PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
153. Bagaimana jika aku bergabung dengan kalian? (S1)


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Bram melihat semuanya. Apa yang Elden lakukan. Apa yang Rafael lakukan, semuanya Bram melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. "Ternyata cara bermain kalian seperti itu." Gumamnya pelan. Kedua bola matanya menatap penuh makna. Setelah itu Bram langsung berjalan meninggalkan markas. "Jika cara bermain kalian seperti itu, maka aku bisa melakukan lebih dari itu."


Pagi telah menjelang. Lexa terbangun dari tidurnya. Punggung tangannya terangkat perlahan. Kemudian Lexa mengucek lembut pelupuk salah satu matanya yang terasa lengket. "Hoam." Seperti biasa, Lexa akan menguap ketika baru terbangun.


"Lexa, apa kamu tidak ada kegiatan hari ini?" Tanya Ayu yang baru saja membuka pintu kamar putrinya sambil membawa pakaian bersih yang baru saja ia lipat.


Lexa menggeleng pelan. Nyawanya bahkan masih belum terkumpul. "Tidak Ma. Aku hanya akan pergi ke sekolah hari ini. Katanya juga baru ini akan pulang lebih awal." Kata Lexa lalu bangun dari tidurnya. Selimut yang ia gunakan, ia singkirkan. Memperlihatkan paha mulus yang belum terjamah oleh siapapun.


Ayu mengernyit melihat tingkah putrinya. Biasanya, Lexa akan menjawab pertanyaannya dengan semangat empat lima. "Kamu bisa langsung mandi lalu sarapan. Ayah kamu sudah menunggu di meja makan."


"Iya Ma." Jawab Lexa lirih. Kemudian, Lexa mengambil ponsel yang terletak di meja yang berada di sebelahnya. Sambil menunggu ponselnya menyala kembali, Lexa lantas turun dari tempat tidur dan segera menyisir rambut panjangnya.


Setelah menyisir dan mengikat rambutnya jadi satu, selanjutnya Lexa kembali mengambil ponsel nya yang telah menyala sempurna. Namun sayangnya, apa yang ia tunggu dari semalam tidak mendapatkan balasan sama sekali. Pesan yang ia kirimkan untuk Bram maupun Elden tidak kunjung mendapatkan balasan. Padahal kedua-duanya sedang online. "Mungkin aku buka. prioritas mereka." Lirihnya pelan. Tidak ingin berlama-lama lagi, Lexa segera melangkahkan kedua kakinya ke dalam kamar mandi.


Hampir lima belas menit lamanya, Lexa menghabiskan waktunya untuk mandi dan bersiap-siap. Jam telah menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit.


"Selamat pagi Ayah, Mama." Sapa Lexa ketika sampai di meja makan.


"Pagi juga." Jawab Ayu kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Pagi juga princess kesayangan Ayah." Sahut Justin sambil menatap wajah ayu putrinya.

__ADS_1


Lexa tersenyum mendengar jawaban dari Justin. "Ayah, apa hari ini ayah akan menjemput ku?" Tanya Lexa sambil mengoleskan dua lembar roti dengan selai coklat kesukaannya.


Justin yang awalnya sedang membaca pesan di ponselnya langsung beralih menatap wajah Lexa. "Tidak sayang. Memangnya kenapa?" Tanya Justin. "Tapi kalau kamu mau, Ayah akan menyuruh supir pribadi ayah agar menjemput mu." Tambahnya lagi.


Lexa menggeleng. "Tidak usah Ayah. Lexa nanti tidak akan langsung pulang. Nanti Lexa akan pulang sendiri." Tolaknya lembut.


Mendengar penolakan dari putrinya membuat Justin berfikir sejenak. "Memang kenapa Lexa? Apa Lexa ingin mampir ke suatu tempat dulu? Atau mau pergi jalan-jalan? Nanti Ayah akan memerintahkan anak buah Ayah agar menemani kamu pergi kemanapun." Justin yang tipikal orang Possesive terhadap orang yang ia sayangi, maka Justin akan terus berusaha membujuk putrinya agar mau pulang ditemani oleh bodyguardnya.


Ayu yang melihat sifat Justin semakin yakin dengan apa yang ia pikirkan sekarang. Mengingat semalam Ayu tanpa sengaja mendengar percakapan antara Justin dengan anak buahnya. "Pasti ini ada kaitannya dengan Bram maupun Elden." Ucapnya dalam hati.


Lexa menghembuskan nafasnya. "Tidak usah Ayah. Aku ingin sendiri saja ya. Aku juga sudah besar. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Tolak Lexa lebih tegas dari sebelumnya.


Mendengar penolakan tegas dari putrinya membuat Justin menyerah untuk membujuknya. Hanya saja, Justin akan tetap mengawasi putrinya dari jauh tanpa sepengetahuan ataupun tanpa sepertujuan putrinya.


"Ayah ayo kita berangkat." Setelah memakan habis rotinya, lantas Lexa bangkit dari tempat duduknya dan memakai tas ranselnya.


"Hati-hati Lexa. Jangan terburu-buru. Ingat kalau ada apa-apa telfon Mama atau kamu bisa meminta pertolongan orang disekitar mu." Seperti biasanya Ayu akan menasehati Lexa dengan perkataan yang sama.


Lexa menganggukkan kepalanya. "Iya Ma." Kemudian Lexa dan Justin berjalan kedua bersama saling bersisian.


***


Suasana di sekolah Elden terlihat sangat ramai. Desas-desus kabar mengenai kematian kepala sekolah telah tersebar di sepenjuru sekolah.


"Kenapa kau terlihat sangat bahagia El?" Ucap Rafael berbasa-basi sambil meletakkan hamburger yang telah ia beli.


Sekarang Elden dan Rafael sedang berada di kantin sekolah. Semua siswa-siswi yang berada di sekolah tengah sibuk melakukan kegiatannya masing-masing. Apalagi hari ini tidak ada jam pelajaran. Hal itu semakin membuat siswa-siswi yang berada di sekolah berhamburan keluar dari kelas. Ada juga yang memilih diam di kelas untuk mengobrol, makan, tidur atau menonton drama.


"Tanpa ku jawab juga kau pasti sudah tau jawabannya Raf." Jawab Elden sambil tersenyum tipis penuh makna.


Mendengar jawaban itu membuat Rafael tertawa renyah. "Hahaha kau memang gila El."


"Ingat Raf, kita sama-sama gila." Sahut Elden sambil menatap datar.


Bram memperhatikan interaksi antara Elden dan Rafael dari kejauhan sambil tersenyum penuh makna. Kemudian Bram langsung melangkahkan kedua kakinya untuk menghampiri Elden dan Rafael yang sedang sibuk mengobrol sesuatu.

__ADS_1


Kret...


Suara kursi di tarik membuat Elden maupun Rafael langsung mengalihkan pandangannya.


"Sudah lama aku tidak bergabung dengan kalian berdua. Bagaimana jika aku bergabung sekarang?" Tanya Bram sambil menatap ekspresi wajah Elden dan Rafael satu persatu. Membuat Elden menatap datar ke arah Bram.


"Kemana saja kau Bram?" Suara dingin itu terdengar menusuk.


***


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..

__ADS_1


__ADS_2