
...Pembukaan dengan yang cantik-cantik dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang cantik begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...
Selamat pagi semuanya. Bagaimana kabar kalian hari ini? Apakah kalian baik-baik saja? Aku harap kalian baik-baik saja kabarnya. Btw, sebentar lagi bulan puasa loh.. Jadi semangat ya! - Lexa Ardola Crishtian
...Happy Reading 🥳...
"Kamu mencari Elden, sweety? Sayangnya Elden sudah tiada sekarang. Dia telah mati dalam ledakkan mobil."
"A--pa?" Seakan tersambar petir di siang bolong, tubuh Lexa mematung bagaikan patung. Kedua bola matanya membulat dengan air mata yang mulai jatuh dari sudut matanya. "Kamu boh--ong Bram. Kamu bohong!" Lexa bingung. Pikirannya tidak bisa berpikir jernih.
"Hiks! Hiks! Hiks! Elden." Tangisnya pecah. Kepalanya menunduk dengan air mata menetes membasahi selimutnya. "Engga mungkin. Engga mungkin." Lexa berusaha untuk tidak mempercayai itu namun logika memaksanya untuk percaya. "Jangan tinggalkan aku El. Jangan." Lirihnya pelan.
Bram menyeringai tipis. "Kenapa kamu menangis Lexa? Kenapa kamu harus merasa kehilangan? Bukankah pria mu ada disini?" Ujar Bram sambil duduk sisi ranjang. Tubuhnya menghadap ke arah Lexa. "Hei, lihat aku." Merasa tidak diperhatikan oleh Lexa, lantas Bram menyentuh dagu Lexa dengan lembut.
"Kenapa kamu harus menangisi orang yang jelas tidak mencintai kamu Lexa? Kenapa kamu menangisi orang yang jelas-jelas tidak kamu cintai?" Bram bertanya lembut. Ekspresi wajahnya yang datar berubah kembali hangat seperti dulu.
Lexa terpaku ketika iris kedua bola matanya bertemu dengan kedua bola mata milik Bram. Lexa menggeleng pelan. Buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya. "Tidak Bram. Tidak. Aku tidak mencintaimu lagi. Aku mencintai Elden." Tegasnya.
"Hah?" Bram tidak habis pikir. Sentuhan lembut di dagu Lexa berubah menjadi sebuah cengkraman kuat menyakitkan.
"Bram!! Lepas! Kamu menyakiti ku!" Kedua tangannya memegang tangan Bram. Rasa sakit menyerang dagunya. Cengkraman yang ada di dagunya memberikan rasa sakit teramat bagi dirinya.
Bram tersenyum tipis. Tidak ada rasa kasihan sama sekali ketika perempuan di hadapannya merintih kesakitan. "Lepas? Kamu minta aku lepaskan sayang?"
Bram terlihat menakutkan. Tubuh Lexa bergetar takut. Sosok Bram dulu tidak dapat Lexa temukan. Jemarinya mencengkram kuat selimutnya.
"Dalam mimpi kamu sayang." Bisik Bram di telinga Lexa.
Mendengar perkataan itu membuat pandangan Lexa reflek langsung beralih ke arah wajah Bram yang dekat dengan wajahnya.
"Kenapa menatap ku seperti itu sweety?" Ujar Bram bertanya. Setelah itu Bram melepaskan cengkramannya di dagu Lexa ketika Bram melihat ruam merah disana. Ruam merah itu akibat cengkraman yang ia lakukan.
__ADS_1
"Kenapa kamu seperti ini Bram?" Lirih Lexa. Kedua bola matanya memerah, sembab. Bibirnya terlihat pucat dengan luka disudut bibirnya.
Sekarang jarak wajah Bram dan Lexa begitu dekat. Alis Bram terangkat sebelah. Kemudian Bram menjawab pertanyaan Lexa. "Aku hanya menjemput apa yang menjadi milik ku sayang. Aku hanya mengambil apa yang telah menjadi hak ku."
Dapat Lexa rasakan hembusan hangat menerpa bagian lehernya. Lalu Lexa menggeleng. Tidak setuju dengan perkataan Bram yang tidak masuk akal menurutnya. "Aku bukan milik kamu Bram. Aku bukan hak kamu." Bantah Lexa pelan.
Keduanya saling menatap.
Bram tertawa renyah. "Hahahaha. Apa kamu bercanda Lexa?" Bram langsung bangkit dari duduknya. Tubuh tegapnya menjulang tinggi. Lexa menatap heran.
"Setelah apa yang aku perjuangkan selama ini, dengan seenaknya kamu bilang jika kamu bukan milik ku? Lucu sekali." Ekspresi wajah Bram berubah datar. Tatapan dingin menusuk ia layangkan ke arah gadis di hadapannya.
Lexa mencekal erat selimut yang ia pakai. Aura dominant dan menakutkan dapat ia rasakan dari tubuh Bram. Dengan keberaniannya lantas Lexa berkata. "Apa yang kamu perjuangkan Bram? Kamu pergi meninggalkan ku begitu saja. Kamu pergi tanpa kabar. Kamu mengabaikan ku tanpa ada kepastian!" Bentak Lexa. Kedua iris bola matanya membulat sempurna. Rasa kesal dan marah yang selama ini ia pendam akhirnya terlampiaskan.
Bram sedikit terlonjak dengan bentakan keras itu.
Prok.. Prok.. Prok..
Bram bertepuk tangan. Menimbulkan bunyi nyaring, mengisi penjuru ruangan.
"Jangan sangkut pautkan ini semua dengan Elden. Dia tidak ada sangkut pautnya. Ingat Bram, kamu yang pergi meninggalkan aku. Bukan aku. Kamu yang memutuskan hubungan kita begitu saja."
Dengan gerakan cepat, Bram langsung mendorong tubuh Lexa hingga terbaring di atas ranjang.
Lexa begitu terkejut dengan gerakan yang di lakukan Bram. Kedua tangannya sontak menahan dada Bram. "Apa yang kau lakukan Bram!" Jerit Lexa ketakutan. Sebuah tanda bahaya mulai membuat Lexa was-was.
"Aku tidak pernah pergi meninggalkan kamu Lexa. Aku menyuruh kamu menunggu ku. Bukan malah asik dengan pria lain!" Bentak Bram dengan suara yang menggelegar.
Deg..
Lexa terdiam. Tubuhnya membeku mendengar bentakan keras dari Bram.
"Aku menyuruh mu untuk menunggu ku Lexa. Tapi tepat di hari itu juga kamu malah asik bersama dengan Elden. Baru saja aku meminta untuk break, tapi kamu dengan mudahnya melakukan itu." Kilatan amarah tersirat jelas dari kedua bola matanya. "Aku tidak habis pikir dengan mu Lexa. Aku tidak habis pikir dengan pola pikir kamu. Kamu bilang jika kamu mencintai ku. Kamu bilang jika kamu menyayangiku, lalu kemana perginya rasa sayang dan cinta mu itu? Apakah semua yang kamu ucapkan waktu itu hanya sebuah kebohongan belaka?" Kata Bram dengan nada yang terdengar rendah.
__ADS_1
Lexa terdiam. Bibir nya terasa kelu. Memang benar apa yang dikatakan Bram tadi. Setelah Bram memintanya untuk menunggu dan meminta break, Lexa dengan tegangnya menerima ajakan Elden untuk pergi jalan-jalan.
"Aku meminta break bukan tanpa alasan Lexa. Aku punya alasan tersendiri kenapa aku melakukannya. Apakah kau lupa, sebelum aku meminta break, kamu malah satu tinggal berdua bersama Elden? Padahal waktu itu kamu jelas berhubungan dengan ku. Pria mana yang tidak kecewa Lexa? Pria mana yang tidak sakit hati jika diperlakukan seperti itu hah?" Nafasnya berderu tidak beraturan. Kedua bola matanya menatap memancarkan sebuah ras sakit hati yang selama ini ia pendam. "Apakah aku salah jika meminta break? Apakah aku salah jika meminta mu untuk menunggu ku sebentar?JAWAB LEXA! JAWAB!" Emosi yang selama ini Bram tahan kini menguasainya. Tiga tahun hidup tanpa perempuan yang ia cintai membuatnya tersiksa.
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
__ADS_1
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊