
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku π€
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya π
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata π€
Happy Reading
***
Di kamar yang berdominasi warna merah itu terlihat seorang perempuan tengah tengkurap di atas ranjang. Dengan memakai hot pants warna putih dan juga baju crop top berwarna hitam, Lexa dengan santainya membaca buku sambil mendengarkan musik. Kakinya yang jenjang itu sesekali bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mengikuti irama lagu. Sedangkan salah satu tangannya sesekali bergerak untuk mengambil cemilan yang tersedia di depannya. Kepalanya mengangguk-ngangguk pelan ketika mengerti apa yang dimaksud dengan isi penjelasan dalam buku. Namun, baru tiga puluh menit membacanya, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Sehingga mau tidak mau hal itu membuat Lexa mendesah kecewa dan bangkit dari posisinya, berganti menjadi duduk bersila sambil memegang ponsel di tangannya.
Rafael : Gue ingin ketemu sama lo malam ini. Bisa?
Lagi-lagi pesan Rafael masuk ke dalam ponselnya. Ingin rasanya Lexa memblokir nomor itu, namun entah kenapa Lexa merasa jika nomor itu akan penting untuknya di kedepannya nanti.
Jemarinya yang indah dan lentik itu langsung mengetikkan sebuah pesan.
Lexa : Untuk apa kak?
Hanya kalimat itulah yang Lexa kirim ke Rafael. Menurut Lexa, Lexa sudah tidak mempunyai hubungan apapun yang berkaitan dengan Elden maupun Rafael.
Rafael : Ini tentang Elden dan keselamatan mu sendiri.
Tidak lama kemudian Rafael membalas pesan miliknya. Sepertinya Rafael tengah membalas pesannya.
Lexa : Aku sudah tidak punya urusan apapun tentang Elden.
Setelah mengirimkan pesan itu ke Rafael lantas Lexa langsung mengetikkan sebuah pesan ke Bram.
Lexa : Bram aku tidur dulu ya. Good night Bby β€
Dengan cepat Lexa langsung mematikan ponselnya. Tidak ingin menerima pesan apapun dari Rafael malam ini.
"Huftt.." Helaan nafas keluar dari mulutnya. Rasa lelah lagi-lagi membuatnya merasa malas.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Lexa masih belum tertidur. Pikirannya masih asik dengan apa yang di katakan Elden tadi ketika di kantin. Apalgi tadi Lexa sempat melihat sebuah darah yang berada di salah satu tangan Elden. Hal itu semakin membuat Lexa bertanya-tanya. "Kenapa Elden tidak kesakitan atau mengeluh ketika tangannya berdarah?" Gumam Lexa sambil memainkan pensil yang berada di genggaman tangannya. "Jika yang dikatakan Cheryl itu benar, apa Elden benar-benar tergila-gila padanya? Jika memang iya, tapi itu karena apa? Bahkan mereka tidak pernah sedekat nadi. Yang ada sejauh mentari.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka pelan. Sontak saja hal tersebut membuat Lexa langsung menoleh. "Mama?" Ujar Lexa sambil melihat Ayu yang sedang melihatnya.
"Mama ingin berbicara sesuatu. Apa bisa?" Tanya Ayu sambil menatap wajah Lexa.
"Tentu saja boleh Ma." Jawab Lexa sambil tersenyum.
Ayu yang melihat respon positif dari anaknya lantas melangkah masuk ke dalam kamar anaknya. Hanya ada lampu meja belajar dan lampu dekorasi yang Lexa nyalakan. Inilah yang akan Lexa lakukan jika ingin sendirian.
Ditariknya salah satu kursi kosong agar bisa duduk berhadapan dengan anaknya. Ditatapnya wajah Lexa dengan tatapan tak terbaca.
"Mama ingin cerita sesuatu sama kamu nak. Tapi mama mohon, jangan benci mama." Ujar Ayu sambil menatap penuh permohonan ke arah wajah anaknya.
Lexa tanpa ragu langsung mengangguk. "Bagaimana bisa aku membenci orangtuaku sendiri Ma." Jawab Lexa sambil tersenyum. Rambutnya ia rapikan lalu ia ikat menjadi satu.
Jawaban itu sontak saja membuat hati Ayu tertohok. Ada perasaan sedih dan sakit ketika anaknya menjawab dengan jawaban seperti itu. Akan tetapi, Ayu berusaha menguatkan hati dan perasaanya. Apapun yang akan terjadi nantinya, Ayu siap akan menerimanya. Bukankah berani berbuat harus berani menanggung resikonya? Bukankah itu sudah menjadi hukum alam? Iyakan?
"Kamu tau kan jika Mama berasal dari Indonesia?" Kata Ayu yang mulai membuka pembicaraan.
Lexa mengangguk. "Iya ma. Lexa tau." Iya memang benar Lexa tau jika mamanya orang Asia. Hanya saja, kenapa mamanya seakan-akan ingin mengungkit hal penting dari masa lalu.
"Mama sebenarnya bukan ibu kandung mu."
Bagaikan tersambar penting di siang bolong, kedua bola mata Lexa langsung membola. Begitu terkejut dengan apa yang mama nya katakan. Mulutnya sedikit terbuka. Tubuhnya membeku bagaikan patung.
Ayu sudah memperkirakan bagaimana respon anaknya ini.
Namun, Lexa langsung tertawa renyah. Berusaha menutupi keterkejutannya. "Mama kalau bercanda suka tidak mengenal waktu ih. Jangan bercanda dong ma." Seperti biasanya, Lexa akan menepuk pelan paha lawan bicaranya.
Ditatapnya dengan serius wajah Lexa. "Mama serius nak. Mama tidak bercanda." Kata Ayu dengan menatap sendu wajah Lexa. Jujur, Ayu belum sial untuk di benci Lexa yang sudah ia rawat dan ia anggap sebagai anaknya sendiri. Namun, kebenarannya harus tetap Ayu katakan. Ayu tidak ingin jika anaknya tau dari mulut orang lain. Bukankah itu akan menjadi semakin menyakitkan?
Tubuh Lexa menegang. "Lalu aku anak siapa ma?" Itulah yang menjadi pertanyaan Lexa sekarang.
Kepala Ayu menunduk. Tidak tau harus menjawab apa. Lexa yang melihat hal itu lantas berdiri dari tempat duduknya. Melepaskan genggaman tangan Ayu yang megenggam tangannya.
Kepala Ayu mendongak. Menatap penuh permohonan ke wajah anaknya. "Maafin mama." Dengan suara yang terdengar lirih Ayu mengatakannya.
__ADS_1
Lexa berdecih pelan. Buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya. "Aku tidak percaya yang mama bilang. Aku anak mama!" Suaranya meninggi. Ribuan pisau mulai menikam hatinya. Lexa tidak ingin mempercayai apa yang mama nya katakan. Meskipun Lexa tau jika mamanya tengah serius mengatakannya.
"Mama tidak bohong Lexa. Mama berkata jujur."
"Enggak! Mama bohong!" Jerit Lexa.
Pandangan mereka bertemu. "Demi Tuhan nak, kamu bukan anak kandung mama." Dengan suara yang lirih Ayu mengatakannya. Sontak saja hal tersebut membuat Lexa berjalan mundur. Kepalanya menggeleng. Jika mama nya sudah berkata "Demi Tuhan" maka tidak ada kebohongan yang tersirat di perkataan mama nya itu.
"Apa salah ku hingga mama selama ini menyembunyikannya sama aku?! Apa salah ku hingga maa tega bohongin aku?!" Bentak Lexa. Kedua bola matanya kini telah memerah. Kesedihan tersirat jelas dari wajahnya.
"Aku benci mama." Dengan suaranya yang rendah Lexa mengatakannya. Lantas, Lexa langsung berlari keluar dari dalam rumah. Mengabaikan hujan deras yang mengguyur indahnya malam.
***
TRAILER NOVEL PSYCOPATH VS CEWEK GALAK SUDAH TERSEDIA DI Chanel YouTube AKU YAπ₯°β€οΈπβ¨π« JANGAN LUPA TONTON YA GAISπ₯°π₯³βοΈ
Jangan lupa follow instagram mereka ya π€
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya π
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga π
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana π
Aku tunggu notifikasi dari kalian ya π Terimakasih teman-teman..