PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
12. Apa Maksud Kamu Bram? (Season 2)


__ADS_3

...Pembukaan dengan yang cantik-cantik dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang cantik begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...


Hai, sudah kah kalian mengucapkan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa? - Lexa Ardola Crishtian



...Happy Reading 🥳...


Elden dan Rafael sedang berada di sebuah Cafe dekat dari Kampus mereka. Setelah Elden mengantar Lexa tadi, Elden segera ke Cafe untuk bertemu dengan Rafael sahabatnya.


Tanpa menunda-nunda lebih lama lagi, Elden lantas membuka pembicaraan. "Lexa kemarin bertemu dengan Bram di Cafe." Kata Elden santai.


"Hah?" Rafael terkejut. Ponsel yang ia genggam hampir saja terjatuh. "Kau tidak bercanda kan?" Tanya Rafael memastikan. Padahal baru kemarin dirinya dan anak buahnya membicarakan Bram.


Elden mengangguk. "Aku tidak bercanda Raf." Ujar Elden dingin.


Rafael menatap pias wajah Elden. "Bagaimana bisa dia tiba-tiba bertemu dengan Lexa?"


"Mereka bertemu di Cafe waktu Lexa sarapan." Jawab Elden singkat. Semalam Elden dan Lexa berbincang serius hingga larut malam. Niat awalnya Lexa dan Elden akan tidur tapi di tunda karena Elden penasaran dengan cerita detailnya. Jadi mau tidak mau, Lexa harus menceritakannya secara rinci.


Rafael langsung meletakkan ponselnya di meja. "Yang jadi pertanyaannya sekarang bagaimana bisa mereka tiba-tiba bertemu? Menurut ku pertemuan mereka bukan disengaja. Akan tetapi disengaja."


Elden langsung menatap wajah Rafael. Elden setuju dengan pernyataan Rafael. "Kau benar Raf. Aku juga berfikir seperti itu. Ada kesengajaan yang di buat. Bram pasti mengawasi Lexa selama ini. Kemungkinan terbesar, hubungan ku dan Lexa selama ini di pantau olehnya." Ucap Elden.


Rafael berfikir sejenak. Kedua bola matanya terpejam. Kebiasaan yang akan Rafael lakukan jika sedang berfikir dan mengingat potong-potongan kejadian masa lalu. "Sepertinya benar dugaan ku El. Kepergian Bram waktu itu bukan tanpa alasan. Bukan juga karena alasan patah hati. Tetapi karena ini semua telah direncanakan olehnya.


Kening Elden berkerut. Kepalanya terasa pusing. "Dan kemungkinan dia juga seperti ku Raf. Kemungkinan Bram juga diberikan tantangan oleh Ayah Lexa. Waktu itu aku diberikan tantangan oleh Ayah Lexa yaitu untuk membunuh Mita dengan tanganku sendiri jika aku ingin mendapatkan Lexa sepenuhnya."


Rafael mengangguk. Otaknya yang cerdas di buat bekerja keras untuk berfikir. Sambil menunggu, Elden meminum kopi yang telah dipesan. "Bagaimana menurut mu Raf? Kira-kira tantangan apa yang diberikan oleh Justin ke Bram agar bersama Lexa?" Tanya Elden tidak sabar.


Gotcha!


Kedua bola mata Rafael terbuka. Sebuah jawaban telah ia temukan. Iris kedua bola mata Rafael menatap wajah Elden. "Kemungkinan Bram diberikan sebuah tantangan untuk membangun sebuah Aliansi nya sendiri agar bisa bersama Lexa. Mengingat jika Ayah dari Lexa ini adalah Ketua Mafia Italia. Bukankah Justin Atkinson itu dikenal akan kelicikannya dan kecerdasannya? Jadi tidak salah lagi, dia memberikan tantangan itu ke Bram agar Bram bisa ia gunakan. Sementara dia menyuruh membunuh Mita, karena itu sebagai naluri seorang Ayah yang tidak ingin nyawa putrinya dalam kondisi bahaya. Ayah Lexa sebenarnya bisa membunuh Mita dengan tangannya sendiri, tetapi dia tidak ingin mengecewakan Lexa atas apa yang ia lakukan."


Elden menggeleng tidak percaya. Kedua tangannya bertepuk tangan. Sungguh, sahabatnya ini memang bisa diandalkan. Otaknya yang cerdas dan memori yang kuat membuat Elden kagum. "Kau memang hebat El." Puji Elden.

__ADS_1


Rafael tersenyum bangga. "Makanya kau harus bangga karena mempunyai sahabat seperti ku El." Bukan Rafael namanya jika tidak menyombongkan diri.


Elden tersenyum tipis menanggapi perkataan Rafael tadi.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya El?" Rafael bertanya.


Elden menatap wajah Rafael dengan tenang. "Kita habisi dia dengan cara yang tenang tanpa dicurigai. Kita akan melakukannya dengan tenang tanpa memancing kecurigaan. Kita juga tidak perlu menunggu dia bergerak. Lebih baik kita bergerak terlebih dahulu. Kalau memang benar jika sosok Ruddin adalah Bram, maka kita harus bermain dengan hati-hati. Bram yang kita kenal dulu sangat berbeda dengan Bram yang kita kenal sekarang. Dan jika kemunculan dirinya menunjukkan sebuah progress yang sangat cepat, maka kita juga harus menunjukkannya dengan cara yang berbeda."


Sementara itu di kelas Jurusan Sejarah, terlihat sangat anteng dan tenang. Semua mahasiswa yang ada di dalam kelas tengah sibuk membaca materi mereka masing-masing.


"Sebentar lagi jam mata kuliah kita selesai. Antarkan aku pergi ke resepsionis sebentar ya? Aku ingin membayar biaya semester." Ujar Ivy sambil berbisik ke Lexa.


Lexa mengangguk. Jemarinya memainkan bulpoin yang ia pakai. Pikirannya melayang jauh kesana.


Dari arah belakang, Bram memperhatikan punggung Lexa. Tatapannya tidak bisa lepas dari Lexa yang sedang melamun.


"Hi, nice to meet you. My name is Elina." Suara perempuan dari sebelahnya membuat Bram menoleh.


Bram menatap datar tanpa ekspresi. Diperhatikannya wajah perempuan yang bernama Elina itu. Setelah itu tanpa berniat membalas sapaan perempuan itu, Bram langsung kembali menatap ke depan.


Elina merupakan mahasiswi populer di kampus nya. Hampir semua mahasiswa laki-laki di fakultasnya tergila-gila dengan kecantikan Elina. Namun, beribu kali sayang, Bram yang merupakan mahasiswa baru berani mengabaikan salam perkenalannya.


Tet..


Jam pelajaran mata kuliah Sejarah telah berakhir. Semua mahasiswa yang ada di dalam kelas langsung membereskan buku-buku mereka.


"Sampai jumpa Minggu depan lagi." Ujar sang dosen yang langsung disahuti semua mahasiswa nya.


"Sampai jumpa lagi Sir." Jawab mereka serentak penuh semangat.


"Yuk." Sambil menenteng tas ranselnya Lexa segera mengajak Ivy untuk keluar kelas. Lexa tidak ingin dekat-dekat dengan Bram.


"Tunggu sebentar." Ivy merasa heran dengan perubahan sikap Lexa. Biasanya Lexa yang lebih lambat darinya. Tapi, kenapa sekarang terbalik?


Melihat Ivy sudah selesai membereskan buku-buku paketnya, Lexa segera menggandeng lengan Ivy. Namun, baru beberapa melangkah, langkah kakinya terhenti ketika merasakan pegangan di lengannya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aku ingin berbicara dengan mu baby."


Semua mahasiswa yang mendengar kata "babby" langsung menatap ke arah Lexa dan Bram.


"Apa maksud kamu memanggil ku seperti itu Bram?"


***


- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰


- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@penulisfullandari


@nickalbertreal


@raraagathareal


@darrenkendrickreal


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊

__ADS_1


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


__ADS_2