PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
109. H - 1 Ulang Tahun Lexa (S1)


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. πŸ™‚πŸ˜Š


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku πŸ€—


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata πŸ€—


Happy Reading


***


Setelah mengobrol serius tadi dengan Mita, akhirnya Elden bisa perlahan-lahan lepas dari jeratan Mita.


"Raf apa yang sedang Lo lakuin?" Tanya Elden dengan menatap wajah sahabatnya yang terlihat seperti sedang menahan sesuatu.


Rafael langsung menoleh ke belakang untuk menatap wajah Elden. "Lo tebak saja apa yang sedang gue lakuin." Jawab Rafael dengan tersenyum penuh makna. Lalu, Rafael melanjutkan lagi kegiatannya. Mengabaikan Elden yang tengah menatapnya aneh.


Elden dan Rafael kini tengah berada di markas mereka. Hanya saja mereka hanya berdua tanpa Bram.


"Bram katanya sedang mencari hadiah untuk Lexa." Ujar Rafael tiba-tiba. Tubuhnya berbalik dan menghadap ke arah Elden.


Elden yang tengah asik bersandar di sofa dengan memejamkan ke dua matanya lantas langsung menegakkan tubuhnya. Kedua bola matanya terbuka dan bertatap langsung dengan ke dua mata Rafael.


"Lalu apa hubungannya dengan gue Raf?" Tanya Elden dengan mengangkat salah satu alisnya.


Prok.. Prok.. Prok..


Rafael bertepuk tangan sambil menggeleng kan kepalanya pelan. Kepalanya sedikit miring dengan menatap kagum wajah sahabatnya yang terlihat tenang. "Biasanya kalau Lo dengar kabar tentang Lexa - Bram, Lo akan seperti kebakaran jenggot El. Tapi sekarang Lo malah tenang aja. Bukan nya Lo lebih suka rumput tetangga? Atau jangan-jangan Lo sudah siapin hadiah untuk rumput tetangga?" Tanya Rafael dengan sedikit menebak-nebak.


Elden menatap Rafael dengan tersenyum tipis. "Tanpa gue bilang juga Lo tau Raf."


Rafael menggeleng kan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Merasa kagum dengan apa yang di katakan Elden tadi. "Sungguh luar biasa. Sahabat ku impresif sekali." Kata Rafael dengan kagum.


Setelah itu Elden langsung bangkit dari tempat duduknya. Membuat Rafael langsung bertanya-tanya. "Lo mau kemana El?" Tanya Rafael.


"Mau keluar sebentar. Gue mau ke arena balap. Sudah lama gue tidak main kesana." Jawab Elden sambil berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


Rafael yang mendapat jawaban itu lantas langsung buru-buru untuk mengambilΒ  Hoodie dan handphone miliknya yang terletak di meja. "Tungguin gue." Jerit Rafael yang mulai ketinggalan Elden.


Tanpa rasa bersalah Elden hanya diam mengabaikan perkataan Rafael.


Sementara itu sekarang Lexa tengah duduk bersandar di atas tempat tidurnya. "Aku ingin minum." Lirihnya pelan.


Bram yang mendengar itu lantas dengan sigap melakukan apa yang kekasih nya pinta. "Ini sayang." Ujar Bram sambil menyodorkan segelas minuman yang berisi air putih.


Lexa tersenyum menerima nya. "Terimakasih Bram." Kata Lexa mengucapkan terimakasih. Di minum nya air putih hanya beberapa kali tegukan saja. Setelah itu Lexa menyodorkan kembali gelas minuman itu ke arah Bram. Untungnya Bram adalah tipikal lelaki yang peka. Alhasil tanpa Lexa bersuara pun Bram sudah mengerti.


"Bram, tingkah Mama sekarang sedikit aneh." Ucap Lexa yang memulai pembicaraan. Karena Ayu sekarang sedang pulang jadi Bram dan Lexa hanya berdua.


Kening Bram sedikit berkerut. Di letakan nya gelas minuman itu di meja. Kursinya ia tarik untuk sedikit lebih dekat dengan Lexa. "Aneh bagaimana?" Tanya Bram mencoba untuk memperjelas.


Kedua jemarinya yang mungkin saling bertautan satu sama lain. Lexa menggeleng pelan. Merasa bingung untuk menjelaskan. "Aku bingung." Lirih Lexa dengan kepala yang sedikit menunduk. Ke dua bola matanya yang indah menatap ke tangan nya yang saling tertaut.


Lantas Bram menarik ke dua tangan putih, mulus kekasih nya. Di tatap nya dengan lembut perempuan yang ia cintai itu. "Coba jelaskan apa yang membuat jamu merasa aneh agar aku bisa membantu kamu sayang." Kata Bram dengan nada yang terdengar lembut.


Ke dua bola matanya yang indah bertatapan langsung dengan ke dua bola mata sendu milik kekasih nya.


Bram tersenyum. Lalu di usapnya dengan sayang puncak kepala Lexa. "Ceritakan saja secara perlahan, ok?" Bujuk Bram.


Bram mengangguk mengerti. "Apa kamu ingin aku mencari taunya?" Tanya Bram dengan menetap lembut kekasih nya.


Lexa menggeleng pelan. "Tidak perlu Bram. Aku hanya ingin bercerita saja. Aku juga tidak mau menganggu zona privasi Mama."


Bram langsung berdiri. Dengan sayang Bram langsung memeluk tubuh mungil kekasihnya itu. "Kalau ada apa-apa dan kalau terjadi sesuatu yang menurut kamu janggal, kamu bisa bilang ke aku Lexa. Aku usahakan untuk membantu kamu sebisa ku." Bisik Bram tepat di telinga Lexa.


Lexa mengangguk, mengerti. "Terimakasih Bram. Kamu memang sahabat sekaligus kekasih ku yang terbaik." Kata Lexa dengan membalas pelukan Bram.


Mereka saling berpelukan satu sama lain. Tidak peduli jika posisi mereka sekarang sedang berada di ruang inap rumah sakit.


Sementara itu, kini Ayu tengah membereskan rumah yang ia tinggal beberapa hari. Untungnya rumah nya masih tertata rapi meskipun sedikit berdebu. Lantas Ayu memutuskan untuk membersikan rumahnya sebelum putrinya kembali ke rumah.


Ya, bagi Ayu, kebersihan dan kerapian adalah nomor satu.


Di mulai adri membereskan ruang tengah lalu berpindah ke kamar. Habis ke kamar, Ayu berpindah ke ruang tamu. Setelah itu Ayu menyapunya hingga bersih.


Ayu berusaha membuang pikiran negatifnya. Apalagi setelah menerima telfon dari Justin, teman masa lalunya. Ayu semakin menekan kan ke dirinya sendiri kalau semuanya pasti akan berjalan baik-baik saja.

__ADS_1


Tidak terasa, hampir satu jam lamanya Ayu habiskan waktunya untuk membersikan rumahnya.


"Akhirnya selesai juga." Desahnya pelan dengan menatap ke seluruh penjuru ruangan yang telah bersih dan tertata rapi.


"Sekarang tinggal memasak untuk di bawa kerumah sakit." Ujar Ayu pada dirinya sendiri.


Namun pandangan nya langsung terfokus ke arah dinding. Ada sesuatu yang menempel di sana. Semacam kertas. Dengan sedikit ragu Ayu berjalan mendekati dinding itu. Di ambilnya kertas yang tertempel disana.


Aku kembali. Terimakasih sudah merawat putriku. - Justin Atkinson


Deg


Tubuhnya langsung terasa lemas. Dunianya seakan runtuh begitu saja. "Justin, Jessica."


***


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🀘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊

__ADS_1


Aku tunggu notifikasi dari kalian ya πŸ’› Terimakasih teman-teman..


__ADS_2