
...Pembukaan dengan yang tampan-tampan dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang tampan begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...
Selamat pagi semua. Sudahkah kalian berbahagia hari ini? Jangan lupa bahagia ya cantik! Jangan tunjukkan kesedihan kamu ke orang lain. Ingat, terkadang orang lain hanya penasaran dengan keadaan kamu. Bukan berarti mereka peduli - Elden Crishtian
...Happy Reading 🥳...
Lexa terdiam. Bibir nya terasa kelu. Memang benar apa yang dikatakan Bram tadi. Setelah Bram memintanya untuk menunggu dan meminta break, Lexa dengan tegangnya menerima ajakan Elden untuk pergi jalan-jalan.
"Aku meminta break bukan tanpa alasan Lexa. Aku punya alasan tersendiri kenapa aku melakukannya. Apakah kau lupa, sebelum aku meminta break, kamu malah satu tinggal berdua bersama Elden? Padahal waktu itu kamu jelas berhubungan dengan ku. Pria mana yang tidak kecewa Lexa? Pria mana yang tidak sakit hati jika diperlakukan seperti itu hah?" Nafasnya berderu tidak beraturan. Kedua bola matanya menatap memancarkan sebuah ras sakit hati yang selama ini ia pendam. "Apakah aku salah jika meminta break? Apakah aku salah jika meminta mu untuk menunggu ku sebentar?JAWAB LEXA! JAWAB!" Emosi yang selama ini Bram tahan kini menguasainya. Tiga tahun hidup tanpa perempuan yang ia cintai membuatnya tersiksa.
Bodyguard dan maid yang melewati kamar tuannya sedikit terlonjak ketika mendengar bentakan keras dari dalam kamar.
Kebetulan kamar pribadi milik Bram tidak diberi alat kedap suara. Hal itulah membuat mereka mendengar suara bentakan keras yang menyeramkan di indra pendengaran mereka.
"Aku harap gadi itu baik-baik saja."
"Iya kau berharap juga begitu. Akan tetapi bukankah tuan jika marah menyeramkan? Tuan saja tidak pernah memberikan ampunan bagi orang yang melanggar peraturan yang ia buat. Apalagi gadis itu."
"Iya aku setuju dengan mu. Menurut informasi yang aku dapat, gadis itu adalah mantan kekasih tuan Bram. Jadi sekarang Tuan Bram menjemput gadis itu lagi setelah beberapa tahun mereka berpisah."
"Ekhem.."
Deheman dari arah belakang membuat maid yang berkumpul langsung membungkuk memberi salam.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?"
Alex, seorang tangan kanan Bram tengah memergoki maid yang sedang bergosip. "Cepat kembali bekerja. Aku tidak ingin melihat kalian mati konyol karena gosipan kalian."
Mereka langsung gelagapan. "Baik tuan. Kami permisi." Pamit mereka sopan dan segera kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Kenapa kamu diam Lexa?" Bram masih setia menatap wajah perempuan yang selama ini ia cintai. Bahkan posisi mereka sekarang terlihat sangat intim. Bram berada di atas tubuh Lexa. Mengukung tubuh mungil itu dengan tubuh besarnya.
__ADS_1
Lexa tidak tau harus berkata apa. Lexa tidak tau harus bertindak bagaimana untuk menghadapi emosi Bram yang meledak-ledak. "Maaf." Lirih Lexa. Pandangannya berpaling menatap ke arah lain. Lexa tidak sanggup untuk menatap wajah Bram.
Wajah yang dulunya yang terlihat hangat dan bersahabat kini telah berganti datar tanpa ekspresi. Senyuman yang biasanya tersungging di bibir Bram kini berganti dengan seringai tipis yang menyeramkan. Suara lembut dengan dengan penuh kasih sayang kini berganti dengan bentakan keras.
Apakah kamu berubah menjadi seperti ini karena ku Bram?
"Maafkan aku." Lirih Lexa lagi. Isak tangisnya mulai tersebar lagi. Bram mengepalkan kedua tangannya. Kemudian dengan kuat Bram memukul kasur tepat di sebelah kepala Lexa.
Reflek Lexa langsung menutup kedua bola matanya. Pukulan yang Bram lakukan tadi membuat Lexa terkejut.
"Sialan!" Umpat Bram kasar.
Lexa tertegun dengan bentakan kasar itu. Dalam sepanjang hidupnya Lexa mengenal Bram, baru kali ini Bram mengumpat kasar tepat di hadapan wajahnya. "Maafkan aku Bram. Maafkan aku sudah sudah membuat kamu seperti ini. Maafkan aku sudah menyakiti perasaan kamu. Aku benar-benar meminta maaf Bram. Tolong jangan seperti ini." Lirih Lexa dengan tatapan memohon. Lagi-lagi Lexa menangis.
Bram benci. Bram benci dengan dirinya sendiri. Bram benci dengan perasaan lemah yang kerap mendatangi nya. Kepalanya menunduk, ia sembunyikan di ceruk leher Lexa. "Maaf Lexa, aku tidak bisa memaafkan mu." Lirih Bram lalu mengecup leher Lexa lembut.
Lexa terkesiap ketika merasakan kecupan lembut di lehernya. Leher adalah bagian paling sensitif yang ia miliki. Rasa geli langsung menghampiri nya ketika lagi-lagi Bram melakukannya. "Bram, hentikan." Lexa berusaha mendorong tubuh Bram yang ada di atas tubuhnya. Namun seakan tuli, Bram terus melakukannya.
Bram mengecupi leher Lexa dengan bibirnya yang basah.
Seakan mendapatkan sebuah simbol bahaya, Lexa memberontak. "Bram!! Apa yang kamu lakukan! Jangan seperti ini. Bram!" Jerit Lexa. Tubuhnya meronta-ronta minta di lepaskan. Akan tetapi Bram bukannya merasa iba, malah Bram semakin tertantang. "Memberontak lah sayang. Aku ingin tau seberapa keras usaha mu untuk menjaga mahkota mu." Bisik Bram tepat di telinga Lexa.
Lexa menggeleng kuat. Rasa takut dan cemas datang menyelimuti. "Bram, please. Kamu bukan pria jahat Bram. Kamu bukan pria yang seperti ini." Kedua tangannya berusaha menahan tubuh Bram di atasnya agar tidak menindihi tubuh nya.
"Sayangnya Bram yang dulu telah tiada sayang. Bram yang sekarang adalah sosok baru yang akan menjadi pendamping hidup kamu selamanya."
"Hiks!" Tangis Lexa mulai pecah. Kepalanya berdenyut sakit. Sementara salah satu tangannya yang di infus mulai terasa nyeri karena setiap gerakan yang ia lakukan membuat harum infus semakin menusuk dalam. "Maafkan aku Bram. Maafkan aku!" Lexa menggeleng ke kanan dan ke kiri ketika Bram akan mencium bibirnya.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya yang mulus. Sehingga tamparan kuat itu meninggalkan sebuah jejak merah. "DIAM LEXA!" Bentak Bram dengan kasar.
"Hiks! Please Help me." Lirihnya.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah ruang VVIP terlihat sangat menegangkan. Berbagai macam alat medis terpasang di tubuh seorang laki-laki yang tidak sadarkan diri. Kondisinya telah kritis dari beberapa jam yang lalu. Tanda-tanda kehidupan masih belum terlihat. Namun sekarang perawat dan dokter harus di kejutkan dengan kondisi pasien yang semakin melemah.
"Dokter, detak jantung pasien mulai melemah. Apa yang harus kita lakukan dok?"
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
__ADS_1
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊