
"Raf, kamu kenapa?" Tanya Nanik lirih. Kedua bola matanya menatap Rafael penuh selidik. Sudah hampir tiga puluh menit, Nanik mengamati tingkah Rafael.
Rafael tersentak kaget. Tubuhnya berbalik menatap wajah perempuan yang ia cinta. Pikirannya penuh dengan pekerjaan dan persoalan. "Tidak apa-apa sayang." Jawab Rafael berbohong.
Nanik tersenyum kecut ketika mendengar perkataan bohong Rafael. "Raf." Lirih nya pelan. Tatapannya tidak lepas dari wajah tampan milik kekasihnya.
"Iya sayang?" Sahut Rafael. Kedua bola matanya menatap wajah Nanik. Ada perasaan aneh singgah di hati kecil Rafael.
Sebuah senyuman tersungging di bibir Nanik. Kemudian ke dua kakinya mulai melangkah mendekat ke arah Rafael. Tepat di hadapan Rafael, Nanik sedikit mendongak. Mengingat jika badan Rafael jauh lebih tinggi dari tubuhnya. Kalian pasti masih mengingat kan jika Rafael ini kakak kelas dari Nanik ketika di Senior High School? "Jika ada apa-apa bilang ya Raf. Aku pasangan kamu bukan?" Ucap Nanik membuat Rafael tertegun.
Bibirnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu. Namun tertutup kembali ketika mengingat resiko yang harus ia hadapi nanti. "Iya sayang. Kamu pasangan aku. Maaf sudah membuat kamu khawatir. Aku baik-baik saja." Kata Rafael menenangkan.
Cup..
"Ayo kita tidur sekarang. Besok aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan ku." Ujar Rafael membuat kening Nanik berkerut, curiga.
"Bukankah besok hari Minggu? Kenapa kamu harus bekerja lagi Raf?"
Rafael tersenyum manis. Lebih baik Rafael menyembunyikan hal ini dari kekasihnya. "Besok aku harus mengecek gudang markas sayang. Ayo tidur."
Ada perasaan mengganjal disini. Setiap kalimat yang dikeluarkan oleh Rafael membuat perasaan Nanik tak nyaman. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kekasihnya ini?
Sementara itu di apartment berbeda terlihat sepasang suami tengah tertidur di atas ranjang mewahnya. Keduanya saling berpelukan erat. Tidak memberikan jarak. "El, apa kamu mengantuk?" Tanya Lexa. Lampu kamar telah dimatikan. Menyisakan lampu di atas tempat tidur putranya. Ya, sampai detik ini Garvin tetap tidur di satu kamar dengan orang tuanya. Hanya saja Garvin memiliki tempat tidur sendiri.
__ADS_1
Elden menoleh. Hidung mancung milik Elden seketika bersentuhan dengan kening Lexa. "Belum sayang." Jawab Elden.
"Yes." Seru Lexa senang. "Aku juga belum mengantuk El. Bagaimana jika kita bermain permainan?" Usul Lexa yang langsung diangguki oleh Elden.
Tubuh Elden yang semula terlentang lantas berbalik dan menghadap ke arah Lexa. Ditatapnya penuh cinta wajah istrinya. "Mau bermain apa baby?" Tanya Elden dengan suara berat.
"Uh, aku jadi ingin mendengar suara desahan Elden." Ujar Lexa dalam hati.
"Sayang.." Panggil Elden tidak kunjung mendapatkan jawaban.
"Ah iya.." Seru Lexa terkejut. Maafkan Lexa, pikirannya tadi mulai berkelana jauh. Hingga akhirnya sebuah ide jahil terlintas di otak mungilnya. "Bagaimana jika kita bermain Truth or Dare suami ku?"
Tanpa berfikir panjang Elden menyetujuinya. Lihat lah, laki-laki Psycopath ini sudah bucin terhadap wanitanya.
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
__ADS_1
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
__ADS_1