
...Pembukaan dengan yang tampan-tampan dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang tampan begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...
Intinya tetap semangat ya! Jangan bosan untuk membaca semua karya ku ya! I love You Gais! Sayang kalian semua ❤️ - Nur Eva Fullandari
...Happy Reading 🥳...
"El, kenapa kau terburu-buru?" Tanya Rafael sambil mengemasi buku-buku miliknya. Rafael menatap heran ke arah sahabatnya.
"Iya Raf. Aku harus pulang." Jawab Elden sambil menatap Rafael. Pesan yang dikirim istrinya tadi hampir membuatnya terjungkal. Padahal Elden tidak online sama sekali. Dan sialnya, pesan itu sudah dikirim dari jam 1 jam setengah yang lalu.
Kening Rafael berkerut heran. "Bukankah kita akan makan bersama dengan karyawan El?" Ujar Rafael mengingatkan. "Kita juga baru saja selesai rapat." Tambahnya.
Kepala Elden terangkat dan membalas tatapan Rafael. "Sampaikan ke yang lain, aku tidak bisa hadir. Tolong gantikan aku Raf. Aku khawatir dengan istriku." Lalu dengan langkah yang tergesa-gesa, Elden berjalan meninggalkan ruangan.
Rafael menatap punggung sahabatnya lama-lama semakin menghilang. Jika Rafael pikir-pikir, semenjak Elden menikah dengan Lexa, Elden jadi tidak ada waktu untuk kumpul bersama teman-temannya. "Jika seperti ini, aku jadi ragu untuk menikah dengan Nanik."
Elden mengumpat pelan ketika jalanan cukup macet. "Sial!" Umpat Elden sambil memukul pelan setir kemudi. Isi pesan dari istrinya tadi masih terekam jelas di ingatannya.
Lexa : Aku ingin makan makanan yang asam El.
Lexa : Kapan kamu pulang?
Lexa : Kamu online tapi tidak membalas pesan ku?
Lexa : Kamu lagi apa? Bukankah kamu lagi rapat?
Lexa : Atau kamu ada perempuan lain disana?
Lexa : Yaudah. Terserah kamu. Aku akan membeli makanan ku sendiri!
Elden khawatir jika terjadi sesuatu dengan istrinya. Sepandai-pandainya Elden menyembunyikan identitasnya sebagai ketua Mafia Crowned Eagle, pasti ada yang mengetahui identitasnya. Hanya saja mereka lebih memilih bungkam dan pura-pura tidak tau.
Ya, Elden rasa hanya ada dua kemungkinan. Pertama mereka bungkam karena tidak ingin berurusan dengan Elden. Dan yang kedua mereka bungkam karena mempunyai maksud tertentu yang bisa mengancam kekuasaannya.
"Kamu kemana Lexa?!" Ujarnya kesal. Sudah berkali-kali Elden berusaha untuk menghubungi istrinya. Namun sayang, telfonnya tidak kunjung diangkat juga.
__ADS_1
Seusai di lampu merah, Elden langsung mengendarai mobil sport mewah miliknya dengan kecepatan penuh.
Sementara Lexa kini tengah berada di sebuah mall pusat pembelanjaan. Dengan jaket tebal dan daster warna hitam selutut, Lexa berjalan mengambil beberapa buah asam yang ia inginkan.
Ponselnya telah berkali-kali bergetar di dalam tas selempangnya. Akan tetapi Lexa memilih diam dan mengabaikannya saja. Lexa tau jika suaminya pasti sedang menelfonnya. "Suruh siapa tadi mengabaikan pesan ku." Ujar Lexa lalu kembali melanjutkan kegiatan belanjanya.
Sesampainya di apartment, Elden langsung membuka pintu apartment. Jam telah menunjukkan pukul 1 siang. "Sayang.." Teriak Elden memanggil istrinya.
"Sayang." Panggil Elden lagi. Kedua kakinya melangkah ke dapur, ruang tengah hingga ke dalam kamar. Namun sayang, sosok yang ia cri tidak ada.
Emosinya sukses terpancing. Kedua tangannya mengepal erat. "Shit!"
Ting
Pintu apartment terbuka. "Aku pulang." Seperti biasa, Lexa langsung meletakkan sendal yang ia pakai di rak sendal. Kedua tangannya sibuk megenggam kantong belanja.
Mendengar suara istrinya, Elden segera menghampiri sumber suara. "Darimana saja kamu?" Dengan nada yang dingin Elden bertanya. Iris kedua bola matanya menatap dingin ke arah Lexa yang tengah berdiri tidak jauh darinya.
Awalnya Lexa tertegun dengan kehadiran suaminya. Bukankah jam pulangnya masih nanti jam tiga sore? Lalu kenapa suaminya sekarang berada dirumah? "Aku habis belanja." Jawab Lexa sambil melewati Elden begitu saja. Kantong belanja yang ia bawa, Lexa letakkan di meja.
Tubuh Elden berbalik. Dasi yang mengikat lehernya mulai terasa menyesakkan. Dengan kesal Elden melepas dasi yang ia pakai. "Kenapa kamu keluar sendiri? Bukankah aku sudah bilang jika kamu cukup diam di rumah Lexa?" Ujar Elden sambil menatap istrinya.
"Kamu bisa menunggu ku pulang Lexa. Aku sudah berkali-kali bilang--"
"Kamu tidak membalas pesan ku El. Kamu mengabaikan pesan ku. Kamu online. Tapi kenapa kamu mengabaikan pesan ku? Apa kamu sedang membalas pesan dari perempuan lain?" Nada Lexa mulai meninggi. Rasa kesal dan sesak yang ia rasakan tadi mulai menyelimuti Lexa.
Elden membuang nafasnya, lelah. "Untuk apa aku bersama perempuan lain Lexa? Sedangkan bersama kamu itu sudah cukup buat ku." Jawab Elden berusaha bersabar.
Kedua tangan Lexa mengepal. "Terus kenapa kamu online tapi tidak membalas pesan ku?" Tanya Lexa sedikit melembut
"Aku tidak tau sayang. Selama rapat aku tidak memegang ponsel ku sama sekali."
Lexa tidak semudah itu untuk percaya. Ditambah dengan pikiran negatif, hal itu semakin menguatkan emosionalnya. "Lalu kenapa bisa kamu online? Tidak mungkin online sendiri. Kamu pasti membuka ponsel kamu. Atau kamu memberikan ponsel kamu ke yang lain?" Tebakan dan duga-dugaan negatif semakin membuat Lexa tersiksa sendiri.
Elden mengacak rambutnya kasar. "Aku benar-benar tidak tau Lexa! Aku tidak tau! Tidak ada yang berani memegang ponsel ku! Aku dari tadi rapat Lexa. RAPAT! BUKAN SIBUK DENGAN PEREMPUAN LAIN!" Bentak Elden. Emosinya lepas begitu saja tanpa Lexa duga.
Tubuh Lexa langsung mematung dibuatnya. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bisa berfikir positif tentang ku Lexa? Aku suami mu. Kamu tau aku. Kamu sudah mengerti bagaimana aku Lexa!"
Lexa hanya mampu menundukkan kepalanya dengan air mata yang mulai jatuh membasahi kedua bola mata indahnya.
"Aku sudah rela meninggalkan pekerjaan ku buat kamu. Aku sudah rela cuti buat temenin kamu. Apa itu masih belum cukup buat kamu Lexa? Aku kerja Lexa. Aku punya tanggung jawab yang harus aku selesaikan. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Tidak bisakah kamu mengerti sedikit?" Nada bicara Elden mulai merendah. "Jawab Lexa. Jangan diam!"
"Hiks!" Tangis Lexa pecah. Kepalanya menggeleng pelan. Kepalanya perlahan mendongak dan langsung bertatapan dengan suaminya. "Maaf, Hiks!"
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
__ADS_1
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊