Pria Kulkasku

Pria Kulkasku
30. Memergoki Leon


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu. Pagi ini Yeni akan menjemput dia dan membawanya ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Ardi. Ardi meminta bantuannya untuk memberikan Tya kejutan dengan kepulangannya.


Yeni langsung bersiap tanpa sarapan terlebih dahulu . Yeni menemui ayah dan ibunya di ruang keluarga untuk berpamitan.


" Ayah ibu Yeni izin ke rumah mba Tya ya " ucap Yeni pada kedua orang tuanya.


" Kamu gak sarapa dulu ?" tanya Ayah Yendi.


" Enggak yah. Nanti aja " jawab Yeni.


" Baiklah kamu hati-hati di jalan " ucap Bu Yosi.


" Iya bu. Assalamualaikum " ucap Yeni mencium tangan kedua orang tuanya.


" Walaikumsalam" jawab Ayah Yendi dan Bu Yosi bersamaan.


Yeni pun keluar dari rumah dan mengambil sepatunya yang berada dalam rak sepatu lalu memakainya.


Yeni melajukan motornya menuju rumah Tya. Sesampainya di rumah Tya, Yeni masuk setelah mengucapkan salam. Yeni langsung menuju meja makan.


" Mana Mba Tya bi ?" tanya Yeni pada Bibi Sari saat tidak melihat Tya.


" Tya masih di kamar " jawab Bibi Sari.


" Sebentar ya bibi mau panggil pamanmu dulu " ucap Bu Sari dan Yeni pun menganggukkan kepalanya.


Tak lama terlihat Tya keluar dari kamarnya dan menuju meja makan.


" Loh kamu kapan datengnya. Terus ngapain pagi-pagi udah kesini?" ucap Tya pada Yeni.


" Baru aja mba" jawab Yeni. " Mau aja mba jalan keluar bentar" lanjut Yeni.


" Kemana?" tanya Tya.


" Nanti juga mba tahu" jawab Yeni tersenyum misterius.


Khaya yang berada disamping Yeni hanya mendengarkan obrolan mereka.


Kemudian Paman Nadi dan Bibi Sari pun sudah duduk di meja makan.


" Ayo Yen sekalian sarapan bareng" ucap Bibi Sari pada Yeni.


" Kebetulan nih Yeni belum sarapan bi" ucap Yeni dengan cengir kudanya memperlihatkan jejeran giginya.


Kemudian mereka pun sarapan bersama. Terdengar suara sendok dan piring saling beradu.


" Masakan bibi emang selalu enak" ucap Yeni ketika selesai sarapan.


" Ini bukan masakan bibi Yen. Tapi masakan mba mu" ucap Bibi Sari.


" Wih mba udah pinter masak nih. Enak banget lagi" puji Yeni pada Tya.


" Ya harus pinterlah. Emang kaya kamu masak nasi aja sampai gosong " ucap Tya tertawa diikuti yang lainnya.


" Mba nih aku jadi malu " ucap Yeni kembali mengingat saat dia mencoba masak saat menginap bersama Tya.


" Paman" panggil Yeni.


" Kenapa Yen?" jawab Paman Nadi.


" Mba Tya ikut aku ya keluar sebentar sekalian jalan-jalan. Kan selama liburan Mba Tya di rumah aja" ucap Yeni meminta izin pada Paman Nadi.


" Baiklah. Tapi jangan terlalu jauh " ucap Paman Nadi.


" Siap paman " ucap Yeni senang.


Setelah itu Paman Nadi berangkat kerja. Kemudian Yeni dan Tya juga pergi. Tya masih bingung Yeni membawanya kemana karena Yeni tidak memberitahunya.

__ADS_1


" Kita mau kemana sih dek?" tanya Tya saat motor Yeni sudah melaju meninggalkan rumah dengan kecepatan sedang.


" Nanti mba juga tau sendiri" ucap Yeni sambil tersenyum.


Kemudian Tya tidak bertanya lagi dan motor melaju ke tujuan.


Tak sengaja Leon yang memang ingin pergi melihat Tya dan Yeni di jalan.


" Itu mereka berdua mau kemana?" gumam Leon.


Karena penasaran Leon pun mengikuti Tya dan Yeni hingga sampai di suatu tempat yang cukup sepi.


Yeni membawa Tya ke sebuah lapangan luas dekat hutan yang lumayan sepi.


" Ngapain mereka ke tempat seperti ini?" ucap Leon lalu turun dari mobilnya.


Mereka berdua pun turun dari motor milik Yeni.


" Kok kita kesini dek?" tanya Tya.


" Kita disini mau ketemu seseorang mba" jawab Yeni kemudian membantu Tya ke kursi rodanya.


" Tapi kok tempat sepi?" tanya Tya lagi.


" Biar enak aja nanti ngobrolnya mba" jawab Yeni lalu mendorong kursi roda Tya ke kursi di pinggir lapangan.


" Emang siapa sih?" tanya Tya penasaran.


" Nanti kalo orangnya datang mba juga tau kok" jawab Yeni tersenyum.


" Kamu dari tadi gitu terus jawabnya" ucap Tya kesal.


Yeni pun tertawa. " Tunggu aja mba" ucap Yeni.


Tiga puluh menit mereka sudah menunggu tapi tidak ada satu orang pun yang datang.


" Sabar mba" jawab Yeni tersenyum menahan tawanya karena melihat wajah kesal Tya.


Tya terus menggerutu dalam hatinya. Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata nomor Ardi tertera disana.


Tya langsung menjawan panggilan itu. Akhirnya Ardi menghubunginya setelah beberapa hari tanpa kabar.


" Assalamualaikum "ucap Ardi dari ujung sana.


" Walaikumsalam" jawab Tya. " Kamu kemana aja sih Ar gak hubungin aku. Kamu gak papa kan? Gak terjadi apa-apa kan? Sekarang kamu dimana ?" lanjut Tya memberi seberondong pertanyaan pada Ardi.


Yeni mencoba menguping pembicaraan Tya dengan Ardi.


" Satu-satu dong kalo nanya" ucap Ardi terawa.


" Kok malah ketawa, jawab aja pertanyaan aku" ucap Tya.


" Nanti aku jawab tapi sekarang liat sebelah kanan kamu dulu" ucap Ardi.


Kemudian Tya pun melihat ke sebelah kanannnya.Ternyata Ardi sudah berdiri disana hanyar berjarak sepuluh meter dari Tya dan Yeni.


Mata Tya berkaca-kaca melihat Ardi yang tersenyum dan berjalan menuju ke arahnya. Tya mematikan panggilan itu saat Ardi sudah berjongkok dihadapannya.


" Makasih ya Yen" ucap Ardi pada Yeni.


" Sama-sama Ar. Kalo gitu gue balik duluan aja ya kalian berdua dulu disini" ucap Yeni.


Saat Yeni hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, Tya mencegahnya.


" Tunggu dek, kalo ayah tanya nanti gimana?" tanya Tya takut ayahnya tahu dan marah.


" Aku bilang aja aku ada urusan bentar terus mba pulangnya dianterin Ardi" ucap Yeni lalu berlari menuju motornya dan pergi.

__ADS_1


Leon yang terus mengikuti mereka pun akhirnya kembali ke mobilnya yang berada di pinggir jalan. Leon menyandarkan tubuhnya di bagian depan mobil.


" Kalo aku gak bakal aku ikutin mereka " ucap Leon.


Saat Yeni sedang melajukan motornya dia melihat Leon yang sedang bersandar di mobilnya. Yeni menghampiri Leon yang sedang bersandar di mobilnya.


" Lo ngapain sendirian disini ?" tanya Yeni saat sudah turun dari motornya.


Leon pun berdiri. " Bukan urusan lo" ucap Leon dingin.


" Jangan sampe dia tahu gue disini karena ngikutin dia sama Tya " batin Leon


" Gue cuma nanya aja kali" ucap Yeni yang mulai kesal.


" Lo sendiri ngapain disini?" tanya Leon.


" Gue nganterin mba Tya ketemu Ardi " jawab Yeni.


" Emang Ardi udah balik?" tanya Leon pura-pura tidak tahu jangan sampai Yeni tahu bahwa Leon memperhatikan mereka dari tadi.


" Udah" jawab Yeni.


Leon hanya diam tidak menjawan ucapan Yeni.


" Lo belum jawab pertanyaan gue. Ngapain lo disini?" tanya Yeni lagi.


" Kepo banget sih lo " ucap Leon ketus.


" Nggak. Siapa juga yang kepo " jawab Yeni.


" Terus ngapain lo masih disini" ucap Leon datar.


" Ini juga gue mau balik kok" ucap Yeni sedikit kesal.


" Ya udah sana" usir Leon.


Dengan perasaan kesal Yeni menaiki motornya lalu melajukannya kembali.


" Mending gue balik juga. Daripada nanti kepergok lagi " ucap Leon kemudian melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Sementara Yeni dia masih kesal dengan Leon. Tapi setelah kejadian malam itu dan beberapa kali bersama Leon dia jadi lebih ingin lebih dekat dengan Leon.


" Dasar cowok kulkas nyebelin banget. Tapi ngapain tu anak disana, tapi bodo amat aja lah gak penting juga" gumam Yeni masih melajukan motornya.


Yeni tidak langsung pulang tapi dia ke rumah Tya dulu untuk memberitahukan bahwa Tya akan pulang bersama Ardi.


Sesampainya di rumah Tya, Yeni mengucapkan salam kemudian langsung masuk ke rumah Tya karena pintu tidak dikunci.


Yeni menyalami Bibi Sari kemudian duduk di sofa disamping Bibi Sari.


" Tya mana Yen?" tanya Bi Sari yang tidak mendapati anaknya.


" Mba Tya nanti pulang sama Ardi bi. Tadi aku ada urusan sebentar terus ketemu Ardi jadi Mba Tya bareng Ardi" ucap Yeni memberi alasan.


" Jadi Ardi udah kembali?" tanya Bu Sari.


" Iya bi, kemarin kalo gak salah" jawab Yeni.


Bu Sari pun menganggukkan kepalanya.


" Ya udah bi Yeni pamit pulang dulu" ucap Yeni sambil mencium tangan Bibi Sari.


" Iya hati-hati di jalan Yeni" ucap Bibi Sari.


" Iya bi. Assalamualaikum " ucap Yeni kemudian beranjak pergi.


" Walaikumsalam " jawab Bu Sari.

__ADS_1


Yeni pun langsung menaiki motornya dan melajukannya menuju rumahnya sendiri.


__ADS_2