
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Menangis lah. Jangan kamu tahan. Aku disini untuk mu." Bisik Elden sambil mengusap punggung Lexa dengan lembut.
Tangis Lexa langsung pecah begitu saja. Ditenggelamkan wajah nya di dada bidang Elden. Bibir nya ia gigit pelan. Berusaha untuk tidak bersuara. Hanya air mata yang semakin deras membasahi kedua bola matanya.
Elden memejamkan kedua bola matanya. Hatinya terasa sakit ketika melihat perempuan yang ia cinta menjadi rapuh seperti ini. Di peluknya dengan erat tubuh mungil itu. Sesekali Elden mengusap punggung Lexa dengan lembut. "Hstt.. tenanglah." Bisik Elden pelan. Di kecup nya dengan sayang puncak kepala Lexa. Aroma harum dari shampo yang Lexa gunakan membuat Elden tersenyum. Aroma shampo yang dipakai Lexa benar-benar mempunyai aroma wangi yang enak.
Hampir selama sepuluh menit posisi Elden dan Lexa saling berpelukan satu sama lain.
Tubuh Elden mulai terasa pegal. Apalagi tubuh Lexa yang sedikit lebih pendek darinya.
"Tenanglah Lexa. Jangan menangis. Aku ada disini." Bisik Elden di telinga Lexa.
Lexa menggeleng pelan. Tubuh nya sudah tidak bergetar seperti beberapa menit yang lalu. Lexa sudah mulai sedikit lebih tenang. "Tuhan, kenapa aku harus seperti ini? Kenapa aku harus menangis seperti ini sedangkan Mommy ku adalah sosok perempuan yang tangguh. Aku ingin sekali bertemu dengan nya Tuhan. Aku ingin sekali bertatap muka dengan Mommy. Aku ingin melihat wajah nya. Aku ingin memeluknya. Bohong jika aku tidak merindukannya. Nyatanya aku selama ini merindukannya. Aku ingin bertemu dengan nya. Aku juga ingin bertemu dengan Daddy ku. Aku juga ingin mengetahui apa alasan Daddy bersikap seperti ini." Ujar Lexa di dalam hatinya. "Sekali saja, aku mohon sangat pada-Mu. Pertemukan aku dengan mereka berdua. Aku tidak akan pernah meninggalkan Mama. Tidak akan pernah. Aku juga tidak akan pernah membencinya. Aku berjanji pada-Mu Tuhan." Tambahnya lagi. Wajahnya terlihat sembab. Hidungnya terlihat memerah. Sesekali Lexa mengusap ingusnya di kaos Elden. "Biarkan saja. Siapa suruh modus di saat seperti. Mengambil kesempatan dalam kesempitan."
Elden menahan tawanya setiap kali perempuan yang berada di dalam pelukan nya membuang ingusnya di kaos miliknya. Sebenarnya Elden paling tidak suka dengan perempuan yang jorok. Akan tetapi, untuk Lexa itu bisa menjadi pengecualian. Bukannya marah. Elden malah tersenyum. Merasa gemas dengan suara setiap kali Lexa membuang ingusnya. Sepertinya Elden harus di bawa ke Psikologi lagi.
"Sudah tenang?" Tanya Elden dengan suara yang lembut ketika merasakan pelukan di tubuh nya mulai terlepas.
__ADS_1
Lexa mengangguk dengan kepala yang menunduk. Setelah pelukan nya terlepas, entah kenapa Lexa merasa suasana yang terjadi sekarang terasa sedikit canggung. Padahal, biasanya Lexa dan Elden jika bertemu selalu terlihat seperti Tom and Jerry. Tidak ada akurnya sama sekali.
Elden hanya tersenyum tipis melihatnya. "Apa lo mau tidur sekarang?" Tanya Elden. Berusaha memecahkan keheningan.
Kepala Lexa langsung mendongak. Kedua bola matanya langsung terkunci dengan kedua bola mata tajam laki-laki yang ada di hadapannya. "Sepertinya itu bukan ide bagus." Gumam Lexa dengan suara yang terdengar rendah.
Elden yang mendengar hal itu langsung menggelengkan kepalanya pelan. "Terus lo mau ngapain? Hm?" Didekatkan wajah nya dengan Lexa. Sontak saja Lexa langsung melangkah mundur.
"Lo jangan macam-macam sama gue!" Dengan nada penuh penekanan Lexa mengatakan nya. Kedua alisnya menukik tajam. Menjadi sebuah tanda jika Lexa tidak suka dengan apa yang dilakukan Elden tadi.
Elden mengangguk mengerti. Sedikit terkejut dengan respon Lexa. "Iya, gue tidak akan berbuat sesuatu sama lo. Tenang saja. Gue juga bukan tipe pria yang suka memaksa perempuan untuk tidur dengan gue."
"Hah?" Lexa langsung di buat cengo. Mulutnya sedikit terbuka. "Apaan si lo." Lexa langsung berjalan menuju kursi yang ada di meja belajar.
Lantas Elden memutuskan untuk duduk di pinggiran tempat tidur. Kedua bola matanya bergerak, memandangi seluruh penjuru ruangan kamar gadisnya. Bahkan Elden rasa, kamar yang di gunakan Lexa masih jauh lebih besar kamar mandi yang ada di apartment pribadi nya.
Lexa memutar kedua bola matanya malas. Mengerti dengan tatapan itu. "Iya gue tau kamar gue kecil. Lebih besaran kamar lo daripada kamar gue." Ujar Lexa sambil mengambil beberapa tisu untuk Lexa gunakan sebagai pembersih tangan nya yang terasa kotor.
"Iya, terserah lo." Ujar Lexa merespon perkataan Elden. Setelah di rasa tangannya telah bersih, Lexa langsung membuang tisu yang telah ia pakai di tempat sampah yang terletak di samping meja belajarnya. "Kenapa gue bisa nangis di pelukan dia?!" Gerutu Lexa dengan kesal. Merasa menyesal dengan apa yang ia lakukan beberapa menit yang lalu.
Sedangkan Elden hanya tersenyum memperhatikan apa yang di lakukan Lexa. Meskipun Elden tidak mendengar apa yang di katakan Lexa.
"Kenapa lo bisa tau rumah gue?" Pertanyaan itu langsung spontan keluar dari dalam mulutnya. Tubuh nya langsung menghadap ke arah Elden. "Sial! Kenapa gue baru menyadarinya sekarang si?!" Umpat Lexa di dalam hatinya.
Salah satu alis Elden terangkat. "Apapun yang berkaitan dengan milik ku, aku pasti akan mencari taunya." Ucap Elden dengan tenang. Tubuhnya langsung Elden tegakkan kembali.
"Apa maksud mu?" Otak Lexa masih belum siap menerima serangan yang bertubi-tubi.
Elden langsung menatap serius ke arah wajah Lexa. Pandangan nya terkunci tepat di kedua bola mata perempuan yang telah ia klaim menjadi milik nya. "Kamu cantik dan kamu milik ku. Kamu indah dan kamu adalah milik ku. Apapun yang ada di dalam dirimu adalah milik ku. Bahkan kematian mu, akulah yang menentukannya. Lari lah semampu mu, maka aku akan datang untuk menemukanmu. Karena kamu adalah milikku. Hanya milik seorang Elden Crishtian. Jika ada yang berani menyentuhmu, maka hanya ada 2 pilihan yaitu Sekarat di Rumah Sakit atau pulang dalam keadaan mati."
Lexa di buat tertegun dengan apa yang dikatakan Elden. Kedua tangannya mengepal erat. Tidak suka dengan apa yang dikatakan Elden tadi padanya. "Kau aneh, dan aku tidak suka. Kau pemaksa sampai membuatku merasa heran. Aku siapa dan kamu siapa? Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Tapi, kau tiba-tiba datang dan hadir lalu mengatakan jika aku adalah milikmu. Please, jangan mimpi. Aku adalah milik diriku sendiri. Bukan milikmu Elden."
__ADS_1
***
- Lexa Ardola Crishtian
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..
__ADS_1