
...Pembukaan dengan yang cantik-cantik dulu ya π Author paling demen nih sama yang cantik begini π Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa π...
Hai Selamat Pagi semua π₯Ί Btw, udah siap ngga untuk baca part ini? Author nya sampai nangis waktu bikin part ini. Semoga saja feel-nya juga sampai ke pembaca juga ya π₯Ίπ Jangan lupa dengerin lagu sedih juga ya! - Lexa Ardola Crishtian
...Happy Reading π₯³...
"Argghhh!" Jeritnya keras.
Tubuh Lexa tersentak kuat ketika merasakan sebuah benda masuk ke dalam dirinya. Buliran kristal jatuh membasahi kedua bola mata cantik itu. Apa yang ia jaga dan ia lindungi selama ini telah direnggut secara paksa oleh orang yang pernah ia cintai.
"Maafkan aku El."
"Sial! Rasanya nikmat sweety!" Umpat Bram ketika merasakan nikmatnya duniawi.
"Hiks!" Hati Lexa hancur. Dirinya hancur. Kedua tangannya yang bebas mencengkram kuat sprei tidur. Sementara darah mulai keluar dari sela-sela kedua kakinya. Rasa sakit teramat ia rasakan.
"Kenapa harus seperti ini Tuhan? Kenapa harus seperti ini?"
Kepalanya menggeleng pelan. Sedangkan Bram masih terus melanjutkan aksinya di atas tubuhnya. Bram mulai bergerak di atas tubuhnya.
"Hiks!!"
Wajahnya mulai memucat. Dunianya hancur seketika. Kebahagiaan yang baru ia rasakan kemarin kini telah menghilang. Masa depan yang ia susun secara rapi dengan kekasihnya telah sirna.
"Disaat perempuan lain bahagia diluar sana. Disaat perempuan lain bahagia dengan keluarganya. Disaat perempuan lain asik menikmati dunianya, tapi kenapa aku tidak merasakan itu Tuhan? Kenapa?"
"Hiks!"
"Aku berusaha menjaga diri ku. Aku sudah berusaha menjaga sikap dengan orang lain Aku sudah berusaha untuk berubah. Tapi kenapa malah seperti ini?!"
"Kenapa harus aku Tuhan? Kenapa harus aku yang merasakan ini?!"
"Hiks!"
Tangisnya semakin pecah. Bram menutup kedua bola matanya. Menutup hatinya. Hatinya telah berubah menjadi sekeras batu.
"Kenapa usahaku sia-sia Tuhan? Kenapa usaha yang aku kerahkan tidak ada hasilnya? Kenapa Tuhan?"
Rasa pusing dan lemas mulai menyelimutinya. Lexa sudah tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.
"Hiks!"
Tangisnya tidak kunjung berhenti. Setiap kali Lexa bernafas, yang Lexa ingat hanya kekasihnya. Hanya Elden Crishtian. Laki-laki yang selama ini menjaga dan melindunginya.
"Bagaimana aku harus menghadapi Elden? Bagaimana aku harus bersikap dengan nya? Sementara aku sudah mengkhianati nya?"
Tubuhnya seakan mati rasa. Tatapannya berubah kosong. Tidak ada keceriaan lagi yang biasa terpancar di sana.Yang Lexa ingat sekarang hanya Elden, kekasihnya.
"Ini mimpi kan?"
__ADS_1
"Ini hanya mimpikan Tuhan?"
"Hanya mimpi buruk bukan nyata kan Tuhan?"
"Ahh, Kamu nikmati sekali sweety." Ujar Bram puas. Pinggangnya terus bergerak mencari kenikmatan duniawi yang terasa surga baginya.
"Aku tidak salah mencintai perempuan seperti mu sweety. Terimakasih sudah menjaganya. Aku kira kamu sudah tidur dengan laki-laki Psycopath itu. Ternyata aku yang pertama." Bisik Bram tepat di telinga Lexa.
"Bunuh aku Bram." Lirih Lexa. Kedua bola matanya menatap kosong. Tubuhnya berkeringat. Beberapa helaian rambutnya basah karena air matanya. "Bunuh aku."
Bram menyeringai tipis. "Kamu terlalu nikmat untuk dibunuh Lexa."
"Kenapa kamu mencintaiku El? Sedangkan kamu tau, aku sudah mempunyai kekasih. Bahkan aku sudah berkali-kali berteriak lantang jika aku tidak menyukai mu."
"Apakah kehadiran ku selama ini terlalu memaksa mu Lexa?"
"Tidak El. Kamu tidak memaksa ku sama sekali. Aku hanya heran. Kenapa kamu masih tetap menyukai ku, padahal kamu tau jika aku sudah mempunyai kekasih."
"Karena aku yakin kamu lah yang akan menjadi satu-satunya perempuan yang aku cintai. Satu-satunya perempuan yang akan menyandang nama Crishtian di belakang namanya. Dan aku yakin, sesering apapun kamu singgah di hati pria lain, kamu akan kembali pada ku Lexa. Aku hanya perlu bersabar dan terus berusaha."
"Apakah aku masih pantas menyandang nama Crishtian di belakang nama ku El?"
Sementara di sebuah ruangan VVIP rumah sakit terasa sangat mencekam.
"Aku mohon, bertahanlah El. Bertahan lah." Rafael berada di luar ruangan dan duduk di kursi yang disediakan. Beberapa bodyguard dan anggota Geng Mafia Crowned Eagle ada disana. Mereka menunggu dengan rasa khawatir dan cemas.
"Nyalakan kekuatan 5%." Ujarnya tegas.
"Baik."
Deg...
Tubuh lemah itu tersentak menerima sebuah kejutan dari alat itu. Kedua bola matanya senantiasa masih terpejam.
Tiitt...
Bunyi nyaring terdengar. Grafik alat monitor jantung berubah menjadi garis lurus.
"Nyalakan hingga 50%!" Dokter Alvarez masih terus berusaha.
"Baik."
Alat kejut jantung itu dinyalakan hingga kekuatan 50%. Dengan panjatan doa dan harapan, Dokter Alvarez menempelkan alat kejut jantung itu di dada pasien.
Tubuh itu tersentak kuat merasakan kejutan dari alat yang ditempelkan di dadanya.
"Elden, jangan pernah tinggalin aku ya. Aku cuman punya kamu di dunia ini. Mama dan Bunda sudah tidak ada. Jika kamu pergi tanpa aku, aku sama siapa?"
"Dokter, grafiknya langsung naik dok. Grafiknya langsung stabil." Ujar sang suster.
Dokter Alvarez langsung bernafas lega. Kemudian dokter Alvarez mengecek kondisi Elden. "Dia masih hidup."
__ADS_1
Semua orang yang berada di dalam ruangan bernafas lega.
"Kamu kuat." Gumam Dokter Alvarez ketika melihat air mata keluar dari sudut mata Elden. "Saya salut dengan mu."
Setelah itu Dokter Alvarez dengan di bantu teman-temannya langsung mengobati luka Elden. Menjahit beberapa luka dan membalut luka itu dengan perban.
"Dimana putraku?!" Chayden tadi menerima kabar jika putranya kecelakaan langsung bergegas menuju rumah sakit. Rapat yang sedang berlangsung ia tinggal kan begitu saja.
"Tuan Elden sedang di ruang VVIP tuan." Ujar salah satu anggota Geng Mafia Crowned Eagle menjawab pertanyaan Chayden.
Rafael menoleh. Tatapannya jatuh ke arah Chayden. Lalu tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Rafael dan Chayden reflek bangkit dan berjalan.
"Bagaimana kondisi Elden?"
"Bagaimana kondisi putraku?"
Dokter Alvarez melepas sarung tangan yang ia pakai. "Kondisi pasien sekarang sudah baik-baik saja. Tadi detak jantungnya sempat berhenti, namun untungnya sekarang tidak apa-apa. Sekarang kita tinggal menunggu kesadaran pasien. Pasien akan segera dipindahkan ke ruangan VVIP kelas 1 sesuai dengan persetujuan." Ujar sang Dokter menjelaskan.
Rafael dan Chayden bernafas lega mendengar kabar itu. Walaupun awalnya Rafael dan Chayden sedikit terkejut dengan perkataan sang dokter jika jantung Elden sempat berhenti.
"Bagaimana sayang? Bukankah aku sudah menepati janji ku?"
***
- UP setiap hari jam 3 pagi π₯°
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like π dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..π₯Ίβ€οΈ Tolong bantuannya π
Jangan lupa follow instagram mereka ya π€
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga π
__ADS_1
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana π