
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Bram telah berhasil membeli beberapa cemilan seperti kentang goreng, sosis bakar dan dua minuman milk bath vanila.
Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya Bram segera membawa makanannya menuju tempat kekasihnya berada.
"Sepertinya mereka sedang berbicara serius." Gumam Bram sambil berjalan menuju tempat Lexa.
Lexa yang melihat kedatangan kekasihnya lantas memberi kode ke Cheryl untuk berhenti bercerita. Untungnya, Cheryl mengerti akan kode itu.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Lexa sambil menatap wajah kekasihnya yang terlihat bahagia.
Bram langsung mengambil duduk di sebelah kekasihnya. "Maaf sayang, aku tadi harus antri dulu." Ujar Bram menjelaskannya. Di taruh nya makanan dan minuman yang ia bawa tadi di meja.
"Terimakasih Bram. Maaf kalau aku merepotkan kamu." Kata Lexa sambil menatap wajah Bram. Sungguh, sejak hubungan Lexa dan Bram berubah menjadi pasangan, Lexa rasa sekarang Bram semakin terlihat tampan.
Sementara itu, kini Elden tengah berjalan menuju kantin. Mood nya terlihat lebih baik dari sebelumnya. Hanya membayangkan pertemuannya antara dirinya dengan Lexa, hal itu sudah sukses membuatnya bahagia. Meski tidak terlihat dari ekspresinya. Namun sangat terlihat jelas dari pancaran kedua bola matanya.
Namun, baru saja kebahagiaan menyapanya, emosi langsung datang menghampirinya. Disana, perempuan yang ia cintai tengah duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki yang tidak ia sukai. Kedua bola mata yang awalnya terpancar kebahagiaan kini berubah menjadi tatapan tajam dan mematikan. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Rasa ingin membunuh dan melenyapkan Bram dari sisi Lexa semakin besar. Kecemburuan dan amarah melingkupinya.
Dengan langkahnya yang lebar, Elden berjalan menghampiri meja dimana Lexa berada.
Lexa yang melihat ke datangan Elden langsung bermuka datar. Senyuman yang semula tersungging di bibirnya langsung luntur begitu saja.
Bram yang melihat perubahan ekspresi di wajah kekasihnya lantas langsung menoleh. Dan benar saja, disana sudah ada Elden kakak kelasnya yang ia temui di kantin umum waktu itu.
Tanpa menyapa, tanpa senyuman, Elden langsung menggeser tempat duduk kosong dan duduk berhadapan langsung dengan Lexa.
"Kenapa lo sama sekali?" Ujar Lexa dengan nada yang sarkas. Terlihat dari kedua bola matanya, Lexa memandang tidak suka ke arah Elden.
__ADS_1
Cheryl yang merasakan hawa mulai tidak enak, lebih memilih untuk menjadi penengah. "Mungkin kak Elden lagi ada urusan dulu." Kata Cheryl dengan nada yang terdengar lembut. Namun, pandangan kedua bola mata Elden tidak berubah sama sekali. Kedua bola matanya hanya menatap kurus ke arah wajah Lexa.
Bram merasa aneh dengan pandangan kakak kelasnya itu. Entah hanya sekedar perasaanya atau apa, Bram merasa jika tatapan Elden bagaikan isyarat akan bencana.
Demi menghilangkan pikiran negatifnya, Bram langsung megenggam salah satu tangan Lexa yang ada di atas meja.
Lexa yang merasakan genggaman tangan itu, lantas langsung menoleh. "Jangan emosi sayang." Bisik Bram dengan suara yang rendah. Namun masih bisa terdengar di pendengaran Elden.
Tanpa mereka sadari, di bawah meja tangan Elden tengah megenggam sebuah pisau lipat yang kecil. Dengan keahliannya, Elden membuka pisau lipat itu dengan menggunakan satu tangannya.
Rasa cemburu melingkupinya. Di hati dan pikirannya terus bersorak "Lexa adalah milik ku. Milik ku. Hanya milik ku. Dia harus mati. Harus mati." Lalu, di cengkeramnya pisau lipat itu hingga membuat telapak tangannya berdarah. Tidak ada rintihan kesakitan. Hanya sebuah seringai tipis yang tersungging di bibirnya.
Cheryl yang melihat sekilas seringai itu langsung bergidik ngeri. Seringai yang sama di waktu kemarin saat Elden menyekapnya.
"Gue ingin bilang sama lo. Gue sudah punya Bram." Dengan nada penuh penekanan Lexa mengatakannya. Tidak ada rasa takut apapun ketika Lexa mengatakannya. Meskipun tatapan Elden kini terlihat datar. Namun Lexa mengabaikannya. Kedua bola matanya menatap langsung kedua bola mata Elden.
"Jadi berhenti ganggu gue!"
Bram yang mulai mengerti arah pembicaraannya lantas langsung merangkul bahu kekasihnya. Menunjukkan jika Lexa adalah miliknya.
Elden menyeringai tipis. Sepertinya permainan semakin menarik. Salah satu tangan Elden yang berada di bawah meja langsung terbuka. Darahnya menetes di lantai. Tidak ada rasa sakit yang ia rasakan. Hanya rasa puas yang melingkupinya.
Pandangan Elden beralih ke arah pria yang duduk di sebelah Lexa. Tatapannya berubah menjadi tatapan remeh."Iya. Gue suka sama Lexa." Jawab Elden dengan singkat. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.
Sedangkan Bram mengepalkan salah satu tangannya. "Lexa cewek gue." Dengan nada penuh tekanan Bram mengatakannya. Begitupun juga dengan Lexa. "Gue sudah memperjelas semuanya. Gue ngga ada rasa sama lo." Kata Lexa. Tangannya mengelus pelan lengan berotot milik Bram.
Bram yang merasakan usapan halus itu merasa sedikit tenang.
Cheryl?
Sekarang Cheryl merasa bagaikan obat nyamuk di antara cinta segitiga ini. Bolehkah Cheryl pergi dari sini?
Akan tetapi, nyali Cheryl tidak sebesar itu untuk melangkah pergi dari tempatnya sekarang. Salah kata, maka nyawa Cheryl yang terancam. Salah sikap, maka jangan harap Cheryl bisa lepas dari cengkraman Elden.
Rafael yang sedari tadi berkeliling mencari Elden, lantas langsung menghembuskan nafasnya dengan lega. "Akhirnya ketemu juga. " Kata Rafael di dalam hatinya. Namun, pandangannya langsung membulat sempurna ketika melihat di sana ada Lexa dan Bram. "Bisa gawat jika Elden tidak di cegah." Ujar Rafael. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rafael langsung berlari menuju tempat Elden.
Lagi-lagi Rafael di buat terkejut. Salah satu tangan Elden berdarah akibat pisau lipat yang berada di genggaman nya. "Lo ngapain disini?" Tanya Rafael basa-basi. Meskipun sebenarnya juga Rafael tau kenapa Elden disini.
Lantas Elden bangkit dari duduknya. Wajahnya berubah datar. Sebuah smirk menakutkan tersungging di bibirnya. "Apa yang menjadi milik ku maka akan tetap menjadi milik ku."
***
__ADS_1
- Bram Alexander
- Lexa Aldora
- Elden Crishtian
- Mita
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..
__ADS_1