
...Pembukaan dengan yang tampan-tampan dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang tampan begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...
Hai Selamat Pagi lagi! Tidak terasa ya sebentar lagi bulan Puasa! Hehehehe, semoga Covid segera pergi ya! Agar bisa merayakan hari Raya Idul Fitri dengan meriah dan berjabat tangan seperti dulu-dulu lagi! - Elden Crishtian
...Happy Reading 🥳...
Drrt.. Drrtt.. Drrtt..
Ponselnya bergetar kuat di dalam saku celananya. Tanpa menunggu lama, Justin segera mengangkat sambungan telfon.
"Halo Om, ini Rafael." Ujar Rafael di sebrang sana. Terdengar jelas jika nafas Rafael sedang tidak beraturan.
"Ada apa Raf?" Tanya Justin sambil menatap orang yang berlalu lalang.
"Saya sudah mengikuti kemana perginya mobil Bram Om. Saat saya mengikutinya, saya melihat dengan kedua bola mata saya sendiri jika mobil yang Bram tumpangi, mengalami ketidakseimbangan hingga terjungkir balik dan meledak." Ujar Rafael kemudian minum air mineral. Kemudian melalui kode matanya, Rafael menyuruh anggotanya untuk pergi. "Bram telah tewas dalam peristiwa kecelakaan itu. Saya dengan bantuan teman-teman medis yang lain langsung mengecek jasad Bram. Hanya satu yang bisa saya temukan yaitu cincin, jam tangan dan dompet milik Bram. Sedangkan jasadnya sudah tidak bisa dikenali lagi."
Kening Justin berkerut. "Aku akan melihat jasadnya. Jangan kau kubur sebelum aku datang." Ujar Justin memberikan perintah.
"Baik Om. Saya akan mengirimkan titik lokasi nya agar Om bisa datang kesini. Saya tunggu." Jawab Rafael.
"Baiklah. Aku akan segera kesana." Kemudian Justin langsung mematikan sambungan telfon. Setelah itu Justin bangkit dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Dengan perlahan Justin membuka pintu ruangan putrinya. Disana Lexa masih memakannya.
"Lexa, Ayah pergi sebentar. Kamu nanti akan diantar oleh suster pribadi untuk ke ruangan Elden. Ayah ada urusan mendadak." Ujar Justin sambil mengambil jaket yang ada di meja.
Lexa menatap kecewa. Justin yang mengerti itu lantas menghampiri Lexa. Di usapnya dengan sayang pipi Lexa dengan menggunakan ibu jarinya. "Ayah hanya pergi sebentar, oke? Ayah akan segera kembali." Dikecupnya kening Lexa lembut.
Lexa mengangguk. Setelah itu Justin segera berjalan keluar ruangan.
"Tolong kau jaga Putriku. Jangan sampai ada orang asing masuk ke dalam ruangan ini." Ujarnya sebelum pergi.
"Baik Tuan." Jawab lima Bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasi dan menjaga Lexa.
Dengan begini Justin bisa pergi dengan tenang. Namun, saat dalam perjalanan di lorong rumah sakit, tanpa sengaja Justin berpapasan dengan Chayden, teman dari masa lalunya.
Chayden yang melihat Justin melewatinya begitu saja, langsung mengepalkan kedua tangannya. Lalu dengan ekspresi wajahnya yang datar, Chayden segera kembali ke ruangan Elden untuk mengecek keadaan Elden sebelum berangkat ke kantor untuk mengurusi beberapa hal penting yang harus ia selesaikan.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
Pintu ruangan Lexa di ketuk. Lexa yang baru saja selesai menyelesaikan makannya lantas membersihkan mulutnya dengan tisu yang disediakan.
"Permisi Nona, saya ditugaskan oleh tuan Justin untuk mengantarkan nona ke ruang Elden." Dengan sopan ia menyampaikan maksud dan tujuannya. Mengingat jika putri dari tuannya mengalami trauma karena kejadian naas yang menimpanya.
Lexa menatap perempuan muda itu dengan selidik. Tatapannya menatap sinis ke arah perempuan dihadapannya. Sejak kejadian itu, Lexa menjadi jauh lebih waspada daripada sebelumnya. "Iya." Jawabnya singkat.
Kemudian perempuan itu melangkah mendekat. Membuat Lexa bersikap was-was dengan tangan mengepal dibalik selimutnya.
"Saya akan membersihkan tempat makanan nona terlebih dahulu." Ijinnya. Setelah itu ia mengambil tempat makanan Lexa untuk ia letakkan kembali ke tempatnya.
Selanjutnya ia mengambil kursi roda untuk Lexa duduki. "Mari nona." Ujarnya sambil mengulurkan tangannya ke Lexa.
Lexa menatap ragu ke arah tangan itu.
Suster yang melihat keraguan di wajah Lexa lantas langsung tersenyum. "Ayo nona. Saya tidak akan macam-macam. Nona bisa percaya ke saya." Ujarnya meyakinkan Lexa.
Lexa menghela nafasnya. Keraguan dan pikiran negatif yang menganggu nya berusaha ia enyahkan. "Iya." Jawabnya. Lalu tangannya bergerak menerima uluran itu.
Dengan tersenyum, suster membantu Lexa untuk duduk di kursi roda. Meskipun sedikit kesulitan awalnya, akhirnya bisa juga.
"Jika ada yang sakit, nona bisa bilang ke saya. Saya akan membantu Nona." Kata suster itu ramah.
Merasa semuanya telah siap dan aman, kemudian ia langsung mendorong kursi roda Lexa dengan pelan. Dengan dibantu ke dua bodyguard yang berjaga di luar, pintu ruangan terbuka.
"Dua dari kalian tolong ikut. Sedangkan tiganya kalian berjaga disini. Jangan biarkan orang asing masuk ke dalam kamar ini." Ujar sang suster memberi nasehat.
"Baik." Jawab mereka patuh.
Setelah mengatakan hal itu, mereka semua berjalan ke ruang Elden yang terletak tepat di sebelah ruangan Lexa.
Lexa mengernyit heran. Ia kira jarak ruangan Elden dan ruangannya jauh. Ternyata bersebelahan.
Ceklek
Pintu ruangan dibuka. Jantung Lexaulai berdetak cepat. Perasaannya terasa tidak enak. "Elden baik-baik saja." Ujarnya berusaha menekankan pada dirinya sendiri.
Kursinya perlahan di dorong untuk masuk ke dalam. Kedua bola mata Lexa menatap ke arah sekeliling ruangan. Ruangan Elden terlihat bersih dan bernuansa warna putih dengan kelambu menutupi sebuah ranjang.
Lexa langsung terpaku ketika kelambu itu di sibak. Menampakkan seorang laki-laki dengan berbagai macam alat rumah sakit yang menempel pada tubuhnya.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa Lexa langsung menggerak-gerakkan kursi roda yang ia duduki. Kedua bola matanya berkaca-kaca. "Hiks! Elden." Jeritnya pilu. Kedua tangannya berusaha menggapai salah satu tangan kekasihnya yang bebas dari alat rumah sakit.
Suster yang mengerti akan situasi ini langsung melangkah keluar. Memberikan waktu berdua untuk Lexa dan Elden.
Lexa menangis. Hatinya terasa hancur ketika melihat kondisi Elden yang meng-khawatirkan. "Elden, Hiks!" Bibirnya terus memanggil nama kekasihnya. Berharap jika Elden akan terbangun dan memeluknya. "Elden bangun! " Jeritnya semakin histeris. Tubuhnya tak kuasa lagi menahan beban. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah juga. "Elden!"
Siapapun yang mendengar suara tangis Lexa, pasti akan ikut sedih.
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊