
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku π€
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya π
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata π€
Happy Reading
***
Jalanan kota tampak sepi. Hujan deras mengguyur kota. Ada perasaan cemas dan khawatir ketika mengingat kondisi Lexa yang rentan akan air hujan.
Lagi-lagi Elden menambah kecepatannya. Untung saja Elden adalah pembalap mobil dan motor yang handal.
Sudah hampir sepuluh menit lamanya Elden menyelusuri jalanan kota. Namun tak kunjung mendapatkan Lexa.
"Sial! Kamu dimana Lexa!" Ujar Elden dengan nada yang terdengar kesal. Dipukulnya setir kemudinya dengan kesal. Akhir-akhir ini Elden mudah sekali terpancing emosinya apalagi berkaitan dengan Lexa. Apapun yang berkaitan dengan Lexa yang berbau negatif untuknya maka hal itu akan semakin mudah membuat emosinya terpancing.
Elden mencoba untuk mengontrol emosinya dengan mengurangi kecepatan mobilnya. Dan benar saja, baru saja mengurangi kecepatan mobilnya, Elden sudah bisa menemukan perempuan yang ia cintai.
Dengan terburu-buru Elden menyusul Lexa dan berhenti tepat disamping Lexa.
Lexa yang merasa ada mobil yang menghampirinya lantas menoleh. "Siapa?" Itulah yang menjadi pertanyaan di benaknya. "Perasaan aku tidak pernah punya teman atau kenalan yang punya mobil sport seperti ini." Gumam Lexa sambil mengusap air mata yang masih membekas di kedua bola mata cantiknya.
Elden mengambil payung yang telah tersedia di sampingnya. Dibukanya pintu mobil dengan tergesa-gesa. Tidak lupa juga untuk membuka payungnya agar tidak membuat bajunya basah karena air hujan.
Kening Lexa berkerut. Sosok pria di hadapannya terlihat sangat familiar di hadapannya. Tapi siapa? Kenapa Lexa tidak bisa mengingatnya sama sekali?
"Lo ngapain hujan-hujan-an?!"
Suara bentakan yang sangat ia kenal. Itukan Elden?! Kedua bola matanya nyaris keluar dari tempatnya. Ditatapnya dengan aneh pria di hadapannya.
__ADS_1
"Lo ngapain disini?" Tanya Lexa sambil melangkah mundur menjauhi Elden. Suaranya bahkan hampir tertelan oleh bunyi air hujan. Kepalanya mendongak untuk menatap Elden yang jauh lebih tinggi darinya. Kedua bola matanya menatap tepat kedua iris bola mata Elden.
Elden yang melihat pergerakan Lexa lantas dengan sigap Elden langsung menarik possesive pinggang Lexa agar tidak menjauh darinya. "Jangan jauh-jauh." Dengan suara yang terdengar rendah dan tegas Elden mengucapkannya.
"Lepasin!" Jerit Lexa sambil berusaha melepaskan pelukan Elden yang berada di pinggangnya.
"Enggak akan pernah." Jawab Elden dengan tegas. Gila saja Elden melepaskan Lexa begitu saja. Sudah capek-capek mencari Lexa untuk apa Elden melepaskannya begitu saja. Setidaknya Elden harus mendapatkan bayaran apa yang telah ia lakukan sekarang.
Salah satu tangan nya memegang payung sedangkan salah satu tangan nya ia gunakan untuk memeluk possesive pinggang Lexa.
Sekarang payung yang Elden gunakan dipakai berdua untuk memayungi perempuan yang ia cinta. Untungnya payung itu tidak terlalu kecil.
Tiba-tiba suara guntur terdengar. Kilatan tercetak jelas di atas langit. Hal itu sontak membuat Lexa reflek langsung memeluk Elden.
Ingat, Lexa itu reflek. Bukan sengaja atau modus. Yang namannya modus itu tidak ada di dalam kamus Lexa kecuali bersama Bram. (Kalau sama Bram modusnya lancar ya Lexaπ)
"Ikut aku." Titah Elden. Tanpa menunggu persetujuan dari Lexa, Elden langsung menarik pergelangan tangan Lexa.
"Lepasin El! Kamu mau bawa aku kemana?!" Lexa berusaha memberontak dan melawan Elden. Namun hal itu seakan-akan sia-sia. Bahkan Elden tidak goyah sama sekali. Akan tetapi cengkraman di pergelangan tangannya semakin menguat.
"Masuk." Didorongnya tubuh Lexa kedalam mobilnya. Lalu ditutupnya pintu mobil itu hingga membuat pintu mobil otomatis terkunci.
Lexa yang mendengar pintu mobil otomatis terkunci langsung merasa takut. Rasa takut dan khawatir langsung menyelimutinya. Apalagi ketika mengingat apa yang diceritakan Cheryl padanya tadi di kantin sekolah.
Sedangkan Elden hanya diam dan seperti biasanya. Sosok yang dingin dan irit berbicara. Namun tidak suka di bantah. Itulah yang dapat Lexa tangkap dari sikap Elden.
Dibukanya pintu mobil. Membuat Lexa langsung menoleh dan menatap Elden dengan pandangan tak terbaca. Ingin lari tapi sudah terkunci. Jadi apa yang harus Lexa lakukan sekarang? Ingin pulang tapi Lexa sedang bertengkar dengan mama nya. Apakah Lexa harus mengikuti Elden?
"Ihh! Kenapa aku pergi tidak membawa ponsel!" Gerutu Lexa di dalam hatinya. Bahkan Lexa tidak memakai sendal! Hanya membawa tubuhnya tanpa membawa dompet atau apapun itu. "Kenapa aku harus sial banget hari ini!" Lagi-lagi Lexa menggerutu di dalam hatinya.
Elden yang melihat ekspresi wajah Lexa yang terlihat kesal itu seketika membuat Elden menahan senyumnya. Untuk pertama kalinya Elden ingin tertawa. Namun, berhubung harga dirinya sebagai laki-laki yang di kenal dingin, Psycopath dan cuek membuat Elden harus menahan tawanya. Elden tidak ingin harga dirinya sebagai laki-laki jatuh begitu saja.
Dinyalakannya mesin mobilnya dan mulai berjalan dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil suasana terasa tidak nyaman untuk Lexa. Hening dan tidak ada obrolan apapun. Menurutnya ini terlalu canggung. "Ingat Lexa, kamu di bawa paksa oleh laki-laki disamping mu ini." Kata Lex di dalam hatinya.
__ADS_1
10 menit telah berlalu. Lexa sudah terlalu sabar dalam keterdiama nya. Dan sekarang Lexa sudah tidak terlalu sesabar itu dalam bertahan di keheningan ini. Dipegangnya dengan erat sabuk pengaman yang terpasang sempurna di tubuhnya. "Lo mau bawa gue kemana?" Tanya Lexa sambil menatap wajah Elden yang tengah fokus menyetir.
"Menurut lo?" Jawab Elden tanpa menoleh sama sekali.
"Ya mana gue tau!" Rasa kesal semakin menyelimutinya setelah mendengar jawaban Elden. "Gue tidak akan tanya kalau gue tau jawaban nya ****!" Ujar Lexa dengan nada yang ngegas.
Elden langsung tertawa renyah. Untuk pertamakali di dalam hidupnya Elden dikatai ****/bodoh sama perempuan.
Kening Lexa berkerut, heran. "Apa lo sehat?" Pertanyaan spontan keluar lagi di dalam mulutnya.
Namun lagi-lagi Elden tertawa namun tidak seperti sebelumnya. Kini hanya senyuman tipis yang tersungging di bibirnya. "Ternyata lo berani juga ngatain gue ****."
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya π€
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya π
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga π
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana π
Aku tunggu notifikasi dari kalian ya π Terimakasih teman-teman..