
" Maaf nona Mira, sudah setengah jam lebih, nona berendam di kolam renang, nanti masuk angin." ucap kepala pelayan dengan nada sopan.
Mira menarik kakinya dan berdiri kemudian membalikkan badannya dan menatap kepala pelayan.
" Aku masih ingin di sini, nanti aku masuk ke dalam." ucap Mira dengan nada lembut
" Nona menangis? siapa yang menyakiti nona? biar kami yang membereskan orang itu. Atau nona butuh bantuan?" tanya kepala pelayan itu beruntun dengan nada panik.
Kepala pelayan itu sudah mendapat tugas dari bosnya untuk menjaga nonanya. Jika terjadi sesuatu dengan nonanya maka nyawanya menjadi taruhan nya.
" Hiks... hiks... mommy dan daddy meninggal karena itulah aku menangis." ucap Mira sambil memeluk kepala pelayan.
Kepala pelayan itu terkejut melihat Mira tiba - tiba memeluk dirinya.
" Bibi, turut berduka cita, semoga arwah nya di terima di sisi Nya dan di ampuni segala dosanya." ucap bibi dengan tulus sambil membalas pelukan Mira.
" Terima kasih Bi." jawab Mira sambil melepaskan pelukannya begitu pula dengan kepala pelayan.
" Nona kenapa tidak pulang sekarang? hubungi tuan sekarang?" ucap kepala pelayan.
" Ponselnya tidak aktif bi, apalagi tidak mungkin aku pergi bi." ucap Mira lirih namun masih terdengar di telinga kepala pelayan.
" Kenapa tidak mungkin? bukannya tuan muda sangat sayang dengan nona apalagi besok tuan muda akan menikah dengan nona." ucap kepala pelayan dengan nada bingung.
" Calon suamiku sedang marah denganku bi." ucap Mira lirih
" Marah kenapa?" tanya kepala pelayan
" Ada seseorang yang menfitnahku bi dan calon suami ku percaya dengan berita itu. Jika aku kabur dari mansion ini bisa jadi semua penghuni mansion ini akan di siksa karena itulah aku menunggu calon suamiku untuk menyiksaku." ucap Mira.
" Apakah nona sudah tahu kalau tuan adalah seorang ...." ucap kepala pelayan terpotong oleh Mira.
" Saya sudah tahu, karena itulah aku tidak jadi pergi, aku tidak ingin karena aku semua penghuni mansion akan terkena imbasnya. Semua penghuni mansion mempunyai keluarga dan keluarganya tentu akan bersedih. Biarlah aku yang menanggung semuanya walau aku sebenarnya tidak bersalah sama sekali." ucap Mira
" Hati nona sangat mulia tidak memikirkan diri sendiri. Saya berharap tuan muda segera sadar dan tidak menyiksa nona." ucap kepala pelayan.
" Mudah - mudahan Bi." ucap Mira
" Nona kita ke dalam diluar anginnya sangat kencang." ucap kepala pelayan.
" Tidak bi, aku masih ingin di sini sambil menunggu calon suamiku." ucap Mira
" Baik nona, saya akan ambilkan selimut agar nona tidak kedinginan." ucap kepala pelayan.
__ADS_1
" Tidak usah bi, terima kasih. Bibi jika ternyata umurku sampai di sini. Aku minta maaf sama bibi baik sengaja ataupun tidak dan tolong sampaikan ke semua penghuni mansion mau memaafkan kesalahanku selama aku tinggal di sini. Ucapkan terima kasih atas semua pelayanan yang terbaik untukku." ucap Mira dengan tulus.
Nona wanita yang paling baik dan menghormati kami orang rendahan seperti kami." ucap kepala pelayan.
" Semua manusia itu sama bi, sama - sama bernafas dan sama - sama di kubur di dalam tanah." ucap Mira
" Seandainya semua orang seperti nona." ucap kepala pelayan.
Mira hanya tersenyum dan kepala pelayan pamit meninggalkan Mira seorang diri. Mira membalikkan badannya dan duduk kembali sambil ke dua kakinya di masukkan ke dalam kolam renang.
Pikiran Mira melayang jauh sampai tidak sadar bahaya mengintai dirinya. Charli berjalan dengan langkah cepat dan mendorong Mira hingga terjatuh di kolam renang.
skip
Ceritanya diceritakan di bab sebelumnya.
Rekaman CCTV Tempat Kediaman Mansion Charli dan Mira OFF
" Oh pantas saja Mira terluka parah, ucap daddy Alvonso karena istrinya memalingkan wajahnya ketika Charli menyiksanya.
" Daddy, bagaimana kalau Max, Baron dan Charli setelah menikah suruh tinggal bersama kita. Mommy merasa mereka itu sebenarnya baik hanya saja karena masa lalunya yang buruk membuat mereka seperti itu." ucap mommy Laras.
" Apakah mommy tidak merasa takut dengan mereka?" tanya daddy Alvonso
" Sebagai manusia memang mommy takut tapi mommy lebih takut sama yang di atas. Tuhan bisa membolak balikkan perasaan orang, kita ajari mereka apa arti keluarga sesungguhnya. Usia kita semakin lama semakin bertambah, sebelum bertemu dengan sang pencipta kita banyaklah berbuat kebaikan." ucap mommy Laras bijak.
" Aku juga beruntung mendapatkan suami yang sangat tampan dan sangat perhatian serta tanggung jawab." puji mommy Laras sambil beberapa kali menguap karena dirinya sangat lelah.
" Kita bermain satu ronde yuk, sebelum mommy tidur." ucap daddy Alvonso karena melihat mommy Laras dari tadi menguap terus.
" Baiklah dad, aku memang ngantuk berat." ucap mommy Laras sambil menguap kembali.
Merekapun melakukan kegiatan panas pada malam hari di saat anak - anak dan menantunya istirahat di kamar masing - masing.
xxxx
Rumah Sakit Tempat Denisa Di Rawat
Di Negara yang sama namun di tempat yang berbeda Max duduk sambil memandangi istri tercintanya.
" Honey, sudah malam tidurlah." ucap Denisa
" Belum bisa tidur, badan mu bagaimana masih ada yang sakit?" tanya Max
__ADS_1
" Sudah mendingan, tidurlah di sebelahku." ucap Denisa sambil menggeser kan tubuhnya.
" Ok." Jawab Max singkat.
Max pun berbaring saling berhadapan, Max menatap bibir Denisa kemudian mengecupnya.
" Sayang, sebelum tidur satu ronde ya?" pinta Max
Denisa pun menganggukkan kepalanya, Max yang mendapatkan lampu hijau tidak menyia -nyiakan kesempatan itu. Max melakukan kegiatan olah raga di malam hari dengan lembut tapi sebelumnya mengambil remote kemudian menekan tombol agar pintu ruang perawatan terkunci.
Setelah selesai melakukan kegiatan panas, Max langsung ke kamar mandi membersihkan diri kemudian memakai pakaiannya dilanjutkan dengan membersihkan tubuh istrinya setelah selesai baru memakaikan pakaian khusus pasien yang masih baru.
Setelah selesai melakukan kegiatan panas Max dan Denisa tidur sambil berpelukan mencari kenyamanan.
xxxx
Rumah Sakit Tempat Amora Di Rawat
" Honey." panggil Amora
" Ada apa sayang?" tanya Baron
" Aku tidur tapi takut, maukah honey menemaniku tidur?" pinta Amora sambil menggeser tubuhnya.
" Tapi sayang aku takut khilaf." tolak Baron
" Khilaf kenapa?" tanya Amora bingung
" Kalau tiba - tiba aku ingin melakukan itu apakah kamu mau?" tanya Baron
" Tentu tidak mau bukan? karena itulah aku menemanimu tidur dalam posisi duduk." sambung Baron
" Tapi janji satu kali ya? lakukan dengan lembut." pinta Amora
" Iya aku janji satu kali dan melakukan dengan lembut. Besok kita menikah semua sudah disiapkan kita menikah barengan sama sahabat kita." ucap Baron sambil melepaskan seluruh pakaian hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun tapi sebelumnya Baron mengambil remote kemudian menekan tombol agar pintu ruang perawatan terkunci.
" Benarkah?" tanya Amora
" Benar honey." jawab Baron dengan suara berat sambil melepaskan tali pakaian pasien baru.
Terpampang jelas tubuh mulus Amora membuat Baron sudah tidak bisa menahan hasratnya. Setelah melakukan pemanasan Baron mulai menyatukan tubuhnya ke tubuh Amora, desahan demi desahan keluar dari mulut mereka berdua. Hingga lahar milik Baron keluar barulah Baron berhenti.
cup
__ADS_1
" Terima kasih sayang." ucap Baron
Baron mengecup kening calon istrinya kemudian mereka berdua tidur sambil berpelukan.