
...Pembukaan dengan yang cantik-cantik dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang cantik begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...
Hai! Assalamualaikum wr wb! Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga kalian baik-baik saja ya! Btw jangan lupa sarapan ya 😚😚 Jangan lupa bahagia juga ya! I love you gais! - Nur Eva Fullandari
...Happy Reading 🥳...
Beberapa hari telah berlalu..
Sudah hampir satu Minggu lamanya, Elden masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tersadar. Seperti biasa, Lexa dengan membawa buku catatan kecilnya duduk disebelah ranjang Elden. Tangannya sibuk menuliskan sebuah rangkaian kata-kata indah. "Elden, aku punya cerita." Ujar Lexa. Walaupun faktanya hanya ada kesunyian yang menyapanya.
"Waktu aku masih berumur 8 tahun, aku suka sekali dengan anjing. Anjing itu, seingat aku, aku kasih nama Nana. Anjing itu laki-laki. Nana sangat manja dengan ku. Kemana-mana selalu mengikuti ku. Kemanapun aku pergi, dia selalu ikut. Kecuali ke rumah teman dan ke sekolah, Nana tidak boleh ikut. Jadi Nana nemenin Mama dirumah." Dengan semangat Lexa menceritakan masa lalunya ke kekasihnya yang sedang koma.
"Waktu itu aku menemukan Nana dipinggir jalan. Jadi aku membawanya pulang. Mama sempat memarahi aku. Tapi dengan segala rengekan dan tangisan aku, akhirnya Mama setuju untuk memelihara dan merawat Nana."
Lexa menatap wajah kekasihnya. Kemudian ia tertawa renyah ketika mengingat masa lalunya yang indah. "Apa kamu tau El.." Lexa kemudian berdiri dan mendekatkan wajahnya ke telinga kekasihnya. "Pada akhirnya Mama bucin banget sama Nana. Aku sampai cemburu di buatnya gara-gara Mama terlalu perhatian dengan Nana." Bisik Lexa pelan. "Lucu kan El?" Tanyanya. Lagi-lagi hanya kesunyian dan keheningan yang menyapa.
Buliran kristal mulai jatuh membasahi kedua bola matanya. "Hiks!" Lagi-lagi Lexa menangis ketika melihat kekasihnya tidak kunjung sadar. "Elden!" Lirihnya pelan. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Tubuhnya yang tegak, berdiri disebelah kekasihnya. "Aku merindukan kamu El. Aku ingin ngobrol dan bercanda lagi sama kamu!" Tubuhnya bergetar hebat. Tak kala, rasa sesak dan kesedihan datang menyapa.
Diluar ruangan, Chayden melihat semuanya. Hampir setiap hari Chayden mendengar Isakan tangis dari bibir kekasih putranya. Kedua bola matanya menatap penuh arti ke arah pintu ruangan.
Krak..
Suara gertakan leher yang terdengar sangat khas membuat Chayden menoleh. Tubuhnya yang menjulang tinggi langsung berhadapan dengan tubuh tegap dan bertato milik seseorang yang selama ini ia hindari.
"Hai Chayden. Long time no see you. How are you?" Dengan seringai khasnya, Justin menyapa Chayden, orang dari masa lalunya dulu.
Tubuh Chayden mematung. Kedua tangannya mengepal erat. Padahal selama ini Chayden menghindari laki-laki dihadapannya.
***
Sekarang Chayden dan Justin tengah berada di kantin rumah sakit. Keduanya duduk saling berhadapan.
"Ada apa kau mengajakku kesini Justin?" Chayden menatap datar ke arah Justin. Sedangkan Justin terlihat santai dengan sesekali meminum minumannya.
__ADS_1
"Santai Chayden. Apa kau tidak merindukan sahabat lama mu ini?" Ujarnya dengan santai. Berbanding terbalik dengan Chayden yang terlihat emosi.
Chayden tersenyum tipis. Kepalanya sedikit miring untuk menatap kedua bola mata tajam milik Justin. "Itu hanya masa lalu Justin. Jadi lebih baik langsung saja ke intinya. Aku tidak suka membuang-buang waktu ku untuk sesuatu hal yang tidak berguna." Ujarnya dingin.
Justin menara iris kedua bola mata Chayden. "Aku ingin berdamai dengan mu. Aku tidak ingin bermusuhan dengan mu. Mengingat jika kita nanti akan menjadi besan." Kata Justin lalu membalas tatapan Chayden dengan ramah.
Chayden mendengus geli mendengar perkataan Justin. "Bukankah awalnya kau lebih setuju dengan Bram? Lalu apa ini? Apa kau sekarang plin plan dengan pilihan mu sendiri Justin?" Sindir Chayden.
Sindiran itu membuat Justin sedikit menghela nafasnya dan berusaha untuk sedikit lebih sabar lagi. Jika saja Chayden ini bukan besannya, mungkin sekarang Chayden telah mati dihadapannya. Mengingat jika Justin ini bukanlah tipe laki-laki yang penyabar. "Aku tau jika putriku mencintai Elden. Jadi aku harus bagaimana lagi? Bukankah sebagai orang tau yang baik, aku harus menyetujui dan merestuinya. Lagian, putriku dan putramu sudah tau mana yang baik dan yang benar. Lalu apa salahnya?"
Chayden sedikit terkejut dengan perkataan Justin tadi. "Aku tidak menyangka jika manusia seperti mu bisa sesayang itu terhadap putrinya."
Justin tersenyum. "Seperti yang kau bilang tadi Chayden kalau kau tidak suka berbasa-basi, jadi bagaimana keputusan mu?"
Chayden mengangkat sebelas alisnya. Kemudian tubuhnya kembali tegak. Salah satu tangannya terulur untuk berjabat tangan. "Mau bagaimana lagi? Putraku juga sudah sangat menyayangi putrimu. Jadi tentu saja aku merestui hubungan mereka."
Sebuah senyuman tersungging di bibir Justin. Salah satu tangannya terulur menerima jabatan tangan Chayden. "Jadi sekarang kita tidak bermusuhan lagi. Sekarang kita adalah besan."
Chayden mengangguk.
"Apakah mereka pasangan?" Celetuk salah satu perempuan dengan polosnya.
Teman yang berada disebelahnya reflek langsung memukul wajah temannya yang asal bicara. "Hei! Jaga mulutmu! Mereka pria dan pria. Bagaimana mereka menjadi pasangan?!" Gerutunya kesal. Kemudian Tatapannya kembali fokus ke arah wajah dua pria yang hot Daddy menurutnya.
"Hehehehe, aku hanya menebak. Pasalnya mereka terlihat seperti pasangan." Ujarnya lagi sambil memakan cemilan yang ia pegang.
Temannya hanya memutar kedua bola matanya malas. "Ya, ya, terserah kamu saja."
Sementara itu Lexa kini tengah tidur terlelap disebelah kekasihnya. Kepalanya ia sandarkan di atas ranjang dengan posisi duduk di kursi. Tubuhnya condong ke depan. Mungkin jika Lexa terbangun nanti akan merasa pegal.
Deru nafasnya terdengar beraturan. Rasa kantuk dan lelah membuat Lexa tidur dengan pulas.
"Hahhh.. Hahh.." Hembusan nafas dari mulut Elden mulai terdengar. Kedua bola matanya perlahan-lahan mulai terbuka ketika ia mendengarkan sebuah bisikan halus.
"Kekasih mu sedang menunggu mu."
__ADS_1
Bisikan halus tak kasat mata membuat dalam diri Elden semakin terpacu. "Le--xa." Lirihnya pelan ketika kedua bola matanya berhasil terbuka.
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
__ADS_1