemudian tangannya diputar membuat remaja itu kesakitan hingga remaja itu melepaskan tangan kirinya.
" Lepaskan ngga!!" bentak remaja itu
Max tidak memperdulikan kemudian mendorong remaja itu hingga terjatuh di tanah.
Remaja itu berusaha berdiri kemudian memukul Max, Max pun membalas pukulan remaja itu.
" Dasar brengs*k ikut campur urusan orang lain. Pasti orang tuamu juga sama suka ikut mencampuri urusan orang lain." hina remaja itu.
" Dik, pergilah." ucap Max pada anak kecil pedagang asongan itu.
__ADS_1
Anak kecil itupun pergi meninggalkan mereka berdua yang sebelumnya mengucapkan terima kasih ke Max. Max yang mendengar pria itu menghina ke dua orang tuanya emosinya langsung memuncak. Max memukuli remaja itu bertubi - tubi hingga babak belur.
" Berhenti, apa yang kamu lakukan terhadap putraku!!!" bentak ibunya.
Ibunya yang sedang menjemput anaknya pulang sekolah melihat Max sedang memukuli anaknya.
" Tolong!!! anakku dipukuli!!!" teriak sang ibu
Orang - orang yang berada di situ serentak mengeroyok Max.
Berhenti." teriak Debby, Denis dan Denisa.
Mereka yang memukul Max langsung menghentikan memukul Max.
" Maaf kenapa bapak dan ibu memukul kakak itu?" tanya Denisa lembut
" Dia telah memukul anak saya, lihatlah." ucap ibunya dengan memperlihatkan anaknya yang sudah babak belur.
" Tapi kakak itu juga sudah babak belur." ucap Debby
" Tapi kami belum puas memukulnya." ucap ibunya.
Debby, Denis dan Denisa saling berbisik dan Max hanya memperhatikan saja dan melihat mereka bertiga mengeluarkan uang 5 lembar uang merah.
" Ini kami ada uang Rp. 500,000 cukup buat pengobatan anak tante dan lepaskan kakak itu." ucap Denisa lembut.
" Ok." jawab ibunya sambil mengambil uang merah sebanyak 5 lembar dengan hati senang.
Mereka yang memukuli langsung pergi meninggalkan mereka. Denisa mendekati Max untuk membantunya berdiri.
" Ayo kak, kita duduk di situ." pinta Denisa
Max hanya mengangguk lemah, Denis dan Denisa memapah remaja itu untuk duduk di kursi dekat sekolah.
" Kakak ini masih ada bekal dan minuman punya Denisa, kakak belum makan kan?" tanya Denisa
Max hanya mengangguk tanpa bicara. Denisa memberikan bekalnya dan minumannya ke Max.
" Kak Debby, aku minta air minumnya donk." pinta Denisa
" Pakai minumanmu saja." ucap Max tiba - tiba bersuara.
" Minuman itu buat kakak, aku minta air minum punya kak Debby buat melap tubuh kakak yang terkena debu." ucap Denisa sambil tersenyum.
Debby memberikan air minum miliknya. Denisa dengan telaten membersihkan debu yang menempel di tubuh Max. Max hanya meringis menahan rasa sakit.
" Nama kakak siapa?" tanya Denisa
" Nama kakak Max." ucap Max
" Kak Max, sebenarnya apa yang terjadi kenapa kakak memukul laki - laki itu?" tanya Denisa sambil melap kakinya yang berdarah.
" Dia menghina dan memukul kakak karena itu kakak membalasnya, kenapa kalian memberikan dia uang?" tanya Max
" Agar mereka berhenti memukul kakak." jawab mereka serempak.
" Sepertinya kalian kembar, siapa nama kalian?" tanya Max
" Aku Debby." ucap Debby memperkenalkan diri.
" Aku Denis." ucap Denis
__ADS_1
" Aku Denisa." ucap Denisa
Mereka saling berjabat tangan.
" Hallo sayang, maafkan mommy ya lama menunggu." ucap mommy Laras lembut
" Tidak apa - apa mom." jawab mereka serempak
" Ini siapa sayang?" tanya mommy Laras bingung karena ada remaja pria dengan kondisi luka - luka ditubuhnya.
" Ini kak Max mommy tadi kak Max dipukuli oleh orang karena itu kami menolongnya." ucap Denisa.
Max membalikkan badannya sambil memaksakan tersenyum tapi senyumannya langsung memudar.
deg
Max terkejut melihat mommy Laras, wajahnya sangat familiar. Max mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu daddynya terbunuh oleh salah satu wanita yang berada dihadapannya. Max berusaha mati - matian merubah mimiknya menjadi remaja yang baik.
" Perkenalkan tante, saya Max. Debby, Denis dan Denisa sangat baik tante telah menolong saya." ucap Max tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.
" Perkenalkan tante mommynya anak - anak mereka." ucap mommy Laras sambil tersenyum dan membalas uluran tangan Max.
Max mencium punggung tangan mommy Laras membuat mommy Laras tersenyum melihat kesopanan Max.
" Kamu tinggal dimana Max?" tanya Mommy Laras
" Max tinggal sendiri di rumah kontrakkan sambil bekerja." ucap Max
" Kamu tidak sekolah Max dan dimana kedua orangtuamu?" tanya mommy Laras
" Tidak tante Max tidak sekolah dan orang tua Max sudah meninggal waktu Max masih kecil." ucap Max berusaha menahan emosinya yang ingin meledak.
" Bagaimana ikut Mommy dan kamu jangan memanggil tante tapi panggillah dengan sebutan Mommy seperti anak - anak mommy." ucap mommy Laras.
" Benarkah?" tanya Max
" Iya benar, oh ya mau ikut mommy sekalian mommy obati lukamu." ucap mommy Laras lembut.
" Baik tan.. eh Mom." jawab Max
" Ayo anak - anak kita ke mobil." ajak mommy Laras.
Mereka berlima masuk ke dalam mobil. Max duduk di samping pengemudi. Mommy Laras mengambil kotak obat dan dengan telaten membersihkan dan mengobati Max. Setelah selesai mommy Laras mengendarai mobil menuju ke mall.
" Mommy kenapa kita ke mall?" tanya Denisa
" Mommy ingin membeli sesuatu apa kalian lapar?" tanya mommy Laras
" Lapar mom." ucap mereka serempak
Max merasa risih dan menahan marah karena melihat banyak orang membicarakan dirinya.
" Debby, kamu pesan makanan ya? mommy sama Max pergi sebentar." ucap mommy Laras
" Baik mom." ucap mereka serempak.
Max mengikuti mommy Laras pergi ke butik yang ada di mall tersebut. Mommy Laras meminta Max mengganti pakaiannya kemudian mommy Laras membeli enam lusin stel pakaian untuk Max. Setelah selesai mereka menuju restoran tempat ke tiga anaknya.
Orang yang tadi membicarakan Max sekarang mencibir mommy Laras yang menyukai brondong. Ke tiga anaknya sangat marah ingin memarahi mereka tapi mommy Laras melarangnya.
Max yang mendengarnya ingin berdiri untuk memukuli mereka tapi mommy Laras memegang tangan Max dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Max hanya menundukkan kepalanya sambil ke dua tangannya di genggam erat untuk menahan emosinya. Max mendengar beberapa pria datang, Max hanya diam dan mendengarkan apa yang dilakukan oleh keluarga mommy Laras.