Perjalanan Cinta Sang Psychopath

Perjalanan Cinta Sang Psychopath
Jatuh Cinta


__ADS_3

Hingga tidak terasa waktu sudah jam 4 sore. Perlahan Denisa membuka matanya, dirinya sangat terkejut karena Denisa memeluk dan kepalanya bersandar di tubuh seseorang.


Denisa mengangkat kepalanya dan matanya membulat sempurna karena melihat Max sedang tertidur pulas. Perlahan Denisa melepaskan pelukannya dan memegang tangan Max agar tidak memeluk dirinya.


Max yang merasa ada pergerakkan membuatnya membuka matanya. Denisa menatap Max dengan tajam dan berusaha bangun dan selimut yang menutupi tubuhnya menjadi turun, matanya membulat sempurna karena dirinya tidak menggunakan sehelai benangpun membuat Denisa menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang polos.


" Hiks... hiks... apa yang kamu lakukan padaku Ali? hiks...hiks...apa salahku?" tanya Denisa sambil terisak


" Maafkan aku sayang tapi jujur kamu masih virgin karena aku tidak mau mengambil keuntungan di saat dirimu terkena pengaruh obat peran****g." ucap Max sambil memeluk tubuh Denisa.


Denisa berusaha memberontak tapi Max tetap memeluk Denisa. Denisa memukul dada Max dan Max membiarkan dadanya di pukul karena Max ingin agar Denisa tenang terlebih pukupan Denisa seperti di gigit semut.


" Dari mana aku tahu hiks...hiks... kalau diriku masih virgin... sedangkan aku....hiks... hikss.." Denisa tidak melanjutkan perkataannya karena tidak mungkin jika dirinya mengatakan kalau Denisa tidak menggunakan sehelai benangpun.


" Sekarang bagian in***mu terasa perih tidak? kalau perih berarti punyamu sudah aku masuki tapi kalau tidak perih berarti kamu masih virgin." ucap Max sambil melepaskan pelukannya.


Denisa terdiam dan merasakan bagian privasinya tidak perih.


" Ceritakan padaku sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Denisa sambil menatap tajam ke Max.


Max menceritakan dari awal makan bersama sampai berakhir di ranjang. Denisa menutup wajahnya dengan selimut ada perasaan malu dan sangat senang karena Max bisa menahan hasratnya.


" Kenapa wajahmu di tutup?" tanya Max sambil menarik perlahan selimut yang di genggam oleh Denisa


" Aku malu, bolehkah kamu keluar aku mau mengganti pakaian." ucap Denisa


" Kenapa malu? aku sudah melihat semuanya." ucap Max santai


auch


Denisa bertambah malu dan mencubit perut Max.


" Sakit sayang, tega sekali mencubit perutku." ucap Max pura - pura sakit.


Denisa yang melihat Max kesakitan merasa bersalah.


" Maaf aku tidak sengaja." ucap Denisa sambil mengelus perut Max


Perlakuan Denisa membuat adik kecil Max mulai menegang kembali.


" Sakitnya sudah hilang, itu bajumu ada di paper bag aku akan turun ke bawah." ucap Max sambil menurunkan kakinya kemudian keluar meninggalkan Denisa sendiri.


Denisa yang melihat Max keluar membuat Denisa bingung tapi berusaha di tepisnya karena Denisa ingin membersihkan diri dan memakai pakaian.

__ADS_1


Denisa bangun dari ranjang Max sambil selimutnya menutupi tubuh polosnya dan mengambil paper bag yang berada di sofa kemudian menuju ke kamar mandi.


Denisa membulatkan matanya karena hampir seluruh tubuhnya dipenuhi tanda kepemilikan. Denisa mandi menggunakan shower selesai mandi dan mengambil pakaian yang ada di paper bag.


Selesai berpakaian Denisa keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga. Sampai di bawah Denisa mencari Max tapi tidak menemukannya.


" Ali... Ali..." panggil Denisa


" Ada apa mencariku?" tanya Max tiba - tiba dari arah samping.


Denisa sangat terkejut yang melihat kedatangan Max yang tiba - tiba.


" Aduh Ali bikin kaget saja." ucap Denisa sambil mengelus dadanya berulang - ulang.


Max tersenyum sambil mengacak rambut Denisa.


" Aish.. senang banget mengacak rambutku." ucap Denisa sambil cemberut


cup


Max mengecup bibir Denisa yang sudah menjadi candunya.


" Ali, ciuman pertamaku!!" pekik Denisa sambil matanya mendelik


" Aku yang bilang karena kamulah pria pertama yang menciumku." protes Denisa


" Memang aku pria pertama yang menciummu tapi kita sudah melakukannya ketika kamu terpengaruh obat perangs**g." ucap Max santai


" Benarkah?" tanya Denisa tidak percaya


" Terserah, ada apa mencariku?" tanya Max


" Aku lapar, apakah kamu lapar?" tanya Denisa


" Lapar, kita pergi keluar karena aku tidak ada bahan makanan dan tidak bisa memasak." ucap Max


" Aku malas keluar." ucap Denisa


" Ya sudah kamu tunggu di sini aku akan membeli makanan." ucap Max


" Tidak perlu, tadi kitakan membeli bahan makanan di supermarket. Tolong ambilkan bahan makanan di dalam mobil." pinta Denisa


" Apakah kamu bisa memasak?" tanya Max tidak percaya.

__ADS_1


" Tentu saja bisa walau rasanya lumayan asin tapi bisalah untuk di makan." ucap Denisa berbohong.


" Ok deh aku ambilkan, kalau ternyata tidak enak aku bisa beli di luar " ucap Max santai


Max berjalan meninggalkan Denisa sendiri, Denisa yang ditinggalkan sendiri berjalan mengelilingi mansion yang lumayan luas untuk mencari dapur setelah ditemukan dapurnya Denisa berjalan mendekati dapurnya.


Denisa mengambil wajan, spatula, panci, pisau dan talenan.


" Ini belanjaannya." ucap Max menurunkan semua barang belanjaan Denisa.


Denisa membalikkan badannya dan mencari bahan untuk di masak.


" Kamu suka makanan apa?" tanya Denisa


" Apa saja aku suka, ada yang bisa ku bantu?" tanya Max


" Tidak usah, duduk saja di kursi." ucap Denisa


Max membalikkan badannya dan berjalan menuju kursi. Max memandangi wajah Denisa yang sedang sibuk memasak nasi kemudian dilanjutkan meracik bahan makanan.


( " Seandainya sudah menikah rasanya sangat senang setiap hari dimasakkin istri dan mansion ini tidak sepi lagi. Nisa terima kasih kehadiranmu sangat berarti buatku." ucap Max dalam hati ).


Bau harum masakan masuk ke dalam hidung Max membuat Max lapar. Rasanya tidak sabar dirinya ingin mencicipi masakan Denisa. Denisa menaruh makanan yang sudah matang ke meja makan.


" Ali, bisakah mengambil rice cooker untuk dipindahkan ke meja makan?" pinta Denisa lembut


" Bisa donk sayang." ucap Max sambil berdiri dan mengambil rice cooker untuk di pindahkan ke meja makan.


" Ali dari tadi kenapa memanggilku sayang?" tanya Denisa


" Memang kenapa? aku sangat suka memanggilmu dengan sebutan sayang." ucap Max santai


" Bukan begitu karena sebutan sayang itu untuk pasangan kekasih ataupun sebutan untuk suami istri." ucap Denisa menjelaskan ke Max


" Hmmm... bagaimana kalau sekarang kita sebagai pasangan kekasih." ucap Max


" Jangan bercanda kita itu baru kenal hari ini masa cepat sekali. Apa jangan - jangan semua wanita kamu katakan juga seperti yang kamu katakan padaku?" tanya Denisa sambil menatap mata Max


" Memang terlalu cepat tapi jujur pertama kenal denganmu aku merasa nyaman dan kamulah gadis pertama yang bisa membuatku jatuh cinta." ucap Max jujur.


Denisa menatap mata Max untuk mencari kebohongan tapi tidak ada satupun kebohongan. Denisa menghembuskan nafasnya perlahan.


" Maaf bukannya aku menolakmu tapi jujur ini terlalu cepat bagiku. Beri aku waktu dan seandainya kamu menunggu jawabanku lama dan ternyata kamu menemukan gadis lain yang lebih baik dariku aku tidak akan marah." ucap Denisa

__ADS_1


__ADS_2