
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Sialan kau!" Desis pria itu tidak terima.
Sementara Bram hanya menatap datar ke arah lawannya. "Bukankah kau bilang pada ku jika aku hanya bocah ingusan? Tapi sekarang lihat? Bocah ingusan ini telah berhasil mengalah kan mu." Ucap Bram dengan menatap remeh ke arah lawannya.
Suasana terasa menegangkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perjudian sang ketua telah berhasil di kalahkan oleh seorang bocah yang tidak diketahui identitasnya.
"Sesuai taruhan, uang ini akan menjadi milik mu." Ucap sang pemilik tempat perjudian itu yang menjadi wasit di kala permainan berlangsung. Namun sayangnya pria yang menjadi lawan Bram tidak terima sama sekali.
"Enak saja. Bocah itu pasti bermain curang!" Dengan nada yang tinggi ia mengatakannya. Tubuhnya bangkit dari tempat duduknya. Tatapan tidak suka ia layangkan ke arah Bram.
Cuih..
Bram meludah ke samping. Sontak saja perbuatannya membuat mereka yang ada disana menatap kaget dengan apa yang ia lakukan. Bram benar-benar berani meludah di depan orang yang salah. "Tong kosong nyaring bunyinya." Ucap Bram sambil menatap ke arah lawannya.
"Bunuh bocah itu sekarang juga!" Titah pria itu ke semua bodyguard yang ia miliki.
"Baik!" Jawab bodyguard dengan serentak. Mereka semua langsung maju menyerang ke arah Bram.
Bram dengan gesit langsung menghindar i serangan. Pukulan-pukulan ia layangkan ke arah musuhnya. Mulai dari pukulan di perut, dada, kepala hingga rahang. Semua tidak luput dari pukulan Bram.
Perlahan demi perlahan bodyguard yang menyerang Bram mulai berjatuhan. "Ternyata kau lebih pengecut dari apa yang aku bayangkan. Kau hanya berani berlindung di balik tubuh orang lain. Pantas saja kau mudah dikalahkan oleh bocah seperti ku." Ujar Bram tanpa rasa takut.
__ADS_1
Semua orang yang berada di sana memilih untuk menjaga jarak. Ada yang memutuskan untuk pulang. Ada yang memutuskan untuk tetap stay disana.
Kedua tangannya mengepal kuat. Merasa tidak terima dikatai seperti itu. "Kau terlalu banyak bicara bocah!"
Dan..
Dor.. Dor.. Dor..
Bunyi tembakan bertubi-tubi terdengar di seluruh penjuru ruangan.
Bram hampir saja tertembak jika tidak cepat bersembunyi di balik dinding. "Baiklah. Jika dia mainnya seperti itu. Maka aku akan bermain lebih dari itu." Gumamnya pelan. Setelah itu Bram mengeluarkan sebuah peledak yang telah ia rancang khusus sendiri.
Direset nya waktu yang ada peledak itu yaitu 30 detik.
"Satu. Dua. Tiga." Dalam hitungan ke tiga Bram langsung melempar peledak itu ke titik tengah ruangan.
"Itu Bom! Semuanya keluar!" Jerit salah satu orang yang ada di sana.
Namun sayang, asap langsung keluar membuat mata mereka perih.
"Inilah waktunya Bram. Habisi mereka semua lalu perluas daerah kekuasaan mu." Ucap Bram pada dirinya sendiri.
Sebuah seringai tipis tersungging di bibirnya. Senyuman kemenangan terukir jelas di wajah Bram. Tidak ada penyesalan sama sekali di dalam dirinya. "Tinggal beberapa langkah lagi aku akan memiliki kamu sayang." Lirihnya pelan. Kemudian Bram segera membawa satu koper yang berisi emas batangan dan beberapa uang jutaan dolar. Lalu Bram meninggalkan sebuah jejak nama disana yaitu "Ruddin" dengan berlambangkan sebuah mahkota kecil di huruf R nya.
Sementara itu kini Elden tengah disibukkan di markas persenjataan miliknya.
"El, aku merasa tingkah Bram sekarang mulai berubah. Dia terlihat menjaga jarak dengan kita. Apakah kau merasakan nya juga?" Tanya Rafael dengan berdiri bersandar di dinding.
Elden yang awalnya sibuk meneliti pistol miliknya langsung menghentikan kegiatannya. "Ya. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi untuk sekarang kita awasi terlebih dahulu. Jangan sampai terlihat oleh Bram jika kita mengawasinya." Ujar Elden lalu kembali fokus dengan pistol kesayangannya.
Rafael mengangguk mengerti. "Bagaimana dengan luka mu? Apakah sudah lebih baik?" Tanya Rafael lalu menyalakan putung rokoknya. Jangan terkejut. Rafael akan merokok jika ada masalah dengan kekasihnya yang bernama Nanik. Meskipun Rafael bermain celap-celup sana sini. Tapi di hatinya tetap Nanik seorang.
"Sudah lebih baik." Jawab Elden. Setelah itu berjalan mendekati sebuah mesin yang ada disana. "Kau ukir nama Crishtian di pistol itu." Titah Elden ke anak buahnya.
"Baik Tuan." Jawabnya dengan sopan.
__ADS_1
Rafael yang melihat itu lantas langsung menegakkan tubuhnya. "Apakah kau serius ingin mendirikan sebuah keluarga Mafia yang bernama Keluarga Crishtian?"
"Hm." Elden hanya menjawab nya dengan gumaman..
"Aku tidak pernah menyangka jika kau akan sebucin itu dengan Lexa. Ku kira kau hanya ingin bermain-main dengannya. Ternyata dugaan ku salah."
Tubuh Elden berbalik dan menghadap ke arah sahabat nya. "Aku juga tidak pernah menyangka jika aku akan melakukan sejauh ini Raf."
Rafael yang mendengarnya hanya bisa mendengus geli. "Ya. Itulah cinta El. Terkadang cinta membuat kita gila. Tapi terkadang cinta membuat kita lebih waras dari sebelumnya."
"Hahahaha.." Suara tawa terdengar. Untuk pertama kalinya Elden tertawa seperti itu. Terkesan menyeramkan bagi orang yang mendengarnya. "Kau benar Raf. Cinta terkadang juga membuat kita buta." Ujarnya dengan sebuah seringai tipis yang menyeramkan.
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..